×
×

Search in Mata Mata Musik

4 Album Solo dalam Sehari Tandai Akhir Dari KISS

Posted on: 09/20/18 at 8:00 am

Dalam sehari, para anggota KISS mengeluarkan album solonya masing-masing. Bukti bahwa tidak ada band yang terlalu besar dan tidak ada yang abadi di dunia ini. 

Oleh: Scott T. Sterling. (Consequence of Sound)

KISS. (Foto: Consequence of Sound)

“Kalian ingin yang terbaik, kalian dapat yang terbaik. Band terpanas di dunia…”

Di awal tahun 1978, KISS menjadi band terpopuler di Amerika. Sungguh, menurut Gallup Poll yang terkenal dari musim panas tahun ‘77. Kombinasi yang memabukkan antara kabuki rock & roll dengan kegeniusan pemasaran sang manajer band, Bill Aucoin, telah terbayar secara penuh.

Bulan Oktober 1976, Aucoin adalah orang yang cukup pintar menampilkan band ini di acara saluran ABC The Paul Lynde Halloween Special, yang juga menampilkan pertunjukan dari bintang The Wizard of Oz, Margaret Hamilton, yang mengulangi perannya sebagai ‘Wicked Witch of the West (Penyihir Jahat dari Barat)’. Band ini membawakan tiga lagu — “Detroit Rock City”, “King of the Night Time World”, dan “Beth” — yang semuanya berasal dari album hit mereka, Destroyer.

Popularitas KISS pun meledak. Hanya dua minggu setelahnya, mereka merilis Rock and Roll Over, yang bertengger di No. 11 dari Top 200. Album tersebut di antaranya berisi “Hard Luck Woman”, lagu ballad akustik dengan tempo tinggi yang lebih terdengar seperti Rod Stewart di pertengahan tahun ’70-an (Paul Stanley KISS diduga menulis lagu itu sambil memikirkan Stewart) dan menerobos Top 20 dari Hot 100, memuncak di No. 15.

 

Di tahun 1977, mereka bekerja bagai kuda, memanfaatkan popularitas baru mereka di antara kaum mainstream dengan album pop-rock emasnya Love Gun di bulan Juni, diikuti dengan paket Natal-di-bulan-Oktober yaitu Alive II versi orisinal hanya empat bulan sesudahnya. Mereka bahkan membintangi Marvel Comics Super Special No. 1, dengan menambahkan darah mereka sendiri ke dalam tintanya. Serius, deh.

Saat tahun 1978 bergulir, KISS punya segalanya dan masih mengincar lebih. Setelah menguasai cara menjual band rock, Aucoin dan KISS memutuskan untuk menjadi lebih ambisius. Alih-alih melahirkan album-tur baru, mereka justru melakukan sesuatu yang sangat berbeda.

Rencana tersebut melibatkan setiap anggota band untuk merilis album solo di hari yang sama, sebuah prestasi yang belum pernah dilakukan siapa pun saat itu. Rencana itu juga yang membuat KISS langsung memiliki film fitur Halloween yang khusus ditayangkan di layar kaca berjudul, KISS Meets the Phantom of the Park.

Namun siapa sangka, ambisi tersebut malah menjadi awal dari akhir bagi band rock terbesar di Amerika ini.

Bulan April 1978, KISS merilis Double Platinum, sebuah koleksi lagu hit terbaik yang masih bertentangan dengan pemikiran konvensional karena fungsinya yang dianggap sebagai pengalih perhatian, sementara Gene Simmons, Ace Frehley, Paul Stanley, dan Peter Criss asal-asalan membuat album solo masing-masing.

Label rekaman KISS, Casablanca yang terkenal, terlalu yakin kalau proyek album solo ini bakal meledak, sehingga mereka berani mengucurkan $2,5 juta untuk pemasaran dan promosi. Jadi, saat 18 September 1978 tiba, seluruh warga industri musik secara langsung menyaksikan bagaimana hasil dari eksperimen solo KISS. Dan nyatanya, hasilnya tidak menyenangkan.

Gene Simmons

Pemimpin KISS yang satu ini memang selalu dikenal sebagai sosok yang suka “berlebihan.” Di album solonya tahun 1978, dia mengundang sederet teman-temannya yang terkenal untuk mampir ke studio dan muncul di albumnya.

Alhasil, album tersebut turut diisi, yah, semua orang: Diana Ross, Bob Seger, Joe Perry of Aerosmith, Rick Nielsen dari Cheap Trick, Helen Reddy, Donna Summer, Janis Ian, Katey Sagal, Cher, Jeff “Skunk” Baxter dari The Doobie Brothers … Begitu, kurang lebih.

