×
×

Search in Mata Mata Musik

Antara Karya & Aib Dari Seorang Artis Yang Tidak Selalu Bisa Dipisahkan

Posted on: 01/20/21 at 11:00 am

Antara Karya & Aib Dari Seorang Artis Yang Tidak Selalu Bisa Dipisahkan
Ki-ka: Phil Spector, Gisel, Michael Jackson, R. Kelly, Ariel.

Kondisi psikologi manusia memang merupakan hal yang sulit untuk dipahami. Bagaikan dua sisi sebuah koin, di satu sisi orang mampu menciptakan suatu keindahan yang luar biasa melalui karya atau perbuatannya yang mulia. Di sisi lainnya, orang bisa melakukan tindakan tercela, bahkan tergolong bejat, yang membuat hati dan pikiran kita terhenyak. Setiap diri kita memiliki momentum yang transendental, bahagia dengan segala sesuatunya yang nyaris sempurna, tetapi kita juga enggak luput dari kesalahan atau kekhilafan yang bisa bikin kita malu sendiri.

Baca juga: Musisi Bintang Pop & Rock Anggota “27 Club”: Yang Mati Muda Di Usia 27 Tahun

Begitulah hidup dengan semua permasalahannya yang kacau dan berantakan. Yoi, “C’est La Vie”. Mayoritas orang lebih takut mati ketimbang hidup, tetapi bagi sebagian orang lebih memilih mati ketimbang hidup dengan beban yang terlalu berat. Persis seperti nukilan lirik lagu ‘But Life Goes On’ dari dedengkot Swedish death metal Entombed, yaitu: “Life is your worst enemy!”.

Tentu saja hal itu berlaku bagi siapa saja, bray, gue atau elo. Dan hal itu benar-benar menyakitkan ketika orang-orang yang kita cintai, kagumi, hormati, bahkan yang telah menciptakan mahakarya seni yang menentukan suatu generasi, melakukan kesalahan seperti itu.

Bisa dibilang hampir semua artis favorit kita memiliki aib yang mereka simpan, dengan perilaku dan tindakan demoral yang mungkin akan membuat kita merasa sedih jika kita atau seseorang yang dekat dengan kita melakukannya. Jika kita pertimbangkan salah satu mitos dalam sejarah rock and roll, katakanlah, Led Zeppelin atau The Rolling Stones, nama besar mereka dibangun dari sepak terjang yang dibalut hedonisme dan gaya hidup “lawless” yang sebagian besar dari kita enggak akan pernah menginginkannya sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Ariel Noah dan Gisel

Aib dalam konteks yang kita bahas di sini bukan level aib seperti permasalahan yang dialami oleh penyanyi Gisella Anastasia alias Gisel dengan video “ngentiauw” pribadinya bersama pasangan selingkuhannya yang diretas dan disebarkan oleh orang yang enggak bertanggungjawab ke publik. Demikian pula dengan kasus video serupa beberapa tahun sebelumnya yang dilakoni oleh kak Boril alias Ariel (Peterpan kala itu), sang vokalis Noah yang karismatik. Namun di negara kita yang hukumnya terkenal rasa “bubble-gum”-nya ini, kedua artis tersebut yang menjadi korban pencemaran nama baiknya justru dijerat pasal-pasal UU No. 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi.

Selain sengketa nama dengan personil lamanya, mungkin masalah itu menjadi salah satu pertimbangan Ariel cs sebelum memutuskan untuk mengganti nama Peterpan menjadi Noah untuk melenyapkan citra Peterpan yang sudah ternodai oleh aib tersebut.

Toh, lihat sekarang, bahkan sejak kemunculan pertama Ariel bersama Noah ke kancah musik Indonesia tetap disambut hangat oleh para penggemarnya yang hingga kini justru semakin besar, dan Ariel menjadi bagian dari barisan depan figur publik yang paling dikagumi berkat karya-karyanya yang fenomenal. Komentar jahat dan sok suci sebagian netizen +62 bagaikan angin lalu.

Ariel dan Gisel hanyalah contoh kekhilafan yang sebenarnya enggak merugikan publik (bahkan banyak masyarakat yang terhibur oleh video asusila mereka, haha) secara langsung. Masalah mereka lebih ke ranah personal yang sebenarnya kita enggak berhak turut campur. Bukannya membenarkan tindakan mereka yang juga memiliki dampak buruk bagi beberapa orang di lingkungan keluarganya, tapi yang jelas, perbuatan mereka enggak termasuk kategori kriminal. Ariel atau Gisel pada dasarnya memang bukan “bad guy”.

