<-- Google Tag Manager -->
×
×

Search in Mata Mata Musik

11 Label Rekaman Sukses yang Dikelola Musisi!

Posted on: 11/2/19 at 10:00 am

Banyak label rekaman yang dijalankan oleh musisi tidak lebih dari sekadar ‘vanity label’, tapi beberapa label penting di antara mereka telah memelopori hak artis dalam industri musik.

Seiring dimulainya era artis rekaman superstar, tidak butuh waktu lama bagi para musisi populer untuk ingin mengurus musiknya sendiri. Musisi yang lebih pandai mulai mengambil inisiatif dan, tak lama kemudian, label rekaman milik artis sudah menjadi hal yang lumrah.

Tapi sementara banyak dari mereka yang tidak lebih dari sekadar vanity label (anak perusahaan dari label yang lebih besar) tanpa input A&R nyata dari sang bintang, ada banyak label rekaman sukses yang dikelola oleh musisi.

Berikut adalah 11 label rekaman terbaik yang dijalankan oleh musisi.

Reprise (Frank Sinatra)

Pada awal tahun ’60-an, Frank Sinatra menjadi artis pertama dengan keberanian, pengaruh dan intelek untuk menyetir kariernya sendiri. Setelah gagal membeli Verve Records dari Norman Granz, Sinatra memutuskan satu-satunya cara dia bisa menikmati kontrol kreatif yang dia dambakan adalah dengan mendirikan labelnya sendiri, meluncurkannya pada tahun 1960 dengan single “The Second Time Around.”

Dan Sinatra tertarik untuk menyebarkan perasaan kebebasan artistik dengan teman-temannya, menggaet Sammy Davis Jr, Rosemary Clooney dan Dean Martin ke dalam keluarga Reprise.

Baca juga: Cinta House Music, Diplo Resmikan Label Musik Barunya!

Namun, biaya operasional rekaman terbukti menjadi tekanan finansial; Warner Bros melihat kesempatan untuk mengambil alih kekuatan bintang besar Sinatra dan membeli dua pertiga saham label pada tahun 1963.

Frank mendapat kursi di dewan Warners-Reprise dan Reprise pun terselamatkan, dan setelahnya beralih menjadi label besar, yang menggaet dan membesarkan artis-artis sekelas Joni Mitchell, Jimi Hendrix, Captain Beefheart, The Meters dan Neil Young.

Album penting: Frank Sinatra: Sinatra & Strings

Tangerine (Ray Charles)

Ketika bergabung dengan ABC Records setelah mencatatkan serangkaian keberhasilan di Atlantic yang memuncak dengan “What I’d Say,” Ray Charles berhasil menegosiasikan kesepakatan yang sangat menguntungkan bagi artis saat itu.

Selain tingkat royalti yang baik, ABC menawarkan bagi hasil, kepemilikan atas rekaman masternya dan kesempatan mendirikan label untuk merilis musik karya Charles dan kolaboratornya.

Sementara banyak dari single yang dirilis lewat labelnya menjadi pengisi lantai dansa soul yang sangat difavoritkan di Utara (dari artis-artis seperti George Byrd dan Ike And Tina Turner), Tangerine juga menemukan ruang untuk lagu-lagu sedih dari Jimmy Scott dan beberapa lagu jazz cemerlang dari John Anderson dan Al Grey.

Album penting: Jimmy Scott: Fallin’ In Love Is Wonderful

Apple (The Beatles)

Apple mungkin dimulai dengan gagasan ideal tentang kebebasan kreatif (“Kami berharap dapat membuat sesuatu yang bebas, di mana orang-orang bisa datang dan berkarya dan rekaman,” kata John Lennon), tetapi besarnya minat di sekitar apa pun yang dilakukan The Beatles, bersama dengan daftar kontak mereka yang panjang, menjadikan Apple sebagai salah satu label rekaman paling terkenal yang dikelola oleh musisi.

Antara tahun 1968 dan 1973, Apple merilis lebih dari 50 single dan lebih dari dua lusin album oleh artis-artis yang ditarik The Beatles ke label ini (serta album solo penting dari masing-masing personil The Beatles), melambungkan karier anak didik Paul McCartney, Mary Hopkin, Badfinger dan penyanyi-penulis lagu James Taylor, sekaligus menyediakan rumah bagi artis favorit lama band seperti Ronnie Spector dan Jackie Lomax.

Album penting: John Lennon: Imagine

Bizarre/Straight/DiscReet (Frank Zappa)

Dalam wawancara tahun 1987 dengan The Cutting Edge MTV, Frank Zappa menilik kembali ke tahun ’60-an. “Satu hal yang memang terjadi, adalah direkamnya dan dirilisnya beberapa musik yang sifatnya tidak biasa dan eksperimental,” kata Zappa.

