×
×

Search in Mata Mata Musik

Bagaimana BTS Menjaga Citra Koreanya!

Posted on: 10/10/18 at 9:00 am

BTS terus membuat ruang untuk elemen budaya tradisional Korea di lagu-lagu mereka.

Baca juga: Kapan EXO Akan Kembali?

Oleh: Noah Yoo. (Pitchfork)

 

BTS. (Foto: PG/Bauer-Griffin/GC Images)

Di tahun 2015, One Direction menyatakan akan memasuki masa hiatus selama 18 bulan. Ketika hiatus tersebut berubah menjadi bertahun-tahun, mereka resmi melepas gelar sebagai boyband terbesar di dunia. Sejak saat itu, ketujuh pemuda asal Korea Selatan yang tergabung dalam BTS dengan cepat menduduki tahta tersebut, menjadi grup asal Korea pertama yang meraih album No. 1 di Amerika dan menjual habis tiket konser di seluruh dunia.

Melihat pemandangan di konser BTS pada 6 Oktober kemarin di Citi Field, New York, pemberhentian terakhir mereka di AS pada tur Love Yourself dan penampilan di stadium Amerika pertama mereka hingga saat ini, saya tidak terkejut melihat salah satu keramaian yang paling beragam dalam hidup saya, dalam hal ras dan usia. Pada titik ini, sudah terbukti bahwa hambatan bahasa dan budaya secara virtual tidak ada kaitannya dengan popularitas K-pop; dengan cara yang sama para bintang dari Barat mendapat sambutan hangat di luar negeri, BTS telah disambut dengan begitu baik oleh rakyat mainstream Amerika. Ketika band ini naik ke atas panggung dan memulai single terbaru mereka, “IDOL,” teriakan yang memekakkan telinga dari para penonton membuat saya bertanya-tanya apakah saya sedang menyaksikan The Beatles versi generasi saya di Shea Stadium. Yang membuat hal tersebut luar biasa adalah karena BTS telah mempertahankan identitas Korea mereka yang unik, sebuah budaya yang, tidak seperti band-band ‘British Invasion’, tidak memiliki bahasa ataupun tradisi musik Eurosentris yang sama dengan para penonton di Amerika.

 

 

Dalam suara pop global yang menjangkau semua yang mereka miliki, BTS terus membuat ruang untuk elemen budaya tradisional Korea di lagu-lagu mereka. Baik di versi original maupun di versi remix terbaru dengan Nicki Minaj, “IDOL” berisi potongan (“얼쑤!”/“Ulssu!”—secara kasar diterjemahkan menjadi “oh ya!”) yang diambil langsung dari Pansori, genre tradisional Korea dalam dongeng. Kemudian, dalam outro lagu itu, para personil secara vokal menyerupai suara janggu dari Korea: drum berbentuk jam pasir yang berongga yang berasal dari abad ke-11. Kiasan ini terbukti populer di antara orang Korea, tetapi saya masih belum paham bagaimana banyak penggemar di Amerika bisa terhubung dengan elemen-elemen ini dalam pertunjukan live. Ternyata ribuan orang akan berteriak seolah seperti meniru irama ini yang telah ada selama ribuan tahun tanpa mengerti apa-apa, selagi suara itu disamarkan dalam lagu pop. Sebagai pembicara asli Bahasa Korea, melihat dan mendengar 40.000 orang melakukan hal ini menjadi pengalaman luar biasa bagi saya.

Baca juga: Oh My Girl Kembali dengan “Remember Me”, Lagu yang Penuh Gairah

Seiring pertunjukan di hari Sabtu itu berlanjut, BTS membawakan lagu-lagu bergenre drum ‘n’ bass (“I’m Fine”), neo-soul yang halus (“Singularity”), synth-pop (“Trivia 轉: Seesaw”), dan banyak irama trap sinematik. Masing-masing personil—RM, Suga, Jungook, Jimin, V, J-Hope, dan Jin—berkesempatan membawakan lagu solo, dari lagu rap hingga ballad yang halus. Inilah kondisi K-pop modern: reinterpretasi rap Barat, R&B, dan electronica yang terus berkembang melalui lensa pengalaman orang Korea.

Jenis genre yang ‘agnostik’ ini terasa seperti penyempurnaan jalan yang dibangun oleh trio yang sangat berpengaruh, Seo Taiji and Boys, yang penampilan TV-nya di tahun 1992 membawakan single “Nan Arayo (I Know)” sebagian besar diapresiasi karena memperkenalkan rap ke publik Korea. Lagu dengan bunyi gitar yang terdistorsi dan chorus yang depresif, “Nan Arayo” bisa dibilang melahirkan keseluruhan K-pop. Namun sama pentingnya, Seo Taiji and Boys menetapkan ‘panduan’ untuk seni politik di industri mainstream konservatif di Korea Selatan. Lagu-lagu mereka, seperti “Come Back Home” yang terinspirasi dari Cypress Hill dan lagu metal “Kyoshil Idea,” terkadang ditujukan kepada pemerintah dan menyatakan rasa kesal terhadap tekanan masyarakat untuk berprestasi secara akademis.

