×
×

Search in Mata Mata Musik

Menggeram di Kaki Langit

Dan apa pentingnya reuni Alice bagi kancah hardcore kita?

Oleh: Rio Tantomo.

Hal paling menyebalkan di konser Alice Jumat (11/1) malam silam bukan menyangkut tata suara punk (baca: teruk) yang keluar dari tiga amplifier di atas panggung – itu semacam risiko langganan milik Rossi Musik, kecuali kau punya engineer sekelas Yayat Achdiat,  walau mungkin beliau juga akan menyerah – melainkan tidak dimainkannya “Your Beloved Hex”, lagu yang digadang bakal rilis sebagai single terbaru mereka hari itu. Keesokannya lagu itu dimainkan di Bandung, sekaligus menjadi penampilan terakhir Miko di balik mikrofon. Sesuatu yang mudah dipahami sebetulnya, mengingat setiap band pasti terlibat ikatan emosi tersendiri dengan kota kelahirannya. Contoh: Refused terbentuk, bubar dan reuni di Umeå, sebuah kota opera di bagian timur Swedia, tempat mereka memulai segalanya. Atau Black Sabbath yang dua tahun lalu mengakhiri karir dengan sebuah konser penghabisan di Birmingham, Inggris – pun dalam skala yang jauh lebih kecil namun membludak adalah pertunjukan final Thinking Straight di origin Depok.

Begitupun Bandung bagi Alice. Di sanalah mereka pertama kali dicetuskan 14 tahun silam oleh Miko, bocah HC/punk yang tengah terkontaminasi termin abstrak ‘noise-hardcore’. Cerminannya saat itu adalah sejumlah band hardcore Amerika yang bermain lebih agresif dan ekstrem dari sekadar old-school douchebag klasik. Dalam istilahnya chaotic, beruang eksperimen dengan kemarahan yang meledak tak beraturan bersama akar kuat terhadap post-hardcore, metal-core dan noise penggergaji telinga. Ritmik mereka diselingi presisi ketukan acak prog-jazz, ibarat Einstein dan Freud dan Picciotto bertemu dalam satu papan rumus tentang luapan amarah: antara lain bisa dikredibelkan pada nama seperti The Dillinger Escape Plan, Botch, Converge dan sejumlah rombongan Hydra Records.

Muatan misilnya didominasi oleh kompleksitas hardcore dan fantasi kekacauan umat manusia. Menuntut presisi sekaligus juga, tentu saja pemain drum yang jago. Tanpa itu band keotik kalian hanya akan terdengar seperti molotov koktil yang sembleb, kagok dan mudah diinjak. Dan Alice adalah pionir lokal bagi kancah kebisingan itu.

Pada periode 2010 mereka menerbitkan EP Konsorsium Humaniora via Heaven Records dengan kuartet ideal; Rachma Jatmiko (Miko), vokal – Andika Surya, gitar –Hasbi Erlangga, bas dan Diky Sophiadi, dram. Mereka menyalak sengit, meraung dalam rancak struktur volatil yang bengis membakar nyala. Idenya adalah bermain acak seberisik mungkin, daripada mempercantiknya, mereka memilih serusuh dan sekasar garukan besi dan setrum listrik. Alice tidak ada lawannya saat itu, cetak biru lokal.

Kemudian mereka melepas split kaset dengan Wicked Suffer, aksi hc/punk snob-nihilis asal Yogyakarta. Wicked Suffer adalah band tipikal garis keras aka non kompromis yang menolak ideologi komoditas. Bisa dibilang bebal dengan hobi memingit diri dan mencemooh para sell-out underground dalam sikap kebencian murni– kutipan Jean Genet, penyair Prancis berbunyi di bungkus EP Vicious Circle debut mereka: ‘What we need is hatred. From it our ideas are born.’ Gila, tampak saya bisa melihat Nietzsche sedang menyodomi telinga seekor kambing belia di gubuk surga sekarang – dengan kumisnya yang elegan melingkar.

Tapi mungkin kebencian itulah yang membuat kedua band tersebut saling cocok bertepat guna. Alice menaruh lima lagu di sana, termasuk “Delta Apokalips”. Perhatikan liriknya: ‘Hunus pedangmu, tebas leherku/Kembali ke semesta, akhir dari dunia.’  Surya yang menulisnya. “Gue ingin dunia cepat-cepat dikiamatkan,” kata dia. Bagi pandangannya, kehidupan manusia terus berkembang ke arah pembusukan, setiap hari ada sampah yang dan sampah yang mati. “Jadi sekalian kiamatkan saja biar kita bisa refresh semua,” lanjutnya.

