×
×

Search in Mata Mata Musik

CEO Spotify Daniel Ek Dikecam Karena Dinilai Tidak Manusiawi Terhadap Artis

Posted on: 08/2/20 at 10:30 am

CEO Spotify Daniel Ek Dikecam Karena Tidak Manusiawi Terhadap Artis
CEO Spotify Daniel Ek. (Foto: via Bloomberg).

Dalam banyak hal, Spotify dan layanan streaming musik serupa lainnya telah menjadi anugerah bagi pecinta musik yang ingin mengakses apa saja dan semuanya dalam waktu singkat. Namun, sejak diluncurkan pada akhir tahun 2000-an, Spotify juga mendapatkan reputasi buruk karena tingkat pembayaran streaming yang sedikit untuk artis. Menurut laporan baru-baru ini, indie label hanya memperoleh US$ 0,00348 (sekitar Rp 51) per stream. Banyak artis besar yang mengecam perusahaan platform streaming asal Swedia itu karena gagal mendukung musisi, termasuk pentolan Radiohead, Thom Yorke, yang pernah menyamakan Spotify dengan ”kentut terakhir yang menyedihkan dari mayat yang sekarat”.

Baca Juga: Di Episode Baru ’24/365 with BLACKPINK’, BLACKPINK Mengenang Masa Trainee-nya

Dalam serangkaian acara yang mungkin tidak akan mengejutkan siapa pun yang bahkan akrab dengan industri musik, Spotify tidak berpikir mereka melakukan kesalahan. Faktanya, perusahaan streaming ini yakin bahwa para artislah yang tidak melakukan cukup banyak untuk membantu diri mereka sendiri. CEO Spotify, Daniel Ek, menyatakan dalam sebuah wawancara baru yang ramai dengan MusicAlly, di mana dia mengatakan bahwa para musisi harus merekam dan merilis musik tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Untuk memulai diskusi, Daniel Ek mengatakan bahwa meskipun musisi tidak sering memuji Spotify di depan umum, data menunjukkan bahwa mereka benar-benar puas dengan tingkat pembayarannya. “Secara pribadi mereka telah melakukan itu (memuji Spotify) berkali-kali, tetapi di depan umum mereka tidak memiliki insentif untuk melakukannya,” kata Daniel penuh percaya diri. “Tapi dengan tegas, dari data, ada semakin banyak artis yang bisa hidup dari pendapatan streaming itu sendiri”.

Argumen inti Daniel Ek dalam membela Spotify muncul selama percakapan kemudian tentang artis dulu dan sekarang. Menurutnya, artis yang selamat di masa lalu mungkin tidak seberuntung di dunia saat ini, yang memberi penghargaan bagi siklus kerja 24/7 (24 jam/7 hari) yang bergerak cepat.

“Ada kekeliruan naratif di sini, dikombinasikan dengan fakta bahwa, jelas, beberapa artis yang dulu bekerja dengan baik di masa lalu mungkin tidak melakukannya dengan baik di lanskap masa depan ini, di mana kamu tidak dapat merekam musik sekali setiap tiga hingga empat tahun dan berpikir itu sudah cukup,” ujar Daniel Ek.

“Para artis hari ini yang membuatnya menyadari bahwa ini tentang menciptakan keterlibatan yang berkelanjutan dengan penggemar mereka,” lanjutnya. “Ini tentang menempatkan pekerjaan, tentang mendongeng di sekitar tema album, dan tentang menjaga dialog yang berkelanjutan dengan penggemarmu”.

Daniel Ek, yang pada tahun 2020 dilaporkan memiliki kekayaan sebesar US$ 4 miliar (sekitar Rp 58,6 triliun), menyimpulkan dengan mengatakan, “Saya merasa, sungguh, bahwa orang-orang yang tidak berkinerja baik dalam streaming sebagian besar adalah orang-orang yang ingin merilis musik seperti dulu dirilis”.

CEO Spotify: “Kamu Tidak Dapat Merekam Musik Sekali Setiap Tiga Sampai Empat Tahun Dan Berpikir Itu Akan Cukup”.

Pernyataan Daniel Ek yang mengatakan bahwa para artis harus terus-menerus mengeluarkan materi baru hanya untuk mendapatkan pembayaran yang cukup adalah pernyataan yang elitis dan tidak punya simpati, dan salah satu yang tidak memanusiakan artis dan karyanya. Itu juga salah satu yang berpotensi memiliki konsekuensi berbahaya seperti yang dialami dalam industri konser. Sejak musik menjadi digital, para artis harus semakin bergantung hampir sepenuhnya pada tur untuk bertahan hidup, yang mengakibatkan jadwal konser yang padat dan seringkali mengancam kesehatan fisik dan mental mereka. Menurut logika cacat Daniel Ek, artis harus mengadopsi etika rekaman yang sama jika mereka ingin sukses.

Daniel Ek menganjurkan rahasia kesuksesan bukanlah tingkat pembayaran Spotify yang lebih tinggi, tetapi lebih banyak rilisan dari musisi.

Secara alamiah, komentar Daniel Ek tentu saja belum bisa diterima dengan baik oleh para musisi. Di Twitter, David Crosby menyebut Daniel Ek “tukang ngibul serakah yang menjengkelkan”. Mike Mills dari R.E.M. membalas dan me-retweet yang sama, memberi tahu Daniel Ed untuk “Go Fuck Yourself”.

Penerjemah & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Aggregator Musik

    Aggregator Musik: Perantara Pendapatan Di Tengah Disrupsi Teknologi

    Lebih dari satu dekade kita telah memasuki era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran teknologi secara fundamental. Mengubah sistem, tatanan, lansk

    on Apr 15, 2021
    Spotify

    Spotify & Kakao Ent. Kembali Jalin Kerja Sama Setelah Berseteru

    (Foto: Daniel Kalker/picture-alliance/dpa/AP Images). Spotify mengumumkan bahwa perusahaan platform musik digital ini telah mencapai kesepakatan dengan Kaka

    on Mar 12, 2021
    SoundCloud model royalti baru

    SoundCloud Terapkan Sistem Royalti Baru Yang "Ramah" Bagi Artis Indie

    Isu tentang royalti artis dari platform musik streaming yang kurang adil memang telah lama menjadi perhatian artis-artis dan penggemarnya di kancah industr

    on Mar 3, 2021
    Apple Music

    Petinggi Apple: Tidak Akan Ada Layanan Gratis Apple Music Dengan Siste...

    Sebelumnya telah tersiar kabar di kalangan pengguna bahwa kemungkinan akan ada layanan gratis Apple Music dengan sistem iklan. Sebagian dari para pengguna

    on Feb 27, 2021