×
×

Search in Mata Mata Musik

5: Death Metal Album Of The Year

Posted on: 12/17/19 at 6:55 pm

Cover mini album Jasad ‘5’ (gambar: Rottrevore Records)

JASAD
5

(2019, Rottrevore)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Jasad adalah salah satu sesepuh death metal Tanah Air yang lahir dari rahim scene Ujungberung, Bandung, 1990 silam. Bendera Jasad mulai berkibar kencang sejak 1996 melalui EP debutnya, ‘C’est La Vie’ rilisan Palapa Records. Setelah beberapa kali mengalami perombakan formasi, pada 1999, vokalis Muhammad Rohman a.k.a Man (eks-Injected Sufferage) dan gitaris Ferly Suferli (eks-Forgotten) bergabung bersama dramer Dani Ramadhani dan bassis sekaligus founder Yuli Heryanto. Jasad ‘Mark II’ inilah yang menjadi titik balik masa depan cerah band. Bersama Om-Om Tampan ini, Jasad merilis album full length debutnya, ‘Witness of Perfect Torture’ (2001, Rottrevore Records) yang mengekshibisi evolusi musik Jasad, dari death/grind menjadi brutal death metal dengan influence dari band-band Amerika Serikat (AS) seperti Suffocation, Internal Bleeding, Skinless. Album inilah yang mengangkat Jasad ke permukaan berkat sederet live hits seperti ‘Ripping the Pregnant’, ‘Belati Berkarat’ dan ‘Urine Campur Nanah’ serta aksi panggung yang kick-ass dan stage persona Man yang unik menjadi magnet para fans. Album ini pun dirilis di AS oleh Forever Underground Records. Demikian pula album kedua, ‘Annihilate the Enemy’ yang dirilis oleh Sevared Records dan di Indonesia dirilis oleh Rottrevore Records.

Pada 2011, Dani mengundurkan diri dari band dan digantikan oleh Sebastian Abaz sebelum masuk studio merekam materi album ketiga, ‘Rebirth of Jatisunda’ (2013, Extreme Souls Production). Dari situ Jasad melakukan terobosan dengan tampil di dua festival musik cadas akbar internasional, Bloodstock Open Air (Inggris) dan Obscene Extreme (Republik Ceko) pada 2015. Dan disusul 2018 mereka kembali mengguncang panggung internasional, Wacken Open Air (Jerman) dan Brutal Assault (Republik Ceko) serta Oktober 2019 lalu menggempur dua festival di Jepang, Osaka dan Asakusa Deathfest.

Kelebihan: Melalui EP (Extended Play alias mini album) ini terpapar jelas bahwa Jasad ingin menegaskan musikalitas formasi barunya yang ber-5 setelah mengakuisisi dua darah muda, yakni Oki Fadhlan (dram, menggantikan Abaz) dan gitaris Reduan Imanuel sebagai tandem sang ‘riffer berdawai empat’, Ferly. Peran adik-adik ini bukan sekadar pelengkap. Bahkan Reduan turut terlibat dalam penulisan beberapa lagu. Ferly sebagai kapten arsitektur musik berhasil mengeksploitasi potensi mereka secara maksimal. Pertama kalinya Jasad tampil dua gitaris. Umumnya kita berpikir, satu ritem satu lagi melodi. Tapi hal itu tidak terjadi di sini. Ferly justru tetap fokus pada pengembangan riffing yang lebih variatif. Sepertinya Ferly menyadari betul bahwa fondasi komposisi brutal death metal adalah riff sebagai sumber harmonisasi nada dan penjaga ritme. Dengan progresi kord yang begitu selektif dan tidak terlalu njelimet serta pembagian porsi bagian-bagian riff yang pas. Powerful, tight, ear-catching yang sukses memprovokasi non-stop headbanging. Sedangkan Oki memiliki drumming skill yang mungkin levelnya sulit dikejar oleh musisi domestik. Dia sangat lihai memainkan beberapa jenis blast beat dan teknik lainnya secara ultra cepat dengan ketukan presisi. Di sektor vokal, isian Man kali ini terdengar lebih eksploratif dengan berbagai teknik growling-nya. Dan Man patut diacungi dua jempol karena pola penulisan liriknya. Salah satu hal yang membuat Jasad ‘stand out’ dari band segenre lainnya. Jengah dengan medioker cerita pembunuhan dan mutilasi, sejak album ‘Rebirth of Jatisunda’ Man mengangkat isu sejarah Nusantara dan meneruskannya di ‘5’. Ia seperti mencoba memberikan ‘reminder’ ke audiens tentang hikayat para leluhur Tanah Air yang begitu kaya akan makna bagi kehidupan. Kali ini ia banyak mengutip dari manuskrip Sewaka Darma ‘Sanghyang Tatwa Ajnyana’ berbahasa Sunda kuno yang disertai penjelasannya dalam bahasa Inggris.

Kekurangan: Sulit menemukan cacat dari konten rilisan ini. Hanya saja, album ‘5’ ini berjarak enam tahun sejak album ‘Rebirth of Jatisunda’. Waktu yang terlalu lama bagi Pasukan Karuhun (sebutan fans Jasad -ed) untuk hanya sebuah EP berisi 5 lagu.

Kesimpulan: Album ke-5. Dengan formasi ber-5. Berisi 5 lagu. Dirilis pada 5 Oktober. Meski kita telah lama menunggu, untungnya ‘worth the wait’ lantaran menampilkan materi terbaik Jasad sejauh ini yang ditunjang oleh kualitas sound rekaman modern yang paling menampar sekaligus ‘crystal clear’. Bagaimana pun, tidak berlebihan jika saya nobatkan ‘5’ sebagai ‘Death Metal Album Of The Year’.

Peringatan: bisa menghancurkan membran timpanik anda!

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

DEAD VERTICAL XVII

Tujuh Belas Tahun Ke Atas Menggerinda Baja

Cover album 'XVII' milik Dead Vertical (Gambar: Blackandje Records) DEAD VERTICALXVII(2019, Blackandje) Oleh Dharma Samyayogi Fakta: Band grindcore ya

on Jan 10, 2020
TRAUMA BALAKOSA

Kembalinya Trauma Sebagai 'Balakosa' Pelestari OSDM Yang Otent...

Cover album 'Balakosa' milik Trauma (Gambar: Morbid Noise Records) TRAUMABalakosa(2019, Morbid Noise) Oleh Dharma Samyayogi Fakta: Trauma yang resmi t

on Jan 5, 2020
Kill Athena

Kill Athena Muntahkan Single Pemanasan Album Baru

Tiga personil inti Kill Athena (Foto: Kill Athena) Kill Athena telah merilis karya terakhir di penghujung 2019. Single terbaru yang berjudul 'Beneath My Eye

on Jan 2, 2020
Cassandra

Cassandra Kembali Dengan Singel 'Labellum Urban'

Band death metal asal Magelang ini memilih nama yang tidak sangar, nama seorang perempuan, Cassandra. Kak Sandra...eh...Cassandra ini bukan pelantun lagu '

on Dec 31, 2019