×
×

Search in Mata Mata Musik

Peranan Tiktok Dalam Industri Musik Di Era Smartphone

Posted on: 07/29/19 at 1:00 pm

Munculnya Playlist TikTok di di YouTube, Spotify, dan Apple Music dengan puluhan ribu pendengar, menjadikan platform tersebut memiliki peranan untuk industri musik zaman sekarang.

Baca Juga: Seri Podcast Terbaru Uraikan Kesehatan Mental di Industri Musik

Jalee Baumann (15) terobsesi dengan lagu Mariah Carey, “Obsessed.” Lagu ini dirilis tahun 2009 dan bisa dibilang tidak sepopuler lagu-lagu lain dari Carey—hanya memuncak di posisi No. 7 tangga lagu Billboard 100.

Tapi uniknya, lagu tersebut belakangan ini banyak beredar di TikTok, di mana para penggunanya menciptakan dan mengunggah koreografi tarian yang diiringi lagu itu. Baumann pun sudah membuat versi tariannya sendiri, tetapi “Obsessed”-lah yang membekas pada diri remaja ini.

“Saat kamu menghabiskan seluruh waktumu di TikTok, musik-musiknya mulai menyangkut di kepalamu dan kamu bisa mencari liriknya untuk menemukan lagu asli yang sangat ingin kamu dengarkan,” kata Baumann melalui pesan di Twitter. “Semua teman saya punya TikTok, dan mereka selalu menemukan musik seperti saya.”

TikTok bisa saja dianggap sebagai radio dadakan bagi generasi smartphone saat ini. Viralitasnya yang bercampur musik—yang bisa disangkutpautkan dengan asal-usulnya sebagai aplikasi untuk lip-sync lagu—membuatnya menjadi mesin yang tak terduga di mana anak-anak muda dapat menemukan lagu dan artis baru.

Aplikasi ini sekarang muncul di Spotify dan Apple Music, di mana playlist khusus musik TikTok memiliki puluhan ribu pendengar; di YouTube, di mana banyak lagu dibanjiri dengan komentar dari pengguna yang mengatakan mereka menemukan lagu tersebut di TikTok; dan di industri musik, di mana beberapa promotor belajar menggunakan aplikasi ini sebagai batu loncatan untuk musik baru.

Tapi bukan hanya artis terkenal saja yang mendapat keuntungan dari TikTok. Aplikasi ini memainkan peran sentral dalam melambungkan fenomena budaya yang terus berlanjut bernama “Old Town Road,” lagu dari rapper Lil Nas X, yang digadang akan memecahkan rekor sebagai lagu terlama di peringkat No. 1 Billboard Hot 100, yang melacak lagu-lagu top berdasarkan jumlah penjualan, airplay radio dan streaming.

Radio telah lama mendominasi bagaimana orang-orang menemukan musik baru, menjadikan stasiun radio sebagai titik penting dalam industri rekaman. Peran radio dalam penemuan musik bahkan mampu bertahan meski dihimpit perkembangan internet dan layanan streaming, yang membentuk kembali cara industri menghasilkan pendapatan.

Tetapi radio tidak begitu populer di kalangan pecinta musik yang lebih muda, menurut data dari AudienceNet (sebuah agensi riset konsumen). Di 2018, agensi tersebut menemukan, warga Amerika berusia 16-24 tahun menghabiskan lebih sedikit waktu mendengarkan musik di radio daripada kategori usia yang lebih tua.

Ini Penyebabnya…

Sementara layanan streaming memang menawarkan beberapa cara bagi konsumen untuk menemukan musik baru sesuai selera mereka, TikTok menawarkan hal lain—penemuan yang murni dikurasikan pendengar lain.

“Saat menggunakan TikTok, saya menemukan banyak artis dan genre musik yang biasanya tidak saya dengarkan,” kata Nicole Fiala (17) dari Las Vegas kepada NBC News via pesan Twitter. “Dengan Spotify, saya biasanya mendengarkan lagu dan artis yang sudah saya kenal, atau musik yang sangat mirip dengan musik yang saya suka. Dengan TikTok, ini lebih beragam.”

Musik selalu menjadi bagian penting dari TikTok, yang bermula sebagai aplikasi lip-sync bernama Musical.ly. Setelah aplikasi ini diakuisisi oleh perusahaan teknologi asal China, ByteDance, di 2017, perusahaan mengganti nama aplikasi menjadi TikTok di 2018, tetapi format aplikasi sebagian besar masih sama seperti sebelumnya.

Namun aplikasi ini tidak dimaksudkan sebagai tempat pengguna mengonsumsi musik, melainkan  menggunakan lagu-lagu populer agar mereka memiliki thread yang sama melalui unggahan mereka. Jadi, Fiala dan banyak pengguna lain beralih ke layanan streaming dan YouTube, yang sekarang menunjukkan tanda-tanda kemampuan TikTok untuk mendorong orang ke musik baru.

“Di Spotify … kamu bisa mencari playlist, dan saya mendengarkan playlist berjudul, ‘lagu-lagu tiktok yang menyangkut di kepala saya (tiktok songs that are stuck in my head),’” kata Fiala. Playlist itu memiliki lebih dari 100 lagu dan hampir lebih dari 87.000 pengikut di Spotify.

YouTube pun punya ranah TikTok-nya sendiri. Ketika video orang-orang memasukkan kapas ke mulut mereka dengan iringan lagu Lizzo “Truth Hurts” menjadi sensasi di TikTok, halaman YouTube video itu mencerminkannya.

“Siapa yang dari tiktok juga?” tulis satu pengguna.

