×
×

Search in Mata Mata Musik

Bagaimana BTS Menjadi Boyband Terbesar Dunia

Posted on: 10/22/18 at 7:30 am

Dengan belum kembalinya One Direction, boyband dari seluruh dunia pun berlomba menduduki posisi teratas. Setelah mengguncang AS dan Inggris, BTS inilah pemenangnya.

Oleh Taylor Glasby (The Guardian)

BTS tiba dengan jet pribadi untuk pertunjukan pertama mereka di Britania Raya. Jet tersebut juga mereka gunakan saat bertolak ke AS dalam rangkaian tur dunia mereka, yang memuncak di acara pertunjukan mereka di Citi Field, New York yang dihadiri lebih dari 40.000 penonton pada 6 Oktober lalu, tiga hari sebelum tampil di hadapan penonton dengan jumlah yang sama selama dua malam di O2 Arena, London. Mereka sukses meraih dua peringkat No 1 di AS untuk album mereka dan miliaran stream secara global, dan baru-baru ini diundang ke PBB sebagai duta Unicef, di mana pemimpin karismatik mereka, RM, menyampaikan sebuah pidato, dalam Bahasa Inggris, tentang menerima diri sendiri. Tonggak sejarah seperti ini sangatlah penting untuk artis mana pun, namun dengan mencapai prestasi ini BTS – yang berisi rapper Suga, RM dan J-hope dan vokalis Jimin, V, Jin dan Jungkook – telah mengubah wajah musik pop, sebagai grup asal Korea pertama yang mencapai eselon teratas di industri musik Barat.

Sosok Jimin yang sangat lembut menangis di akhir pertunjukan di Citi Field. Band ini pernah menggelar pertunjukan dengan ukuran serupa di negara-negara lain, tetapi AS selalu menjadi pertunjukan final bagi K-pop – pasar yang telah dicoba berkali-kali dengan hanya sedikit yang berhasil, seperti Big Bang, EXO, dan CL dari 2NE1. “Kami merasakan [kesedihan] ini setiap saat,” ucap Jimin. “Pada tur ini kami tampil di beberapa tempat besar, dan itu membuat kami sadar kalau banyak orang yang benar-benar menyukai kami. Dibanjiri semua perasaan ini agak membuat saya emosional.”

Di sebuah hotel di London, jelang pertunjukan mereka di Inggris, pihak keamanan sigap menjaga lorong-lorong. Pria-pria kekar menemai personil band ke toilet. BTS telah mencapai level bintang tersendiri di mana mereka diperlakukan seperti barang pecah belah. “Kami sadar popularitas tidak ada selamanya,” kata RM sambil tersenyum. “Jadi kami hanya menikmati perjalanan ini, seperti naik rollercoaster, dan saat ini berakhir, semuanya selesai. Kami naik pesawat jet dan tampil di stadium, tapi saya tidak merasa hal ini milik saya. Rasanya seperti kami hanya meminjam ini dari orang lain.”

BTS adalah ‘anak’ dari penulis dan produser veteran Bang Shi Hyuk, yang sebelumnya bekerja di raksasa hiburan K-pop JYP, kemudian mendirikan Big Hit Entertainment dan memulai debut BTS di 2013. Praktik lazim di industri K-pop adalah mengawasi setiap elemen kehidupan “idola-idola” muda, seperti yang dikenal di Korea. Meski demikian, Bang memberikan kebebasan kepada BTS untuk mengelola Twitter dan vlog mereka sendiri dari studio mereka, dan kepada para rapper untuk menulis bersama tim produksi in-house Big Hit. Lirik mereka mengandung emosi dan kesadaran sosial, terkadang berbatasan dengan amarah, dan bertentangan dengan butir K-pop: Baepsae, yang diterjemahkan menjadi “kekayaan”, membela generasi “terkutuk” mereka.

Para kritikus telah mencoba mengungkap rahasia kesuksesan mereka di AS: banyak yang menganggap sosial media telah berperan menyebarkan pesan mereka, namun penggemar setia BTS, yang dikenal dengan sebutan Army, menganggap musik dan lirik band inilah yang membuat mereka merasa mempunyai koneksi yang mendalam. Tak hanya itu, akhir dari One Direction, minat terhadap K-pop yang semakin meningkat di AS, dan konten visual BTS yang tiada habisnya (dari rekaman di balik layar sampai reality show) seolah menyuapi orang-orang yang penasaran dan menarik mereka dengan kepribadian emas grup ini. Sebagai boyband generasi ini, mereka menawarkan sesuatu untuk semua orang.

Selayaknya bintang pop dengan fan base yang besar, BTS menetapkan batas yang halus antara merayakan penggemarnya dan mengasingkan mereka. “Ketenaran itu seperti bayangan,” ujar Suga, personil yang terkenal paling serius. “Ada cahaya dan ada kegelapan; itu adalah sesuatu yang terus mengikutimu dan bukan sesuatu yang bisa kamu hindari. Tetapi orang-orang cenderung menghormati privasi kami. Kami sering pergi ke galeri seni dan orang-orang tidak mengganggu kami, kemudian setelah kami pergi mereka akan mem-posting sesuatu [di media sosial].”

