×
×

Search in Mata Mata Musik

PEE WEE GASKINS – Rasa Pop Punk Yang Campur Aduk

Posted on: 12/19/19 at 1:56 am

Pee Wee Gaskins (kiri-kanan): Ayi, Sansan, Aldy, Dochi, Omo (Foto: PWG Official)

Setelah sebelumnya beberapa single dirilis oleh Pee Wee Gaskins (PWG), kini band pop punk yang lahir dan besar di Jakarta ini akhirnya merilis album barunya yang dikasih judul ‘Mixed Feelings‘ pada 29 November 2019, masih di bawah naungan major label tersohor, Universal Music Indonesia. Rilisan kesembilan sekaligus album full length keempat tersebut menampilkan 12 lagu yang beberapa di antaranya telah dirilis sebelumnya dalam bentuk single beserta video klip, yakni ‘Amuk Redam’, ‘Sampai Juara’, ‘Ikut Aku Ke Bulan’, ‘Dekat’ dan terakhir ‘Common Indifference’ yang berlirik bahasa Inggris dirilis berbarengan dengan album ‘Mixed Feelings’.

Cover album ‘Mixed Feelings’ milik Pee Wee Gaskins (Gambar: PWG Official)

Pesta peluncuran album ‘Mixed Feelings’ ini juga sukses terselenggarakan di Live House, M Bloc, Jakarta Selatan pada Jum’at, 13 Desember 2019 lalu. Konser PWG yang dimulai jam 8 malam itu terbagi dalam tiga sesi dengan set list total 21 lagu yang sengaja di-mixed antara lagu lama dan baru. Sesi kedua diawali oleh pemutaran video dokumenter PWG dan dilanjutkan oleh penampilan live akustik PWG sebanyak 5 lagu. Dari awal hingga akhir, aksi panggung PWG begitu enerjik seperti biasa dan tak ketinggalan tiap jeda lagu Sansan, Dochi, Ayi dan Amo selalu ber-chit chat penuh banyolan yang mengundang gelak tawa penonton yang berjumlah padat namun tidak sampai penuh sesak walau tiket presale-nya telah sold out. Dari sekitar ratusan ‘Dorks‘ yang hadir tampak beberapa di antaranya yang membawa spanduk dari berbagai kota seperti Party Dork Lampung, Subang, dan lain-lain. Sederet musisi tamu juga turut memeriahkan aksi panggung PWG, yakni Gloria Jessica, Tari dan Baskara (.Feast/Hindia).

Aksi panggung Dochi (kiri) dan Sansan (kanan) di sesi pertama konser (Foto: Yusak Anugerah)

Sebelum konser, pada pukul 17:00 wib digelar press conference yang membahas total seputar album ‘Mixed Feelings’.

Press conference Pee Wee Gaskins ‘Mixed Feelings’ release party (Foto: Yusak Anugerah)

Di press conference ini sang vokalis merangkap gitaris PWG, Sansan menuturkan cerita singkat di balik pemilihan judul album yang terdiri dari dua kata ini dikarenakan banyaknya hal baru yang para personil PWG temukan dalam proses penggarapan album ini:

“Dari awal pengerjaan hingga lagunya jadi, banyak hal baru yang kami temukan dan pelajari. Karena proses pengerjaannya kami bekerjasama dengan Mas Erix (Soekamti), musisi yang kuat karakternya, jadi karakter musik juga ter-infused. Jadi ada warna baru di lagu-lagu album ini, yang ternyata responnya juga sangat baik. Jadilah ini semacam mixed feelings”.

Adalah Dochi sang bassis merangkap vokal yang mencetuskan ide judul tersebut. “Jadi nggak sengaja sebenarnya. Waktu berjalan mengerjakan album ini kami belum tahu mau dikasih judul apa dan tema yang bisa bikin semuanya nempel tuh apa, ternyata, ini ada dua sisi selama bekerjasama dengan Mas Erix yang kuat karakternya dengan Endank Soekamti. Satu, beberapa lagu kok bernuansa Endang Soekamti banget, kedua, para pendengar bisa menerima hal itu. Meski ada rasa Endang Soekamti-nya, it works, jadilah gabungan kedua perasaan itu,” ungkap Dochi.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya pada saat perilisan single PWG, bahwa pengerjaan lagu-lagu baru yang ada di ‘Mixed Feelings’ menggunakan metode rekaman terpisah, dimana masing-masing personil melakukan rekaman di tempat yang berbeda, tidak sama seperti yang biasa mereka lakukan.

