×
×

Search in Mata Mata Musik

50 Album Terfavorit Dalam Jurnal Sang Legenda Grunge, Kurt Cobain

Posted on: 07/18/20 at 5:30 am

50 Album Terfavorit Dalam Jurnal Sang Legenda Grunge, Kurt Cobain
Kurt Cobain. (Foto: Frans Schellekens/Redferns, via Getty Images).

Jurnal pribadi Kurt Cobain yang doi tulis circa 1993, pernah dipublikasikan pada tahun 2002. Melalui buku jurnal hariannya itu, para fans dari legenda abadi musik grunge ini disajikan wawasan yang otentik tentang pemikiran mendiang pentolan Nirvana dan paparan musik favoritnya. Dalam jurnal tersebut juga terdapat serangkaian ilustrasi yang sangat pribadi. Subyek yang dibahas oleh Kurt Cobain berkisar dari rasa insecure-nya sendiri terhadap kultur pop dan ketidakpuasannya terhadap dunia yang dipandangnya. Sepanjang buku setebal 280 halaman itu, ketertarikannya pada musik mengalir sangat deras dan mendalam.

Baca juga: Gitar Kurt Cobain di Konser MTV Unplugged Dilelang Laku Rp 85 Miliar

Seperti kebanyakan die-hard music fan, Kurt Cobain juga merasa berkewajiban untuk menyusun daftar album-album favoritnya, dengan memberikan label ‘Top 50 By Nirvana’. Daftar album favorit Kurt Cobain ini bisa lo cek dan dengarkan di bawah ini dengan anotasi dari kami, MataMata Dajjal…eh…Musik. Kami sarankan lo untuk menggali lebih dalam referensi musik dari Kurt Cobain ini. Dari musik era 1970-an seperti David Bowie, Sex Pistols hingga era 1990-an yang sama dengan Nirvana seperti The Breeders.

Daftar ini telah membentuk cara Kurt Cobain berpikir, menulis lagu dan bermain musik, dan itu mungkin juga bisa mengubah hidup lo…

"Top 50 Album By Nirvana" catatan jurnal tulisan tangan Kurt Cobain.
“Top 50 Album By Nirvana” catatan jurnal tulisan tangan Kurt Cobain.

1. THE STOOGES – Raw Power (Columbia Records, 1973)

The Stooges merupakan salah satu band “proto-punk” yang eksis sejak akhir 1960-an sebelum ledakan subgenre baru rock yang lebih menampar, menohok, penuh perlawanan bernama punk pada pertengahan 1970-an. Album ketiga dan yang paling cadas milik The Stooges ini dinobatkan oleh para kritkus musik sebagai album punk pertama secara definitif walau terminologi punk itu sendiri belum mencuat ke permukaan. David Bowie bertindak sebagai mentor dan salah satu produser album ini. Dilansir dari NME, Kurt Cobain sendiri pernah menelepon vokalis sekaligus pentolan The Stooges Iggy Pop untuk mengajaknya berkolaborasi tetapi sayangnya nggak ada upaya apa pun dari Iggy Pop untuk menelepon balik. Eett dah, kebayang nggak kalau itu sampai terjadi? Nevermind…

2. PIXIES – Surfer Rosa (4AD, 1988)

Kalau lo telat mendengarkan band ini nggak masalah, tapi ini band dan album yang penting, di sini lo bisa menemukan beberapa rasa atau aroma Nirvana dalam permainan musiknya. Memang benar, Pixies telah dijadikan sebagai konsep dasar untuk begitu banyak musik modern, nggak percaya? Lo dengar sendiri saja. Pixies membuktikan kalau lo bisa melebur “catchiness” musik pop bersama jiwa musik punk sebagai bahan untuk menciptakan musik yang terasa hidup dengan romantisme dan surealisme dalam jumlah porsi yang sama. Dan Kurt Cobain bersama Nirvana sukses menyempurnakan konsep tersebut. Oh yeah, seperti dilansir dari Rolling Stone, Kurt Cobain secara terbuka mengakui keinginannya untuk meniru pola sound sunyi-kencang-sunyi yang begitu jelas di Surfer Rosa.

