×
×

Search in Mata Mata Musik

Bipolar – Monkey To Millionaire

Warna lama yang manis dalam ‘tujuh dosa’ milik Monkey To Millionaire.

Oleh: FEK.

Beberapa tahun terakhir mereka memang agak jarang tampil secara live di gigs berpanggung intim ataupun panggung besar. Namun, jika menutup mata terhadap alasan di balik itu, mereka tetap cukup produktif mengeluarkan karya-karya. Total tiga album penuh ditelurkan dari tahun 2009 sampai akhirnya mereka merilis album alternative penuh keempat bertajuk Bipolar pada pertengahan Januari 2019.

Lantai Merah (2009) merupakan album yang manis dan menyenangkan untuk didengarkan. Namun Wisnu Adji dan Aghan Sudrajat mengubah konsep bermusik dalam dua album berikutnya, Inertia (2013) dan Tanpa Koma (2017) yang terkesan berat dan ‘gelap.’ Seperti sedang bereksperimen untuk mendapatkan feel yang tepat dan itu kurang membuat saya tertarik karena harus menyerap warna baru dari mereka.

Baca Juga: Hourglass – Niskala

Dalam Bipolar, mereka cukup membawa konsep yang kuat. Mengambil tema seven deadly sins, yang kemudian ketujuh dosa tersebut dijadikan judul lagu dalam album ini yaitu “Ego,” “Envy,” “Glutony,” “Lust,” “Sloth,” “Greed,” dan “Wrath” ditambah bonus track “The Great End” yang merupakan materi pada album Lantai Merah tapi belum sempat dirilis. Terdengar cukup menyeramkan memang dengan tema tersebut.

Tapi tenang aja, mereka ngga membawa album ini ke distorsi berat dan pembawaan yang dalam atau menyeramkan. Kalau kamu penggila Lantai Merah, warna dari album tersebut dibawa kembali ke Bipolar. Sebenarnya hal tersebut udah bisa terdengar dari dua single yang dikeluarkan sebelum album terbaru ini keluar, “Ego” dan “Envy”. Buat saya yang jatuh cinta dengan album Lantai Merah, menganggap mereka kembali ke jalurnya setelah melebar pada album Inertia dan Tanpa Koma. Namun itu semua balik ke selera masing-masing.

Dari nuansa cover pada rilisan fisiknya yang berwarna pink dan biru muda seperti merepresentasikan bahwa album ini adalah album yang manis dan berwarna. Walaupun terdapat foto seseorang yang menggunakan topeng berbentuk monyet bermuka murung. Sulit untuk menggambarkan secara spesifik tiap lagu dari album terbaru mereka ini tapi yang penting buat saya, album ini kembali ke warna mereka sebelum tahun 2010. Saya senang dengan hal tersebut walaupun pada lagu “Wrath” masih membawa nuansa Inertia dan Tanpa Koma. Tak begitu masalah.

Mungkin yang kurang dari album ini adalah penggunaan bahasa Indonesia dalam lirik-liriknya yang hanya terdapat pada satu lagu, “Ego”, sisanya berbahasa Inggris. Ya, terkadang memang dirasa lebih sulit untuk mengeksekusi lirik berbahasa Indonesia, penekanan dalam lagu hingga proses penyatuannya dengan instrumen musik.

Selebihnya? Aman banget!

Verdict: 8/10.
Si Monyet kembali menyenangkan.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Ulasan album Flying Solo Milik Pamungkas

Flying Solo - Pamungkas

Pamungkas, si pemberi rasa tenteram. Oleh: Amien. Lebih kurang dua tahun ini, saya menyimak dan juga mendengarkan musisi -- solois atau pun band -- baru

on Jul 8, 2019

She Is Coming – Miley Cyrus

She Is Coming, manifesto 'seribu' kepribadian dari seorang mantan teen idol kesayangan Disney. Perempuan yang dilahirkan dengan nama Destiny Hope Cyrus ini

on Jun 10, 2019
Keterangan Foto Utama: M2M (kredit foto: @adefsyh)

Mata Mata Musik Playlist: Road Trip Playlist Dari Monkey to Millionai...

10 track pilihan dari duo rock Monkey to Millionaire. Memasuki musim libur lebaran kali ini, Mata Mata Musik menodong duo rock Monkey to Millionaire, Aghan

on Jun 10, 2019
Monkey to Millionaire

Take a Little Walk Eps.001 with Monkey to Millionaire

#MMMTakeaLittleWalk with Monkey to Millionaire Duo rock yang terdiri dari Wisnu dan Aghan ini berteman sejak sangat belia. Sama-sama memilih musik sebagai

on May 29, 2019