×
×

Search in Mata Mata Musik

Menurut Penelitian, Death Metal Bisa Bikin “Bahagia dan Damai”

Source: Louder Sound

Penggemar musik death metal lebih cenderung merasakan kebahagiaan dan kepuasan menurut sebuah penelitian di Australia.

Oleh: Briony Edwards, Metal Hammer. (Louder Sound)

Menurut penelitian, death metal bisa membuat seseorang merasa bahagia dan damai. (Foto: Gina Wetzler/Getty Images)

Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak penelitian yang mengamati musik heavy dan statusnya di dunia ini.

Berbagai penelitian menemukan lirik yang agresif ternyata baik untuk kejiwaan; penggemar musik metal adalah orang yang setia; mereka lebih peduli dengan bagaimana hal-hal bekerja ketimbang bagaimana manusia merasa; mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih baik; musik heavy membantu mereka menangani rasa takut akan kematian; dan vokalis band metal memiliki teknik vokal yang sama dengan anak bayi.

Baca Juga: Travis Barker Ungkap Album Mendatang Blink-182

Kini, sebuah studi yang dilakukan oleh universitas di Australia, MacQuarie, resmi menentukan bahwa penggemar death metal lebih mungkin merasakan kesenangan batin, dan menyatakan dalam laporan yang baru-baru ini dirilis bahwa: “Penggemar musik death metal merasakan kekuatan, kebahagiaan dan kedamaian saat mendengarkan musik ini.” Baca laporan lengkapnya di sini!

Laboratorium musik universitas menggunakan lagu Bloodbath, “Eaten” dalam pengujian psikologis terhadap 80 peserta— 32 di antaranya mengaku sebagai penggemar death metal — yang bertujuan untuk mengetahui apakah “paparan jangka panjang terhadap media yang kasar dapat menurunkan sensitivitas terhadap gambaran kekerasan.” 

Studi menemukan, sementara peserta yang tidak terbiasa dengan genre ini merasa tidak nyaman saat mendengarkan musik ini dan kemungkinan mengalami “ketegangan, kemarahan dan ketakutan,” penggemar death metal merasakan “kedamaian, kebahagiaan, kekuatan dan keajaiban.” Studi juga menyimpulkan, penggemar musik ekstrem masih peka terhadap gambaran brutal atau yang mengandung kekerasan. 

Baca Juga: Missy Elliott Dianugerahi Gelar Doktor Kehormatan dari Berklee

Studi ini merupakan bagian dari penyelidikan jangka panjang oleh profesor asal Australia, Bill Thompson, tentang efek emosional dari musik. “Penggemar death metal adalah orang-orang baik,” kata Thompson pada BBC. “Mereka tidak akan keluar dan melukai seseorang.”

Thompson melanjutkan: “Banyak orang menikmati musik sedih, dan itu sedikit paradoks – mengapa kita ingin membuat diri kita sedih? Hal yang sama bisa dikatakan dengan tema agresif atau kasar. Bagi kami, itu paradoks psikologis. Sebagai ilmuwan, kami ingin tahu, dan pada saat yang sama kami menyadari bahwa kekerasan di media adalah masalah yang signifikan secara sosial.”

Thompson menuliskan di The Conversation: “Alih-alih membuat penggemar merasa agresif, musik ini membantu mereka melepaskan atau mengalihkan perhatian mereka dari perasaan negatif, meningkatkan level energi, dan menghasilkan kondisi emosi mendalam yang kuat.

Baca Juga: Dinosaur Jr. Akan Gelar Kamp Rock

“Orang yang bukan penggemar merasa terganggu dengan lirik kasar yang sering bersifat misoginis, yang biasanya tidak memiliki konteks naratif dan poin moral yang membenarkan representasi kekerasan di teater atau film.

“Meski begitu, para penggemar biasanya tidak menyatakan kepedulian tentang liriknya. Saat menjelaskan motivasi mereka mendengarkan musik ini, seorang penggemar berspekulasi bahwa ‘Ini ada hubungannya dengan teriakan utama dalam diri kami: ini pelepasan – yang menerima dan menguatkan’.”

Keterangan Foto Utama: Wacken Open Air 2018. (Foto: Gina Wetzler/Getty Images)

Mata Mata Musik's Newsletter