×
×

Search in Mata Mata Musik

Bagaimana Vampire Weekend Gulingkan Era Kepresidenan Bush

Posted on: 01/30/18 at 6:06 pm

Oleh Wren Graves (Consequence of Sound)

Tahun 2006, Vampire Weekend baru saja dibentuk. George W. Bush menduduki kursi presiden. Smartphone pertama baru akan dirilis di tahun depannya. Blog-blog musik berkembang pesat, dan penjaga gerbang industri rekaman lama kehilangan kekuatannya. Momen untuk menjadi terkenal pun telah tiba.

Pada 2007, musik Vampire Weekend tersebar luas di dunia maya, dan mereka menjalankan tur keliling negeri. Rolling Stone menobatkan lagu “Cape Cod Kwassa Kwassa” sebagai salah satu dari 100 lagu terbaik tahun itu. Tahun berikutnya, Vampire Weekend melakukan tur dunianya. Mereka menjadi band pertama yang dipajang di sampul majalah SPIN meski belum pernah merilis album. Dua tahun yang singkat dari ‘bukan siapa-siapa’ menjadi band terkenal, dan Vampire Weekend menjadi band pertama yang meroket dengan hanya bermodalkan dukungan blog.

Terkadang hal ini memang ditakdirkan terjadi pada seseorang. Tapi mengapa Vampire Weekend?

Vampire Weekend dibentuk oleh empat orang mahasiswa Columbia University di tahun 2006: vokalis Ezra Koenig; keyboardist, gitaris, dan produser Rostam Batmanglij; bassist Chris Baio; dan drummer Chris Tomson. Nama Vampire Weekend sendiri diangkat dari film karya Koenig yang tidak terselesaikan tentang seorang pria bernama Walcott yang berurusan dengan serangan vampir di sepanjang East Coast.

Mereka pertama kali tampil live di acara perlombaan band kampus. Mereka memainkan versi awal dua lagu yang pada akhirnya turut serta di album debut eponim mereka, “Oxford Comma” dan “Walcott”. Mereka tidak menang. Hanya ada empat band yang bersaing, dan Vampire Weekend menduduki posisi ketiga.

Tetapi bahkan pada tahap awal ini, etos band ini telah sepenuhnya terbentuk. Vampire Weekend menciptakan dunia yang mandiri dan memiliki referensi pribadi. Misalnya, tidak terlalu penting mengetahui kalau tokoh Walcott di film “Walcott” adalah pemeran utama di film vampir yang tak pernah terselesaikan, tapi informasi tersebut dapat membantu memahami lirik seperti, “Evil feasts on human lives.”

Juga tidak diharuskan mengetahui letak Cape Cod yang kaya untuk menikmati lagu tersebut, tapi jika kamu tahu kalau Wellfleet terkenal akan tiram afrodisiak atau kalau Provincetown terkenal akan komunitas gay yang berkembang, maka pengetahuan ini akan menambah makna dari “Walcott, fuck the women from Wellfleet/ Fuck the bears out in Provincetown/ Heed my words and take flight.”

Setelan yang digunakan di acara perlombaan band kampus akhirnya menjadi seragam Vampire Weekend: kemeja oxford, sepatu perahu, celana khaki, dan kardigan — gambaran persis hak istimewa orang East Coast. Ini tentu bukan gaya standar rock-and-roll yang digemari lakon indie rock paling populer saat itu, dengan jaket kulit dan rambut yang sengaja ditata acak-acakan seperti The Killers dan The Strokes.

Pesona Ivy League tersebut adalah salah satu pendorong utama meroketnya Vampire Weekend, hanya saja karena hal itu memungkinkan mereka untuk menonjol di tengah kerumunan indie rock. Setiap artikel terdahulu yang berisi tentang band ini menyebutkan gaya pakaian mereka. Hanya di dunia rock and roll lah sepatu perahu bisa dianggap subversif.

Namun persiapan memang bisa menjadi tindakan pemberontakan, terutama dengan cara yang digunakan Vampire Weekend. Terlepas dari reputasi mereka, band ini selalu memandang dunia yang penuh kekayaan dengan sebelah mata. Lirik ciptaan Koenig dengan imbang menunjukkan rasa kagum dan cemoohan kepada orang kaya, layaknya dalam tradisi F. Scott Fitzgerald atau Evelyn Waugh.

Single pertama dari Vampire Weekend, “Mansard Roof”, memiliki gaya ini. Mansard Roof adalah pokok arsitektur istana Perancis dan rumah bangsawan Inggris, serta bagian yang paling mewah di Cape Cod. Di lagu tersebut, mata Koenig berpindah dari “Mansard Roof melalui pepohonan” ke “pesan tidak senonoh yang tertulis di atap.” Setelah menemukan graffiti ini, dia bergerak ke “sampah dan aspal panas.”