3. THE BREEDERS – POD (4AD, 1990)

Dua ikon di scene musik indie kota Boston pada era itu, Kim Deal (Pixies) dan Tanya Donnelly (Throwing Muses) memutuskan untuk membentuk band ini ketika sedang mabuk, dan mereka sepertinya nggak peduli dengan label ‘supergroup’. Lo tahu nggak, kalau album band ‘supergroup’ itu seperti dituntut lebih secara kualitas. Ekspektasi fans menjadi terbentuk demikian. But they didn’t give a shit nampaknya. Meski The Breeders baru mengentak mainstream lewat single ‘Cannonball’ dari album keduanya, album pertamanya ini pantang untuk dilupakan. Album ini benar-benar direkam secara spontan, namun terasa segar. Sang produser, Steve Albini adalah yang paling bertanggungjawab dalam hal itu. Dalam kurun waktu satu minggu, Steve menolak untuk mengizinkan take vokal yang nggak perlu dan berulang-ulang. Dia juga menerapkan metodenya itu di album In Utero-nya Nirvana dengan tingkat ketelitian yang sama. Ya begini lah vibe yang dihasilkannya, yang disukai Kurt.

4. THE VASELINES – Dying For It EP (53RD and 3RD, 1988)

Dijuluki “pink EP” oleh Kurt Cobain, proyek kedua oleh grup indie rock asal Glasgow, Skotlandia ini menampilkan dua lagu yang kemudian di-cover oleh Nirvana: ‘Molly’s Lips’ dan ‘Jesus Wants Me For A Sunbeam’. Lebih dari 30 tahun setelah EP ini dirilis, versi aslinya masih memperlihatkan rasa insecure mereka yang penuh nafsu menginginkan itu…apaan tuuuh?

5. THE SHAGGS – Philosophy Of The World (Third World Records, 1969)

Album satu-satunya milik band remaja cewek The Shaggs ini dulu sering diserang oleh kritikus musik rock selama bertahun-tahun. Terlepas dari segala kritik, nuansa bubblegum pop dan kenaifan dari lagu-lagu seperti ‘It’s Halloween’ membuat mereka sangat disukai oleh Kurt Cobain serta, kemudian, band yang terinspirasi oleh Nirvana seperti Deerhoof. Lo dengarkan deh, tempo musiknya seperti berantakan, musiknya kemana, vokalnya kemana, chaotic and dissonant, haha.

6. FANG – Landshark (Boner Records, 1982)

Karena nggak mau kompromis, band punk asal East Bay, Bay Area San Fransisco, Fang membuat record label mereka sendiri, Boner Records, yang kemudian menjadi “rumah” bagi para pahlawan Kurt Cobain dan Krist Novoselic, yaitu Melvins. Album debut yang berani ini adalah landasan musik hardcore pada awal tahun 1980-an, lagu kunci album ini, ‘The Money Will Roll Right In’ telah dicover oleh banyak band, dari Nirvana hingga Metallica.

7. MDC – Millions Of Dead Cops (R Radical, 1982)

Millions Of Dead Cops (MDC) yang dibentuk di Texas memberikan pengaruh besar terhadap scene punk underground di AS yang muncul di awal tahun 1980-an melalui gaya musik mereka yang keras dan cepat serta pandangan politik mereka yang bersayap ‘kiri’. Kedua kualitas ini dianut oleh “so called” kaum Gen X dan khususnya scene musik Seattle yang sedang berkembang.

8. SCRATCH ACID – EP First (Rabid Cat, 1984)

Selama lima tahun karier mereka, band asal Texas, Scratch Acid tetap menjadi kekuatan yang nggak kenal kompromi. EP self-titled mereka ini memikat audiens di Inggris, sesuatu yang sang vokalis David Yow dan bassis David Sims manfaatkan ketika mereka membentuk The Jesus Lizard di tahun 1987. ‘Puss/Oh The Guilt’, single split Nirvana dari tahun 1993 dengan The Jesus Lizard, memuncak pada posisi No. 12 di tangga musik Inggris.

9. SACCHARINE TRUST – Paganicons (SST, 1981)

SST Records ini merupakan salah satu record label yang paling vital di era 1980-an. Bagaimana nggak, SST menjadi sarang band-band punk yang kemudian legendaris seperti Black Flag, Hüsker Dü dan Minutemen. Saccharine Trust, band post-punk asal Los Angeles ini mengusung gaya mereka sendiri, sound mereka yang padat dan bertekstur mempengaruhi orang-orang untuk setia mendengarkannya, Kurt Cobain jelas adalah salah satunya.