Nah, konteks aib yang kita soroti di artikel ini lebih pada perbuatan artis yang melebihi batas kewajaran dan tentu saja dianggap sebagai kriminal. Apa yang akan lo lakukan, dan bagaimana lo menanggapinya ketika lo menyadari bahwa penyanyi/musisi yang memberikan soundtrack untuk hidup lo, ternyata, adalah seorang “monster”?

Phil Spector

Bagi gue sih gue cuek, men, enggak peduli, tapi lain orang lain cerita. Berita kematian produser rekaman legendaris Phil Spector belum lama ini telah memotivasi gue untuk membahas pertanyaan yang sebagian orang sulit dijawab tersebut.

Bahkan sebelum Phil Spector dijatuhi hukuman penjara karena membunuh aktris Lana Clarkson, popularitas Phil Spector telah menyusut. Kehidupan Phil selama beberapa dekade sebelumnya, sarat kekerasan dan kegilaan yang dipicu oleh narkoba, seperti dilansir dari memoar milik mantan istrinya, Ronnie Spector yang menguraikan perlakuan kejam yang benar-benar mengerikan selama bertahun-tahun, dan selama dua dekade lebih Phil pun enggak aktif sebagai produser yang membuatnya enggak lagi relevan di industri musik dan yang terburuk, Phil justru dianggap sebagai salah satu sosok seram terbesar dalam sejarah musik populer.

Meskipun Phil mendapat ganjaran atas reputasi buruknya, yang menarik adalah hal itu enggak sepenuhnya memengaruhi penilaian terhadap pekerjaannya sebagai produser. Portofolio Phil memang luar biasa. Yang paling terkenal di antaranya adalah memproduseri album All Things Must Pass karya George Harrison dan Imagine karya John Lennon, serta Phil pernah menulis dan memproduseri lagu-lagu hits seperti ‘He’s a Rebel’-nya The Crystals, ‘Be My Baby’-nya The Ronettes, dan ‘River Deep-Mountain High’-nya Ike & Tina Turner. Produksi “Wall of Sound”-nya membuat ansambel musisi terkenal The Wrecking Crew berfungsi sebagai pemantik aransemen musik produser Brian Wilson di album Pet Sounds milik The Beach Boys, dan menciptakan sound yang ingin direplikasi Bruce Springsteen di album Born to Run.

Tetapi karena Phil Spector seorang produser, doi enggak jadi daya tarik utama, lebih mudah bagi penikmat musik untuk fokus ke karya artis yang doi bantu ciptakan. Lagu ‘Imagine’ tentu dikenang sebagai suatu kejayaan bagi karier solo John Lennon, dan All Things Must Pass adalah karya keren milik George Harrison. Lagu-lagu yang Phil tulis untuk The Ronettes juga berfungsi sebagai penghormatan abadi kepada Ronnie Spector (The Ronettes), yang merupakan penyintas rock and roll sejati dari penganiayaan Phil selama bertahun-tahun.

Pada akhirnya, Phil Spector tetaplah seorang pemain peran yang penting, yang mengubah industri, tetapi bagaimanapun juga seorang pemain peran cukup mudah untuk dilupakan karena orang ini hampir selalu tersembunyi di belakang atau di sela-sela kejayaan artis. Namun, terkadang enggak sesederhana itu sih, meskipun punya aib, lo terpaksa bergumul dengan sosok dan warisannya yang terlalu besar untuk diabaikan.

Michael Jackson

Gelar terhormat ‘King of Pop’ memang pantas disandang oleh Michael Jackson. Doi adalah artis rekaman paling sukses sepanjang masa dan membentuk pola dasar seorang bintang pop modern. Tetapi sayangnya, menurut keterangan satu pihak yang lebih dianggap sahih, doi juga seorang predator seksual dan pelecehan anak (child molester).

Opini publik tentang Michael Jackson agak berkesan metafora selama 25-30 tahun terakhir. Pada awal 1990-an, doi dikenal sebagai seorang yang eksentrik sekaligus pencinta anak-anak, tetapi pada pertengahan 1990-an, citra itu langsung jatuh drastis setelah doi terseret kasus yang menggugatnya atas pelecehan seksual terhadap anak-anak, sehingga keeksentrikan itu pun berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan. Jackson didakwa secara pidana dengan tuduhan pelecehan terhadap 24 anak selama 15 tahun tapi dibebaskan setelah Jackson menguras kocek sebesar 23 juta poundsterling (sekitar Rp 347 miliar) untuk menutup kasus-kasus tersebut. Tetap saja kerusakan pada reputasinya sulit untuk diperbaiki.

