×
×

Search in Mata Mata Musik

Album 'Landmark' Death Metal Indonesia Yang Dibangkitkan Dari Kubur

Posted on: 01/12/20 at 9:05 am

Cover album ‘Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone’ milik Grausig yang telah re-illustrated juga (Gambar: Disembowel Records)

GRAUSIG
Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone
(2019, Disembowel)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Jika membicarakan sejarah musik metal ekstrim Tanah Air, kurang afdol jika tidak menyebut Grausig sebagai pionir dan peletak batu pertama fondasi gerakan musik death metal yang terbentuk di Jakarta pada 1989 oleh Yachya Wacked setelah hengkang dari Sucker Head. Old school banget, anjir.

Pencapaian tertinggi Grausig terjadi ketika album full length berbahaya, Abandon, Forgotten & Rotting Alone dirilis oleh Independen Records sub-major label Aquarius Musikindo, 1999 silam yang menjadi salah satu ‘landmark’ album brutal death metal era ’90an. Bersama formasi klasik: Denny (dram), Ricky (gitar), Ino (bass) dan James (vokal), album yang saat itu hanya berformat kaset tersebut lantas menggiring Grausig ke garda paling depan pengusung musik mengerikan.

Namun sayangnya, kedigjayaan Grausig hanya bertahan sampai tahun 2001 sejak James mengundurkan diri dan disusul oleh Ino. Kemudian direkrutlah Porry (vokal) dan Hari (bass) untuk melengkapi formasi baru Grausig yang memutuskan untuk mengubah direksi musikalnya ke post-metal yang kala itu lazim disebut nu-metal dan pada 2002 berhasil merilis sebuah album full length berjudul Tiga Dimensi melalui Alfa Records. Sedihnya, niatnya mau untung malah buntung. Album ini mendapat kecaman keras dari scene metal yang membesarkan nama Grausig lantaran dinilai telah ‘berkhianat’ alias ‘sell out’. Alhasil, album ini ‘gatot’ (gagal total -Ed) di pasaran yang berujung pada hiatus-nya band sebelum akhirnya bangkit dari tidur panjangnya pada 2011 dan kembali memanaskan mesin tempur death metal seperti semula.

Untuk memenuhi permintaan besar para fans untuk merilis ulang mahakarya Abandon, Forgotten & Rotting Alone, Grausig merilis ulang album ‘repackage’ ini sekaligus untuk memperingati 20 tahun album seminal tersebut.

Baca juga: Kembalinya Trauma Sebagai ‘Balakosa’ Pelestari OSDM Yang Otentik

Kelebihan: Setelah bertahun-tahun berusaha untuk ‘reissue’ dan terkendala oleh masalah hak kepemilikan master rekaman aslinya, satu-satunya cara mewujudkannya adalah dengan merekam ulang materi album tersebut bersama formasi teraktual Grausig yang terdiri dari Denny (dram), Ewin (bass/vokal latar), Mame (gitar/vokal latar) dan Bolonk (vokal). Dengan ditunjang oleh kualitas rekaman yang lebih baik, Grausig hanya menyortir 5 lagu dari Abandon, Forgotten & Rotting Alone, yakni: ‘The Omens of Titanic Martyrdom’, ‘Horrendous Dead in Xenodochium’, ‘Father of the Flesh’, ‘Embalmed Crucifixion’, dan ‘…Dismemberment’. Tidak sedikit pun aransemen asli musik dan vokal dari lagu-lagu tersebut diubah sehingga usaha untuk menghidupkan kembali atmosfer jahat dan brutalitas death metal era ‘90an terbilang berhasil.

