×
×

Search in Mata Mata Musik

10 DJ & Produser Yang Karier dan Musiknya Dipengaruhi Oleh Warisan Asianya

Posted on: 05/31/20 at 7:30 am

Steve Aoki, Tokimonsta, Yaeji.
Steve Aoki, Tokimonsta, Yaeji. (Foto: kolase).

Mei adalah bulan Asian Pacific American Heritage di Amerika Serikat (AS), oleh karena itu, untuk merayakan keragaman budaya Asia, berikut ini adalah daftar 10 DJ dan produser musik yang merepresentasikan akar keturunannya melalui musik, seni, dan kehidupan sehari-hari mereka.

Para DJ dan produser musik dalam daftar yang dirancang oleh Billboard ini telah memanfaatkan warisan budaya Asia mereka untuk mendorong karier musik internasional yang inspiratif dan penuh perkembangan. Mari kita baca apa yang mereka ungkapkan tentang hal tersebut di bawah ini…

Baca Juga: DJ Jazzy Jeff Merasa “Takut Setengah Mati” Saat Terjangkit Covid-19

1. Steve Aoki

Steve Aoki.
Steve Aoki tampil di atas panggung iHeartRadio Fiesta Latina di AmericanAirlines Arena pada 3 November 2018 di Miami. (Foto: Theo Wargo / Getty Images untuk iHeartRadio).

DJ superstar internasional ini memiliki salah satu wajah yang paling dikenal di dunia musik, tetapi dia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya berjuang melawan rasa kurang percaya diri yang serius. Orang tua Jepang-nya berimigrasi ke AS pada tahun 1960-an, dan ayahnya, seorang pegulat sumo atlet Olimpiade dan pendiri restoran Benihana, menjadikan budaya Jepang sebagai bisnisnya. Tapi itu tidak membuat situasi Steve Aoki lebih mudah untuk menyesuaikan diri.

“Aku tumbuh besar di Newport Beach, yang 96 persen orang berkulit putih, menurut statistik demografis sejauh ini,” ujar Steve Aoki. “Aku berurusan dengan banyak rasisme, banyak kebencian diri, banyak kebingungan dan hal-hal semacam itu. Ketika aku meninggalkan kota (untuk kuliah), aku mulai menemukan identitasku, dan kemudian aku mengerti betapa pentingnya itu untuk mewakili dan memiliki kebanggaan itu (sebagai orang Jepang)”.

Hari ini, warisan Asia-Amerika Steve Aoki secara sadar atau tidak sadar menjadi bagian dari semua yang disentuhnya. “Itu ada dalam musik aku,” katanya. “Ada dalam DNA aku”. Dia suka bekerja dengan sesama artis Asia, dari popstar  Indonesia Agnez Mo hingga boyband K-pop BTS dan Monsta X. Dia juga baru-baru ini mengerjakan lagu remix untuk versi Netflix baru dari anime klasik Ghost in the Shell, dan dia punya rencana untuk mengerjakan musik dengan beberapa artis top J-pop.

Dengarkan: Steve Aoki & Vini Vici – ‘Moshi Moshi’ Ft. Mama Aoki

“Aku ingat memainkan lagu itu di festival EDC Jepang, mungkin satu atau dua bulan setelah lagu itu dirilis,” jelas Steve Aoki. “Kebanggaannya, dan kegembiraannya dan semangatnya. Mereka sangat senang bahwa aku memiliki lagu dengan kata-kata Jepang di dalamnya… seluruh penonton hanya mengatakan ‘Moshi Mosh’, benar-benar ada 40.000 orang yang meneriakkan lagu itu. Pada bagian akhir, ibuku bilang ‘kawaii desu ne’ yang artinya adalah ‘itu imut’. Mereka semua meneriakkan itu lebih keras dibanding lagu lebih populer lainnya yang aku miliki. Ini benar-benar mengejutkanku betapa pentingnya itu untuk hanya mendengar bahasa kamu sendiri dalam sebuah lagu, dan seberapa besar (pengaruh) itu secara kultur. Aku tidak akan pernah melupakan itu”.

2. Tokimonsta

Tokimonsta.
Tokimonsta. (Foto: John Michael Fulton).