Album yang diriliskan pada 2012 (tahun yang ketika Alice dapat kehormatan membuka konser Dillinger Escape Plan di Malaysia) oleh WHMH Records dan True Side itu juga memuat lagu seperti “Semua Ini, Yang Kita Sembah Tak Lebih Dari Konstelasi”, “Pasifik Mega Genosida” dan “Partisan Ordo Puritan”. Tidak tahu, tapi saya mencium aroma pretensius dari judul-judul beristilah barusan. Pun tidak masalah juga, atur brengsek mereka, cuma saja sebagai seorang yang sensitif bercela sentimentil terhadap tetek bengek semiotika, saya tak mampu meredam rasa penasaran. Daftarnya akan saya panjangkan di sini: “Kontradiksi Tirani, “Angka-Angka Itu Bernama Aeon”, “Myasthenia Gravis” dan bahkan “Konsorsium Humaniora”.

Apakah semua itu nyata? Maksudnya, bermakna dalam atau hanya sekadar bergagah-gagahan barisan kata?

Gue merasakannya sewaktu menulis “Partisan Ordo Puritan,” resah dengan politik agama FPI,”  jelas Miko yang menulis liriknya. Ya kita semua juga mual dengan FPI, dan dipelihara pula. Kudis babi. Tapi lupakan, karena tidak tepat untuk dilanjutkan di sini: serapah terhadap pandir fasis tidak akan habis dimuntahkan dalam setidaknya lima paragraf banjir tanda seru. “Kalau elo tanya apa lirik-lirik itu nyata atau enggak,” sementara Surya menyambungnya, “beberapa ada yang beneran nyata. Gue pernah bikin “Iron Nerves” (trek dua Konsorsium Humaniora) tentang kegiatan manusia yang akan digantikan sama artificial intelegence. Komputer itu didesain menyerupai dan mampu menandingi otak manusia. Saat itu gue sudah punya pikiran kayak begitu . . .dan anjing, sekarang kejadian. Hampir 99% kehidupan manusia sudah dikendalikan oleh robot.”

Ah, secara random pernyataan di atas jadi membuat persepsi lagu “AI” punya Seringai tampak telat delapan tahun kemudian. Tapi itu tidak begitu penting. Arian13, penulis lirik Seringai memutuskan untuk mengontrak Alice sebagai rekrutan pertama label miliknya, Lawless Records dan meriliskan (cuma) 300 biji plat self-titled 7 inci enam tahun silam. Di album itu Surya menulis “Memberangus Di Kaki Langit” sekaligus satu-satunya lagu Alice yang dijadikan klip video.

Seperti diungkapkan Surya, lagu itu merupakan satu lagi luapan kebencian murni. Sampai di sini saya cukup terkejut mendengar – diluar musiknya – sikap destruktif begitu pekat dari nama semanis Alice. (sekadar info: Alice diambil dari  protagonis utama Resident Evil). Namun bagi saya kontradiksi adalah kecerdasan agitasi, meski milik Alice lebih bersifat personal bukan seruan. Maka saya mendalami emosinya. “Kalau elo bisa meramal atau baca pikiran gue, elo pasti bisa merasakan kemarahan gue,” kata Surya. Itu menarik, tapi sialnya saya tidak bisa dan tidak punya banyak waktu untuk kegiatan ramal-meramal semacam itu.          

Namun saya bisa melihat dari gestur matanya. Kemarahan Surya tersimpan dengan buruk di wajahnya, dalam hal ini maksudnya mudah terdeteksi – tidak bisa disembunyikan dalam raut ekspresi yang tampak selalu dingin, terutama jika sudah menyandang gitar dan berdiri di atas panggung. “Gue tipikal pemendam kalau punya kemarahan yang sudah campur aduk. Output-nya adalah musik Alice ini,” ujar Surya.

Kekacauan versi Alice adalah kekacauan kita semua. Hardcore mereka menumpahkan segala permasalahan ke dalam bentuk kepalan. Terkadang meninju batok sendiri, tapi sering juga menimpa keluar, ke hadapan sekitar 100 orang di konser mereka yang menyempalkan mulut tanda geram.

“Fuck City” dimainkan. Menjelang akhir “Eagles Become Vulture”-nya Converge digelontorkan.