“50% kolom komentar adalah orang-orang dari TikTok,” tulis pengguna lainnya.

Sebagai Upaya Menghasilkan Uang…

Gelombang orang-orang yang bertolak dari TikTok ke aplikasi streaming musik tidak luput dari perhatian beberapa orang di industri musik yang melihat ini sebagai sebuah peluang.

Baca Juga: BLACKPINK Kembali Cetak Sejarah Di Industri Musik!

Michael Pelchat (21), alias @NiceMichael di TiKTok, adalah orang pertama yang mengunggah “Old Town Road” ke aplikasi untuk memfilmkan dirinya menari dengan pakaian koboi menggunakan lagu ini.

“Saat itu saya hanya sedang melihat-lihat di Twitter, dan saya melihat audio sepanjang lima detik, seperti, video selama lima detik yang menampilkan seseorang melakukan hal-hal bodoh, tetapi lagu itu mengisi latarnya. Lagunya hanya berbunyi, ‘I got the horses in the back,’ dan saya pikir, ‘Saya harus menemukan lagu ini,’” jelas Pelchat.

Sebagian dari pendapatan Pelchat sekarang berasal dari mempromosikan lagu-lagu di TikTok. Dia bekerja sama dengan Muuser—agensi pemasaran influencer untuk musik yang bertindak sebagai perantara antara label rekaman dan bintang TikTok. Untuk setiap lagu yang ia promosikan, Pelchat mengaku menghasilkan antara $300 hingga $600. Beberapa promosi terbarunya termasuk lagu Black Eyed Peas “Be Nice” dan Maxo Kream “She Live.”

“TikTok adalah platform audio, di mana video menjadi media yang digunakan untuk mengekspresikan minat pada musiknya,” kata Max Bernstein, pendiri Muuser. “Di TikTok, kalau kamu tertarik dengan musiknya, kamu membuat videonya, dan fokusnya tetap di musiknya.”

Tidak ada jaminan atau rumus khusus untuk sukses di TikTok, menurut Bernstein, dan meskipun ada beberapa bentuk kurasi tentang lagu apa yang didorong label rekaman di aplikasi, penggunanyalah yang menentukan lagu mana yang akan menjadi besar.

“Sejauh label rekaman dapat menghasilkan semacam kesuksesan viral adalah tujuan semua orang, tetapi komunitas ini secara keseluruhan toh tidak dikuratori oleh bisnis musik,” kata Bernstein.

Beberapa label rekaman telah menyaksikan kesuksesan musik di TikTok dan melewatkan peran perantara untuk fokus langsung membeli iklan di aplikasi untuk memasarkan artis mereka.

Teenear, seorang penyanyi asuhan Slip-N-Slide Records yang berbasis di Miami, mendorong labelnya untuk mempromosikan lagunya “I LIke It” di TikTok.

“Begitu dia memberi tahu saya tentang aplikasi ini, saya harus menyelidikinya. Aplikasi ini sempurna,” kata CEO dan pendiri Slip-N-Slide Ted Lucas. “Mungkin sekitar enam bulan yang lalu, kami enggan menggunakan TikTok tetapi sekarang … lagu-lagu [kami] menjadi viral.”

Sejak awal, Teenear mengatakan dia merasa TikTok akan menjadi tempat di mana artis dapat memasarkan lagu mereka secara organik kepada audiens yang lebih muda, dan mengatakan “I Like It” terus tumbuh berkat platform ini.

“Saya ingin lebih condong ke kalangan remaja dan anak-anak. Kalau mereka mendengar lagu milik seseorang yang mereka kagumi, baik mereka suka atau tidak suka, mereka akan mendengarnya, jadi saya pikir TikTok adalah cara yang bagus untuk melepas lagu saya ke luar sana,” ungkap Teenear.

Artikel asli ditulis oleh Kalhan Rosenblatt untuk NBC News dan sudah melalui proses penyaduran serta pengeditan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Keterangan Foto Utama: TikTok milki penggemar yang besar dan terbukti berhasil meningkatkan penyebaran musik-musik baru maupun yang sudah lama terlupakan. (Foto: Google Images)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Porsche Taycan Akan Jadi Mobil Pertama dengan Apple Music Bawaan

Porsche Taycan, Mobil Pertama dengan Built-In Apple Music

Porsche Taycan tidak hanya akan menjadi mobil serba elektrik pertama dari pabrikan asal Jerman ini, tetapi juga akan menjadi mobil pertama dengan fitur aplikas

on Aug 22, 2019
Persaingan Spotify & Apple Music di Ranah Podcast!

Persaingan Spotify & Apple Music di Ranah Podcast!

Dua raksasa streaming musik ini berlomba menguasai pasar podcast dengan investasi dan akuisisi, tetapi ini masih bisa dimenangkan siapa saja. Entah kalian m

on Aug 7, 2019
Corey Taylor Anggap Layanan Streaming Musik Bikin Artis Bangkrut

Corey Taylor Anggap Streaming Musik Bisa Bikin Musisi Bangkrut!

Corey Taylor juga mengungkapkan, pendapatan utama band berasal dari tur dan mungkin sebagian dari merchandise, sementara streaming tidak menghasilkan apa pun.

on Aug 7, 2019
Jimin BTS

3 Lagu Jimin BTS Kumpulkan Total 192 Juta Streams di Spotify!

“Intro: Serendipity,” “Lie,” dan “Serendipity (Full Length Edition)” masing-masing memiliki lebih dari 50 juta streams. Baca Juga: BTS Bikin Pen

on Aug 6, 2019