10. BUTTHOLE SURFERS – Butthole Surfers (Alternative Tentacles, 1983)

Band punk psikedelik asal Texas ini membuat jembatan antara musik psikedelik tahun 1960-an dan punk rock, dengan menyampaikan banyak humor berbau toilet (jorok yee) di sepanjang diskografinya, sesuai arti moniker band ini, Butthole Surfers, haha. Sebagai hasilnya, debut self-titled ini juga dikenal dengan judul Brown Reason To Live serta Pee Pee The Sailor, judul yang lebih disukai oleh Kurt Cobain. Album ini dirilis oleh Alternative Tentacles, record label yang didirikan oleh dua dedengkot punk Dead Kennedys, Jello Biafra dan East Bay Ray.

11. BLACK FLAG – My War (SST, 1984)

Setelah dampak dari album debut mereka, Damaged, band punk asal California, Black Flag memikirkan kembali pendekatan musik mereka dan mempersembahkan karya kedua di mana pengaruh Black Sabbath begitu jelas terdengar. Hasilnya adalah sebuah album yang memperkuat hubungan antara scene punk dan scene metal di AS. Vokalis di album ini masih Henry Rollins, yang sebagian fans menganggap sebagai era terbaik Black Flag.

12. BAD BRAINS – Rock For Light (Passport, 1983)

Diproduseri oleh pentolan The Cars, Ric Ocasek, album kedua Bad Brains ini musiknya lebih padat dan intens daripada album debut mereka, tanpa kehilangan keterampilan band asal Washington DC ini untuk ber-pogo di antara musik punk, reggae dan hard rock sesuka hati. Dengan lagu ‘Attitude’, band ini juga mampu memberikan pesan-pesan dalam liriknya yang terus beresonansi dan menginspirasi banyak orang.

13. GANG OF FOUR – Entertainment! (EMI, 1979)

Salah satu album post-punk terhebat sepanjang masa, album debut Gang Of Four ini memang terdengar distingtif ketika pertama kali keluar. Bahkan setelah empat dekade masih belum ada yang terdengar seperti itu, 12 lagu yang mereka tawarkan mempengaruhi banyak band, dari Fugazi hingga Daughters sepanjang karier mereka. Energi eksplosif dalam lagu ‘Natural’s Not In’ yang cadas pasti akan bisa memberi tahu lo kenapa demikian…

Baca juga: Mengenang 26 Tahun Silam: Hari-Hari Terakhir Kurt Cobain Yang Tragis

14. SEX PISTOLS – Nevermind The Bollocks Here’s The Sex Pistols (Virgin Records, 1977)

Vokalis Sex Pistols, Johnny Rotten pernah mengungkapkan fakta bahwa Nirvana tampaknya telah menyontek bagian dari judul album ini. “Gue berpikir, Nevermind? Apakah lo kehilangan bagian bollocks-nya atau bagaimana?” ujar dedengkot punk ini, sebelum menggambarkan ‘Smells Like Teen Spirit’ sebagai “salah satu lagu terbaik sepanjang masa dalam musik pop” dan mengampuni mereka. Untung saja ya… biasanya kacau kalau Engkong Rotten sudah cuap-cuap, hahaha.

15. THE FROGS – It’s Only Right And Natura (Homestead, 1989)

‘Men (Come On Men)’, ‘Dykes Are We’ dan ‘Homos’ hanyalah beberapa dari judul lagu tidak ambigu yang termasuk dalam album ini di mana ada instrumentasi lo-fi yang dikasih topping coklat meses…eh ngaco deh tuh… dengan gaya lirik homo-erotis yang konfrontatif. The Frogs sempat ditargetkan oleh kelompok-kelompok religius yang konservatif. Band folk-punk asal Wisconsin ini – yang dipimpin oleh tiga bersaudara Flemion, Dennis dan Jimmy – bereaksi dengan merekam sebuah lagu berjudul ‘God Is Gay’ dan memasukkannya ke album berikutnya.

16. PJ HARVEY – Dry (Too Pure, 1992)

Diprediksi dia mungkin hanya akan membuat satu album, musisi kelahiran pulau Dorset (Inggris), PJ Harvey menyajikan album debut yang penuh nafsu, mentah, padat dengan suara gitar dan terang-terangan secara emosional. Seperti yang terjadi, Dry adalah langkah penting pertama dalam suatu karier mengesankan yang sekarang telah berjalan selama hampir tiga dekade, diwarnai dengan sembilan album yang penuh dengan musik alternative rock yang benar-benar inspiratif.