“Itu memang ciri khasnya Mas Erix juga sih, dia biasa recording di outdoor, keluar ke mana, makanya itu menjadi pengalaman baru buat Pee Wee Gaskins mengikuti caranya Mas Erix,” tutur Sansan. “Bahwa bikin album itu nggak seharusnya selalu berada di studio. Seperti untuk take vokal dilakukan di Pulau Pramuka (Kepulauan Seribu), take dram di Villa kawasan Mega Mendung, Puncak, Bogor. Gue take bass-nya di Motoloco Garage (studio tattoo), dan untuk kibor di Guerilla Dive dan gitar di Kozi Coffee, Tanah Kusir, Jakarta Selatan serta bagian gitar lainnya di SJM Studio,” sambung Dochi.

Keterlibatan Erix Soekamti sebagai produser di album ‘Mixed Feelings’ ini menjadi salah satu credit point tersendiri. “Mas Erix ini sebenarnya sudah lama kami sempat ngobrol, tapi waktu itu lagu-lagunya sudah jadi. Sampai akhirnya dia bilang, ‘bagaimana kalau kapan-kapan kita kerjasama dari nol?’, kebetulan pada saat di kantor Universal kami mau garap album, di situlah dapat kesempatan untuk kerjasama dengan Mas Erix,” tutur Sansan. “Kami follow up lagi omongan Mas Erix ingin kerjasama dari nol,” timpal Dochi menambahkan. Pertama kali ketemuan bersama Mas Erix pada saat kami menggarap album ‘A Youth Not Wasted’ (2016, Universal Music Indonesia -ed) yang sudah rampung 50% tapi dia nggak mau, dia maunya dari nol,” sambung Dochi. Di album ‘Mixed Feelings’ inilah proses penciptaan lagu, pra-produksi hingga final dikerjakan dari nol oleh kolaborasi PWG dan Erix Soekamti.

Lagu pertama yang direkam di album ini adalah ‘Amuk Redam’ yang liriknya bercerita tentang terumbu karang, reklamasi, dan lain-lain. Pada saat menggarap lagu tersebut Erix sempat ngambek lantaran setelah PWG selesai merekam semua instrumennya ternyata lagunya belum ada liriknya sama sekali. “Mas Erix mengejar-ngejar, ‘eh ini gimana kok nggak ada liriknya?’ Kami bilang bahwa prosesnya memang seperti ini. Lirik itu biasanya ditulis ‘on the go’ pada saat Sansan mau take vokal. Dia sempat khawatir, ‘aduh ini takut nggak terkejar jadwalnya’. Akhirnya dia nurut saja,” tutur Dochi mengenang. Bahkan pada waktu Sansan dan Dochi berangkat ke Kepulauan Seribu untuk take vokal, semua musik yang sudah direkam belum ada liriknya sama sekali. “Hari pertama kami hanya menghabiskan waktu keliling di pulau dan laut saja. Pertama kali kami mendarat di situ, jalan-jalan, kami ketemu dengan situs pembuangan sampah yang gila banget, yang akhirnya menjadi foto cover single ‘Amuk Redam’. Kemudian waktu perjalanan diving, kami melihat ada kapal mengeruk tanah untuk reklamasi Jakarta, dan terumbu karang yang bagus itu banyak yang rusak juga, jadi deh terinspirasi bikin ‘Amuk Redam’,” imbuh bassis ‘babyface’ ini.

