×
×

Search in Mata Mata Musik

Busuk “Worshipper”: Gerinda Crusty Horor Pemuja Hiperealitas

Posted on: 09/1/20 at 6:00 pm

Busuk "Worshipper": Gerinda Crusty Horor Pemuja Hiperealitas
Cover album Busuk Worshipper. (Gambar: Lawless Jakarta Records).

BUSUK
Worshipper

(2020, Lawless Jakarta)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Terlahir dari rahim scene DCHP (Depok City Hardcore Punk) pada 2005 dan mulai bergerilya pada 2009, Busuk tercatat sebagai salah satu band metal ekstrim dengan ruh punk yang memiliki diskografi panjang, terutama rilisan kompilasi dan split albumnya dengan sesama band lokal maupun internasional. Kuartet pengusung crusty grindcore ini, yakni Tyan (gitar), Adul (vokal), Fakih (bass), Epic (dram) akhirnya berhasil bangkit dari masa hibernasi selama 6 tahun dengan memuntahkan album yang menjadi karya terbaik mereka sejauh ini.

Baca juga: Dead Vertical “XVII”: 17 Tahun Ke Atas Menggerinda Baja

Kelebihan: Album ini dibuka oleh ‘Fight the Fire’ yang melesatkan serangan aksi teror sarat dram D-beat dan blast beat berbalut raungan galak riff dengan sound abrasif hasil olahan efek distorsi “puol” Boss HM-2 yang sederhana namun catchy dan menampar muka lo bolak-balik. Kualitas bising-gasme yang sama dilanjutkan pada ‘Misbegotten’ dan ‘Still Continues’ yang berbicara melalui riff yang mengilustrasikan kemarahan, keresahan, kekecewaan dan protes mereka, seperti nukilan liriknya yang bernuansa nihilistik berikut ini: “Rise up, the world is not doing well. Take the forward fucking action than going backward. Stop trusting anyone, start disorganizing freely. Stop following people behind, more forward to see a bad future. Nightmare still continues, stop wishing the light”. Lagu-lagu dalam album ini terinspirasi dari kondisi sosial masyarakat luas yang secara langsung bisa dirasakan dan membuat kita nggak nyaman, memaksakan kehendak, merebut hak, dan menjagal iman. Melalui konten Worshipper, keempat musisi Busuk tersebut seperti berusaha mengembuskan nuansa horor yang pernah dan bahkan sering terjadi di sekitar kita.

Kekurangan: Dengan total 13 trek yang terdiri dari 10 lagu rekaman multi-track dan 3 lagu rekaman live (termasuk lagu cover Disfear ‘Get It Off’), total durasi album ini terasa nanggung, hanya 24 menit. Mengingat salah satu gaya khas lagu grindcore yang berdurasi pendek, akan lebih baik jika jumlah treknya ditambah supaya total durasinya menjadi 30 menit. Bukannya gue sudah ter-brainswash oleh standar industri rekaman internasional bahwa album full length minimal berdurasi 30 menit, melainkan memang harus ada tolok ukurnya. Dan akan lebih nyaman di kuping apabila 3 rekaman live tersebut menjadi kesatuan dalam sesi rekaman multi-track 10 lagu awalnya.

Baca juga: Napalm Death Umumkan ‘Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism’, Album Barunya

Kesimpulan: Dengan Worshipper, Busuk telah memperlihatkan dan memperdengarkan grindcore beratmosfer gelap yang dieksekusi secara all-out-war sebagaimana mestinya.

Verdict: 7,5

https://www.youtube.com/watch?v=iq-35bveNVc

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Extreme Hate

    Jelang EP Awal 2021 Extreme Hate, Trio Grindcore Ini Rilis Dua Single ...

    Mengawali tahun 2021 ini, trio grindcore Extreme Hate kembali masuk studio rekaman untuk beberapa lagu baru, dua lagu di antaranya yang dijadikan rangkaian

    on Feb 12, 2021
    Album Hard Rock & Heavy Metal Terbaik

    MataMata Musik: Top 20 Album Hard Rock & Heavy Metal Terbaik Tahun 202...

    Meski 2020 merupakan tahun paling bangsat bagi 99% populasi manusia di Bumi (1% lagi yang nggak kena dampak kehancuran, yang berpesta di atas penderitaan j

    on Dec 31, 2020
    Extreme Moshpit Awards

    Daftar Pemenang Penghargaan Spesial Musik Cadas: Extreme Moshpit Award...

    Extreme Moshpit adalah media musik cadas Indonesia yang bergerak sejak 2007. Selain mewujudkan gerakan baru tradisi fanzine dan media di ranah musik ekstri

    on Dec 3, 2020
    Tonny Christian Pangemanan

    In Memoriam: Tonny Christian Pangemanan dan NOXA, Martir Grindcore

    Tonny Christian Pangemanan. Langit nampak cerah namun kali ini begitu terasa gelap dan berkabut, itulah suasana yang menyelimuti komunitas musik cadas Tanah

    on Nov 14, 2020