Miko menghempaskan tubuhnya dan diarak sebentar. Sepatu demi sepatu menapaki bahu demi bahu membentuk pusara di atas kepala kerumunan terdepan. Malam itu akan menjadi pertunjukan Jakarta terakhir baginya bersama Alice, dan dia tampak menikmati hitungan mundur momen-momen nostalgiknya di band itu. Miko telah memutuskan akan cabut permanen setelah rampung dua panggung reuni ini. Sebelumnya dia sudah pernah meninggalkan Alice tahun 2015 setelah main di festival Sonic Fair sepanggung dengan Killswitch Engage dan Carcass. Alasannya: merantau ke Amsterdam, Belanda, yang otomatis membuat Alice gamang hingga mengambilkan keputusan bijak vakum.     

Sebenarnya reuni itu berkonotasi basi. Berbagai motif terselubung tersimpan di baliknya. Bisa aji mumpung atau butuh duit atau sekadar nostalgia atau sesimpel kurang kerjaan, misalnya. Tapi milik Alice secara lugu ada di yang ketiga, nostalgia. Sekaligus menyelenggarakan sesi pamitan dari Miko yang sedang liburan ke Indonesia. Sebab dirinya merasa belum melakukannya dengan patut empat tahun kemarin.

Misi lainnya adalah, ini yang paling penting, menegaskan bahwa Alice masih hidup dan telah meresmikan vokalis baru: Agung Cai eks Tragedi.   

“Your Beloved Hex” versi rekaman sudah menggunakan tenggorokan Cai. Surya kemudian mengakui secara sporadis terus masuk studio latihan bersama Erlangga dan Sophiadi, dan mengklaim punya sebuah lagu baru. Sehingga reuni awal tahun itu sekalian diplot sebagai pengibaran bendera bahwa akan ada sesuatu yang terjadi dalam waktu dekat.

Bagi Erlangga sang bassis, terbangunnya kembali reruntuhan Alice memberinya kesempatan untuk menyelesaikan hutang, masih penasaran belum pernah merilis debut album penuh. Selama hiatus panggung Alice 2015-2019 ketiga anggota yang tersisa memiliki masing-masing pelariannya; Surya dengan moniker Collapse, sedang Erlangga dan Sophiadi menghuni formasi kuartet hardcore Worthless Unit.

Selain itu, kenyataannya persediaan band-band hardcore lokal yang seperti Alice tidak banyak – yang mampu menjelmakan istilah-istilah berikut dalam kebrutalan disonan: barbarik, ruwet, metalik, ganas, keluar kendali dan bermesin apokalip, jika beranggapan kata chaotic terlalu umum dipakai. Sepanjang pemantauan saya, saya cuma bisa menyebutkan nama-nama berikut yang menggeram di kolam yang sama: Advark dari Bali lalu dua konco Yogyakarta, Cloudburst dan LeftyFish. Nama terakhir berdiagnosis sinting, sangat sinting, perwujudan sejati ‘brisik ngent*ot’ dengan perut berurai yang diulek blenderan grind, jazz, crusty dan alter-ego anjing saksofon berkepala acid. Rekomendasi penuh diberikan untuk grup pimpinan Halim Budiono dari Cranial Incisored ini.     

Maka tepat bila Alice serius untuk kembali turun gelanggang. Kita membutuhkan mereka. Lagipula dunia (tidak pernah) sedang baik-baik saja. Muntahkan dan muntab, muntab dan muntahlah, sebab dunia terlalu skeptis untuk dijalani secara pragmatis. Musik keras mulai membosankan, kita butuh kekacauan. Dan hal semacam itu mulai tidak relevan bila keluar dari hardcore regular yang stagnan mengglorifikasi persaudaraan. 

Saya pun setuju dan sepenuhnya mengerti pernyataan Andika Surya berikut, “Memangnya elo butuh bersosialisasi sedalam itu dengan manusia? Gue cuma butuh lima sampai enam orang untuk menjadi teman dekat. Pada tahapan itu gue menarik diri dari sosial dan merasakan depresi.”

Keterangan Foto Utama: ALICE. (Foto: Yusak Anugerah)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Alex Brown Dari Gorilla Biscuits Meninggal Di Usia 52

Alex Brown Gorilla Biscuits Meninggal Di Usia 52

Alex Brown, pemain gitar Gorilla Biscuits dikabarkan meninggal dunia setelah mengalami pembengkakan pembuluh darah. Oleh: Madison Bloom. Alex Brown dik

on Feb 3, 2019