17. SONIC YOUTH – Daydream Nation (Blast First, 1988)

Pahlawan musik noise experimental rock asal New York, Sonic Youth mengakhiri karier mereka bersama label indie dengan album dobel yang hebat ini. Karya mereka yang paling mahal dan ekspansif hingga saat ini, Daydream Nation juga telah menuntun jalan bagi sejumlah artis underground AS lainnya untuk merangkul gaya musik yang lebih eksperimental – Nirvana di antara mereka – yang masih terkendala oleh sikap puritan yang dipaksakan oleh punk underground.

18. THE KNACK – Get The Knack (Capitol, 1979)

Bukan rahasia umum, Kurt Cobain pernah menggambarkan bahwa Nirvana terdengar seperti “Black Sabbath saat memainkan lagu The Knack” – karena pernyatannya itu, sudah jelas album The Knack ini ada dalam daftar jurnalnya. Untuk semua kesuksesan komersial mereka, perlu dicatat bahwa band asal Los Angeles ini hanya menghabiskan US$ 18 ribu (Rp 263 juta) untuk merekam album debut pemuncak chart bersertifikasi Multi-Platinum ini – sesuatu yang menggemparkan standar musik akhir tahun 1970-an. Di era itu saja, biaya ratusan juta masih terbilang murah dan “punk”, sedangkan di sini…. yeah begitu deh, kapan-kapan saja bahasnya.

19. THE SAINTS – Know Your Product (Harvest, 1996)

Band asal Australia, The Saints muncul bersamaan dengan kehadiran scene punk pertama Inggris dan merilis single debut mereka, ‘I’m Stranded’, pada musim panas tahun 1976. Orang Inggris sepenuhnya menyukai mereka walau Amerika tampak kebal terhadap kemajuan musik mereka. Status pahlawan cult mereka dikonfirmasi oleh popularitas abadi album kompilasi Know Your Product mereka yang ditambahkan oleh Kurt Cobain ke dalam daftarnya.

20. KLEENEX – Anything By…

Swiss tidak terkenal karena scene punk mereka, tetapi Swiss memang melahirkan Kleenex – band post-punk beranggotakan empat cewek surealis yang dikontrak oleh label indie Inggris Rough Trade. Sementara Kurt Cobain tidak merekomendasikan album tertentu dalam daftarnya karena kurangnya output yang direkam, kami senang untuk merekomendasikan Kleenex/LiLiPUT – Anthology, album kompilasi yang dirilis pada tahun 1993 – yang mengumpulkan karya orisinil band dan nama band mereka berikutnya setelah diganti, yaitu LiLiPUT.

21. THE RAINCOATS – The Raincoats (Rough Trade, 1979)

Punk dengan cepat membentuk dunianya sendiri, band berbasis London yang beranggotakan empat cewek, The Raincoats, dengan etos DIY (do it yourself) ini salah satu makhluknya yang meramu musik punk dengan pendekatan eksperimental, awalnya untuk membuat album debut yang terdengar perkusif dan terbilang cukup berani. Pengaruh mereka berkisar dari genre musik dub hingga ke jazz pada album self-titled ini, album yang sangat digemari Kurt Cobain sampai-sampai dia menulis liner notes untuk reissue album ini.

22. YOUNG MARBLE GIANTS – Colossal Youth (Rough Trade, 1980)

Kurt Cobain menyatakan bahwa dia pertama kali mendengar band post-punk Young Marble Giants setahun sebelum Nirvana merekam album Bleach dan mengagumi pendekatan minimalis dan atmosfer dari kuatret asal Wales Utara ini. Lagu YMG favoritnya, ‘Credit In The Straight World’, sebenarnya dicover oleh Hole di album Live Through This, dan masih terdengar langka, mempesona, dan anehnya sangat futuristik.

23. AEROSMITH – Rocks (Columbia, 1976)

Sebelum membuat lagu-lagu balada yang konstan, Aerosmith adalah band rock and roll terbesar di Amerika. Bakat dan energi mereka jelas terasa menarik bagi Kurt Cobain yang selera musik awalnya lebih “Claro” alias Classic Rock dibanding selera musiknya kemudian. Kecintaannya terhadap Aerosmith dan Led Zeppelin paling terlihat dalam lagu ‘Aero Zeppelin’ – sebuah lagu dari album kompilasi Incesticide Nirvana dari tahun 1992.

