×
×

Search in Mata Mata Musik

10 Film Dokumenter Musik Revolusioner Yang Oke Ditonton Selama Social Distancing

Posted on: 04/2/20 at 11:00 am

10 Film Dokumenter Musik Revolusioner.
Jimi (The Upstairs), Randy (Lamb Of God), Gaahl (Gorgoroth). (Foto: Kolase).

Selama masa pandemi Covid-19 alias virus Corona dengan mengkarantina diri #dirumahaja demi keselamatan bersama tentunya kita jadi punya banyak waktu lebih banyak di rumah karena sekolah dan bekerja pun harus di rumah. Tapi setelah itu, waktu luang kita tentunya harus kita isi dengan aktivitas supaya nggak boring. Tentunya yang menyenangkan, dan kalau bisa menambah wawasan juga. Ya iyalah, situasi kondisi yang mengkhawatirkan dan menyedihkan seperti sekarang kita jadi membutuhkan asupan dosis ‘entertainment’ yang lebih besar supaya kita tetap tenang (dan waras) tanpa mengurangi kewaspadaan.

Baca juga: Dokumenter Rihanna Dibeli Amazon Senilai Hampir Rp 350 Miliar

Selain home video konser musik, MMM juga ingin merekomendasikan 10 film dokumenter musik yang nggak cuma keren tapi revolusioner, dan layak menyita waktumu. Bagi yang hanya penyuka genre tertentu silakan pilih yang kamu suka. Bagi yang penyuka segala genre kami turut berbahagia. Bagi yang nggak ngerti atau nggak suka ya nggak usah ditonton. Sesimpel itu.

Sambil menyeruput kopi panas dan ngunyah kudapan sore, silakan relaks duduk senderan nonton di depan layar kacamu…

10. American Hardcore: The History of American Punk Rock 1980–1986

American Hardcore: The History of American Punk Rock 1980–1986 adalah film dokumenter yang disutradarai oleh Paul Rachman dan ditulis oleh Steven Blush. Film ini diangkat dari buku American Hardcore: A Tribal History yang juga ditulis oleh Steven Blush yang dirilis pada 22 September 2006 dengan edisi cetakan terbatas. Film ini menampilkan beberapa pionir awal scene musik punk hardcore di Amerika Serikat (AS) seperti Bad Brains, Black Flag, D.O.A., Minor Threat, Minutemen, SSD, dan lain-lain. Film ini dirilis dalam format DVD oleh Sony Pictures Home Entertainment pada 20 Februari 2007.

Film ini membahas kelahiran dan evolusi hardcore punk rock periode 1978-1986 (meskipun ditulis di cover DVDnya 1980-1986). Film dokumenter ini menawarkan banyak footage underground yang langka selama perjalanan pergerakan hardcore punk. Menampilkan wawancara eksklusif dengan band-band hardcore punk tersebut di atas.

9. All Ages Party – East Jakarta Hardcore 1989-2009

Film dokumenter ini menceritakan tentang keinginan kuat para ‘Hardcore Kids’ dalam mengembangkan scene musik hardcore punk mereka di wilayah Jakarta Timur sejak pertengahan dekade 1990-an. Selama 35 menit, terdapat wawancara langsung dengan perwakilan dari band-band senior seperti Triple X, Overcast, Lost Sight, dan Take Down yang merupakan kunci bagi All Ages Party dalam mencapai kesuksesan. Beberapa sub-kultur lokal juga dibahas, antara lain Cipinang Skinheads disebut-sebut sebagai salah satu scene skinhead tertua di Jakarta, Doggiebites, dan juga Young Offender yang kemudian melahirkan band-band punk seperti Pestolaer, Submission.

8. The Other Option – Australian Punk and Hardcore in South East Asia

The Other Option alias Opsi Lain: Punk dan hardcore Australia di Asia Tenggara menelusuri sejarah band-band punk dan hardcore Australia yang berkeliling ke Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Dari perintis di dalam scene underground DIY (Do It Yourself) Australia, hingga beberapa band-band alternatif terbesar yang pernah diproduksi negara ini, film ini membagikan kisah-kisah menakjubkan yang sampai sekarang hanya menjadi bagian dari cerita rakyat ‘bawah tanah’.