Menurutnya, bos-bos label saat itu adalah “pria tua yang hobi mengisap cerutu yang melihat produk dan berkata, ‘Saya tidak tahu. Siapa yang tahu apa itu? Rekam, rilis. Kalau itu laku, oke!’”

Tapi bukan hanya orang-orang penting di label besar saja yang melakukan itu; label Zappa—dimulai dengan Bizarre di 1968, disusul dengan pembentukan Straight di tahun berikutnya dan, di 1973, DiscReet—menunjukkan rasa petualangan yang sama.

Artis-artis seperti Alice Cooper, Tim Buckley, Captain Beefheart, Wild Man Fischer dan Lenny Bruce dibesarkan oleh Zappa, menjadi outlet lain untuk kreativitas pria berkumis tebal ini.

Album penting: Frank Zappa: Hot Rats

Paisley Park/NPG (Prince)

Di puncak fase kejayaannya, Prince punya begitu banyak ide sehingga ia perlu meluncurkan serangkaian band proyek sampingan untuk merekam ide-ide itu.

Meskipun didistribusikan oleh Warner Bros, Paisley Park adalah label in-house Prince, logonya muncul di album-album klasik Prince seperti Parade dan Sign “O” The Times, bersama beberapa karya sampingannya, untuk artis-artis seperti The Family, Sheila E dan Jill Jones.

Ketika ide-ide Prince mulai menipis, kontrol kualitas Paisley Park pun menurun. Pada awal tahun ’90-an, pertengkarannya dengan Warner Bros yang sangat dipublikasikan membuat perusahaan induk itu menarik dukungannya.

Tak gentar, Prince menunjuk ke masa depan untuk label rekaman yang dijalankan oleh musisi, dengan meluncurkan label lain, NPG Records, di mana dia memelopori pesanan melalui pos dan distribusi internet yang didorong oleh artis di tahun ’90-an dan 2000-an.

Album penting: Jill Jones: Jill Jones

Merge (Superchunk)

Kebutuhan sangat sering menjadi akar dari penemuan—itulah sebabnya ada begitu banyak label rekaman yang dikelola oleh musisi. Merge didirikan pada 1989 oleh Laura Balance dan MacMcCaughan (personil band indie asal Durham, North Carolina, Superchunk) sebagai cara merilis musik karya band dan teman-teman mereka. Pada 2010, mereka memperoleh album No. 1 di Billboard dalam bentuk The Suburbs dari Arcade Fire.

Sebelumnya mereka telah merilis beberapa album penting dari beberapa dekade terakhir (69 Love Songs dari The Magnetic Fields, Nixon dari Lambchop, In The Aeroplane Over The Sea dari Neutral Milk Hotel, Funeral dari Arcade Fire) sambil mempertahankan fokus ‘ramah artis’ yang memberi kesan masih banyak musik lain yang akan datang.

Album penting: Neutral Milk Hotel: In The Aeroplane Over The Sea

Maverick (Madonna)

Di 1992, tidak ada kata salah untuk apa pun yang dilakukan Madonna. Album studio terakhirnya, Like A Prayer di 1989, adalah salah satu album yang mendefinisikan zaman itu, sedangkan The Immaculate Collection di 1990 tetap menjadi kompilasi terlaris yang dirilis oleh artis solo.

Namun, pada peluncurannya, banyak yang menganggap label Warners yang turut ia dirikan, Maverick, sebagai kebodohan yang memanjakan; sebuah label mewah yang dirancang untuk memanipulasi ego sang Material Girl yang ditata sendiri.

Baca juga: Universal Music Group Bantah Kehilangan 500 Ribu Rekaman Master

Tentunya, Madonna sudah lama membuktikan dia adalah sosok yang wajib diperhitungkan, dan label ini dengan cepat beralih menjadi label sukses dengan album-album yang sangat digemari dari Alanis Morrissette, The Prodigy dan Deftones.

Album penting: Alanis Morrissette: Jagged Little Pill

Grand Royal (Beastie Boys)

Kalau, pada puncak keanehan mereka, kamu mengatakan Beastie Boys—trio di balik album rap terlaris tahun ’80-an, Licensed To Ill—akan menghabiskan sebagian besar tahun ’90-an sebagai ikon yang menetapkan standar, orang-orang mungkin akan mempertanyakan kewarasanmu.

Tapi setelah mengesampingkan aspek-aspek yang lebih suram dari bidang mereka dan merilis serangkaian album yang semakin canggih dan impresif, status mereka meningkat pesat, dan hanya dibantu oleh peluncuran Grand Royal.

Dari tahun 1992 hingga 2001, para pengikut label memperoleh wawasan tentang kecenderungan eklektik mereka—boho hip-pop ala Luscious Jackson, punk manis dari Bis, lagu-lagu ceria Sean Lennon, gaya hyper-hardcore Atari Teenage Riot. Melihat ke belakang, label ini memang terkesan abstrak, tetapi ada banyak karya bagus yang bisa ditemukan.