Meski ada banyak kolaborator bintang yang hadir, keberadaan mereka di album ini hampir sama sekali tak terasa — semuanya tercampur menjadi lagu-lagu monokromatik yang berkisar dari “power rock” bergaya Dirk Diggler hingga mungkin momen teraneh di antara keempat LP solo ini: Simmons bernyanyi di versi orkestra tradisional lagu “When You Wish Upon a Star”, lagu yang terkenal di film adaptasi Pinocchio dari Disney pada tahun 1940.

Gene Simmons menempati No. 22 di Billboard 200, menjadikannya yang paling sukses di antara empat album solo mereka.

Lagu Terbaik: Pilihan paling jelas ialah single “Radioactive,” yang berisi riff gitar solid dan chorus yang menarik yang terdengar pantas-pantas saja kalau dimasukkan ke album KISS. Justru, “See You Tonight”, lagu akustik riang yang mengingatkan pada Amerika (seperti “Sister Golden Hair”) dan Rod Stewart sekitar “Maggie May”.

 

Paul Stanley

Penyanyi utama KISS bermata bintang ini sudah paham betul perihal melodi yang kuat, dan masanya menjadi pentolan KISS hanya mempertajam rasa dinamiknya, yang mana cukup banyak di album solo Stanley. Hampir semua yang ada di album ini bisa saja dimasukkan ke dalam banyak album studio KISS di pertengahan hingga akhir ’70-an. Tak satu pun lagunya yang sangat menarik, tapi tak ada juga yang khususnya menyinggung atau bahkan aneh. Yah, sebenarnya tidak juga: single “Hold Me, Touch Me (Think of Me When We’re Apart)” sangat melenceng dari musik soft-rock ’70-an, dan lebih terdengar seperti lagu yang kamu dengar di album kompilasi K-Tel tahun 1979 yang diapit antara England Dan & John Ford Coley dan Pablo Cruise.

Paul Stanley akhirnya menduduki peringkat No. 40 di Billboard 200.

Lagu Terbaik: Mempertimbangkan keberadaan Paul Stanley di mana-mana, sejumlah lagu pantas disebutkan. Sedikit lebih menonjol yaitu lagu pembuka album “Tonight You Belong to Me”. Menampilkan intro yang mengingatkan dengan lagu KISS “I Want You” dengan riff gitar yang menggerus, lagu ini setara dengan lagu-lagu studio di Side 4 Alive II.

 

Peter Criss

Peter, Peter, Peter!

Tidak ada personil KISS yang sepenuhnya gagal di album solo tahun 1978 seperti yang berhasil dilakukan drumer Peter Criss. Tidak bermaksud menjelekkan Criss atau akar R&B zaman dulu/ rock and roll awalnya, namun sebagai anggota KISS di 1978 yang merilis album solo di puncak karier band tersebut, menyebut album ini salah langkah rasanya kurang pas.

Dan jujur saja, beberapa lagu di sini sebenarnya agak, yah, asyik. Tetapi lebih seperti radio AM kompilasi K-Tel dan bukan seperti “dari band yang melelehkan mukamu dengan “God of Thunder”.

Untuk single-nya, Criss mencoba dengan lagu klasik awal ’60-an, “Tossin’ and Turnin’”, yang ditambahkan KISS ke dalam set mereka pada tur tahun 1979 (seolah kamu butuh indikasi seberapa jauh KISS menjadi ‘anjlok’ di akhir tahun ’70-an).

Namun, sulit untuk merekonsiliasi lagu-lagu seperti “Don’t You Let Me Down” dan “Easy Thing”, yang terakhir menjadikan “Beth” terdengar seperti “War Pigs”.

Peter Criss memperoleh peringkat terendah di antara album solo lainnya, dengan hanya menduduki posisi No. 43 di tangga album Billboard.

Lagu Terbaik: Kami memilih lagu pembuka “You Matter to Me,” yang melampaui bunyi keyboard yang cheesy yang terdengar biasa saja di banyak lagu “yacht rock” favorit dunia. Chorus yang membuat kaki bergoyang meramaikan acara pesta, dan tunggu — apakah saya benar-benar menyukai satu lagu dari album Peter Criss? Oh well…

 

Ace Frehley

Serahkan pada Spaceman untuk menyelamatkan semua.

Frehley, party boy KISS yang terkenal dengan selera tinggi untuk alkohol dan kokain, muncul diam-diam dengan album solo yang jauh lebih baik dari yang lainnya.