24. VARIOUS – What Is It (What Records?, 1982)

Scene musik wilayah Golden State di akhir dekade 1970-an secara telat digambarkan melalui koleksi album ini yang Kurt Cobain sebut sebagai “kompilasi musik punk California”. Selain lagu-lagu oleh The Dils, The Skulls dan Kaos, What Is It menampilkan dua lagu oleh Germs – band yang tentu saja menampilkan calon anggota band Nirvana, Pat Smear dalam formasi mereka.

25. R.E.M – Green (Warner Bros., 1988)

Kurt Cobain sering mengungkapkan kekagumannya kepada R.E.M, dengan sangat menyukai cara mereka berhasil melompat dari label indie ke label major sambil tetap berhasil mempertahankan integritas mereka. Dia juga mengagumi gaya penulisan lagu band tersebut – sesuatu yang berkembang pesat di Green (album pertama mereka untuk Warner Bros). Lagu hit R.E.M., ‘Out Of Time’, menyusul tiga tahun kemudian untuk mengokohkan kebangkitan mereka dari scene musik alternative underground AS hingga ke panggung besar dunia.

26. SHONEN KNIFE – Burning Farm Cassette (DIY, 1983)

Sekelompok pemuja band The Ramones, Shonen Knife, merekam album pertama mereka dalam keadaan yang paling mendasar dan tidak terbebani oleh keterampilan teknis bermain musik. Karena itu, apa yang muncul pada album debut ini adalah rasa naif yang sama yang mendefinisikan album pertama The Shaggs. Jika lagu ‘Tortoise Brand Pot Cleaners Theme’ tetap menjadi salah satu judul lagu terbaik yang dibuahkan oleh trio asal Jepang ini, kemampuan mereka untuk menulis chorus musik pop juga jelas sangat hebat. Kecintaan Nirvana terhadap grup asal Osaka ini sedemikian rupa sehingga mereka bersikeras untuk mengajak Shonen Knife sebagai pembuka konser mereka selama tur Inggris yang mereka lakukan sesaat sebelum merilis Nevermind.

27. THE SLITS – Typical Girls (Island, 1979)

Diproduksi oleh produser dan musisi kelahiran Barbados, Dennis Bovell, album debut The Slits adalah perpaduan antara melodi post-punk yang tidak konvensional, irama garage-reggae dan tekstur musik dub, semuanya diisi oleh gaya vokal Ari Up yang khas. Lagu The Slits favorit Kurt Cobain, ‘Typical Girls’, adalah titik awal yang baik bagi siapa pun yang ingin mengenal band yang benar-benar unik ini, sementara buku otobiografi sang gitaris Viv Albertine, Clothes Clothes Music Music Music Boys Boys Boys, membawakan laporan yang bakal bikin lo ‘melek’ mengenai bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang tumbuh di dunia punk rock tahun 1970-an yang didominasi pria.

28. THE CLASH – Combat Rock (CBS, 1982)

Album kelima The Clash ini sering dikiritik oleh para puritan di scene punk. Sebagai album mereka yang paling mudah diakses, ini juga terbukti menjadi yang paling sukses secara komersial – band ini pada dasarnya kemudian pecah. Terlepas dari segala kritikan, musikalitas di album ini yang terpenting. Kalau nggak muncul ke permukaan di era belum ada internet, kita yang di Indonesia mungkin nggak kenal The Clash. So, Should I Stay Or Should I Go? Stay lah.

29. THE FAITH/VOID – The Faith/Void (Dischord, 1982)

Kolaborasi antara band-band punk asal Washington DC, The Faith dan Void tetap menjadi landasan musik punk AS, mengemas 24 lagu hardcore yang eksplosif dan berkecepatan tinggi. Meskipun kedua band menikmati karier mereka yang singkat, begitu banyak musik yang agresif bisa ditelusuri kembali ke dampak dari perilisan tunggal ini.

30. RITES OF SPRING – Rites Of Spring (Dischord, 1985)

Jika The Faith dan Void menetapkan tolok ukur untuk kecepatan dan kekuatan, maka sesama band asal Washington DC ini, Rites Of Spring berfokus pada sound yang lebih luas dan gaya lirik yang diinternalisasi. Pendekatan semacam inilah yang disempurnakan oleh para anggota band, Guy Picciotto (vokal, gitar) dan Brendan Canty (dram) dalam band Fugazi bersama sang pentolan Ian MacKaye dan bassis/vokalis Joe Lally.

