×
×

Search in Mata Mata Musik

Streaming Musik Ternyata Lebih Tidak Ramah Lingkungan

Ternyata, jejak karbon dari streaming musik di Spotify, Apple Music atau platform streaming lainnya jauh lebih buruk daripada piringan hitam dan CD

Oleh: Matt Brennan & Kyle Devine. (Quartz)

Sangat mudah bernostalgia ke era di mana sebagian besar pecinta musik membeli piringan hitam. Menabung uang untuk membeli karya band terfavorit di toko kaset terdekat, kemudian membawa pulang vinyl terbaru dengan kantong plastik, dan mendengarkan lagu-lagunya dari meja pemutar berulang-ulang.

Ritual anakronistis ini akan dihadirkan kembali di Record Store Day pada 13 April nanti, ketika konsumen antre untuk membeli rilisan vinyl edisi terbatas eksklusif dari artis favorit mereka. Diluncurkan satu dekade lalu, acara tahunan ini adalah upaya industri untuk mendorong toko kaset independen yang hampir punah di zaman ketika kebanyakan orang streaming musik online.

Baca Juga: Film Seputar Set Beyoncé di Coachella Segera Tayang di Netflix

Tapi, apa benar generasi-generasi sebelumnya lebih menghargai musik rekaman daripada penggemar musik zaman sekarang? Kami enggan menyerah pada mitologi “zaman keemasan” musik dan mendukung ocehan baby boomer tentang masa lalu ketika musik lebih penting daripada sekarang. Kami memutuskan untuk menginvestigasi angka-angka untuk melihat apakah kenyataannya ternyata berbeda. Dan hasilnya, memang beda—dan itu jauh lebih buruk dari yang kami bayangkan.

Kami melakukan penelitian arsip pada konsumsi dan produksi musik rekaman di AS, membandingkan biaya ekonomi dan lingkungan dari format yang berbeda pada waktu yang berbeda. Kami menemukan,  harga yang rela dibayarkan konsumen untuk kemewahan memiliki musik rekaman telah berubah drastis.

Harga silinder fonograf di tahun puncak produksinya di 1907 diperkirakan sekitar $13,88 dalam perhitungan uang zaman ini, dibandingkan dengan $10,89 untuk shellac disc di tahun puncaknya di 1947. Album vinyl di masa kejayaannya di 1977, saat album The Sex Pistols Never Mind The Bollocks keluar, bernilai $28,55 dalam perhitungan uang zaman ini, dibandingkan kaset tape seharga $16,66 di 1988, CD seharga $21,59 di 2000, dan $11,11 untuk pengunduhan album digital di 2013.

Penurunan nilai relatif dari musik rekaman ini menjadi lebih jelas saat dilihat dari harga yang sama dengan proporsi gaji mingguan. Konsumen bersedia membayar sekitar 4,83 persen dari rata-rata gaji mingguan mereka untuk album vinyl di 1977. Angka ini turun menjadi sekitar 1,22 persen dari gaji yang setara untuk album digital selama puncaknya di 2013.

Dengan kehadiran streaming, tentunya, model bisnis dari konsumsi musik rekaman sudah berubah: apa yang dulunya merupakan industri komoditas, di mana orang membeli salinan untuk dimiliki, sekarang menjadi industri jasa di mana mereka membeli akses sementara untuk pengalaman musik yang disimpan di awan.

Hanya dengan $9,99—hampir 1 persen dari rata-rata gaji mingguan saat ini di AS—konsumen kini punya akses bebas iklan tanpa batas ke hampir semua musik rekaman yang pernah dirilis melalui platform seperti Spotify, Apple Music, YouTube, Pandora, dan Amazon.

Dari Sudut Lingkungan

Namun, jika konsumen membayar harga yang lebih rendah untuk musik mereka, gambarannya terlihat sangat berbeda saat Anda mulai melihat biaya lingkungan. Secara intuitif, Anda mungkin berpikir: dengan lebih sedikit produk fisik, emisi karbon akan jauh lebih rendah. Di 1977, misalnya, industri musik menggunakan 58 juta kilogram pastik di AS.

Pada 1988, tahun kejayaan kaset, angka ini turun sedikit menjadi 56 juta kg. Saat CD memuncak di 2000, angkanya kembali naik menjadi 61 juta kg plastik. Kemudian hadirlah dividen digital besar: seiring pengunduhan dan streaming mengambil alih, jumlah plastik yang digunakan oleh industri rekaman AS menurun secara dramatis, menjadi hanya 8 juta kg pada 2016.

