×
×

Search in Mata Mata Musik

Cerita di Balik Deck Rave Paul Oakenfold di Stonehenge

Posted on: 09/21/18 at 11:00 am

Paul Oakenfold pernah tampil di Everest dan Tembok Besar China. Namun apa jadinya kalau dia menjadi DJ pertama yang bermain di Stonehenge?

Oleh: Alexis Petridis (The Guardian)

Holiday Inn di jalan A303, Inggris, bukanlah tempat yang ideal untuk bertemu Paul Oakenfold. Terutama jika mengingat kalau dia adalah orang yang hampir sendirian menciptakan gagasan modern DJ superstar, dan yang 30 tahun kariernya telah membuahkan tidak hanya sebuah tempat di Guinness Book of Records (sebagai “DJ paling sukses di dunia”) namun juga satu novel grafis. “Buku ini memetakan lika-liku jalan yang diambil menuju ketenaran, keberuntungan, dan nirwana musik.”

Tapi di sinilah dia, di sebuah taman bisnis tak jauh dari jalanan berkelok-kelok yang diambil ke Basingstoke, mengenakan pakaian olahraga dan memancarkan kegugupan yang mengejutkan menjelang pertunjukannya nanti. Sore nanti, dia akan menjadi DJ pertama yang tampil di Stonehenge, seperti yang digemborkan sebelumnya. Bahkan, dia hampir pasti bukan yang pertama – seseorang pasti telah memainkan sesuatu di antara penampilan Hawkwind dan Gong di festival bebas Stonehenge yang terkenal di tahun ’70-an dan ’80-an. Namun, secara teknis, acara tersebut berlangsung di lahan dekat bebatuan situs historis tersebut, sementara Oakenfold akan tampil tepat di depannya.

Terlebih, ini adalah pertama kalinya English Heritage secara resmi mengizinkan penampilan live di monumen tersebut, meskipun hanya di depan 50 orang penonton terpilih, di antaranya adalah aktor Andy Serkis dan sejumlah kerabat Oakenfold dari masa awal kariernya di acid house dan “second summer of love”: Danny Rampling, Carl Cox, Terry Farley, Nancy Noise, Mark Moore dari S’Express. Kehadiran Moore menggarisbawahi keyakinan Oakenfold bahwa acara ini berfungsi sebagai “perayaan musik elektronik, budaya klub seperti yang kita kenal berumur 30 tahun”.

Acara ini adalah ide dari Alon Shulman, yang merupakan penasihat khusus untuk English Heritage, partner Oakenfold di sebuah perusahaan promosi dan acara, dan bos Universe, promotor di balik festival Tribal Gathering di tahun ’90-an. Dia mengatakan, butuh satu tahun untuk menyusun acara ini – yang juga menjadi pengumuman bahwa “Universe kembali diluncurkan di panggung dunia” – serta menjadi penggalang dana untuk English Heritage. Dulunya didanai pemerintah, organisasi ini kini merupakan lembaga amal yang perlu mengurangi kebutuhan subsidi tahunannya menjadi nol dalam lima tahun. Inilah mengapa penampilan Oakenfold akan dirilis sebagai album amal, sementara Shulman dan sang DJ telah menulis sebuah lagu bersama untuk memperingati acara ini, yang berjudul “Stonehenge”, lengkap dengan sample dari “sounds from up there – the birdsong and, in the faint distance, cars”.

Paul Oakenfold telah bersiap selama berminggu-minggu. Dia mengulurkan apa yang terlihat seperti menu di atas pesawat, yang ditulisi catatan acak-acakan berisi judul dan pengaturan waktu lagu. “Saya menghabiskan waktu di Ibiza, bermain musik, mengatur waktu musik agar pas dengan matahari terbenam. Matahari terbenam itu dramatis. Bagaimana saya menjadikannya pas? Bagaimana saya bisa menyentuhmu secara emosional? Bisakah saya memainkan sesuatu yang mengejutkanmu, yang membuatmu berkata, ‘Ya ampun, saya tidak menyangka dia membawakan ini,’ tapi kemudian Anda membiarkannya dan berkata, ‘Saya mengerti, karena saya memandangi matahari terbenam di Stonehenge’? Ada banyak pertanyaan karena ini adalah sebuah momen besar.”

Terlepas dari segala persiapannya, kecemasan pun tetap ada. Oakenfold mengintip dari jendela hotel dengan muram. “Anda mungkin tidak bisa melihat matahari terbenam karena awan bisa saja menghalangi, kan?” Dan dia khawatir tentang apakah timnya dapat mengatur semuanya dalam waktu 35 menit antara penutupan Stonehenge untuk publik dan mulainya acara. “Kami menggelar latihan kemarin,” dia mengerutkan dahi. “Dan itu tidak berjalan lancar, sebenarnya.”