31. BEAT HAPPENING – Jamboree (K, 1988)

Dari semua band yang muncul dari wilayah Pacific Northwest Amerika pada akhir tahun 1980-an, Beat Happening bisa dibilang sebagai band yang pengaruhnya paling besar untuk scene musik indie Inggris. Gaya musik mereka yang berjuluk ‘twee pop’ paling jelas terasa dalam album kedua ini – sebuah album yang diproduksi bersama oleh Mark Lanegan dan Gary Conner dari Screaming Trees. Faktanya, lagu ketiga album ini, ‘Indian Summer’, telah menjadi semacam lagu kebangsaan scene indie di AS.

32. TALES OF TERROR – Tales Of Terror (CD Presents, 1984)

Band punk asal Sacramento, Tales Of Terror bertahan cukup lama untuk merekam satu album – band ini pecah ketika sang gitaris Lyon Wong meninggal setelah kasus perkelahian jalanan. Terlepas dari karier mereka yang singkat, dampaknya pada scene underground AS yang sedang berkembang terbukti tidak hanya berkat dimasukkannya mereka dalam daftar ini tetapi juga karena keputusan band asal Seatlle, River Green untuk mengcover lagu klasik mereka, ‘Ozzy’ dalam EP Dry As A Bone pada tahun 1987.

33. LEADBELLY – Leadbelly’s Last Sessions Vol. 1 (Melodisc, 1959)

Pada bulan Desember 1989, Kurt Cobain memberikan kontribusi gitar pada cover lagu akustik ciptaan sang musisi blues Leadbelly, ‘Where Did You Sleep Last Night?’ yang muncul di album solo pertama Mark Lanegan, The Winding Sheet. Empat tahun kemudian, Nirvana mengcover lagu itu selama konser ikonik mereka di MTV Unplugged, yang menghasilkan versi intim dan emosional dari lagu itu.

34. MUDHONEY – Superfuzz Bigmuff (Sub Pop, 1988)

Para pionir scene musik Seattle akhir tahun 1980-an, Mudhoney tetap merupakan band paling konsisten dari generasi mereka. Pada awal dirilis, penjualan EP ini sangat buruk (menurut standar Sub Pop), namun, sejak itu telah diakui sebagai salah satu album seminal dari scene grunge di Seattle. Pada pertengahan 2008, EP ini nangkring di posisi 25 di UK Indie Album Chart, puncak prestasi bagi EP ini, dua puluh tahun setelah rilis.

35. DANIEL JOHNSTON – YIP/Jump Music (Self Released, 1983)

Awalnya dirilis dalam bentuk kaset, koleksi musik kelimanya ini menampilkan pendekatan DIY Daniel Johnston terhadap proses pembuatan musik dan pesona asingnya yang misterius. Ketika Kurt Cobain difoto mengenakan t-shirt bertuliskan judul koleksi keenam Daniel Johnston, Hi, How Are You, penulis lagu yang berbasis di Austin, Texas ini diperkenalkan kepada audiens dan meraih eksposur yang benar-benar baru. Status cult-nya terus bertahan dan pada tahun 2005, dia menjadi subyek dari sebuah film yang bagus, The Devil And Daniel Johnston, yang mengeksplorasi dampak gangguan bipolar pada hidupnya.

36. FLIPPER – Album – Generic Flipper (Subterranean, 1982)

Kurt Cobain cukup terobsesi dengan Flipper hingga dia menggambar baju menggunakan logo mereka, sedangkan Krist Novoselic sangat kagum kepada band itu sehingga dia bergabung dengan mereka pada tahun 2006, serta muncul dalam dua album mereka dalam proses itu. Alasan kenapa mereka sangat hebat terletak pada album debut ini – sebuah album yang secara simultan berhasil mendekonstruksi musik rock, memperlambatnya hingga seperti keong, semua sambil menikmati kecenderungan nihilistik dari musik punk.

37. THE BEATLES – Meet The Beatles (Capitol, 1964)

Sebagai album kedua The Beatles yang dirilis di Amerika, Meet The Beatles juga bisa dibilang sebagai yang paling populer – menggarisbawahi persis dari mana inspirasi melodi Kurt Cobain muncul. Kurt Cobain juga mengakui ketertarikannya dengan John Lennon dalam buku jurnalnya, minatnya berputar di sekitar kepribadian John Lennon yang ikonik serta karya musiknya itu sendiri.