Tokimonsta, produser yang dinominasikan Grammy, dibesarkan di Los Angeles, AS oleh orang tua asal Korea Selatan yang menekankan koneksi terhadap kata “Oori Nara” atau “negara kita”. Dia mengatakan bahwa akar keturunannya telah memberinya fondasi untuk menjadi kuat di sebuah negara di mana dia adalah minoritas dan “diperlakukan sebagai orang lemah”.

“Sejarah musik Korea sudah lama berdiri dan itu unik,” ujar Tokimonsta. “Aku merasa seolah-olah orang melihat musik Korea sebagai sangat pop, mereka lupa bahwa kita memiliki sejarah musik tradisional Korea yang sangat keren. Karena itu, aku mencoba menggunakan sound Korea tradisional dalam musik aku. Ini memberi aku ciri khas unik yang tidak ada dalam karya musik rekan-rekanku”.

Dengarkan: Tokimonsta – ‘Sa Mo Jung’

“Aku punya beberapa lagu yang didedikasikan untuk keluarga dan budayaku. Lagu pertama di mana aku menggunakan musik budaya Korea disebut ‘Sa Mo Jung’ dari album pertamaku 10 tahun yang lalu. Itu adalah nama taman yang dibangun pamanku di rumah kampung halaman asli keluargaku, Ganeung. Ini diterjemahkan secara kasar menjadi “Remembering Mother Park (mengingat Ibu Park)”. Ini didedikasikan untuk nenekku, tetapi juga untuk semua ibu (pada umumnya). Banyak apresiasi budayaku berasal dari ibu Korea Selatan-ku yang kuat, jadi aku ingin berterima kasih kepadanya dengan mempersembahkan lagu ini untuknya”.

3. Zhu

Zhu.
Zhu. (Foto: Joey Vitalari).

Cerita terkenalnya adalah bahwa Zhu awalnya menyembunyikan identitasnya karena dia tidak yakin bagaimana perasaan para netizen penyuka EDM tentang seorang DJ dan produser musik Cina-Amerika. Dia sekarang menjadi salah satu nama terbesar dalam scene EDM, bekerja bersama popstar Tinashe pada single terbarunya ‘Only’.

“Saat tumbuh besar, aku ingin berasimilasi dengan budaya Amerika,” ujar Zhu, “tapi sekarang aku membangun budaya gabunganku sendiri”. Musik, fesyen, dan performa visual Zhu merayakan persimpangan dari berbagai media artistik untuk menceritakan kisah yang lebih menjiwai, dan hal yang sama berlaku untuk perpaduan warisan Cina dan influence urban-nya.

Dengarkan: Zhu – ‘Only’ Ft. Tinashe

“Seni adalah tentang perspektif yang berbeda,” katanya. “Ketika aku tumbuh dewasa, ayahku sangat menyukai musik tradisional Cina, (seperti) yangqing, erhu, dizu. Musik yang non-konfrontatif dan mudah didengar adalah pilihannya. Aku tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang diriku. Lingkungan tempat aku tumbuh meminjamkan dirinya sendiri untuk diekspresikan dalam cara yang gelap dan provokatif”.

4. Yaeji

Yaeji.
Yaeji. (Foto: Micaiah Carter).

Yaeji, seorang produser musik, DJ dan artis yang berbasis di New York City, AS memanfaatkan akar keturunannya dengan bernyanyi dalam bahasa Inggris dan Korea. EP terbarunya, What We Drew, mengambil pengaruh besar dari sejarah pribadi dan keluarganya, sampai-sampai dia merekam video musik untuk lagu utamanya di Seoul, Korea Selatan bersama keluarga dan teman-teman masa kecilnya.

“Jiwa Korea aku selalu ada bersamaku, dan akan selalu ada – tetapi aku berpikir bahwa aku telah secara aktif mencoba untuk semakin merasa terhubung dengannya seiring bertambahnya usiaku,” ujar Yaeji. “Bagiku untuk menjadi seorang artis adalah menjadi diriku sendiri, mempertanyakan diriku sendiri, dan menjawab diriku sendiri. Dalam hal itu, hidupku adalah pekerjaan/karya seniku. Semua yang aku pelajari, semua yang aku harus lepaskan, semua yang aku lihat, cium, dengar, selama tumbuh besar di berbagai tempat, semua itu ada dalam musikku. Pengalaman keluarga dan pribadi sangat terjalin bagiku karena cara aku dibesarkan. Aku diajari untuk selalu mengutamakan keluarga, untuk selalu memikirkan keluarga”.