Cover single Pee Wee Gaskins, ‘Amuk Redam’ (Gambar: PWG Official)

Inspirasi lirik lagu lainnya pun memiliki ceritanya masing-masing. Ketika mereka melihat akamsi (anak kampung situ/Pulau Pramuka -ed) sedang main bola dan pengen bikin sesuatu kompetisi akhirnya bikin ‘Sampai Juara’. Ada api unggun jadi kepikiran bikin lagu yang enak dinyanyikan buat api unggun jadilah ‘Ikut Aku Ke Bulan’, karena waktu itu malam dan sedang melihat terang bulan. Jadi semua inspirasi lirik tersebut datang selama mereka ada di Kepulauan Seribu. “Dari dulu proses kami membuat lirik memang seperti itu. Sayangnya Mas Erix tidak percaya itu. Tapi akhirnya dia melihat memang seperti itu proses dan kemudian supportive,” ungkap Dochi.

Yang unik cover album ini menampilkan artwork anak-anak. Cover depannya dikerjakan oleh Ken, anak dari Sansan. Sedangkan bagian sleeve boxset dikerjakan oleh Jemima, anak dari jurnalis dan pengamat musik Adib Hidayat. “Jadi waktu itu nggak sengaja melihat Mas Adib memposting karya anaknya di Instagram. Saya pikir, wah kayaknya ini pas banget dengan tema ‘Mixed Feelings’ ini,” tutur Dochi menjelaskan. Selain itu ada artwork buatan anaknya salah satu kawan para personil PWG yang ditodong menggambar di iPad yang kemudian dipakai di cover single ‘Dekat’. “Kenapa kami menggunakan artwork anak-anak, karena di album ini kami bekerjasama dengan Mas Erix Soekamti yang kami anggap sebagai senior. Jadi diibaratkan di album ini kami belajar dari awal lagi seperti anak kecil, belajar dari awal apa kata ‘abang-abangan’ ini, Mas Erix Soekamti. Intinya kami ingin menempatkan diri sebagai anak kecil meski kami sudah berjalan lebih dari 12 tahun tapi kami masih merasa seperti anak kecil yang tak pernah berhenti untuk belajar dan berkembang,” pungkasnya.

Selain dirilis via platform digital Spotify dan YouTube, Universal Music Indonesia menggandeng online store BeliAlbumFisik.com untuk merilis versi fisik album ini dalam format boxset premium, dimana di dalamnya terdapat berbagai macam barang yang tentunya bisa dimanfaatkan atau juga dikoleksi oleh para ‘Dorks’. Selain berisi CD audio, ada DVD documenter proses pembuatan album, katalog lirik, permainan kartu, kartu member edisi PWG, sedotan stainless steel yang sengaja dibuat sebagai bentuk kepedulian PWG terhadap isu lingkungan. Terakhir ada beberapa macam paket sticker dan sertifikat kepemilikan boxset.

Boxset premium ‘Mixed Feelings’ Pee Wee Gaskins (Foto: BeliAlbumFisik.com)

Pee Wee ‘Sang Pembunuh Berantai’

Band pop-punk Pee Wee Gaskins (PWG) memang masih menjadi fenomena di blantika musik Indonesia. Berangkat dari scene independen (disingkat indie), kehadiran band yang terinspirasi dari nama pembunuh berantai ini cukup lihai mencuri perhatian karena popularitasnya yang meroket tanpa naungan major label. Serta banyaknya haters band ini yang justru membuat mereka lebih sering dibicarakan atau dighibah orang: haters make you famous!

Semua berawal dari Alditsa Sadega a.k.a Dochi, sang pembetot bass dan vokalis. PWG terbentuk pertama kali berkat proyek solo Dochi saat masih menjadi gitaris band emo The Side Project. Saat itu, Dochi menulis lagu berjudul ‘Here Up on The Attic’. Lagu untuk seorang teman yang kemudian menjadi kekasihnya itu mendapatkan pujian dan mendorong Dochi untuk menuliskan lagu-lagu lain. Berkat dorongan itu, Dochi lantas mulai mencari personil untuk membentuk band baru pasca hengkang dari The Side Project. Pencarian Dochi dimulai dengan merekrut Fauzan a.k.a Sansan yang saat itu masih menjadi gitaris band screamo Killing Me Inside.

