×
×

Search in Mata Mata Musik

Carnivored “Labirin”: Amalgamasi Extreme Metal Soundtrack Penyintas Skizoprenia

Posted on: 01/28/21 at 10:00 am

Artwork sampul album Labirin oleh Carnivored.

CARNIVORED
Labirin
(2021, Lawless Jakarta)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Terbentuk pada akhir 2006 di Pamulang, Tangerang Selatan, Carnivored membuktikan ke scene IDDM (Indonesian Death Metal) sebagai band death metal yang berbahaya melalui album debut Revival rilisan Rottrevore Records pada akhir 2012. Tapi dua tahun kemudian, seiring dengan perombakan formasi band yang saat itu dihuni oleh Ronald Alexander (vokal), Ario Nugroho (gitar), Welby Cahyadi (bass) dan Oces Rahmat (dram) ini kembali dengan album kedua yang mengejutkan. Berjudul No Truth Found, album yang dirilis secara DIY (Do It Yourself) ini menampilkan gaya death metal yang progresif dan lebih melodik dengan menambah porsi groovy yang kental di samping hantaman blast beat dram. Dan di album ketiga, Labirin ini, posisi Ario digantikan oleh Rayhan Syarif dan lagi-lagi bikin kejutan dengan suguhan gaya musik baru yang berada di tengah antara death metal dan elemen genre lainnya.

Baca juga: Single ‘Rintih Mengemis’ Beri Gambaran Musik Album Baru Carnivored, “Labirin”

Kelebihan: Carnivored sepertinya band yang anti stagnasi dan evolusioner dalam proses kreatifnya. Bisa kita rasakan dari perbedaan yang signifikan konten musik tiap album mereka. Labirin memang membawa kejutan, di mana Carnivored berani bermain di area baru dalam ranah extreme metal yang belum pernah mereka singgahi sebelumnya. Yup, langkah yang mereka ambil cukup mengandung risiko akan kehilangan fans yang menyembah dua album sebelumnya, terutama No Truth Found yang meninggalkan impresi secara mengharu biru. Meski enggak sesuai ekspektasi sebagian besar fansnya, Carnivored menawarkan opsi lain yang sebenarnya enggak kalah menarik namun hanya berbeda rasa, yang tentunya akan dikonsumsi oleh selera kuping yang berbeda pula. Meski enggak sepenuhnya keluar dari bingkai death metal yang mereka usung, dari awal hingga akhir dari total 12 lagu di album ini, Carnivored nyaris hanya menonjolkan beat-beat headbanging bertempo sedang sarat dengan poliritmik ala penganut Djent yang dipelopori oleh Meshuggah, dan nyaris tanpa tempo ngebut dengan blast beat dram. Boleh dibilang, 5% blast beat brutality, 95% groove metal.

Kejutan lainnya adalah dominasi lirik berbahasa Indonesia yang merupakan kali pertama dalam sebuah album Carnivored. Dan menjadi hal yang efektif untuk lebih mudah memahami narasi dan merasakan emosi dari tiap lagunya yang menyeritakan kisah nyata tentang fase kelam seorang sahabat. Berawal dari perkenalannya dengan zat yang cukup mematikan. Perlahan tapi pasti, mengikat hidupnya dan membawa kepada berbagai kegilaan yang enggak pernah terbayangkan sebelumnya, serta sangat sulit untuk dilepas. Paranoia, kelumpuhan, ilmu hitam, sosok-sosok mengerikan yang selalu menghantui, perubahan karakter, hingga jiwa yang terguncang, bercampur aduk, datang bertubi-tubi. Bagai tersesat dalam sebuah ‘labirin’ tanda tanya dan jalan keluar yang selalu berujung buntu.

Berangkat dari kegelapan cerita itulah yang kemudian menjadi fondasi terciptanya riffing yang massif-agresif beserta beragam fill-in melodi yang catchy sekaligus suram dan mencekam dari menit pertama hingga menit terakhir album ini berputar di player musik. Panduan cepat: ‘Rintih Mengemis’, ‘Paranoia’ atau ‘Terjerat Senyap’.

Kekurangan: Riff bagian reffrain chorus pada lagu ‘Tunduk Raga’ (di bait lirik: “Baptis aku dalam kilaunya…” sampai “Hirup hingga tak tersisa”) memainkan tangga nada berbasis blues bak stoner metal yang kurang selaras dengan emosi mendalam yang terpancar dari lirik dan lagu-lagu lainnya yang beratmosfer gelap.

Baca juga: Death Vomit “Dominion Over Creation”: Dominasi Raja OSDM Yang Tak Terbantahkan

Kesimpulan: Carnivored telah mencapai muara baru dari pengembaraan musikalnya sebagai pengusung death metal selama 15 tahun melalui Labirin yang merupakan evolusi dari No Truth Found. Album radikal yang membuka peluang fans lama keluar sekaligus membuka peluang fans baru masuk. Pergeseran gaya musikal Carnivored bukanlah suatu hal yang regresif, melainkan tetap progresif. Wajar jika pertama kali mendengarkan lagu dari Labirin, hati dan pikiran kita akan terinjeksi oleh gaya metalcore lantaran never ending groove yang digeber di sepanjang album ini. Elemen metalcore tentu ada, dan makin dipertegas oleh penampilan tamu vokalis Vicky Mono (Burgerkill) di lagu ‘Sekutu Hitam’ yang berbagi mikrofon dengan Ronald. Namun sebenarnya juga bukan metalcore, karena jauh lebih dari itu, men. Dengan kerangka death metal, Carnivored merakit musiknya dengan komposisi yang terdiri dari berbagai subgenre heavy metal, dari progressive metal, metalcore, groove metal, thrash metal hingga post-metal. Suatu amalgamasi extreme metal yang mustahil diklasifikasikan secara baku, melainkan lebih fleksibel. Beberapa band telah berhasil melakoninya seperti Decapitated, Gojira, dan lain-lain termasuk Carnivored.

Verdict: 8,5

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Stevi Item & Isyana Sarasvati

    Stevi Item & Isyana Sarasvati Wujudkan Proyek Lanjutan "DeadSyana"

    Isyana Sarasvati dan Stevi Item mempromosikan t-shirt Deadsyana (Foto: Instagram/Deadsquad.official). Stevi Item, sebagai pendiri dan motor utama DeadSquad

    on May 10, 2021
    Behemoth

    Behemoth Rilis NFT Anniv Ke-7 The Satanist Collab Dengan Seniman Bali

    Behemoth (Foto: Grzegorz Gołębiowski). Behemoth telah mengumumkan peluncuran lini NFT mereka sendiri, yang tersedia mulai 7 Mei 2021 pukul 8 malam waktu

    on May 9, 2021
    DeadSquad

    DeadSquad, Ikon Death Metal Indonesia Yang Mampu Hidup Di Dua Dunia

    DeadSquad formasi 2021. (Foto: Instagram/possessedtomerch). DeadSquad adalah nama yang sudah enggak asing lagi di kancah musik Indonesia. Meski mengusung ge

    on May 5, 2021
    At The Gates

    At The Gates Rilis 'Spectre of Extinction' Fitur Gitaris Andy LaRocque

    At The Gates (Foto: Ester Segarra). Sebulan lalu At The Gates mengumumkan album studio ketujuh mereka, The Nightmare of Being. Kini dedengkot Swedish-Gothen

    on May 3, 2021