×
×

Search in Mata Mata Musik

Bagaimana Seorang Biksu Abad 18 Ciptakan Musik Elektronik

Posted on: 10/30/18 at 7:58 am

‘Shock’ n roll dari zaman dulu. Musik elektronik ada dari abad 18.

Oleh Becky Ferreira (Motherboard)

Dom Prokop Diviš
Dom Prokop Diviš, seorang polimatik asal Cekoslovaika yang terlahir pada tanggal ini di tahun 1698, senang mengejutkan orang-orang baik secara harfiah maupun kiasan.

Sering disebut sebagai Benjamin Franklin-nya Eropa karena keduanya secara bersamaan dan independen menciptakan penangkal petir, Diviš menjadi terpesona dengan listrik saat bekerja sebagai seorang teolog di sebuah paroki Moravia di Přímětice. Mengingat ketertarikannya pada tanaman yang menyembuhkan syok dan mendirikan “mesin cuaca” buatan di kediamannya, Diviš memperoleh reputasi sebagai orang yang nyentrik dari orang-orang di zamannya.

Namun dia kini dianggap sebagai visioner paling awal dari musik electronik, sebuah bentuk karya seni yang biasanya tidak berhubungan dengan abad ke-18.

Baca Juga: Travis Scott Gandeng Tame Impala dan John Mayer untuk Tampil di SNL

Kediaman Diviš (kini menjadi museum) dengan model penangkal petirnya di luar
Kediaman Diviš (kini menjadi museum) dengan model penangkal petirnya di luar.

Sebagai penganut kanon monastik, teori musik dan desain menjadi bagian penting dalam kehidupan profesional Diviš. Pada 1730, ketertarikan gandanya pada musik dan listrik bergabung menjadi obsesi tunggal dengan menciptakan instrumen musik yang disokong daya listrik. Antara tahun 1730 dan 1762—sumber sejarah sangat bervariasi—Diviš meluncurkan mahakaryanya, yang dia sebut sebagai “Denis d’or,” atau Golden Dionysus.

Denis d’or adalah instrumen berbasis keyboard yang dilengkapi dengan 790 senar besi yang diposisikan untuk dimainkan seperti clavichord (piano senar) daripada dipetik seperti gitar. Menurut Cambridge Introduction to Electronic Music, “sistem terampil dan kompleks tombol [dari instrumen ini] … dipercaya (dalam berbagai kombinasi) meniru berbagai instrumen yang menakjubkan termasuk, berdasarkan sebuah klaim, aerophones,” atau alat musik tiup. Beberapa sumber menyatakan bahwa Denis d’or juga mampu meniru bunyi instrumen petik yang dirajut seperti harpa dan kecapi.

Baca Juga: NakJoon dan Luna f(x) Berpisah di Video Teaser ‘Still…’

Untung mendorong rentang akustik instrumen lebih jauh, Diviš memasang senar besi konduktif untuk menahan muatan listrik jangka pendek. Tidak diketahui secara pasti bagaimana dia menempa senarnya, namun dia mungkin menggunakan sesuatu seperti tabung Leyden,  kapasitor pertama yang dikembangkan dalam sejarah, yang mana sering digunakan oleh Diviš dalam bereksperimen.

Para sejarawan saling bertentangan perihal bagaimana memasang listrik ke senar bisa mengubah kualitas suara, dan banyak sumber yang percaya bahwa Diviš terutama meretas Denis d’or sebagai lelucon biasa bagi para pemainnya.

Baca Juga: Skrillex Konfirmasi Nama Kolaborasi dengan JOYRYDE dan Albumnya Sendiri 

“Denis d’or adalah alat musik pertama yang melibatkan listrik, meskipun hal ini mungkin bukanlah bagian penting untuk permainan alat tersebut,” tegas ahli musik asal Belgia, François-Joseph Fétis dalam bukunya di tahun 1874 Biographie universelle des musiciens. “Diviš mengklaim bahwa pemain alat musik tersebut bisa tersengat ‘sesering yang diinginkan sang penciptanya.’”

Dengan kata lain, Diviš sesuai dengan reputasinya sebagai orang aneh yang fantastis. Sama seperti penciptanya, Denis d’or adalah versi aslinya. Hanya ada satu prototipe dari instrumen ini yang pernah dibuat. Setelah Diviš meninggal di 1765, alat musik ini dirumorkan telah terjual ke Vienna, dan sejak saat itu hilang dari sejarah. Tidak ada desain ataupun sketsa dari instrumen tersebut yang dapat ditemukan.

Baca Juga: 10 Tahun Tanpa Rilis Album, The Raconteurs Kini Persiapkan Album Baru Mereka

Meskipun begitu, peninggalannya sebagai alat musik pertama yang menggabungkan listrik ke perangkat kerasnya terus hidup dalam setiap pertunjukan theremin, solo gitar listrik, dan festival EDM. Semua suatu hari, Denis d’or muncul kembali di toko barang bekas atau di ruang bawah tanah suatu gereja, siap untuk shock n roll sekali lagi.

Sumber: https://motherboard.vice.com/

Posted on March 26, 2017, 1:00 pm

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Martin Garrix

Martin Garrix Dianugerahi Best Electronic di Ajang MTV EMAs 2019

Tak lama setelah merilis single kolaborasi dengan Dean Lewis “Used to Love,” Martin Garrix memenangkan titel Best Electronic di acara penghargaan paling be

on Nov 5, 2019
FKA twigs

FKA Twigs Lepas “Sad Day” Jelang Perilisan MAGDALENE

Menyusul penampilannya yang memukai di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, FKA Twigs lanjut mempromosikan album studio barunya, MAGDALENE yang akan keluar

on Nov 5, 2019
Avicii

8 Tahun Lalu, Avicii Rilis Salah Satu Lagu Terbesar dalam Sejarah EDM

Tanggal 28 Oktober 2011, Avicii merilis single yang kemudian menjadi salah satu lagu paling monumental dalam sejarah EDM, "Levels."  Baca juga: Ayah Avic

on Oct 29, 2019
Marshmello

Marshmello Jadi Musisi dengan Subscriber Terbanyak Ketiga di YouTube

Minggu lalu, saluran YouTube Marshmello berhasil mencatat lebih dari 40 juta subscriber, menjadikannya musisi dengan subscriber terbanyak ketiga dan menggeser

on Oct 28, 2019