Grausig merupakan bahasa Jerman yang artinya mengerikan memang sejak awal dikonsepkan para founders band ini memiliki citra ‘demonic’ dari musik, lirik dan artistiknya. Kombinasi influence berat dari Deicide, Cannibal Corpse dan Suffocation. Itulah yang saya rasakan di sepanjang repertoar album ini. Nuansa ngeri dimulai dari riffing bertangga nada minor kegelapan dari awal sampai akhir suram yang sebenarnya hampir tidak pernah memiliki satu bar pun yang memorable. Kekuatan musiknya lebih kepada komposisi keseluruhannya, terutama aransemennya yang variatif dan proporsional dalam tempo dan iramanya. Meski seringkali terlalu rapat, padat dan cepat pergantian biramanya, tetap menghasilkan provokasi headbanging yang intens. Kemudian pattern vokal growl yang diwarisi almarhum James memang ‘sakit’ banget. Begitu cerewet dan powerful dengan lirik yang panjang dan penempatan yang tepat. Meski kadar growl-nya tidak seberat James, Bolonk memiliki kapabilitas yang mendekati sehingga mampu menjalankan tugasnya secara impresif. Dan kejutannya adalah 1 lagu baru berjudul ‘Thy of the Damned’ yang dari segala aspek musikal begitu integral dengan materi Abandon, Forgotten & Rotting Alone. Kabar baik buat semua fans Grausig bahwa inilah contoh lagu untuk album baru nanti, di mana mereka sepenuhnya mengimplementasikan ‘blueprint’ album klasik ’99 tersebut, termasuk karakter vokal Bolonk yang tidak lagi bergaya ‘barking’ seperti album Dogma Dunia Baru (2018), melainkan menjadi growl yang telah dipakemkan oleh James sesuai harapan sebagian besar fans Grausig. This is the new beginning of Grausig’s bright future.

Kekurangan: Artwork ‘remake’ cover albumnya sih keren, tapi sangat disayangkan dari total 8 lagu di album Abandon, Forgotten & Rotting Alone hanya 5 lagu yang direkam ulang dan dirilis. Minus 3 lagu, yakni: ‘Cryptic Spawn from Behind the Catatonic Lights’, ‘Awakened by Isolated Vortex Congregation’, dan ‘I Am the Filth of the Seven Sorrows’. Dengan demikian peringatan 2 dekade album tersebut menjadi kurang utuh secara keseluruhan. Band black/thrash metal legendaris Italia, Necrodeath pun melakukan hal yang sama untuk memperingati 30 tahun album Fragments of Insanity dengan Defragments of Insanity namun menampilkan semua lagunya secara utuh. Dan akan lebih keren lagi jika Grausig menggelar konser tunggal atau bahkan tur dengan menu spesial: “Playing Abandon, Forgotten & Rotting Alone in its entirety”. Event Organizer (EO) metal mana yang tidak tertarik, apalagi fans, hehe.

Kesimpulan: Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone seperti berada di tengah persimpangan, tidak mau terlalu ‘flashback’ dengan mengubah album LP* ini menjadi EP* atau memang tujuan utamanya untuk merilis singel barunya, ‘Thy of the Damned’? Entahlah. Yang jelas, masa lalu yang memiliki kejayaan dan kontribusi positif bagi masa depan adalah sejarah yang tidak boleh dilupakan atau dikubur. Bagaimanapun, EP ini tetap esensial dikoleksi.

*LP (Long Playing) = Album Penuh / Full Length
*EP (Extended Playing) = Mini Album

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

DEATH VOMIT JOGJAROCKARTA 2020

Death Vomit Segera Memuntahkan Album Baru, 'Dominion Over Creation...

Death Vomit (ki-ka): Roy Agus (dram), Sofyan Hadi (vokal/gitar), Oki Haribowo (bass) Monster death metal sepuh kelahiran Yogyakarta, Death Vomit belum lama

on Feb 5, 2020
DEAD VERTICAL XVII

Tujuh Belas Tahun Ke Atas Menggerinda Baja

Cover album 'XVII' milik Dead Vertical (Gambar: Blackandje Records) DEAD VERTICALXVII(2019, Blackandje) Oleh Dharma Samyayogi Fakta: Band grindcore ya

on Jan 10, 2020
TRAUMA BALAKOSA

Kembalinya Trauma Sebagai 'Balakosa' Pelestari OSDM Yang Otent...

Cover album 'Balakosa' milik Trauma (Gambar: Morbid Noise Records) TRAUMABalakosa(2019, Morbid Noise) Oleh Dharma Samyayogi Fakta: Trauma yang resmi t

on Jan 5, 2020
Kill Athena

Kill Athena Muntahkan Single Pemanasan Album Baru

Tiga personil inti Kill Athena (Foto: Kill Athena) Kill Athena telah merilis karya terakhir di penghujung 2019. Single terbaru yang berjudul 'Beneath My Eye

on Jan 2, 2020