38. HALF JAPANESE – We Are Those Who Ache With Amorous Love (Tec Tones, 1990)

Band AS lainnya yang dipersenjatai dengan semangat independen dan rasa naif yang berkobar, Half Japanese terus membuat musik dengan ketentuan mereka sendiri selama 30 tahun terakhir. Begitulah kecintaan Nirvana terhadap citra pop art eksperimental band itu yang eksentrik sehingga Half Japanese ditambahkan ke sejumlah konser di tur In Utero Nirvana bareng The Breeders.

39. BUTTHOLE SURFERS – Locust Abortion Technician (Touch And Go, 1987)

Sebagai album Buttholes Surfers kedua dalam daftar Kurt Cobain, Locust Abortion Technician adalah album yang sangat cadas yang menampilkan para psikopat asal Texas itu bergerak menuju wilayah yang lebih sludge alias tempo lambat nyeret-nyeret ketiban gajah. Dengan menggunakan peralatan musik murahan dan memanjakan diri dalam kelakuan lebay total yang dipublikasikan dengan baik, album ketiga Buttholes Surfers ini memiliki kegilaan yang sejati.

40. BLACK FLAG – Damaged (SST, 1981)

Lebih to-the-point dibanding album My War yang disebutkan sebelumnya, Damaged menandakan debut si rockstar gila Henry Rollins bergabung di Black Flag dan tetap menjadi salah satu album punk paling berpengaruh sepanjang masa. Lagu ‘Opener’ dan ‘Rise Above’ mungkin adalah contoh yang paling cocok.

41. FEAR – The Record (Slash, 1982)

Band punk asal Los Angeles FEAR dibentuk pada tahun 1977 dan dengan cepat membangun reputasi besar berdasarkan pada sikap mereka yang tidak kenal kompromi. Tidak takut menyalahgunakan audiens mereka, rasa nihilisme yang melekat pada diri mereka terlihat jelas di lagu-lagu seperti ‘Let’s Have A War’ dan ‘I Don’t Care About You’ – keduanya muncul dalam album ini.

42. PUBLIC IMAGE LTD – The Flowers Of Romance (Virgin, 1981)

Album ketiga pasca Sex Pistols yang dirilis oleh PiL yang dikomandani oleh vokalis gokil John Lydon (alias Johnny Rotten), The Flowers Of Romance adalah karya yang sangat intens. Terkadang rasanya sulit untuk menemukan sumber intensitas itu. Album studio pertama yang direkam setelah hengkangnya bassis Jah Wobble, The Flowers of Romance memperlihatkan karya PiL yang menggali lebih jauh ke dalam sound eksperimental. Album ini direkam oleh John Lydon dan gitaris Keith Levene, yang keduanya banyak menggunakan perkusi dan berbagai rekaman dan efek-efek khusus. Lagu-lagunya sangat tidak konvensional, komersial, sulit untuk dicerna bagi telinga pop. Nama besar dan sosok serta vokal ikonik John Lydon yang lebih berperan besar di sini.

43. PUBLIC ENEMY – It Takes A Nation Of Millions To Hold Us Back (Def Jam, 1988)

“Musik rap adalah satu-satunya bentuk vital musik yang diperkenalkan sejak punk rock,” ujar Kurt Cobain. Faktanya, album kedua Public Enemy ini juga menegaskan bahwa hip-hop telah bergerak jauh melampaui akarnya sebagai genre yang hanya berorientasi single atau per trek. Ini adalah album yang disusun sebagai soundtrack kehidupan modern, sisi produksinya menambahkan dinamika dan tingkat detail yang berbeda, sementara liriknya membahas masalah dunia yang sangat sangat nyata dan beresonansi hingga kini. So let’s bring the noise!

44. MARINE GIRLS – Beach Party (Whaam! Records, 1981)

Beach Party adalah album debut band indie pop Inggris, Marine Girls. Album ini direkam di studio rumahnya produser Pat Bermingham dan dirilis dalam format kaset via label DIY-nya, In Phaze pada tahun 1981. Album ini kemudian dirilis dalam bentuk vinyl oleh Whaam! Records pada tahun 1981 dan kemudian oleh Cherry Red Records pada tahun 1987 dan 2014. Meski musiknya aneh, amatir dan tidak keras namun bermuatan “api” alias amarah.