Pantulan api menyinari Stonehenge. (Foto: Anton Nelson/copyright Alon Shulman)

Tetap saja, kegugupannya mengejutkan, karena tampil di Stonehenge adalah langkah besar yang tampaknya disukai Oakenfold. Dia pernah men-DJ di Tembok Besar China, di tengah hutan hujan di Argentina dan di base camp Gunung Everest, acara yang terdengar seolah akan membuatmu menunda langkah besar untuk selamanya.

“Waktu itu minus 16 dan saya sedang tidur di lantai tenda,” katanya. “Saat kami sampai di gunung, ada hari di mana saya tidak bisa bernapas. Kami berada di ketinggian 16.000 kaki dan saya terus minum Diamox [pil untuk mabuk ketinggian]. Anda sedang mendaki dan kesulitan dan Anda memikirkan keluargamu. Anda mulai takut. Kemudian Anda diberi kabar bahwa, di camp lainnya, orang-orang diangkut dengan helikopter, ada yang meninggal, dan Anda khawatir dengan apa yang akan terjadi kalau saya menyalakan suara dan ada longsoran salju? Semua ini terlintas dalam pikiranmu. Tapi Anda bisa melewatinya.”

Anda bisa memandang acara-acara ini sebagai simbol ambisi baja yang telah menandai karier Oakenfold dari waktu dia dan empat DJ asal Inggris lainnya kembali dari liburan di Ibiza di tahun 1987, di mana mereka mencicipi ekstasi dan musik yang dimainkan di klub outdoor Amnesia – dan memutuskan untuk membuat sesuatu yang serupa di Inggris. Danny Rampling mungkin telah membuka klub acid house paling terkenal di Inggris (Shoom), tapi klub malam rival milik Oakenfold (Spectrum) berada di skala yang jauh lebih besar. Selain itu, dia melihat peluang untuk ketenaran yang terkubur di bawah pembicaraan mabuk tentang egalitarianisme satu cinta dan kebersamaan.

‘Orang-orang diangkut dengan helikopter’, Oakenfold dalam perjalanan menuju Everest. (Foto: Anton Nelson/AFP/Getty Images)

Dengan usahanya sendiri, kariernya benar-benar melesat saat dia me-remix lagu U2 “Even Better Than the Real Thing” – dia mengaku versinya lebih banyak terjual daripada versi aslinya – dan diundang untuk membuka tur mereka. Tapi langkahnya yang paling cerdik mungkin datang pada pergantian milenium, saat dia memfokuskan kembali perhatiannya ke AS, dan dalam prosesnya memulai jejak baru yang EDM—upaya berlebihan AS dalam menciptakan budaya dance—ikuti. “Terima kasih Paul! Terima kasih untuk semua ini!” ucap kartun Calvin Harris di novel grafis Oakenfold. “Tanpamu dan teman-temanmu, dunia ini tidak akan ada! Tidak akan ada Calvin Harris tanpa Paul Oakenfold!”

Novel grafis tersebut ada benarnya. Oakenfold adalah DJ pertama yang melakukan hal-hal yang sekarang sangat penting bagi bintang EDM, termasuk memiliki residency di Las Vegas dan mengubah pertunjukannya menjadi tontonan besar. “Di Vegas,” ujarnya, “kami melihat 50, 60 orang melakukan trapeze. Ada acara yang sedang berlangsung, layar besar. Hal itu menggerakkan saya dari hanya sekadar men-DJ dan melambaikan tangan.”

Memang, hal tersebut kini dianggap sebuah keharusan. Akan menarik melihat kecenderungan Oakenfold untuk acara-acara besar dengan setting yang tidak biasa sebagai cara menaikkan taruhan, sebuah cara besar untuk menggarisbawahi fakta bahwa, saat membahas mahaguru DJ superstar, dialah ahlinya. Tapi tidak, katanya – alasan dia melakukan itu mencakup “maksud baik, meruntuhkan kebiasaan, mendorong musik elektronik dan mengibarkan bendera. Saya sangat bangga menjadi orang Inggris.” Pertunjukan di Stonehenge menarik karena, “Saya melihat gambaran besarnya. Saya adalah seseorang yang berbicara dengan demografis muda di seluruh dunia. Kalau saya bisa berbagi dengan generasi muda ini bahwa English Heritage sangatlah penting, budaya kami begitu penting dan kami perlu melestarikan tempat-tempat ikonik ini, maka akan saya lakukan.”