Penggemar yang terkesima dengan lagu KISS yang dibawakan Frehley seperti “Shock Me” dan “Rocket Ride” diberkahi dengan lebih banyak energi rock elektrik di album solonya. Membuka album dengan “Rip it Out”, Frehley melesat di lagu-lagu yang menonjol seperti “Speedin’ Back to My Baby”, “Ozone”, dan lagu-yang-seharusnya-menjadi-single “What’s on Your Mind”. Album ini juga berisi lagu hit terbesar dari seri album solo ini, “New York Groove”.

Awalnya direkam oleh band Hello di 1975, “New York Groove” menjadi lagu hit yang sebenarnya, sampai banyak diputar di radio dan menempati peringkat No. 13 di Hot 100. Lagu tersebut menjadi lagu wajib di area New York selama bertahun-tahun sehingga Frehley diundang untuk membawakannya di acara NHL Winter Classic 2018 antara New York Rangers dan Buffalo Sabres.

Lagu Terbaik: Karena kami sudah menyebut “What’s on Your Mind” yang cenderung terlewatkan, pemenang pastinya adalah lagu instrumental penutup album, “Fractured Mirror”. Dengarkan saja sendiri!

 

 

Pada akhirnya, album-album itu terjual seperti sampah. Hanya “New York Groove” dari album Ace Frehley saja yang punya dampak nyata yang bertahan. Dan tidak sampai sebulan setelah kegagalan tersebut, Meets the Phantom of the Park (film KISS) memulai debut di NBC pada 28 Oktober 1978. Hasilnya sama buruknya sehingga hanya semakin memperparah rasa malu dari eksperimen album solo mereka.

Semuanya mulai membaik di 1979, dengan album Dynasty meraih status platinum, dan lagu disco hit mereka, “I Was Made for Lovin’ You”, bertengger di No. 11 pada Hot 100.

Tetap saja, nasi sudah menjadi bubur. Penggemar lama mereka tidak terkesan dengan gaya disco “I Was Made for Lovin’ You”. Tur mereka berikutnya hanya dihadiri penonton yang jumlahnya semakin sedikit, yang didominasi penggemar-penggemar muda yang dikawal oleh orang tua dan kakak mereka.

 

Pada malam Halloween 1979, semuanya sudah berakhir kecuali teriakan mereka. KISS tampil di The Tomorrow Show with Tom Snyder, dan penampilan mereka gagal total. Ace Frehley mabuk berat, Peter Criss bicara tentang senjata api, dan kamu bisa lihat ekspresi wajah Paul Stanley dan Gene Simmons yang seolah sudah berencana mengganti mereka.

Tiga tahun sejak tampil di acara spesial Paul Lynde sampai insiden kacau secara live di The Tomorrow Show, KISS jadi ahli membuang segalanya dan dalam waktu singkat. Dan itu bukan karena kurang berusaha. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi dengan KISS kalau mereka mengesampingkan semua kegagalan di 1978 dan malah merilis dua atau tiga album baru dan menggelar lebih banyak konser. Atau bahkan rehat selama satu atau dua tahun untuk membuat strategi dan membuat langkah ke depan yang lebih diperhitungkan.

Sebaliknya, kenyataan berkata lain.

Keterangan foto utama: KISS. (Foto: Google Images)

Sumber: https://consequenceofsound.net/2018/09/releasing-four-solo-albums-in-one-day-marked-the-beginning-of-the-end-for-kiss/

Posted on September 19, 2018

 

Tags:

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Led Zeppelin

Kerennya Led Zeppelin di Mata George Harrison

Tahun 1973, tidak ada band yang lebih besar daripada Led Zeppelin. Buat kalian yang masih ragu, band ini memecahkan rekor jumlah penonton konser yang dicetak T

on Nov 20, 2019
Twenty One Pilots

Twenty One Pilots Miliki Album Rock Terlaris Dekade Ini

Band mana yang menulis album rock terbesar dekade ini? Berdasarkan penjualan album, Twenty One Pilots berkuasa dengan album Blurryface. Popularita

on Nov 19, 2019
Ozzy Osbourne

Ozzy Osbourne Cantumkan Marilyn Manson di Jadwal Baru Tur 2020

Ozzy Osbourne belum lama ini mengumumkan jadwal baru untuk turnya tahun depan, No More Tours 2. Dan rocker legendaris ini akan menghadirkan tamu spesial, Mar

on Nov 18, 2019
Foo Fighters

Foo Fighters Janjikan Album Baru yang ‘Sangat Aneh’

Kata Dave Grohl, album baru Foo Fighters bakal jadi album yang “sangat aneh.” Dalam wawancara dengan Eric Blair, pembawa acara Blairing Out With Eri

on Nov 15, 2019