Dengarkan: Yaeji – ‘What We Drew’

“Lagu utamaku (dalam EP), ‘What We Drew’ terasa seperti itu bagiku,” jelas Yaeji. “Itu benar-benar merangkum semua hal yang aku bicarakan. Nilai sebuah keluarga, komunitas, keluarga terpilih, orang-orang yang mengelilingimu, orang-orang yang membantumu tumbuh besar – semua itu. Orang-orang ini menjadikanku siapa aku sekarang, dan aku mencerminkan sebagian dari mereka. Aku sedang menunjukkan rasa terima kasih”.

5. Giraffage

Giraffage.
Giraffage. (Foto: Holy Mountain).

Itu sangat berarti bagi produser musik keturunan Taiwan ini untuk menunjukkan akar budaya Asia-nya – tetapi, sebelumnya itu tidak selalu seperti itu. Sebagai generasi Asia-Amerika pertama di sekolah yang didominasi anak berkulit putih, musisi bernama asli Charlie Yin ini menghabiskan sebagian besar masa kecilnya dengan rasa malu karena perbedaannya. Sekarang, satu-satunya hal yang membuatnya malu adalah bagaimana dia dulu pernah menolak dirinya sendiri.

“Di dalam benakku, selalu ada pemikiran tentang seorang anak di luar sana yang mengalami krisis identitas yang sama ketika aku dulu tumbuh dewasa,” ujar Giraffage. “Kebanyakan dari itu adalah karena kurangnya panutan di media yang tampak seperti aku. Sekarang aku memiliki semacam platform, sebagai orang Asia di bidang musik yang sebagian besar non-Asia, penting bagiku untuk membiarkan generasi selanjutnya tahu bahwa itu keren untuk bangga dengan identitas dan warisan kalian sendiri”.

Dengarkan: Robot Science – Good Luck

https://robotscience.bandcamp.com/album/good-luck?from=embed

“Aku membuat seluruh album ini, sebelum aku memulai Giraffage, ketika aku sedang sekolah di luar negeri di Taiwan selama enam bulan. Aku secara tidak sadar sangat dipengaruhi oleh lingkunganku dan tidak ada keraguan lagi bahwa beberapa pengaruh itu meresap ke dalam lagu-lagu ini”.

6. Manila Killa

Manila Killa.
Manila Killa. (Foto: Steven Truong).

Bicara tentang merepresentasi kota kita sendiri; musisi Amerika-Filipina ini menempatkan kota kelahirannya sebagai nama panggungnya. Setelah tumbuh besar sebagian di negara itu dan bepergian mengelilingi kota Manila dengan mobil bersama orang tuanya, produser musik itu selalu memiliki hubungan yang kuat dengan sejarah, makanan, dan budaya Filipina.

Pentingnya hubungan itu menjadi lebih jelas saat dia berkeliling dunia. Karya-karyanya yang dreamy dan menggugah itu secara langsung terinspirasi oleh lagu-lagu balada emosional, jazz yang halus, dan lagu pop yang didengarkan oleh orang tuanya di semua petualangan naik mobilnya dulu. “Genre ini berfungsi sebagai fondasi bagi sebagian besar musikku,” ujar Manila Killa menjelaskan.

Dengarkan: Manila Killa – ‘Midwinter’

“Lagu outro dari EP aku Midwinter berasal dari memori saat orang tuaku sering bermain piano dan aku mendengarnya di seluruh rumah saat dulu masih kecil,” katanya. “Aku selalu menganggap piano sebagai instrumen favoritku dan mungkin itu sebabnya aku sangat terhubung dengannya – ini adalah instrumen yang menonjol dengan sendirinya dan tidak perlu disertai dengan hal lain”.

7. Robotaki

Robotaki.
Robotaki. (Foto: Nick Thiessen).

Robotaki dari Toronto, Kanada memadukan banyak influence untuk sound yang menyenangkan dan segar, dan dia sendiri adalah campuran dari berbagai gaya. Ibunya lahir di Hong Kong, sedangkan ayahnya – yang merupakan keturunan dari kelompok bahasa Hakka yang ditemukan di Cina Tenggara – lahir di Jamaika. Sementara Robotaki secara kuat mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kanada, warisan Asia-nya selalu memainkan peran penting dalam hidupnya; dari tetap bersikap rendah hati hingga pentingnya keluarga, menjaga etos kerja yang kuat dan “mengidam makanan Cina yang terus-menerus”.

