×
×

Search in Mata Mata Musik

Hourglass – Niskala

Penggambaran putus asa dan harapan yang dibuat dengan indah secara abstrak oleh Niskala.

Oleh: FEK. 

Lagi-lagi Yogyakarta mengeluarkan musisi berbakatnya. Empat tahun waktu yang dirasa cukup untuk Niskala memantapkan diri menelurkan album penuh bertajuk Hourglass. Tepat di hari lahirnya 14 Desember 2018, mereka merilis sebuah album yang dirilis dalam bentuk cakram padat, dipaketkan dengan sebuah buku berisi 26 halaman yang berisi foto representasi dari masing-masing lagu dalam Hourglass buatan Bramsky.

Instrumental Post Rock. Jelas bahwa lagu-lagu mereka sebagian besar berisi penggabungan suara alat musik yang dimainkan oleh Danar Puspito (Guitar, Glockenspiel), Inderajaya (Drum), Damar Puspito (Bass), Danish Wisnu (Synth, Guitar) dan Daniel Bagas (Guitar) tanpa suara vokal. Sama seperti nama Niskala, rasa yang dibuat dari setiap lagunya tidak disalurkan melalui lirik yang dinyanyikan oleh seorang vokalis, melainkan dibuat secara abstrak kedalam penggabungan instrumen musik. Penggambaran yang tepat mungkin adalah sebuah rasa putus asa sekaligus harapan yang dibuat dengan indah.

Tidak sepenuhnya instrumen, dalam lagu “Seeing The Unseen” terdapat suara wanita, Chintya Anindita, yang menyatu dengan irama lagu yang membuat saya seperti mengambang menghadap langit di lautan lepas. Serta orang berpidato atau berpuisi –entahlah menyebutnya seperti apa– dalam bahasa Inggris dan Jerman pada “Commemorate” yang diisi oleh Daniel Bagas.

Sangat dalam! Walaupun tidak digambarkan secara jelas, saya benar-benar merasakan kedalaman mood ketika mendengarkan lagu mereka. Pada lagu “Alana”, saya ditenggelamkan oleh semesta ke laut terdalam, kekelaman sangat terasa. Tapi di bagian akhir lagu, seperti ditolong ke permukaan untuk menghirup udara bebas. Hampir sama,“Captured Trails” juga memberikan penggambaran yang mirip namun lebih halus dalam menaikkan mood.

“Legacy of the Moon” adalah penggambaran sebuah harapan yang dapat memberikan nuansa positif. Duduk sendiri, melamun, di sebuah sabana luas dengan desiran angin adalah situasi yang tepat untuk mendengarkan lagu ini.

Sangat sayang karya mereka untuk dilewatkan karena pengemasan yang bekelas dari bentuk fisik album sampai proses kreatif pembuatan lagunya. Ditambah pula foto-foto Bramsky yang cukup merepresentasikan kedalaman karya mereka dengan foto simple namun bermakna. Didominasi dengan warna hitam putih serta faded dengan saturasi rendah.

Verdict: 8/10.
Percayalah pada semesta!

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Bipolar – Monkey To Millionaire

Warna lama yang manis dalam ‘tujuh dosa’ milik Monkey To Millionaire. Oleh: FEK. Beberapa tahun terakhir mereka memang agak jarang tampil secara live

on Feb 17, 2019
#MMMReviewAlbum: O.M - Mooner

O.M - Mooner

Rekti selalu diidentikan dengan The SIGIT, serta Absar yang juga menjadi bagian The SIGIT, mungkin membuat orang berpikir bahwa Mooner dan The SIGIT adalah sam

on Jan 20, 2019
Keterangan Foto Utama: Niskala (Foto credit: Instagram @niskalayk )

Hourglass, Debut Album dari Niskala!

Setelah empat tahun, unit post-rock asal Yogyakarta, Niskala melepas debut album penuh yang bertajuk Hourglass.   Oleh: Gaza.  Niskala, un

on Jan 17, 2019
Review Album Ruang – Tashoora

Ruang - Tashoora

Tashoora, beri rasa segar untuk industri musik Indonesia seperti orkestra yang dibuat padat oleh enam orang. Oleh: FEK. Sekitar kuartal ketiga tahun 2018

on Jan 12, 2019