Dan sekarang untuk Clannad, pemandangan pertunjukan Oakenfold yang diambil dengan drone. (Foto: Anton Nelson/copyright Alon Shulman)

Dan dengan begitu kami berangkat ke lokasi. Kekhawatiran Oakenfold tentang cuaca sore itu memudar: langitnya cerah dan jernih dan, baik kamu percaya dengan mistisisme dan spiritualitas Stonehenge atau tidak, untuk ukuran latar belakang panggung DJ, latar panggung sore itu sangat mengesankan. Seiring kereta kuda menurunkan penumpangnya, semakin jelas bahwa acara ini lebih dari sekadar acara yang unik, meskipun sulit menemukan kata benda yang pas untuk menjelaskan acara ini.

Meskipun ada seseorang yang membagikan glow stick, Anda mungkin tidak akan menyebut acara ini sebagai rave. Pertama, musiknya disiarkan melalui headphone sunyi bergaya disco, karena kekhawatiran akan polusi suara. Kedua, tidak ada yang benar-benar menari. Mereka berkeliaran di sekitar batu-batu, dengan memakai headphone, dan mengambil selfie. Mungkin, kalau ini akhir tahun ’60-an, acara ini bisa disebut sebagai sebuah peristiwa.

Sementara itu, musik yang dimainkan Oakenfold tentunya eklektik. Ada banyak electronica seperti trance yang menjadi spesialisasinya, tapi juga ada lagu The Weeknd “Starboy,” U2 “Love Is All We Have Left,” sedikit soundtrack film – Blade Runner, The Good, the Bad and the Ugly, Gladiator – dan lagu klasik Balearic The Grid “Floatation.” Saat matahari mulai terbenam, musik lagu hit tahun 1982 dari band folk era baru asal Irlandia, Clannad, “Theme from Harry’s Game” mulai berputar di headphone saya. Lagu itu terdengar fantastis. Yang lebih tak terduga, lagu itu disusul dengan suara Andrea Bocelli yang menyanyikan “Nessun Dorma.” Kerabat “second summer of love” Oakenfold tampak menikmatinya. “Saya merasa sedikit tersentuh di tengah bebatuan,” kata Moore sambil tersenyum.

Acara ini dilaksanakan dalam kurang lebih keheningan yang mengerikan, jadi efeknya luar biasa kalau Anda melepas headphone. Ada pengeras suara dekat panggung DJ, tapi diputar begitu pelan sehingga tenggelam dalam suara lalu lintas dari jalanan terdekat. Acara ini tampak spektakuler dan membingungkan di saat yang sama, paling tidak karena dirahasiakan agar para penggemar Oakenfold tidak ikut hadir. Siapa saja yang lewat bisa melihat Stonehenge diterangi dengan warna merah dan biru, dengan orang-orang yang berkeliaran di sekitar situs yang mana English Heritage menghabiskan sebagian besar waktu dengan menjauhkan mereka dari jarak jauh.

Setibanya malam, Oakenfold berdiri di atas panggung kecil, dalam balutan jaket merah, berbagi tugas DJ dengan Cox. Di belakangnya, pantulan api menyinari batu-batu dan lampu sorot terang mengarah ke langit. Dia mengatakan sesuatu tentang bagaimana hidup tidak bisa lebih baik dari “bermain musik di udara terbuka di Stonehenge dan melihat kebahagiaan di wajah orang banyak”. Dia kemudian menambahkan: “Kita berhasil!” Langkah besar lainnya pun sukses terlaksana.

Keterangan foto utama: “Kami menggelar latihan dan itu tidak berjalan lancar”, DJ superstar tersebut melakukan pemanasan di Stonehenge. (Foto: Anton Nelson/copyright Alon Shulman)

Sumber: theguardian 
Posted on September 17, 2018

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

DJ

Beberapa DJ Ini Memilih 7 Lokasi Unik Untuk Setnya!

Dari Steve Aoki hingga Paul Oakenfold, DJ-DJ ini membuktikan tidak ada tempat yang tidak bisa dijamah oleh musik EDM. Baca Juga: Archie, DJ Termuda di Dunia!

on Aug 19, 2019
Paul Oakenfold dan Galestain Rilis “Summer Nights”

Paul Oakenfold dan Galestain Rilis “Summer Nights”

Single ini menandai rilisan ke-50 untuk label Perfecto Black. Legenda musik dance global Paul Oakenfold kembali untuk merayakan rilisan ke-50 untuk label re

on Aug 4, 2019