×
×

Search in Mata Mata Musik

Burgerkill “Melampaui Koma & Keputusasaan” (In Memoriam Eben & Ivan)

Posted on: 09/6/21 at 12:00 pm

Didedikasikan untuk almarhum Ivan dan Eben.

Burgerkill adalah jawara metal nomor wahid di Indonesia bahkan Asia Tenggara dalam hal pencapaian prestasi dalam karier bermusik. Artikel ini merupakan cerita pendek, kurang dari setengah dari 26 tahun perjalanan sebuah band metal yang telah menjadi fenomena di populasi penikmat musik cadas khususnya di Indonesia.

Baca juga: Burgerkill “Killchestra”: Persilangan Epik Simfoni Kebisingan

Awal Burgerkill

Mungkin pertama kali mendengar namanya orang akan bertanya, apa itu Burgerkill? Burger yang membunuh (karena banyak mengandung kolesterol jahat, hehe). Yang pasti, burger ngerii lah. Nama tersebut tentu saja hanya nama plesetan dari restoran cepat saji terkenal asal Amerika Serikat, Burger King. Yoi, ini adalah Burgerkill yang lahir di Ujungberung, tempat orisinal tumbuh dan berkembangnya musik ekstrem metal, terutama death metal dan grindcore di wilayah Bandung Timur. Band alumni Uber (singkatan Ujungberung -Ed.) selalu dilengkapi dengan stenografi tribal dan musik agresif yang super kencang. Sebut saja di antaranya, Jasad, Forgotten, Infamy.

Pada tahun 1995, ide terbentuknya Burgerkill (seterusnya kita singkat BK saja -Ed.) dicetuskan oleh Aries Tanto a.k.a Eben, seorang pegiat scene hardcore dari Jakarta yang pindah ke Bandung untuk meneruskan sekolahnya. Pada masa awalnya, BK hanya sebuah proyek band tidak serius yang tidak ada juntrungannya. Hanya segerombolan bocah penggila musik cadas yang hobi nge-jam di studio sambil menunggu bandnya dapat tawaran manggung. Kala itu mereka hanya berpikir untuk manggung, pulang, latihan, manggung lagi, dan seterusnya. Formasi BK pun tidak berjalan mulus. Sederet nama musisi underground pernah keluar-masuk sebagai member BK.

Tetapi tidak bagi Eben. Doi merasa bahwa band ini adalah hidupnya dan berpikir keras agar BK dapat diakui eksistensinya. Kala itu mereka merasa lebih sering mendapat job manggung di Jakarta melalui koneksi teman-teman hardcore-nya Eben.

Single Debut ‘Revolt!’

Dan semuanya berubah lebih baik sejak mereka berhasil merilis single pertamanya berjudul ‘Revolt!’ melalui album kompilasi CD berjudul Masaindahbangetsekalipisan. Proyek yang dipimpin Richard Mutter (dramer Pas Band -Ed.) ini menampilkan band-band underground Bandung dan dirilis pada tahun 1997. Selain BK, ada Full of Hate, Puppen, Cherry Bombshell, Noin Bullet, Rotten To The Core, dan lain-lain. Lagu BK, ‘Revolt!’ menjadi trek pembuka album kompilasi yang terjual habis sebanyak 1.000 kopi ini dalam waktu singkat. Dan sejak itu, ‘Revolt!’ menjadi anthem pada setiap pertunjukan live BK. Setelah mengenal nikmatnya menggarap rekaman, anak-anak BK tidak pernah merasa ingin berhenti.

Pada tahun 1998, perjalanan BK berlanjut dengan rilisan single ‘Blank Proudness’ untuk album kompilasi band-band Ujungberung berjudul Independen Rebel. Sebuah proyek besar yang dirilis oleh major label, Independen Records sub-label Aquarius Musikindo dengan distribusi nasional dan Malaysia. Setelah itu nama BK semakin banyak menghiasi flyer/pamflet/poster gigs di seputar musik underground. Dan semakin banyak fans berat yang menunggu kehadiran BK di atas panggung.