 

 

Mengikuti langkah Seo Taiji and Boys dengan cara lain, BTS selama ini diam-diam bersikap politis dalam karyanya selama bertahun-tahun. Di lagu “Dope” dan “Silver Spoon,” mereka membahas tekanan ekonomi dan sosial yang dilimpahkan ke generasi mereka, mencela baby boomer Korea Selatan yang sering mengadili kaum millenial. Pada penampilan mereka di Citi Field, lagu-lagu ini menjadi bagian dari campuran materi lama, tetapi para fans menyanyikan setiap liriknya dalam Bahasa Korea dengan penuh empati seperti saat mereka menyanyikan lagu besar. Di satu waktu, personil BTS mengungkapkan bahwa mereka tidak pernah menyangka bisa sesukses sekarang. Untuk pertama kalinya, K-pop telah menaklukkan Amerika dengan caranya sendiri, dan tidak dengan ‘keunikan’ “Gangnam Style”.

Dalam kunjungan mereka baru-baru ini ke Persatuan Bangsa-Bangsa (yang pertama kalinya oleh band K-pop), pemimpin BTS RM mengatakan, “Tak peduli siapa dirimu, dari mana kamu berasal, warna kulitmu, identitas gendermu, suarakan isi hatimu”—sebuah sentimen yang juga pernah dia ucapkan dalam tur terbarunya. Mungkin di Amerika hal ini tampak seperti pernyataan yang sering banyak dilontarkan, tetapi di Korea Selatan—di mana bahkan presidennya saat ini yang dikenal liberal (dan penggemar BTS) Moon Jae-in secara terang-terangan menentang homoseksualitas—pernyataan RM adalah langkah berani dalam mendukung keragaman tersebut, dan menjadi jendela daya tarik internasional mereka yang sangat besar. Terlepas dari hambatan bahasa, yang terlihat adalah komitmen BTS dalam menjadi juru bicara untuk generasi global baru yang tidak puas, yang mengharapkan lebih dari pemerintah mereka, yang ingin menua di dunia yang lebih baik.

Seo Taiji—kini berusia 46 dan dianggap sebagai raksasa budaya di Korea Selatan—mewariskan tradisi saat dia mengundang BTS untuk tampil dengannya di konser ulang tahun ke-25 di Seoul tahun lalu. “Saudara besar, kami tidak main-main,” kata Jimin kepadanya di atas panggung. Yang mana dijawab Seo dengan, “Sekarang adalah eramu. Mari lihat apa yang kamu bisa lakukan.”


Keterangan foto utama: BTS di salah satu video clipnya, “Idol”. (Foto: Youtube)

Sumber: https://pitchfork.com/thepitch/bts-how-the-biggest-boy-band-in-the-world-stays-radically-korean-citi-field-live-review/ 
Posted on October 9, 2018

Tags:

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

BTS

BTS Telah Merilis Jadwal Festa 2020! Akankah Ada Single Baru?

BTS, sesi foto 2019. (Foto: Big Hit Entertainment). Ok buat para ARMY, bersiaplah untuk berpesta dengan boyband K-pop kesayangan kalian BTS pada bulan Juni

on May 30, 2020
Oli London

Oli London Bulan Madu Mandi Bareng Suaminya, Jimin (BTS) "Kardus" Paka...

Oli London dan suami artifisialnya, Jimin si kardus. (Foto: dok. Oli London). Seorang penyanyi dan super duper fan K-Pop asal Inggris, Oli London belakangan

on May 26, 2020
Big Hit & Pledis Entertainment.

Big Hit Jadi Pemegang Saham Terbesar Pledis, BTS dan SEVENTEEN Kini Sa...

Perusahaan hiburan besar yang menjadi rumah bagi boyband K-pop seperti BTS dan Tomorrow X Together (TXT), Big Hit Entertainment baru saja mengumumkan bahwa

on May 26, 2020
Suga BTS.

Suga (BTS) Jelaskan Arti Di Balik Video Musik Agust D Barunya, ‘Daec...

Pada 24 Mei, kanal YouTube BANGTANTV milik boyband K-pop No. 1 dunia, BTS merilis cuplikan behind-the-scenes alias di balik layar dari video musik terbaru

on May 25, 2020