Tetapi jika angka-angka ini tampak mengonfirmasi anggapan bahwa musik yang didigitalkan adalah musik yang tak berwujud—dan oleh karena itu lebih ramah lingkungan—masih ada pertanyaan seputar energi yang digunakan untuk menggerakkan kegiatan mendengarkan musik secara online. Menyimpan dan memproses musik di ‘awan’ bergantung pada pusat data yang luas yang menggunakan sumber daya dan energi dalam jumlah yang luar biasa.

Hal ini bisa ditunjukkan dengan menerjemahkan produksi plastik dan listrik yang digunakan untuk menyimpan dan mentransmisikan file audio digital ke dalam ekuivalen gas rumah kaca (GRK). Ini berarti, GRK dari musik rekaman adalah 140 juta kg di 1977 di AS, 136 juta kg di 1988, dan 157 juta kg di 2000. Hingga 2016, ini diperkirakan telah mencapai antara 200 juta kg dan lebih dari 350 juta kg—dan ingat, ini baru perhitungan di AS.

Jelas ini bukan hal terakhir dalam masalah ini. Untuk benar-benar membandingkan dulu dan sekarang, jika memungkinkan, Anda harus memperhitungkan emisi yang terlibat dalam pembuatan perangkat yang kita gunakan untuk mendengarkan musik di era yang berbeda. Anda perlu mempertimbangkan bahan bakar yang dibakar untuk mendistribusikan piringan hitam atau CD ke toko-toko musik, ditambah biaya distribusi alat pemutar musik dulu dan sekarang.

Ada emisi dari studio rekaman dan emisi yang terlibat dalam pembuatan instrumen musik yang digunakan dalam proses rekaman. Anda bahkan mungkin ingin membandingkan emisi dari penampilan live dulu dan sekarang—ini semua mulai terlihat seperti penyelidikan yang hampir tidak ada habisnya.

Bahkan jika perbandingan antara era yang berbeda akhirnya tampak berbeda, poin utama kami tetap sama saja: harga yang rela dibayarkan konsumen untuk mendengarkan musik rekaman tidak pernah lebih rendah dari zaman ini, namun dampak lingkungan tersembunyi dari pengalaman itu sangat besar.

Maksud dari penelitian ini bukan untuk merusak salah satu hiburan terbesar dalam hidup, tetapi untuk mendorong konsumen agar lebih awas dengan keputusan yang mereka buat saat mengonsumsi budaya.

Apa kita memberi imbalan kepada para artis yang membuat musik favorit kita dengan cara yang secara akurat mencerminkan apresiasi kita? Apakah platform streaming model bisnis yang tepat untuk memfasilitasi pertukaran itu? Apakah streaming musik dari jarak jauh dari awan adalah cara yang paling tepat untuk mendengarkan musik dari sudut pandang kelestarian lingkungan?

Tidak ada solusi yang mudah, tetapi meluangkan waktu untuk merenungkan biaya musik—dan bagaimana biaya itu telah berubah sepanjang sejarah—adalah langkah ke arah yang benar. Perubahan iklim memang tidak bisa dihindari, tetapi respons kita terhadapnya masih bisa diperbaiki.

*Artikel ini pertama kali diterbitkan di The Conversation. Baca artikel aslinya di sini.

Keterangan Foto Utama: Streaming musik ternyata lebih tidak ramah lingkungan. (Foto: Westend61/Getty Images)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Keterangan Foto Utama: The Rang-Rangs (kredit foto: @ichs.man via @therangrangs Instagram account)

The Rang-Rangs Rilis "Sejuknya Mobil Bapakmu"

EP terbaru dari trio punk-rock ini berisi satu single baru dan dua lagu B-side yang direkam secara live Helatan Record Store Day 2019 kali ini jelas menjadi

on Apr 17, 2019
Zigi Zaga Rilis Video Musik "No Casualties"

Zigi Zaga Rilis Video Musik "No Casualties"

Merilis debut album Psycho Mob di momen Records Store Day beberapa waktu lalu, Zigi Zaga kali ini melepas sebuah video musik untuk single "No Casualties" Ku

on Apr 16, 2019
The Flaming Lips Luncurkan Lagu Baru “All for the Life of the City”-1

The Flaming Lips Hadirkan Album Barunya di Record Store Day

Salah satu single dari album baru mereka, King's Mouth, yang hanya dirilis dalam jumlah terbatas untuk Record Store Day kemarin. Dalam rangka Record Store D

on Apr 15, 2019
Pelican Rilis Single Baru “Midnight and Mescaline”

Pelican Ikut Rayakan RSD 2019 Dengan Single Barunya!

“Midnight and Mescaline” merupakan single dari LP pertama mereka dalam enam tahun, Nighttime Stories Band instrumental dari Chicago, Pelican, mengumumka

on Apr 12, 2019