Di sekitar awal tahun 1999, BK mendapat tawaran dari indie label Malaysia, Anak Liar Records yang berakhir deal menampilkan BK dalam album 3 way split bersama Infireal (Malaysia) dan Watch It Fall (Prancis). Hubungan BK dengan jaringan di Malaysia dan Singapura pun masih terjalin dengan baik hingga seterusnya. Selain di Indonesia, BK menjadi langganan ‘coverage’ fanzine di beberapa negeri jiran dan menambah fansnya juga di sana.

Burgerkill Dua Sisi

Pada tahun 2000, akhirnya BK berhasil merilis album studio full length pertamanya, Dua Sisi. Dan 5.000 kopi kaset yang diproduksi Riotic Records ludes dilahap para fans yang sudah lama menunggu sejak lama. Di tahun yang sama, BK merilis single ‘Everlasting Hope Neverending Pain’ untuk album kompilasi Ticket To Ride, proyek yang profitnya disumbangkan ke pembangungan sebuah taman bermain skateboard.

Single tersebut menjadi jembatan ke era baru BK, di mana masa awal mereka tercipta hasil dari pengaruh band-band old school hardcore seperti Minor Threat, 7 Seconds, Gorilla Biscuits, Youth of Today, Sick Of It All, Insted, dll. Seiring dengan waktu, mereka mulai membuka diri untuk pengaruh lain. Masuklah pengaruh dari band-band new school hardcore/metalcore dan modern metal dengan beat yang lebih cepat dan agresif. Riff-riff yang agresif menjadi bagian kental dari lagu-lagu BK serta dilengkapi fill-in yang lebih menarik. Mereka memang tidak pernah puas dengan yang telah mereka hasilkan. Mereka selalu ingin berbuat lebih dengan terus membuka diri pada pengaruh baru. Hampir semua subgenre atau bentuk musik cadas diserap dan diinterpretasikan ke dalam lagu mereka. Dengan demikian BK berkembang menjadi semakin terasah dan dewasa. Lagu demi lagu mereka kumpulkan untuk materi lengkap album kedua.

Beberapa pengakuan dari kancah arus utama mereka raih tanpa mengubah jati diri mereka sedikit pun. Di antaranya, mereka menjadi nominator Band Independen Terbaik di majalah NewsMusik di tahun 2000. Di awal tahun 2001 mereka juga berhasil melakukan kerja sama dengan perusahaan sport apparel PUMA yang selama satu tahun mendukung BK setiap manggung. Tahun 2002 giliran apparel Australia INSIGHT yang mendukung mereka.

Artwork sampul album Burgerkill Dua Sisi.
Artwork sampul album Dua Sisi.

Burgerkill Berkarat

Burgerkill di kantor Sony Music Entertainment Indonesia, 2003. (Foto: dok. Burgerkill).

Pada pertengahan 2003, BK menjadi band hardcore pertama di Indonesia yang menandatangani kontrak dengan major label. Tidak tanggung-tanggung, Sony Music Entertainment Indonesia mengontrak BK sebanyak 6 album. Dan di akhir tahun yang sama, Sony Music merilis album kedua BK, Berkarat. Lagu-lagu di album ini menjadi progresif dan penuh teknik yang lebih terasah dibanding album sebelumnya. Hampir tidak ada lagi nuansa ‘straight-forward’ dan ‘mosh-part’ sederhana ala band hardcore standar yang terrefleksikan dari semua single awal mereka. Pada sektor vokal tetap menonjolkan nuansa depresif dan kelam sesuai karakter vokal Ivan ‘Scumbag’. Dan lebih berani menulis lirik berbahasa Indonesia dengan artikulasi yang lebih jelas. Dan di sektor musik pun Eben (gitar), Toto (dram), Andris (bass) dan gitaris baru, Agung semakin berani bereksplorasi wilayah-wilayah baru yang sebelumnya belum pernah dijajaki.

Di Balik Burgerkill Kontrak Dengan Sony Music

Para metalhead tentu penasaran bagaimana BK bisa ‘ditangkap’ oleh Sony Music.