45. DAVID BOWIE – The Man Who Sold The World (Mercury, 1970)

Hanya sedikit orang yang berhasil menyanyikan lagu David Bowie seperti Nirvana selama penampilan MTV Unplugged yang mereka rekam pada November 1993. Lo coba tonton kembali penampilan itu sekarang dan lo akan takjub karena Kurt Cobain tampaknya menghayati dan menghuni isi lirik dalam lagu utama dari album 1970 ini, yang versi orisinilnya direkam jauh sebelum David Bowie mencapai popularitas dan kesuksesannya.

46. WIPERS – Is This Real? (Park Avenue Records, 1980)

Is This Real? milik Wipers, band punk rock asal Portland, Oregon, AS ini dianggap sebagai album punk rock klasik tahun 1980-an. Stephen Howell dari AllMusic, dalam ulasan retrospektifnya, memberi skor 4 dari 5 bintang album ini. Album (dan musik band pada umumnya) menarik audiens yang sedikit lebih luas selama awal 1990-an sejak Nirvana mengcover lagu Wipers ‘Return of the Rat’ dan ‘D-7’ yang hadir di album Tribute To Wipers dan EP langka Nirvana, Hormoaning yang cuma dirilis di Jepang dan Australia selama Nirvana tur di sana pada 1992 silam.

47. WIPERS – Youth Of America (Park Avenue Records, 1981)

Album kedua band pimpinan vokalis/gitaris Greg Sage ini tidak terlalu nendang dan seintens sebelumnya, tetapi sama menariknya, liner notes albumnya menggemakan minimalis musik punk tahun 1970-an sementara lagu utamanya membentang hingga lebih dari 10 menit. Perbedaan menyolok dalam pendekatannya ini tampaknya membingungkan para penggemar album Is This Real? meskipun sejarah telah melihat album Youth Of America dinilai setara dengan album debut klasik band itu.

48. WIPERS – Over The Edge (Trap Records, 1983)

Album ketiga Wipers melanjutkan intensitas liar Greg Sage, kali ini ke wilayah yang lebih mudah diakses. Kecintaan Kurt Cobain terhadap ketiga album Wipers mungkin menggarisbawahi perspektifnya sendiri yang cenderung berubah terhadap karya musik dan ambisinya sendiri.

49. MAZZY STAR – She Hangs Brightly (Rough Trade, 1990)

Scene musik Inggris memang telah menelurkan faktor utama dari scene musik shoegaze, namun band asal Santa Monica, Mazzy Star menggunakan nuansa musik kosmik Amerika dan unsur psikedelik untuk membuat genre mereka sendiri yang “shoegazing”. Album debut band ini menawarkan bukti tersebut dengan lagu ‘Ghost Highway’ yang atmosferik dan istimewa sebagai contoh utamanya.

50. SWANS – EP Young God (K.422, 1984)

Kadang-kadang disebut judulnya dengan Raping A Slave atau I Crawled, EP berisi empat lagu ini menangkap pendekatan awal SWANS yang klaustrofobik terhadap musik serta pandangan suram mereka terhadap dunia. Keempat lagu itu terasa brutal dan menantang, memaksa pendengar untuk menghadapi diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka. Semangat konfrontatif semacam inilah yang Nirvana gambarkan dengan jelas dalam banyak lirik dan karya musik Kurt Cobain sendiri.

Sumber: berbagai literatur
Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Harlan Boer

Harlan Boer Rilis Album Baru, “Bersambung” Yang Rekamannya Cuma Pa...

Harlan Boer. Penyanyi dan penulis lagu indie folk/indie-pop/anti-folk Jakarta, Harlan Boer merilis album dengan peralatan seadanya, direkam live memakai han

on Oct 17, 2020
Kuasa

Selain Eksplorasi Secara Massif, Album KAUSA "Una In Perpetuum" Bertam...

Sebagai band yang berbasis heavy metal dan punk rock, KAUSA termasuk band yang gemar berpetualang secara musikal. Dan kini mereka menganalogikan diri merek

on Oct 13, 2020
Lou Belle Sessions

Mainkan 'Waking Up', SUAR Tampil Keren Di Virtual Show Debut Lou Belle...

"LOU BELLE SESSIONS Waking up" adalah sebuah karya audio-visual hasil kolaborasi dari Lou belle Collective, seperti: Convert textured, Infis

on Oct 12, 2020
Linkin Park

Linkin Park Rilis Versi Demo 'In The End' Dari 20th Anniversary Hybrid...

Boleh dibilang Linkin Park adalah band nu-metal/alternative rock yang berhasil menguasai blantika musik rock di era awal millenium alias pada tahun 2000. A

on Oct 2, 2020