Album penting: Various: At Home With The Groovebox

Roc-A-Fella Records (Jay Z)

Sangat luar biasa mengetahui salah satu label rekaman paling signifikan yang dikelola oleh musisi terlahir saat musisi tersebut menghadapi kesulitan.

Setelah gagal menarik minat label-label besar, Shawn “Jay Z” Carter—bersama dengan Kareem “Biggs” Burke dan Damon “Dame” Dash—mendirikan Roc-A-Fella untuk merilis album debut Jay di 1996, Reasonable Doubt. Begitu berita tersebar, label-label besar mulai berdatangan dan Def Jam menawarkan kontrak pada Carter, yang mana dijawabnya dengan: “Saya memiliki perusahaan tempat saya nge-rap.”

Taktik tanpa komprominya pun berhasil. Alih-alih bergabung dengan Def Jam, Jay Z dan rekan-rekan pendirinya menjual setengah dari Roc-A-Fella ke mereka pada 1997.

Tahun-tahun berikutnya memperlihatkan Roc-A-Fella sebagai kekuatan besar, merilis album-album yang mendefinisi genre dan era dan memberikan kesuksesan komersial sambil tetap berada di ujung tombak hip-hop. Karya-karya terbaiknya termasuk album-album yang tak tertandingi dari Kanye West, Beanie Siegal, Cam’ron… dan, tentu saja, bos label ini sendiri.

Album penting: Jay-Z: Reasonable Doubt

Third Man (Jack White)

Sementara rilisan pertama Third Man hadir di 1998—lewat single yang direkam Jack White “Close Your Eyes” oleh band yang berbasis di Detroit, The Fells, selama era kesuksesan The White Stripes, The Raconteurs dan Dead Weather—pekerjaan besarnya dilakukan oleh XL, di mana rilisan mereka menyandang cap “Di bawah lisensi eksklusif dari Third Man Records”.

Barulah pada tahun 2009—ketika White membeli sebuah bangunan di kawasan industri di selatan pusat kota Nashville, di mana dia mendirikan kantor, toko, studio rekaman dan ruang pertunjukan live—Third Man benar-benar meledak, dengan cepat menjadi salah satu label rekaman paling ikonik yang dijalankan oleh musisi.

Labelnya menjadi magnet bagi musisi yang sedang tur untuk berkumpul dan merekam single dan album live yang kemudian dirilis di label ini. Tak lama, Third Man merangkul ranah musik yang kaya di mana ia dibangun, mengontrak artis-artis lokal seperti Margo Price dan Joshua Hedley.

Seolah-olah hal itu dan merilis materinya sendiri tidak cukup, White telah berencana merilis serangkaian paket multi-volume yang disusun dengan indah sebagai kisah definitif dari beberapa artis yang menginspirasinya, dari Charley Patton hingga Blind Willie McTell.

Album penting: Margo Price: Midwest Farmer’s Daughter

GOOD Music (Kanye West)

Seperti yang bisa diduga dari salah satu artis paling kontroversial pada zaman kita, label rekaman Kanye West, GOOD Music, selalu bertindak sesuka hati dan baru-baru ini mengabaikan kebijaksanaan lama di industri (yang menyarankan perilisan musik baru dilakukan secara bertahap agar penggemar tidak cepat bosan) dengan merilis lima album yang diproduseri West dalam hitungan beberapa minggu saja.

Sama seperti pendirinya, GOOD Music adalah label dengan wujud serius di masa lalunya yang berarti penggemar akan selalu tertarik dengan apa pun yang dihasilkan selanjutnya. Dan dengan rapper Clipse legendaris, Pusha T, sebagai ketua, masa depan terlihat lebih baik dari sekadar GOOD.

Album penting: Common: Be

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Paul McCartney

Paul McCartney Punya Kesan Baru tentang Film Lama The Beatles

Pandangan Paul McCartney tentang film Let It Be tampaknya akan berubah, hampir 50 tahun sejak film itu pertama kali dibuat. “Karena peluncurannya sangat

on Nov 15, 2019
Ringo Starr

Album Baru Ringo Starr Bakal Jadi yang Terakhir?

Ringo Starr menjadi terkenal sebagai bagian dari The Beatles, namun di luar itu, dia adalah musisi legendaris. Belum lama ini, Ringo merilis What’s My Name

on Nov 13, 2019
The Beatles

3 Lagu Paling Menyeramkan dari The Beatles

Di masanya, The Beatles menciptakan perpaduan yang ikonik dari lagu-lagu pop yang ceria dan eksperimen bernuansa psikedelik. Baca juga: Artis Musik Terlar

on Nov 12, 2019
Musik Terlaris

Artis Musik Terlaris Tahun 1969-1996: Dari The Beatles Hingga Madonna

Ketenaran, kekayaan dan fans yang setia—ini sering kali adalah mimpi yang jadi kenyataan bagi para artis musik paling populer di dunia. Berkat keahlian kr

on Nov 12, 2019