“Sekitar tahun 2002 usai pengerjaan rekaman lagu ‘Tiga Titik Hitam’ bareng Fadly, vokalis Padi, kami ke Jakarta untuk nemuin A&R Sony Music untuk minta legalitas lagu tersebut karena di situ ada direkam suara Fadly (Padi) sebagai artis Sony Music. Setelah jarak dua minggu dari situ gue dapat telpon dari Jakarta dan kami disuruh datang ke Sony Music untuk sign dengan mereka. Saat itu anak-anak menganggap ini suatu kesempatan luar biasa untuk bisa mengembangkan sayap lebih lebar dengan memanfaatkan fasilitas distribusi yang mereka punya. Dan kami juga berharap ini bisa jadi batu loncatan buat teman-teman band yang lainnya. Pihak label sama sekali tidak pernah ikut campur dalam hal materi lagu, baik secara musik maupun liriknya. Mereka sadar jenis musik yang kami mainkan memang segmented atau tidak umum untuk telinga-telinga easy listening. Tetapi ‘output’ yang mereka berikan tetap seimbang dengan yang kami butuhkan. Dan kami sangat menghargai itu,” beber Eben.

“Yang penting buat kami hidup itu cuma satu kali dan manfaatkanlah setiap kesempatan baik untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang belum tentu bisa didapat oleh setiap orang” -Eben.

Eben kemudian melanjutkan, “Dari pengalaman itu, kami mendapatkan banyak sekali pelajaran baru tentang industri musik dan strategi-strateginya yang ternyata memang perlu kami ketahui sebagai bagian dari pelakon bisnis tersebut”.

Suatu kejutan muncul di pertengahan 2004. Lewat album Berkarat, BK masuk nominasi salah satu kategori AMI Awards 2004. Dan berhasil menyabet award tahunan tersebut untuk kategori Best Metal Production. Suatu prestasi yang mungkin sama sekali tidak terlintas di benak mereka. Meski demikian, prestasi itu merupakan tanggung jawab besar yang harus mereka pikul ke publik melalui karya-karya selanjutnya.

Keluar Dari Sony Music

Awal Maret 2005, di tengah kesibukan mereka mempersiapkan materi untuk album ketiga, Toto memutuskan untuk meninggalkan band yang telah selama 9 tahun doi bangun bersama. Namun kejadian ini tidak membuat anak-anak BK putus semangat. Mereka kembali merombak formasinya dengan memindahkan Andris ke posisi dram dan terus melanjutkan proses penulisan lagu dengan menggunakan additional bass player. Sejalan dengan selesainya penggarapan album ketiga, tepatnya November 2005 lalu, BK memutuskan kontrak kerja sama dengan Sony Music. Mereka tetap sepakat untuk tetap merilis album ketiganya di bawah Revolt! Records, label rekaman yang dikelola oleh Eben.

“Sebetulnya alasan utama kami keluar dari Sony Music, karena kami sebagai band yang memainkan dan ber-atititude heavy metal sudah tidak nyaman berada di situ. Tetapi semuanya bukan karena masalah materi atau aturan-aturan yang ada di industri major. Cuma kebetulan kami enggak nemuin kesepakatan kerja sama dengan pihak label buat menggarap album ketiga ini. Baik untuk pra-produksi maupun pasca-produksi. Selain itu kami merasa sudah bukan di situ tempat kami berevolusi dengan idealis bermusik dan karya-karya yang kami anut dan kerjakan selama ini,” ungkap Eben blak-blakan.

Artwork sampul album Burgerkill Berkarat.
Artwork sampul album Berkarat.

Burgerkill Beyond Coma and Despair

Burgerkill 2006. (Foto: dok. Burgerkill).

Namun tidak ada gading yang retak, patah atau remuk, musibah terbesar pertama dalam perjalanan karier BK pun tidak terelakan. Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah, sang vokalis, mengembuskan napas terakhirnya di tengah proses peluncuran album ketiga BK pada akhir Juli 2006. Peradangan pada otaknya telah merenggut nyawa salah seorang ikon komunitas musik cadas Indonesia. BK pun berduka, namun mereka tetap yakin untuk terus melanjutkan perjalanan karier bermusik yang sudah dari satu dekade mereka jalani. Dan sudah tentu dengan menghadirkan seorang vokalis pengganti Ivan.

Progresi Musik Signifikan

Album ketiga BK berjudul Beyond Coma and Despair ini memiliki makna yang sangat dalam bagi semua personel BK. Baik secara musik maupun lirik. Format musik yang mereka suguhkan sangat progresif dari album Berkarat. Lebih cadas, berat, cepat, teknikal, tegas, yah intinya lebih nampol lah.

