×
×

Search in Mata Mata Musik

Cerita di Balik Proses Produksi Guava Island

Royalty, kolektif kreatif di balik program TV Atlanta, “This Is America” dan Childish Gambino, menjelaskan bagaimana mereka menciptakan proyek rahasia, Guava Island.

Proses kreatif yang akhirnya melahirkan program TV yang diakui para kritikus, Atlanta, secara tidak sengaja dimulai dengan seorang mantan aktor anak-anak, bintang porno dan rapper yang menjadi viral.

Di 2013, Abella Anderson menjadi pusat hiburan dewasa, Danielle Fishel sudah bertahun-tahun dipecat sebagai pemeran Topanga di Boy Meets World, dan Trinidad James masih memopulerkan “All Gold Everything.” Mereka semua muncul di Clapping for the Wrong Reasons, pengantar visual untuk album Childish Gambino di 2013, Because The Internet.

Baca Juga: Madonna Kembali Dengan Alter Ego Barunya, Madame X

Clapping for the Wrong Reasons, ditulis oleh Donald Glover.
Clapping for the Wrong Reasons, ditulis oleh Donald Glover.

Film pendek itu adalah ciptaan Donald Glover sebelum namanya hadir di Grammy, Emmy, Golden Globes—dan bukti jelas dari ambisi yang kemudian membuatnya sukses mengantongi piala-piala tersebut dalam waktu dekat. Hiro Murai, arsitek visual dari Atlanta dan proyek film Glover lainnya, dipercaya sebagai sutradara.

Royalty, kolektif yang berisi kolega Glover, bertanggung jawab menghasilkan cerita itu. Lika-liku ajaib dan eksistensial melalui sebuah mansion, film berdurasi 20 menit tersebut—yang pada saat itu lebih dianggap seperti budaya internet yang aneh dan berani—kini tampak seperti cetak bitu untuk sebagian besar karya Glover selanjutnya.

Merupakan literasi pertama dari pendekatan pembuatan film yang, enam tahun kemudian, mencapai puncaknya di Guava Island, dibintangi oleh Rihanna dan ditayangkan di Amazon setelah set Glover pada hari Jumat (12/4) kemarin di Coachella.

“[Clapping for the Wrong Reasons] menjadi pengantar bagi Atlanta tetapi juga, saat kami menggarapnya, itu hanyalah sesuatu yang kami luncurkan,” kata Jamal “Swank” Olori, produser dan penulis skenario dan anggota kolektif Royalty. “Tidak ada yang dikreditkan untuk apa pun. Kami tidak tahu apakah itu akan menjadi sesuatu. Itu dibuat di masa-masa mixtape dulu, jadi kami hanya ingin merilisnya.”

“Kami tidak menanganinya dengan matang, dari segi pengembangannya,” lanjut Swank. “Jadi kami selama bertahun-tahun membicarakan akan melakukan itu lagi, dengan energi yang sama dan menghadirkan hal yang sama yang kami bawa ke film itu. Untuk film ini, kami ingin sepenuhnya bisa miliki setelah kami menyelesaikannya.”

Guava Island, film yang diproduseri oleh Donald Glover.
Guava Island, film yang diproduseri oleh Donald Glover.

Di Guava Island, kreditnya jelas. Donald, Stephen Glover, Fam Udeorji, Ibra Ake dan Swank semuanya memiliki peran penting di film ini, yang tayang perdana di Coachella pada hari Kamis dan saat ini bisa di-streaming di Amazon. Film selama 54 menit ini mengikuti kisah Deni Maroon (Glover) dan Kofi Novia (Rihanna) dalam upaya mengadakan festival untuk penduduk pulau fiksi di bawah pemerintahan despotik Red Cargo (Nonso Anozie).

Inspirasi awalnya dimulai di Hawaii saat Donald Glover sedang merekam musik baru, dan punya konsep bebas untuk film yang kemudian mulai dituangkan kerangkanya oleh para anggota kolektif tersebut.