Proyek film sebelumnya yang dilakukan di Asia Tenggara hanya menggores permukaan mendokumentasikan pengalaman bermain di daerah itu dari perspektif ‘tour diary’. Tapi di film ini terlihat banyaknya lokasi yang eksotis, pertunjukan yang aneh dengan penonton yang gila.

Difilmkan di 4 negara termasuk 5 dari 7 negara bagian Australia, The Other Option berbicara kepada band-band dan tokoh-tokoh terkemuka lainnya yang memimpin jalan untuk menjadikan tur Asia Tenggara ini menjadi kenyataan bagi para artis dari seluruh dunia. Film ini mengeksplorasi alasan-alasan yang mendasari ledakan band-band punk dan hardcore yang telah melakukan tur ke wilayah tersebut, di luar soal maskapai penerbangan berbiaya rendah, biaya hidup murah dan pemesanan online instan.

Disutradarai oleh Rohan Thomas, film berdurasi 94 menit ini tersedia DVD-nya bisa didapatkan di www.theotheroption.com atau bisa ditonton streaming atau download dari situ web tersebut.

7. Terekam – Dokumenter Musik Independen Indonesia

Pertengahan tahun 2000-an, anak-anak muda berdansa pada musik yang didentumkan oleh 4 band fenomenal dari kampus seni di Cikini, Jakarta, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mereka adalah: The Upstairs, White Shoes & The Couples Company, Goodnight Electric, dan The Adams. Terekam mendokumentasikan perjalanan musik mereka yang menjadi penanda semangat zaman di millenium baru.

6. Metal Evolution – The Series

Metal Evolution adalah seri dokumenter 2011 yang disutradarai oleh antropolog dan pembuat film Sam Dunn bersama sutradara, produser dan supervisor musik Scot McFadyen tentang subgenre heavy metal, dengan episode baru ditayangkan setiap hari Jum’at jam 10 malam EST di MuchMore dan Sabtu jam 10 malam EST di VH1 Classic. Asal-usulnya berasal dari film dokumenter pertama Sam Dunn, Metal: A Headbanger’s Journey, yang mencakup “Heavy Metal Family Tree” yang terkenal.

Baca juga: Film Dokumenter Taylor Swift Tayang Perdana di Sundance

Seri film dokumenter tentang evolusi musik metal ini terbagi dalam 11 episode, yakni: Pre Metal, Early Metal Part 1: US Division, Early Metal Part 2: UK Division, New Wave of British Heavy Metal, Glam, Thrash, Grunge, Nu Metal, Shock Rock, Power Metal, dan Progressive Metal.

5. Metal Evolution – Extreme Metal

Ini adalah episode ke-12 alias terakhir yang disebut Sam Dunn sebagai ‘the lost episode’ alias episode yang hilang karena waktu pengerjaannya sempat tertunda lama setelah 11 episode sebelumnya selesai. Episode ini pun bisa rampung dengan bantuan donasi dari para metalheads seluruh dunia melalui situs web crowdfunding, IndieGoGo. Episode ini memfokuskan membahas cakupan dari scene Death Metal di Florida, Black Metal di Norwegia, Grindcore dan sub-subgenre metal ekstrim lainnya.

4. Blackhearts

Blackhearts menampilkan secara mentah, dekat dan personal pada dampak musik Black Metal Norwegia alias Norwegian Black Metal di seluruh Eropa, Amerika Selatan dan Timur Tengah. Blackhearts menyoroti pandangan segar pada scene musik black metal Norwegia yang terkenal – tetapi dari sudut pandang baru yang menyolok. Film ini mendokumentasikan suatu perjalanan penuh petualangan ke Amerika Selatan, Eropa dan Timur Tengah untuk mengikuti tiga penggemar ‘diehard’ black metal yang berasal dari latar belakang agama dan politik yang ekstrim. Terutama sosok Sina, musisi kelahiran Iran yang sedang bergerilya meniti karier bersama band black metalnya, From The Vastland.