Michael Jackson meninggal pada 25 Juni 2009, beberapa minggu sebelum dimulainya serangkaian acara comeback. Dengan kematiannya, masalah pribadi dan hukumnya dikesampingkan, dan Jackson menerima penghargaan atas warisannya sebagai penyanyi, komposer, dan artis yang sangat berbakat yang berjuang dengan masalah pribadi yang luar biasa berat. Dan paling enggak selama satu dekade terakhir, itulah persepsi populer tentang Michael Jackson. Jika kita menyimak katalog musik ke belakangnya, ya ‘its OK’ untuk menyukai Michael Jackson lagi. Why not?

Namun, film dokumenter 2019 Leaving Neverland seperti melemparkan “kunci pas” untuk membuka narasi penegasan aibnya menjadi suatu persepsi yang diterima publik mainstream. Tuduhan penganiayaan anak kembali muncul ke permukaan, dengan ingatan rinci tentang pelecehannya. Sekali lagi, penggemar dan penonton dipaksa untuk menghadapi kenyataan bahwa sosok “yang lebih besar dari kehidupan” di balik lagu-lagu ‘Thriller’, ‘Billie Jean’, ‘Bad’, dan lusinan lagu hits lain yang meninggalkan jejak yang sulit terhapuskan dalam hidup kita adalah kemungkinan seorang “monster” (mungkin alias belum tentu benar).

Sejak itu segala sesuatunya menjadi terasa aneh. Musisi komedian “Weird Al” Yankovic berhenti memainkan parodi Michael Jackson-nya secara live. Cameo Michael Jackson di serial kartun The Simpsons pun dihapus dari keberadaannya. Semua film dan pameran tribute tentang kariernya kembali tergores-gores. Namun terlepas dari itu, penjualan dan streaming musiknya justru melonjak setelah pemutaran perdana film dokumenter Leaving Neverland, dan baik ahli waris Jackson maupun penggemar beratnya telah mengklaim bahwa semua tuduhan tersebut adalah palsu demi pemerasan uang dan hartanya. Apalagi Jackson telah tiada dan enggak mungkin untuk melawan. Contoh gamblangnya adalah properti dan lahan Neverland milik Jackson yang terjual dengan harga sangat rendah setelah 10 tahun dipasarkan sulit lakunya akibat citra “horor” di mana kejadian pelecehan seksual terhadap anak tersebut terjadi di sana.

Dan mungkin itu benar. Michael Jackson diadili dan dibebaskan dari semua tuduhan. Pada tahun 2020, Forbes mengumumkan bahwa Jackson menjadi selebriti dengan penghasilan tertinggi hampir setiap tahun sejak kematiannya. Tapi, bagi sebagian orang, mungkin tuduhan yang mengalir tersebut sempat memiliki dampak yang membuat orang jadi enggak nyaman dengan karya seni dan citra Jackson. Mereka merasa jijik saat pergi ke mall atau toko rekaman musik melihat vinyl album Thriller atau t-shirt dengan sablonan nama dan wajah Jackson.

Karya anumerta Michael Jackson yang terus berkumandang adalah hal yang luar biasa, kombinasi dari “fakta bahwa sulit untuk menghilangkan kejayaan semua karya musik lawasnya yang hebat dari ingatan kolektif kita” dan “kematian terlalu dininya yang membantu mengubah dirinya menjadi sosok yang tragis”. Biasanya, meskipun butuh waktu bertahun-tahun (seperti yang telah kita lihat dengan Phil Spector, Bill Cosby), cepat atau lambat, predator berantai pasti menghadapi dampak sosial atas perbuatannya.

R. Kelly

Kisah penyanyi R&B, R. Kelly adalah salah satu cerita paling aneh dan “pop-up” dalam ingatan baru-baru ini. Berawal dengan pernikahannya dengan Aaliyah yang masih di bawah umur pada tahun 1994. Meski semua tuntutan hukum yang doi selesaikan terjadi antara tahun 1996 dan 2002, bagi kebanyakan orang, perbuatan menyimpang Kelly mulai mendapat kesadaran publik pada tahun 2002, ketika doi ditangkap dengan 21 dakwaan termasuk membuat pornografi anak.

