×
×

Search in Mata Mata Musik

O.M – Mooner

Rekti selalu diidentikan dengan The SIGIT, serta Absar yang juga menjadi bagian The SIGIT, mungkin membuat orang berpikir bahwa Mooner dan The SIGIT adalah sama dari segi aransemennya. 

Oleh: FEK. 

Apa yang membedakan antara Mooner dan The SIGIT? Sepertinya itu pertanyaan yang dilontarkan setiap pendengar The SIGIT.

Kali pertama mendengarkan beberapa lagu Mooner di album pertamanya, Tabiat, saya berpendapat, “Ini sih masih The SIGIT banget, terus ngapain bikin band lagi?” Kental dengan alunan stoner rock, band yang diperkuat oleh Rekti (The SIGIT), Absar (The Slave), Tama (Sigmun) dan Marshella,  mengajak pendengarnya untuk merasakan magisnya bunyi yang dihasilkan oleh sitar di album terbaru mereka. Elemen penting yang turut menyumbangkan nyawa ke album ini. Hal yang paling terasa beda adalah pada pembuatan lirik yang dilakukan oleh Rekti menggunakan bahasa Indonesia! Marshella sebagai vokalis dirasa pas dalam pengolahan nada-nadanya.

O.M dirilis dalam format CD dan kaset, tapi rencananya album ini juga akan dirilis dalam format piringan hitam dalam waktu dekat. Buat kalian yang suka ngoleksi kaset, rilisan kaset pita mereka dibuat dalam empat warna berbeda. Cocok banget buat dikoleksi! Tapi sayang, kurang dari 24 jam kasetnya sudah habis. 🙁

Oke, balik lagi ngomongin musiknya. Dalam album ini saya cukup senang karena eksplorasi yang digunakan berbeda dengan musik-musik The SIGIT. Ditambah dengan sentuhan alat musik seruling pada lagu “Menenggala” serta suara sitar di “Kelana” yang dimainkan oleh Asrie Tresnady, seorang seniman yang memperdalam alat musik tersebut di India. Bahkan kalian akan langsung mendengarnya pada lagu pertama dari album ini yang berjudul “Indo”.

Buat kamu yang suka menonton mereka secara live dan mendengarkan lagu-lagu di album Tabiat, pasti sering moshing, stage dive atau minimal headbang tipis di tempat kamu berdiri. Sedangkan untuk O.M, beat-beat cepatnya memang akan membuatmu menganggukan kepala tapi mungkin tanpa kalian sadari, jempol dan bagian badan kalian yang lain juga akan terdorongi untuk bergoyang layaknya nonton orkes melayu.

Lebih menarik lagi, pada lagu “Kama” dibuat menjadi nuansa timur tengah dan tentunya masih dengan sentuhan stoner rock. Keren! Suara Marshella juga lebih kuat dari album sebelumnya sehingga bisa mengimbangi riff dan lick gitar yang dilakukan Absar. Diksi-diksi dalam pembuatan liriknya juga cukup gila bahkan dari judul lagunya pun membuat saya harus membuka kamus karena penasaran apa makna kata tersebut.

Verdict: 8/10.
Tidak perlu berkata panjang lebar lagi. Ini adalah album yang cocok untuk menikmati Minggu sore bersama dua teman akrab saya, tembakau dan kopi hitam. 

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Bipolar – Monkey To Millionaire

Warna lama yang manis dalam ‘tujuh dosa’ milik Monkey To Millionaire. Oleh: FEK. Beberapa tahun terakhir mereka memang agak jarang tampil secara live

on Feb 17, 2019
Keterangan: Sampul album Hourglass milik Niskala.

Hourglass - Niskala

Penggambaran putus asa dan harapan yang dibuat dengan indah secara abstrak oleh Niskala. Oleh: FEK.  Lagi-lagi Yogyakarta mengeluarkan musisi berbak

on Feb 11, 2019
Review Album Ruang – Tashoora

Ruang - Tashoora

Tashoora, beri rasa segar untuk industri musik Indonesia seperti orkestra yang dibuat padat oleh enam orang. Oleh: FEK. Sekitar kuartal ketiga tahun 2018

on Jan 12, 2019
#MMMReview: Merakit - Yura Yunita

Merakit – Yura Yunita

Setelah empat tahun tidak merilis album, eksplorasi aransemen musik dan penulisan lirik oleh seorang Yura Yunita akhirnya terlihat di Merakit. Oleh: FEK.&nb

on Jan 4, 2019