“Kami hanya mengembangkan beberapa ide berdasarkan ide pertama dari Donald untuk sebuah film yang agak terasa seperti City of God dengan latar tropis ini,” jelas Stephen Glover—penulis Guava Island, penulis terkenal di Atlanta, dan adik dari Donald. “Kami membicarakannya dan membahas kisah yang bisa dikaitkan dengan bangsawan kulit hitam. Sesuatu yang terasa seperti semua genre hitam yang keren yang menarik bagi kami.”

Stephen mendasarkan karakter Deni pada kakaknya, berusaha menciptakan karakter yang menginspirasi. Pada saat itu, dia tidak tahu siapa yang akan memerankan Kofi.

“Saya tidak tahu kalau saya menulis untuk Rihanna,” katanya. “Kami sempat memikirkan beberapa orang yang kami ingin memerankannya. Untungnya, kami bisa mengajak Rihanna. Jadi itu bagus. Ada beberapa hal yang kami ubah setelahnya, tetapi sebagian besar, peran itu tidak ditulis secara khusus.”

Setelah Stephen menyelesaikan naskahnya, Ibra (direktur kreatif Royalty) dan Hiro mulai mencari lokasi di Kuba. Ibra menyebut negara itu luar biasa. Terkadang, para pemain dan kru “terputus dari dunia,” tidak dapat mengirim email dari luar hotel atau menggunakan telepon mereka.

“Kami menangani proyek intens ini… Banyak hal logistik yang perlu ditangani. Saya tidak sadar betapa intimnya proses ini,” tutur Ibra.

Di awal film, tiga anak mencoba merampok Deni. Mereka, khususnya, dekat di hati Swank. Dia pernah tinggal di Nigeria dan, saat memulai proses pembuatan Guava Island, bertekad untuk menunjukkan kompleksitas kehidupan mereka.

“Semua orang di sana berjuang bertahan hidup, dan kenyataannya seperti itu di banyak negara dunia ketiga. Kamu tidak punya waktu untuk benar-benar memikirkan apa yang kamu inginkan, [atau melakukan] sesuatu yang berbeda. Kamu memikirkan untuk bertahan hidup, atau memikirkan bagaimana menghasilkan uang, dan itu dimulai dari usia yang sangat muda—yang membentuk kota atau lingkungan.”

Kekuatan pendorong yang menjadi pusat narasi adalah Amerika. Itu adalah simbol penuh warna, yang mewakili pengorbanan yang datang dengan mengejar mimpi yang altruistik. Sebelum Glover membawakan lagu hitnya “This Is America” di film, dia menjelaskan ke koleganya yang miskin mengapa impian mereka untuk pindah ke AS adalah impian yang hampa.

“Amerika adalah sebuah konsep,” kata Deni. “Di mana pun di mana, untuk menjadi kaya, kamu harus membuat orang lain lebih kaya, itulah Amerika.”

Konsepsi tentang Amerika ini—sebagai sistem yang bobrok dan kejam yang sering membangun namun juga sering merusak—adalah sesuatu yang semakin diminati oleh kru Royalty. Beberapa jam sebelum penampilan kakaknya, Stephen mengungkapkan mengapa tema itu menjadi kekuatan penuntun untuk karya terbaru grupnya.

Rihanna berperan sebagai Kofi dan Donald Glover sebagai Deni di Guava Island.
Rihanna berperan sebagai Kofi dan Donald Glover sebagai Deni di Guava Island.

“Saya pikir itu sesuatu yang kami sebagai kru, Royalty, banyak bicarakan. Saya rasa banyak orang, seperti Nipsey Hussle, itu adalah ide kapitalisme di Amerika dan bagaimana hal itu membuat orang tersisih selama bertahun-tahun. Tetapi di saat yang sama, itu punya kekuatan untuk memberdayakan kamu kalau kamu bisa menggunakannya. Gagasan kapitalisme dan hubungan dengan kapitalisme yang terutama dimiliki orang kulit hitam adalah sesuatu yang menarik bagi kami.”