Hector, Kaiadas dan Sina bersedia mengambil risiko untuk teralienasi, hukuman penjara – bahkan kematian – demi bisa bermain black metal dan hidup dengan ideologinya. Mereka memuja musik black metal Norwegia yang mereka modelkan dalam kehidupan mereka.

Blackhearts membawa audiensnya jauh ke dalam pikiran, hati, dan kehidupan pribadi para karakternya. Film ini mengeksplorasi bagaimana scene musik berkembang melintasi garis agama, budaya dan politik – dan memberikan sedikit unsur jenaka pada hal-hal yang manusia katakan, pikirkan, dan lakukan ketika jiwa kita sudah dibajak oleh hasrat.

3. Lamb Of God – As The Palaces Burn

Sebuah film dokumenter berfitur panjang yang awalnya berusaha untuk mengikuti kiprah Lamb Of God dan penggemar mereka di seluruh dunia, untuk menunjukkan bagaimana musik mengikat kita ketika kita tidak dapat menemukan ikatan umum lainnya. Namun, selama proses syuting pada 2012, cerita tiba-tiba berubah secara dramatis, membawa band metal asal Richmond, Virginia, Amerika Serikat ini ke dalam sebuah mimpi buruk di kota Kafka, Republik Ceko, ketika sang vokalis, Randy Blythe ditangkap dengan tuduhan pembunuhan, disalahkan atas kematian salah satu penggemar muda mereka saat konser Lamb Of God di Praha, Ceko Republik pada 2010. Yang terjadi selanjutnya adalah drama ruang sidang pengadilan yang menyayat hati yang membuat penggemar, teman, dan penonton penasaran duduk di ujung kursi mereka.

Musik metal mungkin tetap menjadi subkultur yang terstigmatisasi, tetapi When The Palaces Burn membuktikan bahwa ada lebih banyak manusia berhati malaikat yang mengalir melalui para artis/seniman dan pendukungnya daripada yang disiratkan oleh stereotip selama ini.

2. Slave To The Grind

Kalau kamu tinggal di Flint Michigan, Amerika Serikat (AS) di tahun 1980-an, kemungkinan kamu bekerja di pabrik mobil. Kalau kamu tinggal di Birmingham, Inggris pada tahun 1980-an, kemungkinan kamu bekerja di lingkungan pabrik. Kalau kamu seorang remaja di salah satu dari kota-kota tersebut selama tahun-tahun itu, pilihanmu cuma dua, menerima nasib saja atau membuat sesuatu perubahan. Dengan kondisi demikian, gerombolan punk rocker dan metalhead di kota-kota tersebut pun mendapat dorongan untuk menciptakan suara-suara baru, yang bertentangan dengan tradisi, dan hasilnya adalah sebuah genre musik baru yang terdengar terlalu punk untuk metalhead, dan terlalu cadas untuk punk rocker.

Grindcore menyatukan sikap anarkis dari scene punk Inggris dengan kecepatan dan agresi Death Metal, yang secara bersamaan diciptakan di AS. Ketika Napalm Death merilis album debutnya, ‘Scum’ pada 1986, penyiar radio BBC paling beken saat itu, John Peel, mengumumkan bahwa ‘Grindcore’ adalah musik yang paling cepat dan paling kasar yang dapat dibayangkan, dan ia benar.

Disutradari oleh Doug Brown asal Kanada, Slave To The Grind adalah film dokumenter pertama tentang Grindcore yang memaparkan secara komprehensif rentang hidup 35 tahun usia genre ini. Film ini membawa kita ke AS, Inggris, Australia, Jepang, Singapura, Finlandia, dan Swedia untuk membahas mengapa genre ini bisa bertahan, dan berubah, seiring waktu. Film yang tayang premier di Calgary Underground Film Festival, 21 April 2018, kini telah bebas ditonton full streaming selama masa karantina social distancing wabah Covid-19 oleh rumah produksi milik Doug Brown, Death By Digital.