“Kalau sudah mulai berlebihan dan melewati batas, maka hal itu bisa jadi sumber stres tetapi untuk saya pribadi, itu adalah tanda cinta mereka,” kata J-hope, mantan penari jalanan. Dalam sebuah cuplikan album baru-baru ini, Pied Piper, mereka dengan bercanda menasihati penggemar fanatik mereka: “Berhenti menonton dan mulai belajar untuk ujianmu, orang tua dan bosmu membenci saya … Kamu sudah punya banyak foto saya di kamarmu.”

Kejujuran yang mengejutkan – dalam istilah K-pop – itulah yang mendasari konsep dari trilogi album terbaru mereka Love Yourself (Her, Tear dan Answer), yang berisi sebuah narasi tentang, tentunya, belajar mencintai diri sendiri. Pidato RM di PBB menggemakan tema ini: “Tak peduli siapa dirimu, dari mana kamu berasal, warna kulitmu, identitas gendermu, suarakan isi hatimu.” Kalimat yang relatif bernada netral ini bergema di Korea Selatan, di mana presidennya terang-terangan menentang homoseksualitas.

Selama kariernya, band ini menggunakan karya-karya Haruki Murakami, Ursula K Le Guin, Jung, Orwell, Hesse dan Nietzsche sebagai inspirasi. Nietzsche terutama menggambarkan teori takdir yang dirajut ke dalam Her, di mana cinta ditakdirkan dan oleh karena itu tidak dapat digoyahkan (namun kemudian hancur berantakan di Tear). Seperti penggemar musik indie tahun ’80-an, penggemar BTS kini turut membaca karya penulis-penulis ini untuk benar-benar memahami pandangan band ini, sekaligus menghabiskan banyak uang untuk membeli stik lampu yang diprogram dengan Bluetooth untuk dinyalakan di konser mereka.

(Dari kiri) V, Suga, Jin, Jungkook, RM, Jimin, J-hope. (Foto: Young Ho/SIPA USA/PA Images)

Namun, untuk kebanyakan orang, BTS melambangkan industri yang sedikit lebih dari mesin permen karet yang berfungsi tinggi. K-pop dipandang kejam karena sistem latihan intensifnya, yang bisa dimulai saat para artis berusia tujuh tahun dan berlangsung selama 10 tahun dengan tanpa adanya jaminan untuk debut; dan karena pendekatan kasarnya kepada para artis yang mengalami kelelahan dan masalah kesehatan mental. Banyak artis yang pernah pingsan di atas panggung, sementara Leeteuk dari Super Junior diam-diam membentuk grup sebaya (peer group), Milk Club, yang sekarang tidak lagi berjalan, untuk para artis yang mengalami depresi. Sementara itu, para penggemar K-pop digambarkan sebagai remaja perempuan yang bodoh. “Tidak ada gunanya berdebat atau bertengkar akan hal itu,” kata Suga, dengan kasar. “Jujur, saya tidak mengerti orang-orang yang ingin menjatuhkan satu jenis musik tertentu, apa pun itu. Musik klasik pernah jadi musik pop di zamannya. Ini hanya perkara selera dan pemahaman – tidak ada yang baik ataupun buruk, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.”

Musik BTS bermula sebagai musik R&B zaman dulu dan hip-hop, namun telah lama menggabungkan berbagai genre lainnya, dari EDM hingga house Afrika Selatan. Lirik-liriknya juga telah menjadi semakin kompleks, lebih mirip prosa ketimbang lirik lagu pop sederhana. Dalam banyak hal, BTS memenuhi karakteristik boyband klasik – mereka terlihat dan terdengar bagus – namun mereka juga pria dewasa yang menangis, merangkul dan menunjukkan sisi lembut dan kegagalan mereka bahkan saat budaya toxic masculinity berkeliaran secara online maupun offline. Hal ini memperkuat pesan mereka yang berisi kekuatan, cinta, harapan, dan penerimaan di luar apa yang pernah ditawarkan boyband lain sebelumnya.

Para idola K-pop berkarya secara intensif, di dunia di mana beberapa karier akan bertahan lebih dari 10 tahun, namun banyak yang tumbang hanya dalam waktu 12 bulan. Tahun ini BTS telah merilis tiga album (dua dalam Bahasa Korea dan satu dalam Bahasa Jepang), menjalani tur dunia dan memproduksi seri ketiga reality show travel mereka, Bon Voyage. Jadwal mereka direncanakan hingga hitungan menit. “Saya pikir ada saat-saat di mana kami hampir bosan,” kata Suga, “tapi itu tidak bisa dihindari dan sama saja bagi siapa pun dengan profesi apa pun.”