“Suatu hari kami mengobrol di internet dan coba menamakan band kami Serial Killer, kami ingin nama yang menakutkan, tapi musik yang kami mainkan tidak begitu menakutkan,” kata Dochi seperti dikutip dari laman resmi PWG. Setelah melakukan pencarian di internet dengan kata kunci ‘serial killer’, Dochi lantas menemukan nama ‘Pee Wee Gaskins’, yang menurutnya sebagai perpaduan sempurna antara kecenderungan pop dan sesuatu yang sangat menakutkan. Nama itu sendiri berasal dari nama julukan seorang pembunuh berantai asal Amerika Serikat, Donald Henry Gaskins.

Setelah menemukan nama yang tepat, pencarian personil band lainnya pun dilakukan dengan berhasil merekrut Renaldy ‘Aldy’ Prasetya (dram), Harry ‘Ayi’ Pramahardhika (gitar) dan Reza ‘Omo’ Satiri (keyboard beserta synthesizer). Merintis sebagai band yang baru dibentuk pada 2007, PWG mengawali perjalanan mereka dengan manggung tanpa dibayar.

PWG terbilang band yang produktif dan berkembang sangat cepat. Hanya berjalan satu tahun, 2008 mereka mampu menghasilkan karya perdana berupa mini album berjudul ‘Stories From Our High School Years’ yang konon ludes sebanyak 2.000 kopi. Angka penjualan yang cukup mencengangkan untuk ukuran band pendatang baru. Setahun kemudian, 2009 merilis album full length pertamanya, ‘The Sophomore’ yang laris manis sebanyak lebih dari 4.000 kopi hanya dalam waktu dua bulan. Dan mulai album ketiga dan seterusnya dirilis oleh major label.

Para penggemar PWG ini biasa disebut Dorks, Dorkzilla, maupun Tatiana. Namun, mereka juga dibenci oleh sebagian orang yang disebut Anti Pee Wee Gaskins, atau sering disingkat APWG, atas alasan yang abstrak alias ‘gajebo’. (*)

Diskografi PWG:
– Stories From Our Highschool Years (EP, Knurd Records, 2008)
The Sophomore (Full Album, Variant Records/Alfa Records, 2009)
Ad Astra Per Aspera (Full Album, Alfa Records, 2010)
You And I Going South (EP, 2012)
The Transit (EP, 2013)
2014 (EP, 2014)
A Youth Not Wasted (Full Album, Universal Music Indonesia, 2016)
Salute to 90’s (EP, Universal Music Indonesia, 2018)
Mixed Feelings (Full Album, Universal Music Indonesia, 2019)

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Kuasa

Selain Eksplorasi Secara Massif, Album KAUSA "Una In Perpetuum" Bertam...

Sebagai band yang berbasis heavy metal dan punk rock, KAUSA termasuk band yang gemar berpetualang secara musikal. Dan kini mereka menganalogikan diri merek

on Oct 13, 2020
Turnamen Lagu Punk

Inilah Sang Juara Turnamen 24 Lagu Punk Rock Indonesia Terbaik 2020!

Ok guys, usai sudah, Turnamen 24 Lagu Punk Rock Indonesia Terbaik 2020 persembahan MataMata Musik yang digelar selama bulan September. Tibalah sa

on Oct 1, 2020
Waiting Room

Pionir Skacore Waiting Room Hidup Kembali Via Reissue Album Debutnya

Waiting Room circa 1998. (Foto: via Facebook/Waiting Room). Band veteran pengusung skacore (kombinasi ska, punk rock dan hardcore), Waiting Room telah meril

on Sep 30, 2020
Time Bomb and The Gangs

Lewat 'One Roots', Time Bomb and The Gangs Ajak Bersatu Semua Perbedaa...

Time Bomb and The Gangs. Dari zaman ke zaman perkembangan musik rock cukup signifikan penyebaran dan pengaruhnya di dunia. Nggak sedikit musik ini melahirka

on Sep 29, 2020