Bait kedua, tentang orang Argentina yang “jatuh karena kegagalan,” tampaknya bercerita tentang Perang Falkland, antara orang Inggris dan Argentina yang memperebutkan rantai kepulauan di tahun 1982. Jika disatukan, lagu ini adalah kritik terhadap elitism dan kolonialisme kekaisaran, yang disamarkan sebagai lagu pendek biasa tentang arsitektur yang indah.

Elitisme dan pasca-kolonialisme adalah tema utama di album Vampire Weekend. Tema ini bahkan menginformasikan pakaian band ini. Seperti yang dikatakan Koenig pada Rolling Stone, “Sekitar waktu band ini dimulai, saya menjadi sangat tertarik dengan hubungan antara fesyen Amerika yang rapi dengan imperialisme di era Victoria.

Contohnya: Dari mana kata ‘khaki’ berasal? Bahasa Urdu. Dari mana kata ‘seersucker’ berasal? Bahasa Hindi/Persia. Motif Madras? Dari India. Blazer? Itu adalah seragam angkatan laut Inggris.” Menurut Koenig, fesyen rapi hanyalah multikulturalisme dengan remix pop.

Dan kecintaannya akan multikulturalisme adalah alasan kedua terbesar yang memungkinkan Vampire Weekend menjadi terkenal dalam dua tahun yang singkat. Tak hanya karena pakaian mereka berbeda dengan yang lain di ranah indie rock, musik mereka pun tidak terdengar seperti yang lainnya pada masa itu. Vampire Weekend menggabungkan kebiasaan rock dengan ska, calypso, reggaeton, soukous Ghana, dan gospel Soweto asal Afrika Selatan, yang menjadikan band ini dijuluki sebagai “Upper West Side Soweto.”

Kalian dapat mendengar pengaruh-pengaruh ini pada dentuman drum di setiap lagu, di nada keyboard dan gitar, dan di banyak melodi. Tapi semua ini paling jelas terdengar di lagu “Cape Cod Kwassa Kwassa”.

Faktanya, Kwassa Kwassa adalah tarian soukous asal Kongo yang menjadi populer di tahun ’80-an dan ’90-an, di mana pinggul bergerak maju mundur sementara tangan mengikuti gerakan pinggul. Untuk contoh musik soukous, lihat YouTube Kanda Bango Man, salah satu artis asal Kongo yang paling terkenal di masanya.

Vampire Weekend menjaga warnanada gitar hampir sama ketika mereka melakukan rekaman Kwassa Kwassa mereka di Cape Cod, tapi Koenig punya lebih dari sekadar tarian di pikirannya. “Do you want to fuck?/ Like you know I do/ Like you know I dooooooooo! (Maukah kau bercumbu?/ Seperti yang kamu tahu saya inginkan/ Seperti yang kamu tahu saya inginkan)” ratapnya. Lagu ini merangsang beberapa lagu yang lebih bouncy dari album Paul Simon Graceland atau Peter Gabriel So, yang keduanya sangat dipengaruhi oleh musik Afrika. Kalau itu tidak cukup, Koenig menyebut nama Gabriel di bagian chorus: “It feels so unnatural/ Peter Gabriel, too. (Rasanya sangat tidak wajar/ Peter Gabriel juga)”

Koenig mengatakan pada SPIN di 2008, “Sensasi dari mendengar musik Afrika yang saling terkait adalah sensasi yang sama ketika mendengarkan barok Vivaldi.” Yang mungkin saja benar, namun beberapa kritikus masih menuduh Vampire Weekend melakukan apropriasi budaya. Dan mungkin band ini beruntung dapat lahir di era setelah musik Afrika menjadi mudah ditemukan namun sebelum Twitter banyak digunakan; sebaliknya, reaksi dari masyarakat mungkin jauh lebih parah.

Di sisi lain, Graceland sudah menjadi bagian dari kanon Barat, dan dalam hal ini, The Beatles dan Elvis Presley juga demikian. Kebanyakan dari musik populer berhutang pada diaspora musik Afrika, itulah mengapa musik modern lebih terdengar seperti lagu budak orang Afrika-Amerika (seperti “Sometimes I Feel Like a Motherless Child”) daripada karya Mozart atau Beethoven. Selama masa kolonialisme, Eropa dan Amerika menjarah Afrika. Di dunia pasca-kolonial, musik Afrika telah menaklukkan dunia.

Batas antara berbagi budaya dan apropriasi budaya tidak selalu jelas. Dalam wawancara yang sama dengan SPIN, Koenig bersikeras, “Perdebatan itu sudah berlalu. Kami berada dalam konteks yang muncul setelah orang-orang saling mencuri satu sama lain,” yang diucapkan dengan tingkat kepercayaan diri seseorang yang mengambil satu kelas pascamodernisme di kampus. Tentu masalahnya lebih rumit dari itu, tapi kembali lagi, tanpa Vampire Weekend, penulis ini mungkin tidak akan pernah mengetahui betapa sukanya ia pada Kanda Bango Man.