Banyak idola saat ini dan sebelumnya telah bergeser ke bidang akting, muncul di berbagai acara TV Korea Selatan, dan menjajaki karier solo. Minat Suga mencakup arsitektur dan penataan cahaya. Jungkook, anggota termuda berusia 21 tahun, telah menjajal pembuatan film bergaya dokumenter, dengan karya pendek terbarunya menampilkan hal-hal ekstrem di hidupnya – intensitas panggung dan keheningan setelahnya. Dia mengaku merasakan “kebahagiaan yang sangat besar saat saya memikirkan hal-hal yang bisa saya lakukan di masa depan”. Dia punya energi yang bisa dibakar – dia kemudian akan mengalami cedera tumit minor sebelum penampilan pertama mereka di London dan berujung tampil dari atas kursi, meminta maaf dengan mata berlinang karena tidak bisa sepenuhnya berpartisipasi.

Dalam sebuah sesi live baru-baru ini di platform streaming VLive, V, yang suara agak seraknya memberikan ciri khas tersendiri untuk BTS, memainkan cuplikan karya solonya yang disambut hangat. Rapper BTS sudah merilis dan memproduksi mixtape solo yang ditulis sendiri, namun para vokalis masih belum juga mengikuti jejak mereka “Saya sedang mengerjakannya,” ucap Jungkook, saat J-hope mulai tertawa.

RM nimbrung, dengan nada geli, “Dia sedang mempersiapkan terlalu banyak hal! Film, tinju – dia terlalu banyak berencana sampai tidak ada yang tahu kapan [karya] itu akan keluar.”

Pertengkaran yang lucu pun memecah. “Kalau J-hope memberi saya iramanya, mungkin saya bisa memulai rekaman saya,” ledek Jin, anggota tertua yang berumur 25 tahun.

J-hope berpura-pura marah. “Sudah saya kasih iramanya! Dia suka apa yang saya kasih!” ujarnya seiring Jin terkekeh ke langit-langit.

“Di semua lagu yang saya buat,” sambung V, yang kebanyakan duduk di belakang sepanjang wawancara, “Saya merasa ada sesuatu yang masih kurang. Saya punya kekurangan, saya tidak bisa menyelesaikan satu lagu, saya butuh seseorang untuk membantu saya. Saat saya muncul dengan sesuatu yang saya bisa keluarkan, saya akan lakukan itu.”

Suga membalas, “Itu bisa jadi sekitar 20 tahun kemudian.”

Untuk para penggemarnya, guyonan seperti ini dan persahabatan mereka yang erat membuat BTS begitu menarik. Untuk band ini sendiri, hubungan antar personil membantu menopang pekerjaan mereka yang berputar cepat.

Suga, yang terang-terangan ambisius, telah berulang kali mengatakan kalau cita-cita berikutnya adalah memenangkan penghargaan Grammy dan baru-baru ini menambahkan bermain di acara paruh waktu pertandingan Super Bowl (71.000 penonton di arena; 120 juta penonton di rumah) ke dalam daftar cita-citanya. Salah satu impian tersebut bisa menjadi sesuatu yang memantapkan status BTS di industri ini. Saat ini, tidak ada yang tampak mustahil. “Kami ingin tampil sebanyak mungkin,” kata Jimin, tatapannya kukuh. “Kami hanya ingin bisa menunjukkan yang terbaik.”

Sumber: https://www.theguardian.com/music/2018/oct/11/how-bts-became-the-worlds-biggest-boyband

Posted on October 11, 2018

Tags:

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Youtube

Kebijakan Baru YouTube Untuk Video Musik Terlaris Dalam 24 Jam!

Sekarang, raksasa streaming video ini tidak lagi menghitung penayangan lewat iklan berbayar sebagai satu ‘view’. Baca Juga: 5 Klip Musik K-Pop Terpopuler

on Sep 18, 2019
Musisi Asia

7 Musisi Asia yang Mendunia Berkat Media Sosial!

Media sosial telah membantu generasi baru musisi Asia menjadi nama besar dengan tetap mempertahankan gaya dan suara khas mereka. Baca Juga: Peluang Baru Musi

on Sep 17, 2019
Group Kpop

10 Group Kpop yang Produksi Musik Mereka Sendiri!

Dalam industri hiburan khususnya K-pop, tidak sedikit label/agensi yang ‘sangat terlibat’ dalam kehidupan artis mereka, bukan hanya dalam urusan pribadi te

on Sep 13, 2019
Plus Global Audition

Big Hit & Source Music Resmi Buka Plus Global Audition!

Audisi ini akan digelar di 16 kota dan terbuka bagi remaja perempuan yang lahir antara tahun 2001 dan 2007 (12 tahun sampai 18 tahun) pada saat pendaftaran.

on Sep 11, 2019