“Persiapan dan pengerjaan materi baru untuk Beyond… ini makan waktu sekitar tiga bulan, semuanya kami kerjain di studio Pisces di Ujungberung. Dan untuk proses rekaman memakan waktu sekitar tiga bulan juga. Sebelum masuk studio rekaman kami memang berusaha mempelajari kekurangan-kekurangan dari dua album sebelumnya. Dan akhirnya kami sepakat untuk bekerja semaksimal mungkin untuk mengejar kualitas yang kami mau…hehehe. Kami memang enggak mikirin sama sekali berapa shift yang terpakai, yang penting hasilnya kami suka. Memang, ini suatu kondisi yang selalu terjadi di album-album kami sebelumnya,” jelas Eben.

“Bagi kami album itu seperti sebuah tato yang bakal nempel seumur hidup di badan kita sebagai sebuah identitas yang benar-benar harus dijaga kualitas karyanya-Eben.

Artwork sampul album Burgerkill Beyond Coma and Despair.
Artwork sampul album Beyond Coma and Despair.

Burgerkill Venomous dan Adamantine

Cerita tentang perjalanan BK masih panjang. Ini belum ada separuh perjalanan. Tetapi untuk mengakhiri artikel ini, kami shortcut sejenak. Nantikan artikel berikutnya.

Setelah Beyond Coma and Despair meraih sambutan luar biasa, BK akhirnya menemukan vokalis pengganti Ivan, yaitu Vicky Mono. Bersama Vicky, BK berhasil merilis album Venomous pada Juni 2011. Rentang yang cukup panjang dari album sebelumnya. Tujuh tahun kemudian, BK merilis album full length kelimanya, Adamantine yang menampilkan dramer Putra Ramadhan sebagai pengganti Andris.

Baca juga: Eben Burgerkill Meninggal Dunia Setelah Pingsan Di Lokasi Syuting

Pada 3 September 2021, BK kembali mengalami tragedi terbesar dalam perjalanan kariernya. BK dan seluruh Begundal serta seluruh metalhead Indonesia pun berduka. Kali ini, Eben sang founder dan motor BK telah berpulang ke hadirat-Nya. Beliau mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit setelah pingsan di lokasi syuting di Bandung. Penyebab kematiannya karena serangan jantung. Almarhum dimakamkan di halaman kediaman keluarganya di Jl. Gemuruh, Bandung.

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi
Artikel ini dilansir dari majalah Crushing edisi #1 September 2006, wawancara penulis dengan mendiang Eben. Artikel ini bebas disadur dengan syarat mengutip nama media dan penulis sebagai sumber. Al-Fatihah untuk Eben dan Ivan, see you on the other side, keep smokin’ metal engine \m/

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    LOVEBITES Heavy Reaction

    LOVEBITES - Holy War (Live at Zepp DiverCity Tokyo 2020) GO-KILL!

    LOVEBITES, salah satu dari deretan band heavy metal Jepang terbaik yang semua anggotanya cewek. Tetapi penampilan mereka yang anggun bak tuan putri hanyala

    on Oct 19, 2021
    Burgerkill

    Burgerkill Ft. Ahmad Dhani 'Satu Sisi', Kolaborasi Terepik Sepanjang M...

    Kenapa bisa dibilang kolaborasi paling epik? Yang pertama, karena kolaborasi ini menampilkan mesin metal nomor wahid Indonesia BURGERKILL (BK) dan salah sa

    on Oct 15, 2021
    Alcatrazz

    Alcatrazz Comeback Via Album Epik "V" Bersama Vokalis Doogie White

    Foto: Alex Solca. Alcatrazz baru saja meluncurkan MV (Music Video) single baru 'Grace Of God' yang bisa lo dengar di akhir artikel ini. Lagu itu diambil dar

    on Oct 10, 2021
    Iron Maiden Fan Principal

    Kepala Sekolah Fans Iron Maiden Dituntut Via Petisi Orang Tua Murid

    Vokalis Iron Maiden, Bruce Dickinson (foto: Kevin RC Wilson), KepSek Sharon Burns (foto: via Change.org). Iron Maiden dan penggemarnya belum lama ini menjad

    on Oct 10, 2021