“Ikatan emosional yang dimiliki anak-anak Asia dengan orang tua mereka kadang-kadang berbeda dari ikatan biasanya… di Amerika Utara,” ujar Robotaki menjelaskan. “Cinta diperlihatkan melalui tindakan dan kadang-kadang tidak melalui penggunaan kata-kata. Orang tuaku selalu menjagaku dan kesejahteraanku, dan aku akhirnya mengerti bahwa ini adalah cara mereka menunjukkan cinta mereka kepadaku. Aku sangat percaya ini telah membuka jalan bagiku untuk menemukan musik sebagai wadah untuk mengekspresikan diri dengan cara yang tidak aku lakukan dengan orang tuaku”.

Dengarkan: Robotaki – ‘Passing of Time’

“Aku memutuskan untuk mengambil pendekatan yang rentan dan menggunakan vokalku sebagai unsur utama lagu itu,” katanya. “Kerentanan ini adalah sesuatu yang belum pernah aku coba di masa lalu, dan aku bangga bahwa aku mengambil kesempatan itu secara kreatif. Secara lirik, lagu itu berbicara tentang menyadari betapa menyakitkan dan cepatnya waktu berlalu dan seberapa parah beban yang kadang-kadang aku rasakan dalam jiwaku. Aku ingin terus membuka lebih banyak pintu dari sisi emosionalku, karena itu memungkinkan aku untuk mendapatkan perspektif yang lebih baik tentang siapa aku, kenapa aku ya adalah aku, dan bagaimana menjadi lebih bebas secara emosional dengan orang-orang di sekitarku”.

8. Pat Lok

Pat Lok.
Pat Lok. (Foto: Nina Krupa).

Ahli ritme penyuka disco ini lahir di Vancouver, Kanada dan merupakan generasi keluarga Kanada pertama setelah keluarganya imigrasi dari Singapura pada tahun 1970-an. Akar budaya Cina-nya membentuk masa kecil Pat Lok melalui kuliner makanan dan liburan, tetapi saat dia tumbuh besar dan hidup sendiri, dia baru menyadari bagaimana nilai-nilai dan identitas dirinya sangat terkait dengan tradisi kultur Asia. Melakukan tur di Asia pada tahun 2019 ternyata semakin memicu rasa penemuan dirinya. EP terbaru Pat Lok, Gone Is Yesterday, memberi penghormatan langsung kepada keluarganya dalam bentuk film animasi pendek.

“Aku ingin menjelajahi beberapa cerita rakyat dan mitologi Cina yang diperkenalkan oleh Ah Kong (kakekku) ketika aku masih kecil,” jelasnya. “Aku menulis naskah dan storyboard-nya (arahan sketsa bergambar) dan benar-benar menyelesaikan bagian pertama untuk film itu sebelum rekaman lagunya bahkan selesai”.

Dengarkan: Pat Lok – ‘Get Dawn’

“Berbicara mengenai segi soniknya, aku menggunakan inspirasi melodi dan sound asli daerah tempat keluargaku berasal,” ujar Pat Lok. “Chorus utamanya dimainkan oleh instrumen lonceng dan seruling dari budaya Timur, menarik pengaruh dari kiasan klasik berbagai melodi Asia. Pada saat yang sama, film pendek aku memiliki nuansa ala video game retro/RPG, jadi aku benar-benar menginginkan adegan itu, pertempuran dengan bos terakhirnya, untuk terasa seperti soundtrack yang ditulis oleh salah satu komposer legendaris Jepang di perusahaan game Capcom atau Square Enix”.

9. Josh Pan

Josh Pan.
Josh Pan. (Foto: dok. Josh Pan).

Meskipun dia dilahirkan di wilayah Pantai Timur AS, keluarga Josh Pan pindah kembali ke Taiwan ketika dia masih kecil. Gaya hidup awalnya yang berasal dari AS membuatnya sulit berasimilasi dengan lingkungan Asia-nya, tetapi pengalaman itu malah menanamkan hubungan yang lebih dalam dengan akar leluhur Cina-nya. Internet tidak begitu kuat di kotanya, tetapi sepupunya di Los Angeles mengiriminya CD Kanye West, Red Hot Chili Peppers dan The Beatles.