Kematian menjadi tema yang sering muncul di film ini, sesuatu yang dibawa Glover ke set Childish Gambino-nya pada Jumat malam (12/4) di Coachella. Dia sempat menghentikan penampilannya untuk berikan monolog tentang kematian.

“Saya kehilangan ayah saya tahun ini, kita kehilangan Nipsey, kita kehilangan Mac,” kata Gambino kepada penonton. “Apa yang saya mulai sadari adalah, segala yang kita punya hanyalah kenangan, pada akhirnya.”

Fam—setengah dari perusahaan manajemen Wolf + Rothstein, salah satu orang penting yang memandu karier Glover dan anggota Royalty—tampak tenang. Dalam pendekatannya ke film, konsumsi penonton terhadap film jauh lebih penting daripada penerimaan kritisnya.

“Bahkan jika orang-orang membenci film ini, masih ada orang yang menyukainya. Kami membuat film yang, keseringan, ingin dijadikan profit oleh beberapa orang,” cetus Fam.

Meskipun krunya kemungkinan mendapat bayaran yang lumayan untuk film ini—mengingat film ini dijual ke Amazon setelah mereka mengirimkan reel sepanjang empat setengah menit, menurut Vanity Fair—mereka juga memastikan akan membuat film ini bisa ditonton gratis dalam rencana distribusi film.

“Kami pikir sangat penting untuk setidaknya membangun jendela agar orang-orang bisa menonton film ini gratis. Bahwa film ini tidak hanya berakhir di Netflix. Bahwa film ini tidak hanya bisa ditonton di Amazon atau apa pun itu. Bahwa orang-orang berkesempatan menontonnya secara gratis. Hal terbesar kami adalah menawarkan keterbukaan yang cukup bagi orang-orang untuk memahami bagaimana perasaan mereka atas sesuatu.

“Kami tidak banyak bicara, dan mencoba melakukan sedikit lebih banyak.”

Keterangan Foto Utama: Donald Glover di film Guava Island, yang dibintanginya bersama Rihanna. Film ini tayang perdana di Coachella, di mana Glover menjadi penampil utama sebagai Childish Gambino pada Jumat lalu. (Foto via Rolling Stone)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Four Tet Rilis Video Musik Pertamanya dalam 14 Tahun

Four Tet Rilis Video Musik Pertamanya dalam 14 Tahun

Klip “Teenage Birdsong” menampilkan cuplikan pertunjukan live Four Tet yang menakjubkan. Baca Juga: Four Tet Sumbang 3 Lagu Untuk Pameran Lukisan Anna Li

on Jul 15, 2019
Keterangan Foto Utama: Coachella (Courtesy of Coachella)

Siaran Langsung Weekend 1 Coachella Pecahkan Rekor Jumlah Penonton

Akhir pekan pertama Coachella 2019 ditonton langsung oleh sekitar 82,9 juta penonton, atau naik lebih dari 90 persen dari 2018. Oleh Matthew Meadow (Your ED

on May 8, 2019
NSYNC Berencana Kembali Tanpa Justin Timberlake

NSYNC Berencana Kembali Tanpa Justin Timberlake?

Setelah tampil dalam set Ariana Grande di Coachella beberapa saat lalu, boyband yang beken di akhir tahun ’90-an ini dirumorkan akan kembali bermusik sebagai

on Apr 30, 2019
Childish Gambino

Childish Gambino Rilis Lagu Baru Lewat Aplikasi AR

“Algorhythm” sebelumnya sudah pernah dibawakan di salah satu konser live Gambino. Sebagaimana dibuktikan melalui debut film terbarunya di berbagai plat

on Apr 25, 2019