×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Album Lily Allen, No Shame

Source: Pitchfork

Dipermalukan oleh media atas setiap kesialannya , Lily Allen mulai memperhatikan persona-nya di publik melalui album yang mencairkan ketulusan dengan irama yang tidak bersemangat.

Oleh Madison Bloom (Pitchfork)

Dalam empat tahun sejak Lily Allen merilis Sheezus, upayanya dalam satire budaya pop yang tidak disambut baik, bintang asal Inggris ini terus dipermalukan untuk setiap kesialannya. Dia dipojokkan karena kebiasaan minumnya, putus cinta yang terlalu dipublikasikan, dan—yang paling disayangkan—disalahkan karena kelahiran mati anak yang semestinya menjadi putra semata wayangnya. Melacak setiap judul berita sensasional yang berhubungan dengan Allen akan memerlukan hard drive tambahan, karena profil publiknya selalu dibentuk oleh interpretasi tabloid tentang kehidupan pribadinya. Di LP terbarunya, No Shame, penyanyi ini memperhatikan persona tersebut dari sudut pandang orang jahil di internet dan anggota keluarga, serta melalui pandangannya yang mencela dirinya sendiri.

Secara tematis, pendekatan Allen lebih bernuansa dan sungguh-sungguh di sini ketimbang di lagu-lagu yang memikat para selebritas di Sheezus, namun produksi yang tipis membuat kebanyakan dari album ini menjadi membosankan, sering kali menguras warna dari materinya yang berapi-api. Lagu-lagu yang paling tidak menarik dari album ini terdengar seperti pop pabrikan, yang dirakit dan dikemas untuk vokalis mana pun. “Higher,” yang diproduksi oleh P2J dengan jentikan jarinya dan irama gitar yang sendu, mengingatkan kita pada single Justin Bieber; vokal dua dimensi Allen melayang tepat di atas campuran tersebut seperti pesawat kertas yang perlahan jatuh. “Your Choice” dan “Lost My Mind” menderita keakraban berlebihan yang serupa, yang keduanya menampilkan jentikan ritmis dan lirik berbisik yang sama. Masalahnya bukanlah karena lagu-lagu ini secara terang-terangan buruk, tetapi lagu tersebut sama sekali tidak menunjukkan jejak kepribadian Allen. Di masing-masing lagu, sudut pandangnya terkubur oleh keinginan tak imaginatif dari para produsernya.

Baca Juga: Review Album Paramore: After Laughter (2017)

Untungnya, dia muncul kembali di “Waste” dan “Trigger Bang,” dua dosis pop sempurna yang bisa saja muncul di album debut luar biasa Allen di 2006, Alright, Still. “Trigger Bang” memiliki beberapa produksi yang paling beragam di No Shame (berkat kolaborator Sheezus, Fryars). Suara downtempo, synth yang berubah-ubah, dan piano yang ceria terasa seperti permen karet yang tidak kehilangan rasanya saat kamu mengunyah; Allen pun diperkuat, dan tidak terhalang oleh irama. Dia terdengar berani, merefleksikan hari-hari berpestanya zaman dulu, dan membuat keputusan untuk menjauh dari hari-hari tersebut demi kewarasan. Lagu pembuka “Come On Then” adalah sorotan lainnya, yang membahas bagaimana Allen dipandang oleh media dan para pembencinya. “Yeah, I’m a bad mother, I’m a bad wife/You saw it on the socials, you read it online,” dekutnya di atas suara drum yang keras. Nadanya secara halus menusuk hati tetapi tetap rentan, dualitas yang ia sampaikan dengan sempurna.

Kerentanan itulah yang menjadi aset terbaik album ini, dan Allen menyampaikannya dengan sangat efektif di tiga lagu di tengah-tengah album ini: “Family Man,” “Apples,” dan “Three”—balada yang menampilkan Allen berkeliaran di reruntuhan pernikahannya dan merosot di bawah beban menjadi orang tua. “Family Man,” yang diproduksi oleh Mark Ronson, menunjukkan pembawaan vokalnya yang paling kuat, saat dia memohon kepada pasangannya untuk tetap tinggal sambil mengingatkan orang tersebut akan kekurangannya yang tidak dapat diperbaiki. Dibuat dari keputusasaan yang lebih besar, “Apples” adalah penerimaan yang payah atas kegagalan yang mengikuti permohonan tersebut. Dalam falsetto-nya yang menyusut, Allen membuat daftar kejadian penting dari hubungan yang mati suri seolah-olah dia membolak-balik album pernikahan sambil memegang sebotol vodka.

“Three” adalah lagu yang paling berpengaruh di No Shame. Di atas suara piano kecil, Allen melamunkan ditinggal oleh orang yang dicintai. Irama pembukanya bisa dinyanyikan dari sudut pandang seorang istri yang merindu atau seorang suami yang putus asa, tetapi sudut pandang ini berubah saat dia menyatakan, “This afternoon I made a papier-mâché fish, mum/I made it just for you/Please don’t go/Stay here with me/It’s not my fault, I’m only three.” Ini adalah momen yang mengejutkan, yang menyampaikan kerinduan seorang anak, rasa bersalah orang tua, dan tekanan masyarakat untuk menjadi ibu yang sempurna, semuanya berada dalam beberapa baris yang ringkas.

Kalau Sheezus diibaratkan sebagai Allen di momen paling ironisnya, album terbaru ini menandai kembalinya ketulusan—dan penilaian tentang keibuan, hubungan yang gagal, dan penghujatannya yang terus masuk ke dalam. Sayangnya, tema-tema besar ini seolah dirusak oleh produksi yang ‘terlalu bersih’. Media mungkin suka mengubur Lily, tapi bukan personanya lah yang membuat No Shame kurang pas. Salahkan iramanya.

Posted on June 13, 2018

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Bipolar – Monkey To Millionaire

Warna lama yang manis dalam ‘tujuh dosa’ milik Monkey To Millionaire. Oleh: FEK. Beberapa tahun terakhir mereka memang agak jarang tampil secara live

on Feb 17, 2019
Keterangan: Sampul album Hourglass milik Niskala.

Hourglass - Niskala

Penggambaran putus asa dan harapan yang dibuat dengan indah secara abstrak oleh Niskala. Oleh: FEK.  Lagi-lagi Yogyakarta mengeluarkan musisi berbak

on Feb 11, 2019
#MMMReviewAlbum: O.M - Mooner

O.M - Mooner

Rekti selalu diidentikan dengan The SIGIT, serta Absar yang juga menjadi bagian The SIGIT, mungkin membuat orang berpikir bahwa Mooner dan The SIGIT adalah sam

on Jan 20, 2019
Review Album Ruang – Tashoora

Ruang - Tashoora

Tashoora, beri rasa segar untuk industri musik Indonesia seperti orkestra yang dibuat padat oleh enam orang. Oleh: FEK. Sekitar kuartal ketiga tahun 2018

on Jan 12, 2019