×
×

Search in Mata Mata Musik

Asosiasi Industri Label Rekaman Korea Ungkap Kerugian Besar Akibat Covid-19

Posted on: 08/20/20 at 6:30 am

Asosiasi Industri Label Rekaman Korea Ungkap Kerugian Besar Akibat Covid-19

Pada 13 Agustus lalu, Record Label Industry Association of Korea menggelar seminar yang membahas dampak wabah virus Corona atau Covid-19 pada industri musik.

Selama seminar, asosiasi itu mengungkapkan kerugian yang telah dialami industri musik akibat pandemi Covid-19 dari bulan Februari hingga akhir bulan Juli ini.

Tiga topik berikut dibahas selama diskusi mereka, yakni: perubahan dalam segi produksi album sejak Covid-19 melanda secara global, pro dan kontra dari metode konser online, dan keseluruhan masalah yang dihadapi industri musik.

Selain seorang perwakilan dari Record Label Industry Association of Korea, beberapa perwakilan dari Korea Live Sound Association, teater seni pertunjukan Rolling Hall dan HanaTour V Hall, Sound Republica Inc. serta berbagai musisi dan tenaga kerja industri musik juga hadir. Interpark, Research Institute for Korean Archives and Records, dan Chungnam Culture Technology Industry Agency juga menghadiri pertemuan tersebut.

Record Label Industry Association of Korea mengungkapkan bahwa ada total 162 konser yang harusnya digelar di venue dekat wilayah Hongdae telah dibatalkan, mengakibatkan kerugian sebesar 1,1 miliar won Korea (sekitar Rp 13,6 miliar). Sebanyak 89 konser dari perusahaan anggota mereka juga telah dibatalkan, dengan kerugian senilai 13,9 miliar won Korea (sekitar Rp 174,3 miliar). Pada tingkat nasional, total ada 288 konser yang dibatalkan, yang mengakibatkan kerugian sebesar 106,4 miliar won Korea (sekitar Rp 1,3 triliun). Dengan total 539 acara yang dibatalkan, kerugian itu secara keseluruhan mengakibatkan uang ganti rugi sekitar 121,3 miliar won Korea (sekitar Rp 1,5 triliun).

Presiden dari Record Label Industry Association of Korea, Lee Gyu Young mengatakan, “Ini adalah situasi di mana biaya produksi album sudah tidak dapat ditutupi dengan hanya hasil keuntungan album. Kami menanggung biaya produksi melalui hasil pendapatan yang kami terima dari berbagai sumber selain penjualan album fisik dan digital, yang meliputi konser, festival, dan dana pribadi dari perwakilan itu sendiri”.

Mengenai meningkatnya trend konser online yang diadakan karena pandemi Covid-19, Presiden dari Korea Live Sound Association, Go Jong Jin mengatakan, “Setelah beralih ke konser online, berbagai perusahaan telah melakukan penjualan melalui penggunaan alat-alat rekaman video. Namun, dalam hal audio, perusahaan sistem itu tidak memperoleh keuntungan yang signifikan karena konser diadakan tanpa penonton”.

Selain itu, konser online dapat menghadirkan masalah seperti kerugian finansial karena biaya yang digunakan untuk menyiarkan acara itu sendiri serta masalah keterbatasan yang terjadi saat mengadakan konser online sebagai pengganti dari konser offline.

Salah satu perwakilan dari Sound Republica Inc., Noh Geon Shik mengatakan, “Konser online pasti membutuhkan anggaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan konser offline karena mahalnya biaya siaran, biaya tenaga kerja yang diperlukan untuk pengembangan sistem, dan pengeluaran yang lebih besar untuk promosi online. Konser online hanyalah suatu trend baru yang metodenya sama sekali berbeda; saya tidak percaya bahwa mereka dapat menggantikan konser offline”.

Yoon Hee Jin dari tim konsultan konser Interpark mengatakan, “Tidak dapat dipungkiri bahwa biaya siaran untuk streaming dan konser online berbeda dari tarif tiket yang ada untuk sebuah konser offline. Biaya untuk (membeli) server – seperti server cloud – akan tetap sama terlepas dari ukuran konser atau harga tiketnya, dan tersedia juga opsi untuk meningkatkan waktu penggunaan dan kapasitas servernya. Saat ini, Interpark sedang mengadakan diskusi internal dan sedang melakukan beberapa pengembangan untuk menyajikan tarif biaya penyiaran sebesar 30 persen atau kurang kepada para pengguna jasa ini”.

Pada topik terakhir seminar itu tentang keseluruhan masalah dalam industri musik, Kang Gyu Hyun dari grup Marychou mengatakan, “Baru-baru ini, saya telah menyaksikan orang-orang masuk dan tampil di teater musikal yang bisa muat 300 kursi setelah hanya menjalani prosedur dasarnya saja (untuk mencegah penyebaran Covid-19). Selain itu, (kami) tidak terlalu memahami peraturan yang berlebihan tentang konser musik populer. Disebut musik pop karena itu adalah sesuatu yang menjangkau sebagian besar masyarakat dengan nyaman, dan sayang sekali kita saat ini sedang berada dalam situasi di mana kita harus menjaga jarak sejauh mungkin dari publik”.

Joo Sung Min dari V Entertainment mengatakan, “Kami berharap bahwa berbagai proyek dukungan akan dilakukan melalui rencana jangka panjang dari pemerintah. Setidaknya kami berharap mereka menerapkan kebijakan yang akan dapat menjaga fondasi industri musik (tetap stabil)”.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Pengacara K-pop

Para Pengacara K-Pop Ungkap Komentar Jahat Apa Saja Yang Termasuk Aksi...

Ko Seung Woo dan Jeong Chong Myeong. Setiap idol K-pop pasti pernah menerima komentar jahat, dari kritik terhadap bakat mereka hingga topik lelucon yang kej

on Oct 27, 2020
Video Musik K-Pop

15 Urutan Peringkat Video Musik K-Pop Dengan Views Paling Banyak Saat ...

Video musik K-pop sering kali mendapatkan views paling banyak pada saat baru dirilis, tetapi beberapa video terus mendapatkan jutaan views bahkan berbulan-

on Oct 25, 2020
Irene Red Velvet

Irene (Red Velvet) Minta Maaf Setelah Ketahuan Pernah Caci Maki Seoran...

Irene (Red Velvet). (Foto: via Soompi). Irene Red Velvet telah menulis surat permintaan maaf setelah doi baru-baru ini dituduh telah mengamuk dan mencaci-ma

on Oct 24, 2020
Girlband K-Pop Underrated

5 Girlband K-Pop 'Underrated' Yang Lo Mungkin Belum Pernah Dengar

Ada sangat banyak grup K-pop baru belakangan ini yang mana hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar menjadi terkenal dan sukses, dan itu sangat di

on Oct 23, 2020