×
×

Search in Mata Mata Musik

Dead Vertical “XVII”: 17 Tahun Ke Atas Menggerinda Baja

Posted on: 01/10/20 at 10:26 am

DEAD VERTICAL XVII
Cover album ‘XVII’ milik Dead Vertical. (Gambar: Blackandje Records).

DEAD VERTICAL
XVII
(2019, Blackandje)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Band grindcore yang resmi dideklarasikan di Jakarta pada 22 November 2001 ini namanya kian melesat sejak membuka konser pionir grindcore legendaris asal Inggris, Napalm Death pada 2007 lalu di Jakarta dan disusul dirilisnya album full length kedua, Infecting the World (Rottrevore, 2008) dengan formasi trio yang tetap solid hingga kini: Boy A. Wibowo (vokal/gitar), Bony Suhendra (bass/vokal latar) dan Arya G. Laksana (dram). Dilanjutkan album ketiga, Perang Neraka Bumi (Rottrevore, 2011) yang agak kental nuansa death metalnya, dan album keempatnya, Angkasa Misteri (Three Sixty, 2016) pun kurang lebih sama. Dan tibalah di album kelima Dead Vertical untuk memperingati usia band ke-17 tahun yang sengaja diberi judul simpel dengan font Romawi angka tersebut sebagai selebrasi dari segala pencapaian yang mereka raih dalam perjalanan panjang karir main bandnya di scene musik berisik Tanah Air.

Kelebihan: Selain sebagai bentuk selebrasi, XVII merupakan rangkuman dari evolusi musikal Dead Vertical sejak album debut Fenomena Akhir Zaman (2004) hingga ke tiga album selanjutnya yang masing-masing memiliki sesuatu yang berbeda dengan benang merah grindcore sebagai pakemnya. XVII yang memang sudah dipersiapkan menampilkan 17 lagu baru secara garis besar direksi musikalnya kembali ke gaya ‘straight-forward’ grindcore seperti yang terekshibisi di album Infecting the World. Yaitu di mana mereka menggeber lagu-lagu eksplosifnya secara cepat-padat-singkat, ada yang berdurasi sekian detik, satu hingga dua menit dan alhasil memiliki jumlah trek yang lebih banyak untuk memenuhi standar total durasi sebuah album full length (minimal 28-30 menit). Langkah yang mereka ambil sangat tepat mengingat Infecting the World telah direken sebagai ‘blueprint’ musik Dead Vertical yang menjadi titik balik dan roket yang meluncurkan trio penggerinda asal Jakarta Timur ini ke level-level berikutnya.

Tujuh trek pertama memaparkan gaya ‘gaspol-nampol’ tersebut, dibuka oleh ‘Kill the Wall’ dan disusul berturut-turut oleh ‘TV Pembodohan’ yang memprotes penipuan publik via media, ‘Minus Toleransi’ tentang intoleransi antar pemeluk agama, ‘Gadget Slave’ tentang kritik terhadap adiksi teknologi modern, ‘Bajingan Jalanan’, ‘Doktrinator Teror’, dan ‘Jalang’. Dan mereka tidak ingin pendengar jengah dengan nuansa monolitik secara kontinyu berkepanjangan, maka lagu selanjutnya, ‘Bloody Roads’ turun tempo sejenak dengan irama thrash metal yang mengingatkan Sepultura era Chaos AD untuk mengendurkan urat kaku setelah kebut-kebutan bertegangan tinggi. Setelah rehat, tekan tombol turbo lagi untuk nomor-nomor sarat blastbeat dram: ‘Gugur Muda’, ‘Bulungan Bergetar’ sebuah theme song untuk Bulungan Outdoor, Jakarta Selatan sebagai gig venue yang paling bernilai historis bagi tiap band yang sudah merasakan manggung di sana. Kemudian ‘Low Generation’ kembali turun tempo dan terdapat bagian groovy yang ciamik, sebelum kembali ngebut dengan ‘Lembah Hitam Biologis’, ‘Si Mulut Besar’, ‘Senja Liar’, ‘Dimensi Fatamorgana’ – di bagian groovy lagu ‘ini, vokal Boy muncul mengejutkan dengan sedikit ‘offside’ bergaya southern rock ala Arian (Seringai) atau Dodi Hamson (Komunal), dan ‘Buronan’, sebelum akhirnya ditutup oleh ‘17+’, sebuah trek instrumental bercorak industrial metal ala Ministry atau Godflesh tanpa ada tendensi band ini untuk tampil eksperimental, hanya sebagai musik pengiring closing ceremony album selebrasi ini.

Hal yang paling berperan besar mengidentifikasikan grindcore selain blastbeat dram ‘grinding’ adalah riff simpel ala hardcore/punk dengan versi picking yang lebih agresif. Dan di album ini Boy menciptakan dan mengeksekusikan riffing yang terbaik pada tiap lagunya yang bersingkronisasi dengan cabikan bass Bony dan gempuran dram Arya. Dan semua aspek tersebut ditunjang oleh kualitas dan karakter sound rekaman organik yang selaras.

Kekurangan: Waktu sesi rekaman dan tanggal rilis album ini terjadi pada 2019 yang berarti usia Dead Vertical seharusnya 18 tahun karena lahir dan berdiri pada 2001. Jumlah trek di album ini pun 18 dengan trek ke-18 berupa hidden track berjudul ‘Electro Visual Adiktif’ yang merupakan singel rilisan 2018. Meski disebut hidden track, durasi jeda lagunya terbilang normal, hanya 11 detik setelah trek ke-17 berjudul ‘17+’ usai menggedor speaker. Umumnya hidden track memiliki durasi jeda yang lama, dari 1 hingga 8 menit atau bahkan lebih, pendengar dibuat tidak tahu di menit detik berapa lagu tersembunyi ini akan muncul. Mungkin lebih tepat jika menggunakan angka 18 atau ‘XVIII’ sebagai judul album dan singel tersebut termasuk dalam track list utama atau direkam ulang dalam sesi rekaman 2019 tersebut jika tidak ingin ‘belang’ soundnya. 18 tahun juga merupakan fase usia remaja ‘youth gone wild’ jika mengutip istilah Skid Row yang memiliki hit lawas ’18 and Life’.

Kesimpulan: Dari segi musikalitas, Dead Vertical memberikan contoh gamblang bahwa grindcore yang keren tidak harus puritan. Menginkorporasi elemen lain seperti death metal, thrash metal, dan lain-lain ke dalam sebuah komposisi musik selama tidak keluar pakem justru akan menambah nilai kualitas jika diaransir secara cerdas.

Verdict: 7,5/10

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Napalm Death

Napalm Death "Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism": Kembalinya Sang...

Cover album Napalm Death Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism. (Gambar: Century Media Records). NAPALM DEATHThroes Of Joy In The Jaws Of Defeatism(2020, C

on Sep 19, 2020
Patrick Mameli (Pestilence)

Patrick Mameli (Pestilence) "Jerinx" Versi Death Metal Tolak Konspiras...

Patrick Mameli, mastermind Pestilence. (Foto: The Moshville Times). