×
×

Search in Mata Mata Musik

Bagaimana Virus Corona Merusak “Rezeki” Para Tokoh Di Balik Layar Panggung Musik

Posted on: 03/18/20 at 7:00 am

Set up konser One Direction.
Set up konser One Direction, beberapa tahun silam (Foto: YouTube).

Paul Klimson, seorang engineer audio veteran yang telah bekerja dengan artis-artis seperti Justin Timberlake, the Roots, dan Eric Clapton, sedang menyusun peta pertunjukan mendatang di berbagai lokasi minggu lalu. Lalu, tiba-tiba, mereka semua dibatalkan dan ditunda dalam sekejap. Sebuah “pesan muncul yang menghapus US$ 11.000 (Rp 165 juta) penghasilan dari pertunjukan antara sekarang dan setidaknya 8 April,” kata Paul Klimson kepada Rolling Stone.

Baca juga: Batal Akibat Virus Corona, Ultra Music Festival Tidak Tawarkan Refund

Paul Klimson adalah salah satu dari ribuan tokoh di balik layar dalam bisnis musik live yang telah menemukan diri mereka dalam sebuah periode kekacauan karena kasus COVID-19 (virus Corona) yang telah membatalkan dan menunda berbagai tur, pertunjukan, dan festival dengan sekejap. Untuk sejumlah besar orang yang dipekerjakan sebagai kontraktor independen – seperti manajer tur, direktur, akuntan, ahli teknisi instrumen, ahli teknisi pencahayaan, operator soundboard, dan lainnya – pekerjaan mereka sering kali hampir tidak berguna tanpa ada kegiatan konser.

Paul Klimson, the soundman.
Paul Klimson di balik meja mixer FOH salah satu konser Justin Timberlake (Foto: DigiCo).

Sebagai contoh, seorang manajer tur bernama Chris Brunton, yang memberi tahu Rolling Stone bahwa dia telah kehilangan penghasilan selama empat minggu dari berbagai pertunjukan tur, penampilan, perjalanan promo yang telah ditunda. Atau Caitlin Ray, seorang tur merchandiser, koordinator VIP, dan asisten produksi, yang mengatakan dia menerima 100 persen penghasilannya dari tur. Dalam hitungan 12 jam, ia mengalami dua tur komedi – Adam Sandler dan Sebastian Maniscalco – yang ditunda, dan beberapa kali acara lainnya yang telah dibatalkan.

Dilansir dari Rolling Stone, Matt Schmitz, seorang manajer tur untuk penyanyi dan penulis lagu asal Irlandia, Eden, manajer panggung untuk Maggie Rogers, dan manajer produksi untuk Santigold, saat itu sedang duduk di London setelah baru mengetahui bahwa semua tujuh jadwal tur Eropa Eden yang tersisa telah dibatalkan setelah pengumuman larangan perjalanan Presiden Donald Trump yang membingungkan. “Meskipun ‘larangan bepergian’ ini tidak berlaku untuk warga Amerika Serikat (AS), itu tidak secara jelas disebutkan dalam pernyataannya, dan semua orang mulai panik,” katanya. “Sekarang saya kembali ke Los Angeles untuk mengatur ulang semuanya. Sejujurnya saya tidak sepenuhnya yakin harus melakukan apa”.

Nama-nama ini hanya mewakili bagian sangat kecil dari berbagai sumber “rezeki” lainnya yang terkena dampak. Berikut adalah beberapa alasan lain mengapa situasi ini dampaknya begitu dahsyat.

Official Metallica tour merchandise.
Official merchandise tur Metallica (Foto: Twitter).

Penempatan Waktu Yang Buruk

Pekerjaan tur bersifat musiman. Agenda touring biasanya mereda di musim dingin, dan musim semi biasanya menandai dimulainya masa-masa sibuk. Pada saat musim festival dimulai selama bulan Maret dan April, dompet biasa terasa “kering” bagi para pekerja yang siap kembali bekerja keras. “Ini benar-benar terjadi ketika segala sesuatu seharusnya meningkat setelah masa istirahat tur sudah lewat,” kata Bryan Scheckel, seorang manajer produksi yang bekerja dengan Childish Gambino, Passion Pit, dan Vampire Weekend. “Orang-orang berharap arus keuangan mereka akan mulai lagi sekarang juga”.

Bagi perusahaan travel di industri musik – yang biasa menangani sederetan logistik tur, termasuk keputusan seputar lokasi hotel dan jadwal penerbangan – dampaknya bisa lebih luas, karena jenis pekerjaan ini biasanya dilakukan berbulan-bulan sebelum tur. “Bekerja untuk tur berskala besar seringkali membutuhkan tambahan perekrutan karyawan enam hingga sembilan bulan sebelum tur,” kata seorang agen Madison House Travel bernama Lisa Pomerantz. “Kami tidak melihat uang itu sampai tur terjadi. Hotel dan maskapai membayar komisi kepada kami. Jika terjadi pembatalan karena cedera, kehamilan, atau pandemi, dan lain-lain – kami tidak hanya tidak dibayar, kami juga harus berjuang untuk mengeluarkan klien kami dari kontrak sehingga mereka tidak perlu membayar vendor hotel. Ini benar-benar dua kali lipat pekerjaan tetapi tanpa bayaran”.

Efeknya pada bagian bisnis musiknya sangat dramatis, kata Pomerantz. “Industri kami berubah dari kepanikan menjadi tidak ada satu pun email atau panggilan telepon selama lima hari. Perusahaan kami menghasilkan sekitar 80 persen dari pendapatan kami dari bulan Maret hingga September. Saat ini, kami sedang melihat sepertiga dari penghasilan itu benar-benar musnah. Selain itu, kami memiliki keprihatinan yang kuat tentang penerimaan komisi dari hotel yang telah menjadi tuan rumah bagi band kami. Karena hotel beroperasi pada tingkat hunian hanya 10 persen ketika mereka mengharapkan 95 persen, Anda dapat bertaruh bahwa membayar tim mereka akan datang lebih cepat sebelum mereka membayar komisi yang mereka hutangkan”.

Menurut Pomerantz, setiap orang dari rekan-rekannya yang bekerja dengan tur berskala stadion harus memberhentikan di antara 25 dan 50 persen dari tim mereka.

Jogjarockarta festival panggung.
Salah satu panggung megah festival rock akbar di Indonesia, JogjaROCKarta. Tampak Whitesnake sedang beraksi menghibur penggemarnya (Foto: Adi Wirantoko).

Para Pekerja Freelancer Tidak Dapat Mengatur Atau Mendapatkan Asuransi Kesehatan

Dalam komunitas tur, pekerja lepas atau yang biasa disebut freelancer bisa dibilang kena dampak terburuk. “Kami tidak benar-benar memiliki akses ke beberapa sistem pendukung yang mungkin Anda inginkan pada saat-saat seperti ini,” kata Bryan Scheckel, seorang manajer produksi. “Kami tidak berserikat, seperti banyak musisi dan staf konser lokal. Tidak ada yang namanya ‘kelompok advokasi para roadie‘. Sebagian besar dari kami tidak memiliki asuransi kesehatan yang baik, dan tidak memiliki akses ke asuransi pengangguran atau semacamnya”.

“Sepengetahuan saya, tidak ada ‘selimut’ keselamatan untuk seluruh industri pada saat bencana seperti ini, untuk menutupi kehilangan pendapatan,” tambah Jonathan Carrizales, seorang manajer produksi bagi Chase Rice. “Industri ini beroperasi dengan banyak freelancers, yang dikontrak untuk menyelesaikan banyak pekerjaan berisiko tinggi, dibayar langsung oleh manajemen tur”.

Di masa lalu, manajemen artis biasanya sering membayar kru ketika sebuah tur ditunda – melainkan dibatalkan sebelum tanggal mulainya – tetapi sekarang ini semakin jarang terjadi. “Tidak ada jaminan jangka waktu atau pembayaran kecuali Anda memiliki kontrak dengan produksinya, dan saya dapat berbicara untuk mayoritas bahwa sebagian besar tidak memilik kontrak,” kata Candice Rukes, yang telah melakukan tur selama 15 tahun, terutama sebagai koordinator produksi, manajer tur, dan manajer wardrobe. “Ketika saya melakukan tur dengan Justin Timberlake pada tur terakhirnya, Man of the Woods, dia melakukan istirahat vokal untuk waktu yang lama. Kami dipulangkan, tetapi ia terus membayar kami sepenuhnya sampai tur dilanjutkan. Kami selamanya berterima kasih untuknya dan timnya – tetapi ini jarang terjadi”.

“Beberapa kru touring memang digaji jika klien mereka, sang artis, mendapat hasil yang cukup baik untuk membuat mereka dibayar sepanjang tahun,” ujar seorang mantan manajer tur dan produser festival, yang meminta untuk tidak disebut namanya. “Saya ingin mengetahui persentase orang yang merupakan kontraktor independen versus karyawan tetap. Terus terang saja, saya sebagai kontraktor independen selama 12 tahun merasa bahwa presentasenya pasti benar-benar kacau. Klien mereka akan dengan senang hati membayar mereka untuk tidak bekerja, tetapi klien mereka juga saat ini tidak memiliki penghasilan”.

Baca juga: IKonser Penyelamat Konser dan Musisi Indonesia di Tengah Wabah Virus Corona?

Bahkan jika Anda bekerja untuk venue tertentu, Anda mungkin tidak akan dibayar. Kieran Blake, seorang general manajer Bowery Ballroom di New York, mengatakan bahwa kru untuk venue “tidak benar-benar digaji, sehingga semua sumber penghasilan mereka terpengaruh – semua bartender, barback, personel box-office. Bartender dibayar dengan gaji tertentu, tetapi mereka sebagian besar dibayar berdasarkan tip/bonus. Ini tidak seperti mereka telah dipecat, tetapi mereka tidak akan mendapatkan gaji selama pandemi COVID-19 ini sedang berlangsung. Dan lebih dari itu, kami mendapat enam hingga delapan penjaga keamanan pada malam hari yang semuanya dengan dibayar dengan gaji per jam yang tidak akan dibayar tanpa adanya acara apa pun. Staf coat checkers, box office, dan teller merch adalah orang-orang yang bergantung pada penghasilan ini – beberapa anak muda bekerja di banyak tempat sekaligus, dan semua pekerjaan ini hilang untuk masa yang akan datang”.

“Saya sudah melihat PHK besar-besaran dari para vendor yang berusaha untuk menghentikan bisnis mereka dari kerugian lebih besar,” tambah Christian Coffey, sang direktur tur untuk Run the Jewels, Childish Gambino, dan A$AP Rocky.

Salah satu desain panggung yang spektakuler oleh tim produksi promotor konser.

Penghasilan Alternatif Yang Sangat Terbatas

Banyak orang yang bekerja di acara live hanya bekerja di ranah itu. Para artis mungkin bisa sambil bekerja sebagai bartender atau teknisi instrumen untuk menghasilkan uang ketika mereka tidak memiliki acara manggung, tetapi pekerjaan normal itu sekarang menjadi sulit atau hampir tidak mungkin.

Artis independen Nashville Meghan Hayes, yang telah bekerja sebagai praktisi perawat di masa lalu, adalah pengecualian dalam hal ini, tetapi bahkan ia mungkin kurang beruntung. “Terus terang, saya tidak bisa dengan mudah mundur kembali menjadi praktisi perawat,” katanya. “Pada tahap ini, itu mungkin tidak akan terjadi. Hanya seperti itulah daerah Tennessee. Saya tidak bisa sembarangan memutuskan untuk pergi dan menjadi sukarelawan selama wabah virus Corona”.

“Dengan sebagian besar orang yang saya tahu memiliki pekerjaan sampingan, pekerjaan pendukung mereka adalah di bar, restoran, dan tempat-tempat musik,” lanjut Hayes. “Mereka terpukul keras dua kali lipat. Orang-orang ini tidak bisa bekerja dari rumah”. Dia menyebutkan 5 Spot, sebuah klub di Nashville yang baru saja pulih setelah tertimpa bencana angin Tornado baru-baru ini: “Mereka dibuka kembali tadi malam, dan kemudian, pagi ini, mereka menutupnya selama 30 hari sebagai tindakan pencegahan terhadap virus Corona”.

Brandon Blackwell adalah seorang manajer produksi, pekerja dari rumah, dan insinyur monitor yang memiliki teman dan rekan seumuran yang telah menganggur sejak Oktober dan sekarang harus menunggu waktu yang tidak jelas untuk kembali bekerja. “Saya pikir apa yang akan diajarkan oleh virus Corona kepada para profesional tur adalah bahwa kita membutuhkan banyak opsi pendapatan lain ketika hal-hal seperti ini terjadi,” katanya. “Kita tidak bisa touring selamanya”.

U2 concert stage.
Salah satu desain tata panggung berkonsep spesial konser U2 (Foto: pinterest).

Tetap Maju dan Berusaha

Manajer tur John Lessard bekerja dengan seorang musisi yang telah merencanakan untuk bermain di stasiun-stasiun radio di New York dan Maryland; kedua stasiun itu membatalkannya. Penurunan peluang untuk promosi radio dapat menyebabkan penurunan eksposur dari musik artis itu, yang berarti lebih sedikit penjualan dan angka streaming. “Radio adalah komponen yang sangat penting dalam format musik country, dan ini mungkin menjadi momen penting dimana seorang artis dapat memasang wajah mereka bersama nama stasiun dan membangun hubungan kerja yang baik di masa depan. Hubungan ini adalah kunci bagi artis untuk membawa musik mereka kepada para pendengar radio itu”.

Banyak solusi baru yang bermunculan. Di Korea Selatan, serangkaian konser gratis muncul online untuk mengangkat semangat selama periode karantina. Menurut Quartz, Konser Philharmonic Seoul baru-baru ini melakukan penampilan simfoni Beethoven melalui siaran langsung di YouTube “sebagai bagian dari kampanye pemerintah untuk menawarkan kenyamanan kepada orang-orang selama epidemi virus Corona”. Sejong Center for the Performing Arts Seoul juga sedang mengerjakan metode pendekatan yang serupa.

Mengenai apa yang terjadi di Amerika Serikat, Meghan Hayes menunjukkan sebuah acara Facebook Live yang diadakan oleh Wild Ponies. Itu gratis, tetapi mereka memposting alamat Venmo untuk menerima tip/donasi. “Kejadian seperti itu relatif umum,” katanya. “Orang-orang telah melakukan itu di sini sejak bencana Tornado”.

Dalam kasus Tornado Nashville, Hayes juga menyarankan untuk mengajukan petisi kepada walikota dan pemerintah daerah untuk memberikan kesempatan kerja kepada orang-orang yang tidak bekerja dalam bentuk pembersihan Tornado. “Orang-orang yang melewati Tornado membutuhkan bantuan. Orang-orang yang akan terpengaruh oleh semua perubahan musik membutuhkan bantuan. Kita harus melihat apakah ada peluang lokal bagi orang untuk dipekerjakan, bahkan jika itu ada di bidang yang berbeda dari yang umum. Saya pikir banyak orang lebih suka melakukan sesuatu daripada tidak sama sekali jika mereka memiliki banyak tagihan”.

Dan, sesuai indikasi Hayes, selalu ada yang namanya barang dagangan atau merchandise: “Saya tahu bahwa banyak orang – termasuk saya sendiri – telah memposting hal-hal yang mengatakan, ‘Hei, jika Anda memiliki artis favorit, mereka terpengaruh oleh ini. Jadi, jika Anda bisa membeli merch mereka daripada menghabiskan uang untuk tiket ke konser, itu akan sangat bagus’. Kita akan melihat seberapa banyak masyarakat umum yang bersedia untuk mengatakan, ‘Saya tidak akan menghabiskan uang saya untuk konser sekarang. Saya akan menghabiskannya untuk membeli T-shirt’”.

Cormac Larkin – seorang musisi, penulis, penyiar, dan salah satu pendiri Improvised Music Company, promotor terkemuka asal Irlandia untuk musik jazz dan musik dunia – telah muncul ke GoFundMe dalam menanggapi krisis saat ini: “Kami meminta anggota audiensi kami yang mampu membayarnya untuk mempertimbangkan mendukung para artis yang akan datang untuk bermain di Kilkenny dengan memberikan sumbangan yang akan mereka donasikan jika saja mereka memiliki kesempatan. Kami akan menyiapkan dana terpisah setiap minggunya, yang akan langsung diberikan ke musisi yang pertunjukannya dibatalkan, sampai pemberitahuan lebih lanjut”.

Hampir semua orang yang berbicara dengan Rolling Stone mengatakan bahwa salah satu faktor paling menakutkan dalam situasi ini adalah rasa ketidakpastian yang menyertai segala hal. Tetapi industri musik adalah bisnis yang bersifat kolaboratif, dan para anggotanya akan melakukan apa pun untuk melewati masa krisis ini.

“Apakah ini akan berjalan dua minggu, dua bulan, atau dua tahun?” tanya Chris Alexander, seorang manajer tur untuk band Texas Whiskey Myers. “Saya merasa penggemar kami akan merasa sangat bosan setelah beberapa minggu, dan ketika mereka membiarkan kami tampil, kami akan tampil gila-gilaan dalam venue. Untuk saat ini, yang bisa saya lakukan adalah pulang kepada istri dan putra saya dan menjadi ayah dan suami terbaik yang saya bisa. Saya akan menikmati waktu itu di sana dan siap ketika kita bisa pergi lagi dan melakukan apa yang kita sukai dalam hidup”.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Sumber: Rolling Stone (penulis: Samantha Hissong, Jonanthan Blistein)
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

David Guetta

David Guetta Dikecam Atas Remix Pidato Martin Luther King Jr. Yang “...

David Guetta / United at Home - Fundraising Live from NYC. (Foto: YouTube). Sepertinya sekarang kita memiliki soundtrack yang sesuai untuk iklan Pepsi “ng

on Jun 2, 2020
Festival Musik

Kostum APD Covid-19 Baru Didesain Spesifik Untuk Konser dan Festival M...

Micrashell oleh Production Club. Ketika para pejabat pemerintah sedang pusing merencanakan bagaimana cara membuka kembali negara mereka di tengah pandemi Co

on May 27, 2020
Black Francis

Black Francis (Pixies) Habiskan Masa Karantinanya Belajar Membuat Temp...

Black Francis, vokalis/gitaris Pixies. (Foto: Christopher Polk/Shutterstock). "Konser telah dibatalkan; ya kamu tahulah, konser sudah pindah dari event apa

on May 22, 2020
Jungkook BTS

Lagu ‘Euphoria’ Jungkook (BTS) Pecahkan Rekor Chart World Digital ...

Jungkook (BTS). (Foto: YouTube). Di saat sebagian besar dari kita tampak santai-santai saja selama masa karantina pandemi virus Corona, Jungkook dari boyban

on May 22, 2020