×
×

Search in Mata Mata Musik

Play – Dave Grohl

Selama kurang lebih 23 menit, ketujuh Dave Grohl jadi-jadian ini membangun apa yang bisa disebut sebagai seni suara murni. 

Oleh: Mudours.

Jikalau musik rock boleh diibaratkan dalam wujud seorang manusia, maka satu pertanyaan yang ingin sekali saya lontarkan kepadanya adalah “Kamu apa kabar?” dan saya yakin dia (musik rock) pun akan kaget dan kebingungan dalam menjawab pertanyaan yang tak terduga itu. Sejatinya, pertanyaan itu tidak hanya diperuntukkan bagi si rock, namun bagi si musik itu sendiri secara umum.

Baca Juga: Unknown Mortal Orchestra – Sex & Food

Maklum, di tengah hiruk pikuk digital ini, musik seringkali digunakan sebagai kendaraan ramah lingkungan untuk mengangkut pemikiran manusia, manifestasi ego, kritik sosial, atau sekedar penyedap suasana. Musik hampir tak lagi dianggap sebagai proses, ia hanya dikenakan layaknya kostum untuk melenggang di ajang pencarian apresiasi.

Paling tidak hingga sesosok manusia itu muncul (kembali). Manusia yang bernama David Eric Grohl ini datang bersama enam kembarannya memasuki Join the Band Studio—sebuah studio les musik di California. Masing-masing bersiap di posisi dan instrumennya dan seketika pertanyaan saya di paragraf pertama tadi pun terjawab sudah: Musik (rock) baik-baik saja. Lupakan Nirvana, lupakan Foo Fighters. Di sini, Dave hanyalah seorang anak yang asyik sendiri dengan mainan kesukaannya.

Solonya di Play dibuka dengan suara synth tebal yang dilanjutkan dengan isian drum khas dan suara gitar yang menyalak layaknya deru mesin mobil yang baru dinyalakan untuk bersiap dalam sebuah perjalanan yang takkan terlupakan. Dave dan keenam kembarannya larut dalam dinamika, tempo dan nada yang saling ditaburkan satu sama lain. Mereka bermain tanpa konteks selain cinta yang begitu mendalam pada musik itu sendiri. Dalam rekaman penuh yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, salah seorang Dave terlihat canggung sekaligus gemas di hadapan glockenspiel dan alat musik pukul lainnya. Rekaman yang begitu organik ini ditutup dengan dengungan elektrik khas studio yang akan membuat setiap Homo Studioensis merasa kangen dan tak sabar ingin kembali ke studio.

Selama kurang lebih 23 menit, ketujuh Dave Grohl jadi-jadian ini membangun apa yang bisa disebut sebagai seni suara murni. Mereka seperti pustakawan yang baru saja merapikan buku-buku musik yang halamannya banyak dilipat, ditandai, dan ditempel dengan konteks ala manusia modern. Lewat Play, Grohl mampu menampar karya-karya musik modern ciptaan manusia mabuk literasi yang kini banyak digandrungi. dan mengembalikan kodrat musik sebagai seni yang santun dan disiplin tanpa mengesampingkan keindahannya. Play kelak akan menjadi artefak musik tersohor bagi peradaban manusia di ratusan tahun yang akan datang karena perannya sebagai katalis dan bila saat itu tiba, David Eric Grohl mungkin hanya akan jadi sebuah nama di akhir kutipan yang diukir di museum:

“But at the end of the day, just like any kid, the reward is just to play.”

Verdict: 8/10.
Tapi, siapalah saya berani-beraninya menilai karya seorang bapak rock dunia nan karismatik itu, hhe :’(

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Personil Foo Fighters Mengaku Diintimidasi Dave Grohl

Personil Foo Fighters Mengaku Diintimidasi Dave Grohl

Mantan drumer Foo Fighters William Goldsmith menjadi bahan pemberitaan baru-baru ini setelah melempar kritik keras terhadap Dave Grohl. Oleh Bratt Buch

on Dec 27, 2018

Dave Grohl dan Krist Novoselic Bahas Konser Nirvana Berikutnya

Dua mantan pentolan Nirvana membahas kemungkinan reuni Nirvana Oleh Winston Cook-Wilson (Spin) Gambar: dave-grohl-krist-novoselic-bahas-konser-nirvan

on Oct 22, 2018