Entah bagaimana, setelah penangkapannya dan pembebasannya, ketenaran Kelly semakin meningkat. Doi merekam dua album yang sukses dengan Jay-Z dan merilis sembilan album yang masuk tangga lagu teratas. Video musik Kelly ‘Trapped in the Closet’ yang sureal menjadi fenomena budaya pop, dengan pemutaran yang kencang di YouTube dan bahkan jaringan film seperti IFC.

Kelly dan para pendukungnya berhasil mengubah penangkapannya menjadi sesuatu yang positif, menciptakan citra pria bernama lengkap Robert Sylvester Kelly ini sebagai pria yang sangat sensual dan mesra, bukan seorang predator gadis-gadis muda yang rentan selama beberapa dekade. Untuk sebagian besar kariernya, itu berhasil, tapi hanya sementara.

Pada tahun 2017, Buzzfeed mempublikasikan pengungkapan menyeluruh tentang sekte seks yang dijalankan Kelly. Penerbitannya itu menyebabkan sejumlah korban mengungkap “true story” mereka. Promotor konser dan label rekamannya lantas memutuskan hubungan kerjanya dengan Kelly, dan lagu-lagunya pun untuk sementara waktu enggak ada di layanan streaming.

Tamparan keras kembali menyapa Kelly pada tahun 2019 setelah ditayangkannya film dokumenter dari Lifetime yang mengejutkan, Surviving R. Kelly. Akibatnya, pejabat negara bagian dan federal akhirnya mengambil tindakan, dan Kelly menghabiskan sebagian besar dari dua tahun terakhirnya di penjara, menunggu persidangan karena penyerangan seksual, pelecehan anak di bawah umur, membuat gambar tidak senonoh dari anak di bawah umur, pemerasan, dan menghalangi keadilan.

Baca juga: Phil Spector, Produser Rekaman Legendaris Inventor “Wall of Sound” Tutup Usia

Jatuh Cinta Dengan Artis

Kita jatuh cinta dengan artis karena karyanya. Karya yang dapat berbicara kepada kita, membantu memberikan dukungan emosional dalam good times and bad times. Sulit untuk memahami bahwa dalam kehidupan nyata, ternyata si pencipta karya gagal menyelaraskan penghargaan tinggi yang kita berikan. Mencoba memisahkan seni dari konteks kehidupan artis bahkan lebih sulit, dan kita belum menemukan cara yang memuaskan untuk mengatasi masalah ini sebagai bagian dari masyarakat yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral adat istiadat maupun agama.

Selain sebagai pengingat terbaru atas masalah aib artis, kematian Phil Spector juga memperjelas dua hal, yakni hal yang tidak diterima dan hal yang dapat diterima masyarakat. Dua hal yang harus bisa kita pisahkan. Saat kita mendengarkan lagu-lagu tentang cinta dan harapan serta idealisme di mana terdapat sentuhan Phil Spector pada produksinya, kebanyakan dari kita pasti enggak terbesit di pikiran si “monster” di balik meja mixer studio rekamannya. Mungkin, setidaknya dalam kasus ini, itu yang terbaik. Phil Spector telah tiada, tetapi lagu-lagu itu terus bertahan, akan terus ada dan terus memengaruhi kehidupan kita menjadi lebih baik.

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Michael Jackson

    Nilai Citra Michael Jackson Merosot Hanya Rp 59,5 M Di Pengadilan AS

    Michael Jackson (Foto: via Wiki). Lebih dari satu dekade setelah kematiannya, nilai citra dan kemiripan Michael Jackson telah merosot hingga hanya US$ 4,15

    on May 4, 2021
    Ariel Noah & BCL

    Ariel NOAH Akhirnya Ungkap Hubungan Yang Sebenarnya Dengan BCL

    Kedekatan penyanyi Ariel NOAH dan Bunga Citra Lestari alias BCL kembali menjadi perhatian publik. Pasalnya Ariel dan BCL tampil mesra sebagai pasangan dala

    on May 4, 2021
    NOAH

    Ariel & BCL Tampil Mesra Di Video NOAH Bikin Heboh & Menuai Spekulasi

    Ariel, sang frontman NOAH memang memiliki pesona yang mampu luluhkan hati wanita. Sudah menjadi rahasia umum, cowok yang akrab disapa Boriel ini bahkan beb

    on Apr 24, 2021
    Phil Spector

    Phil Spector, Produser Rekaman Legendaris Inventor "Wall of Sound" Tut...

    Phil Spector. (Foto: via CoS). Phil Spector, produser rekaman Amerika Serikat pionir dan inventor "wall of sound" dalam genre pop, yang hidupnya berakhir di

    on Jan 17, 2021