Orang tua Josh Pan menekankan pendidikan dalam bidang sains dan seni, dan sebagai remaja, dia beralih dari performa musik klasikal ke produksi musik elektronik. Hari ini, Josh Pan terinspirasi oleh berbagai artis asal Taiwan seperti Jay Chou, Khalil Fong dan JJ Lin seperti halnya dia terinspirasi oleh Alicia Keys dan DJ Krush.

“Khalil Fong – lagu ‘Love Love Love’ benar-benar menonjol bagiku ketika aku masih remaja,” katanya. “Meskipun orang tuanya berasal dari Hong Kong dan dia lahir di Hawaii, AS dia membuat dampak besar ketika dia debut di Taiwan dan jelas meninggalkan bekas dalam pikiranku”.

Dengarkan: Josh Pan & Dylan Brady (100 Gecs) – ‘Past Lives’

“Lagu ‘Past Lives’ terasa sangat berat ketika kami menulisnya. Ini tentang bergerak maju dan maju, tidak membiarkan masa lalumu menentukan masa depanmu. Aku pikir itu adalah sesuatu yang harus kita ingat kapan pun kita bisa. Orang kadang-kadang bisa terlalu menekan diri mereka sendiri”.

10. AObeats

AObeats.
AObeats. (Foto: John Liwag).

Keluarga sang produser musik AObeats berasal dari Saitama, Jepang – sekitar satu jam dari Tokyo – dan banyak dari mereka yang masih tinggal di sana. Sementara dia adalah salah satu dari segelintir orang Asia-Amerika di sekolahnya dulu, internet menyediakan tempat untuk berkumpul bagi para pecinta seni dengan mindset yang sama, yang punya keluarga imigran sepertinya.

“Pada usia muda, tidak banyak orang yang mirip aku dalam dunia musik populer,” jelas AObeats. “Setiap kali ada orang yang mendekati itu, aku sangat mendukung mereka dan aku pikir itu membentuk banyak selera masa kecil dan remajaku dalam musik. Sejujurnya aku berpikir bahwa Pharrell Williams dan Teriyaki Boyz, serta keeratan musik Hip-Hop dengan Bape, kemungkinan telah menjadi hal yang membuatku ingin mulai membuat musik”.

Dengarkan: AObeats – ‘Go Time’ Ft. Liz, Sophia Black

“Ada sebuah lagu dari proyek terakhirku yang disebut ‘Go Time’ dan menampilkan LIZ Y2k dan Sophia Black. Sophia juga keturunan Jepang seperti aku, dan dia melakukan bagian bridge lagunya dalam bahasa Jepang. Itu adalah pertama kalinya aku memiliki lagu dengan bahasa Jepang di dalamnya, jadi itu sangat menarik. Aku ingin bekerja dengan lebih banyak artis Jepang juga. Aku menelusuri YouTube tempo hari mengenai rapper-rapper Jepang, dan ada beberapa lagu dan video yang benar-benar hebat”.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Dipha Barus

Dipha Barus Menjadi Salah Satu Performer di Event Livestream Internasi...

Dipha Barus saat beraksi dengan perangkat DJ-nya. Salah satu Disc Jockey ​(DJ) kebanggaan Indonesia, Dipha Barus menjadi salah satu performer di event onl

on Jul 1, 2020
Joji

Sambil Umumkan Jadwal Ulang Album 'Nectar', Joji Rilis Remix Lagu 'Gim...

Joji dalam video klip 'Gimme Love'. (Foto: YouTube). Joji merilis versi remix oleh Channel Tres yang sepenuhnya mengubah single terbarunya, 'Gimme Love'. Se

on Jun 24, 2020
Weird Genius

Setelah 'LATHI', Weird Genius Rilis Single Kolab Dengan Tuan Tigabelas...

realme X Tuan Tigabelas X Weird Genius 'Narzo Power'. "Jangan khawatir, ini mutakhir, bukan amatir, everybody give it up for Narzo!" Begitu bunyi tulisan di

on Jun 20, 2020
Ilegal Rave Party Manchester.

Ada Yang Meninggal, Diperkosa dan Ditusuk Saat Rave Party Ilegal di Ma...

Dengan memutar musik EDM dan jenis genre elektronik lainnya dari perangkat DJ sepanjang malam, Rave Party menjadi ajang bersenang-senang favorit. Namun kes

on Jun 16, 2020