×
×

Search in Mata Mata Musik

Akankah Para Fans dari Asia Terus Menyerbu Tangga Lagu?

Source: Billboard

Platform streaming dengan pengguna terbanyak di Cina dengan bangga menampilkan metrik penggemar yang menunjukkan siapa yang paling banyak membeli album untuk seorang artis.

Oleh: Fred Hwang (Billboard)

Sampai dekade ini, kekuatan fandom musik Asia sebagian besar beradadi luar negeri, hanya sedikit yang masuk ke Amerika. Namun globalisasi tidak dapat dihindarkan, dan dalam beberapa tahun terakhir, gelombang artis Asia beserta para pengikut mereka yang fanatik mulai mempunyai pengaruh yang cepat berkembang di budaya pop Amerika. Tekad mereka tidak hanya untuk menikmati musik saja, tetapi juga untuk mengonsumsinya dalam jumlah yang memecahkan rekor. Halini mengguncang sistem yang ada sekarang, dan tampaknya tidak akan ada habisnya.

Bayangkan kasus-kasus ini, yang semuanya terjadi dalam setahun terakhir:

BTS meraih peringkat No. 1 kedua mereka di tangga album Billboard 200, di tahun ini saja sekaligus ‘mengejek’ rekor-rekor sebelumnya. Penampilan mereka terus meningkat seiring pertumbuhan mereka. 

Di minggu ini, boyband asal Korea lainnya, EXO, menghasilkan 1,1 juta pre-sale di Korea dengan album baru mereka.

Girlband Korea BLACKPINK dan pendengar mereka terus bergerak memecahkan setiap rekor streaming YouTube selain rekor Taylor Swift di awal tahun ini. Mereka baru hanya merilis dua EP – ini baru permulaan.

Sementara artis-artis Korea ini memperkuatdaya tarik mereka, artis-artis dari China mulai menguji status quo saat ini. Pekan lalu, manajer beken Scooter Braun dansalah satu klien bintangnya, Ariana Grande, terlibat dalam sebuah kekacauan online terkait superstar China Kris Wu dan album perdananya Antares. Dengan hanya satu jutapendengar bulanan di Spotify dan tidak ada video musik di atas 30 juta tontonan, Kris tiba-tiba mendapat 7 dari 10 single teratas secara keseluruhan di iTunes Charts Apple, melampaui lagu hit Grande “Thank U, Next” yang membuat cemas para Arianator.

Fanbase asing, khususnya yang ada di Asia, sudah mulai melirik metrik dan pemeringkatan Baratsebagai peluang untuk memvalidasi artis favorit mereka di kancah global. Bayangkan usaha yang diperlukan untuk bisa mengecilkan lagu yang memecahrekor di mana-mana. Para penggemar ini tidak membeli album hanya untuk didengarkan: mencapai peringkat tertinggi untuk artis favorit mereka adalah tujuan eksplisit mereka seiring mereka membeli, streaming dan mengunduh idola mereka ke posisi puncak. Upaya besar-besaran yang terkoordinasi dari rakyat biasa mendorong pembelian beberapa kopi per orang – inilah budaya di China. Bahkan, QQ Music dari Tencent Music Entertainment, platform streaming dengan pengguna terbanyak di China, dengan bangga menampilkan metrik penggemar menunjukkan siapa yang paling banyak membeli album untuk seorang artis. Untuk bintang terbesar, seorang ‘superfan’dengan puluhan ribu kopi album yang sama biasanya menempati posisi No. 1. 

Ini bahkan bukan pertama kalinya dalam tahun ini tangga lagu iTunes membuat heran pecinta musik. Ironisnya, awal tahun ini, superstar pop asal China lainnya Cai Xukun menggeser Grande dan lagunya “God is a Woman” dari posisi puncak di iTunes dalam insiden serupalainnya di mana penggemar Grande menuduh adanya pelanggaran. Tapi kejadian ini tidak menarik perhatian yang sama: pencarian sederhana di Google tidak akan memunculkan satu pun artikel tentang itu.

Determinasi tanpa henti dalam budaya penggemar di Asia tidak ada tandingannya di negara Barat, dan ketika kebiasaan mereka melewati batas negara mereka, asumsi yang otomatis munculadalah hasil yang palsu. Tangga lagu ini dinilai sangat berarti untuk para fan base, industri, dan juga para artis. Grande langsung memposting tentang prestasinya segera setelah dia meraih peringkat No. 1 pertamanya dengan “Thank U, Next.”

Pada akhirnya, beberapa angka penjualan Antares dihilangkan dari perhitungan di AS. Keputusan ini bisa memiliki konsekuensi jangka panjang yang besar seiring industri musik global berusaha mengubah ekonomi musik China menjadi ekonomi berbayar. Ini akan mencegah para fans membayar harga album AS, kalau uang hasil kerja keras mereka ternyata tidak memberi pengaruh apa-apa. Apakah industri ini benar-benar ingin melumpuhkan apa yang akan menjadi pasar musik Top 5 di dunia?

 

Keterangan foto utama: BTS raih dua penghargaan besar, ‘Best Artist of the Year’ dan ‘Digital Album of the Year’, di MGA 2018. (Foto: The Korea Herald/Park Hyun-koo)Posted on November 16, 2018

Tags:

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

7 Koreografi Keren K-Pop Dengan Gerakan ‘Waacking’

7 Koreografi Keren K-Pop Dengan Gerakan ‘Waacking’

Waacking adalah gaya tarian jalanan dengan banyak gerakan tangan yang cepat.  Oleh: U. Kim. (Soompi) Kalau kebetulan kamu belum kenal dengan istilah

on Feb 16, 2019
Saksikan Comeback DreamCatcher di Video “PIRI”

Saksikan Comeback DreamCatcher di Video “PIRI”

Lagu dari mini album keempat DreamCatcher, The End of Nightmare Oleh D. S. Kim (Soompi) DreamCatcher merilis video musik untuk lagu utama mereka “PIRI

on Feb 14, 2019
INFINITE Mengatakan Ingin Bersamamu di Video “Clock”

INFINITE Mengatakan Ingin Bersamamu di Video “Clock”

Video pertama INFINITE tanpa Sunggyu yang sedang jalani wajib milier Oleh R. Choi (Soompi) Pada 13 Februari, boyband ini merilis video musik untuk lagu t

on Feb 14, 2019
TST Kembali Dengan Video Terbaru “Wake Up”

TST Kembali Dengan Video Terbaru “Wake Up”

Comeback pertama TST sebagai kuintet Oleh C. Hong (Soompi) Di penghujung bulan Januari, agensi TST, KJ Music Entertainment, mengumumkan bahwa boyband ini

on Feb 13, 2019