×
×

Search in Mata Mata Musik

Chromeo Tetap Konsisten dengan Head Over Heels

Posted on: 06/20/18 at 6:57 am

Sumber: consequenceofsound.net

Posted on June 18, 2018, 11:45 pm

Dave 1 dan P-Thugg menyelami ranah retro disco funk yang membuat mereka terkenal.

Oleh Tyler Clark (Consequence of Sound)

Intisari: Pada album kelima mereka, Chromeo merayakan pembukaan ruang studio permanen terbarunya di Burbank dengan cara terbaik ala mereka: mengundang legenda R&B zaman dulu dan bintang hip-hop dan soul zaman sekarang untuk sekali lagi menyelam ke ranah retro disco funk yang membuat mereka (dan Chic) terkenal.

Plus: Setelah bekerja sama dengan Solange, Toro Y Moi, dan Ezra Koenig dari Vampire Weekend pada album terakhirnya di 2014, White Women, Dave-1 dan P-Thugg kali ini lebih luas melebarkan jaring kolaborasi mereka, sering kali dengan efek yang menyegarkan: Lagu pesaing musim panas “Must’ve Been” bersinar dengan kontribusi dari rapper asal Virginia DRAM dan mantan gitaris Morris Day and the Time Jesse Johnson, sementara “Just Friends” memperlihatkan Dave-1 melakukan upaya terbaiknya meniru MC Skat Kat dengan duet bergaya “Opposites Attract” (karya Paula Abdul) tentang ketahanan platonik dengan bintang soul yang sedang naik daun, Amber Mark.

Minus: Tergantung pada sudut pandangmu, kekuatan Chromeo sering kali menjadi kelemahannya juga: nilai produksi kromatis band ini terdengar bagus di sound system tapi terkadang menyingkirkan groove mereka yang paling funky sekalipun, dan kecintaan mereka akan bunyi-bunyi vintage masih jauh dari hasil tiruan yang dituju. Selain itu, meski band ini telah berkomitmen terhadap kesadaran seksual (selamat tinggal, kaki perempuan tanpa badan yang terinspirasi dari Helmut Newton), Head Over Heels masih memiliki ruang untuk beberapa kiasan hubungan yang tidak sehat (mantan pacar yang tidak mengerti kata ‘tidak’ di “Bad Decision”, cowok baik yang obsesif di “One Track Mind”) yang, khususnya di era Harvey Weinstein (dengan skandal pemerkosaan di Hollywood-nya) dan incel (orang yang sengaja tidak kawin), melunturkan lagu-lagu itu dari nuansa yang menyenangkan.

Kesimpulan: Tidak ada yang salah dengan keputusan Chromeo kembali ke genre pilihan mereka dengan citra funky mereka, namun tidak ada yang salah juga dengan mereka mengeluarkan album yang buruk. Band beraliran dance yang paling bisa diandalkan di abad ke-21 ini terus mempertahankan konsistensinya di Head Over Heels, yang berisi cukup banyak lagu asyik yang siap diputar di radio yang mungkin juga bisa mendarat di playlist musim panasmu tahun ini dan beberapa tahun ke depan. Jika Chromeo bisa menetap di markas terbaru mereka di California dan terus membolak-balik Rolodex mereka yang semakin tebal berisi nama calon kolaborator, kami akan mengatakan hal ini lagi dalam beberapa tahun.

Lagu Utama: “Must’ve Been”, “Just Friends”, dan “Bedroom Calling Pt. 2”

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

BABYMETAL

BABYMETAL - Metal Galaxy, Penjelajahan Dunia Sonik Baru

Menggabungkan berbagai gaya musik, band asal Jepang ini menyajikan karya paling kreatifnya hingga saat ini, Metal Galaxy. Baca juga: Bagaimana Babymetal Uba

on Oct 11, 2019
Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019