1. Lemmy: 49% motherf**ker. 51% son of a bitch

Lemmy: 49% motherf**ker. 51% son of a bitch adalah film dokumenter tentang sosok ikon rock n’ roll berdarah Inggris, mendiang Ian “Lemmy” Kilmister, vokalis, bassis, penulis lagu dan pendiri Motorhead, salah satu legenda New Wave Of British Heavy Metal (NWOBHM) sejak akhir dekade ’70an.

Film Lemmy disutradarai dan diproduksi oleh Greg Olliver dan Wes Orshoski dan menampilkan wawancara dengan teman-temannya, teman sebayanya, sekaligus pengagumnya seperti Slash, Duff McKagan, Ozzy Osbourne, James Hetfield, Lars Ulrich, Robert Trujillo, Kirk Hammett, Nikki Sixx, David Ellefson, Scott Ian, Dave Vanian, Kapten Sensible, Peter Hook, dan Marky Ramone, serta Nik Turner dan Dave Brock dari Hawkind – mantan bandnya Lemmy. Para pembuat film juga dapat mengabadikan banyak momen candid dengan rekan-rekan seperti Dave Grohl dan Billy Bob Thornton bercakap-cakap dengan Lemmy di bar dan studio rekaman.

Film ini mengungkapkan bahwa Lemmy menghabiskan sebagian besar hidupnya baik dalam tur dengan Motörhead atau nongkrong di Rainbow Bar and Grill di Los Angeles, dengan tidak sedikit musisi terkenal seperti Nikki Sixx yang bercanda bahwa mereka bertemu Lemmy setiap kali mereka pergi ke Rainbow. Lemmy ditampilkan tinggal sendirian di sebuah apartemen kecil yang ia sewa. Ia memilih tinggal di sana dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Los Angeles yang jauh lebih baik dan layak karena hanya ia ingin tinggal berdekatan dengan Rainbow. Dia mengungkapkan bahwa dia belum pernah menikah dan cukup dekat dengan putranya, Paul, seorang gitaris yang sesekali bergabung dengannya di atas panggung.

Film berdurasi 116 menit ini dirilis pada tahun 2010, lima tahun sebelum sang legenda rock paling ‘bad-ass’ ini meninggal dunia pada 28 Desember 2015. Sebagai bentuk ‘tribute’, Rainbow Bar and Grill memasang patung Lemmy di depan pintu masuk tempat kongkow paling favorit almarhum ini selama sisa hidupnya.

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Slipknot

Slipknot Luncurkan Knotfest Versi Online Dengan Streaming Konser dan W...

Aksi panggung Slipknot yang selalu gila dan menggelegar. (Foto: Amy Harris/Invision/AP/Shutterstock). Slipknot akan menyelenggarakan edisi online dari festi

on May 29, 2020
Mastodon

Mastodon Sibuk Siapkan Soundtrack Film ‘Bill and Ted’ dan Album Ba...

Mastodon. (Foto: Jimmy Hubbard/Warner Bros.). Mastodon memang sedang sunyi kabarnya akhir-akhir ini, tetapi itu tidak berarti bahwa band heavy metal itu tid

on May 28, 2020
Metal Ice Cream Truck

Truk Es Krim Dari Neraka "Nge-Prank" Anak-Anak Dengan Musik Extreme Me...

Extreme Metal Truck yang menghantui Minneapolis. Jika kamu kebetulan berada di Timur Laut negara bagian Minneapolis, Amerika Serikat (AS), berdiri di tempat

on May 27, 2020
Festival Musik

Kostum APD Covid-19 Baru Didesain Spesifik Untuk Konser dan Festival M...

Micrashell oleh Production Club. Ketika para pejabat pemerintah sedang pusing merencanakan bagaimana cara membuka kembali negara mereka di tengah pandemi Co

on May 27, 2020