Selain itu, wawancara tersebut dilakukan sepuluh tahun dan dua periode presiden yang lalu. Donald Trump dan Barack Obama memicu obrolan rumit tentang budaya dan identitas, dan pandangan Koenig mungkin telah berubah bersama dengan masyarakat lainnya. Di tahun 2007-2008 silam, era Bush sedang menurun, dan kenyataannya, sangat mungkin bahwa George W. Bush adalah jawaban ketiga dari pertanyaan: “Mengapa Vampire Weekend?”

Doktrin Bush, dengan prinsip kebijakan luar negerinya yang menekankan tindakan unilateral dan perang preventif, pada dasarnya adalah doktrin imperialis. Vampire Weekend menjadi terkenal, sebagian, dengan mengkritik imperialisme di saat yang sama seiring perang di Afghanistan dan Irak berubah menjadi situasi yang berbahaya. Terlebih, Vampire Weekend memberi penghormatan pada kontribusi intelektual orang-orang non-putih di waktu ketika pemerintahan Bush aktif melanggar hak-hak orang Muslim.

Dan untuk melengkapi semua ini, Vampire Weekend menunjukkan kecintaannya pada bahasa untuk sebuah negara yang terkenal dipimpin oleh presiden yang ‘asal omong’. Bukan suatu kebetulan ketika suatu band yang peduli (atau tidak peduli) dengan “Oxford Comma” menjadi sensasi blog di sekitar waktu di mana seorang presiden yang mengatakan hal-hal seperti, “Anda mengajarkan anak kecil membaca, dan dia akan mampu lulus tes keaksaraan,” dan menanyakan pertanyaan seperti, “Apakah anak-anak kita belajar?” berada di titik nadir popularitasnya.

“Oxford Comma” benar-benar lagu politik, meskipun tidak se-politis lagu Run the Jewels atau John Lennon. Baris, “Why would you tape my conversations? (Mengapa kamu merekam pembicaraan saya?)” tampaknya tepat ditujukan pada praktik penyadapan tanpa jaminan yang dilakukan pemerintahan Bush, dan tuntutan untuk “Show your paintings at the United Nations (Tunjukkan lukisanmu di PBB)” merujuk kepada permintaan yang dibuat pemerintahan Bush untuk menutupi pembuatan kembali karya agung anti perang Picasso “Guernica” sementara Menteri Luar Negeri Colin Powell menempuh usahanya menyerang Irak.

“Oxford Comma” tentunya bukan tentang itu. Lagu ini adalah syair ringan tentang perasaan lelah terhadap semua kebohongan dan omong kosong. Ketika Koenig mengeluh, “Who gives a fuck about the Oxford comma? (Siapa yang peduli dengan koma Oxford?)”, koma tersebut adalah bentuk kepura-puraan yang sesungguhnya. Pemerintahan Bush adalah sebuah renungan, pihak lainnya yang menanyakan, “Mengapa Anda berbohong?” Lagu ini tidak bisa tetap serius, dan setiap chorus berakhir dengan pengenalan terhadap kapten crunk: “First the window, then it’s to the wall/ Lil Jon, he always tells the truth… (Pertama jendelanya, kemudian ke dindingnya/ Lil Jon, dia selalu mengatakan kebenaran…)”

Para anggota Vampire Weekend memiliki potongan penulisan lagu yang serius, dan sepertinya mereka akan mengukir tempat di industri musik terlepas dari kapan mereka muncul. Tetapi hanya membutuhkan dua tahun antara pembentukan dan bergaya di sampul SPIN memerlukan lebih dari sekadar bakat. Pikirkan band-band rock terkenal lainnya, seperti The National dan Spoon, yang masing-masing menghabiskan enam atau tujuh tahun untuk mulai membangun karier dalam negeri. Keduanya menciptakan musik yang luar biasa. Tapi apa yang menarik dari penampilan mereka? Apa yang membuat lagu mereka berbeda dari lagu-lagu rock lainnya?

Vampire Weekend adalah satu-satunya band rock yang berpakaian rapi. Mereka satu-satunya band rock yang mendengarkan soukous dan gospel Soweto. Dan, melalui kebetulan yang beruntung, mereka merepresentasikan kebalikan dari seorang presiden yang semakin tidak populer. Dan pada akhirnya, itulah rahasia keberhasilan Vampire Weekend. Di saat ketika penulis musik memiliki kekuatan yang lebih dari sebelumnya, band ini menjadi kesayangan kaum blogger tidak hanya karena musik mereka bagus, tetapi karena mudah menjadi pembicaraan di blog.

Sumber: consequenceofsound.net

Posted on January 29, 2018, 2:00 pm

Tags:

Mata Mata Musik's Newsletter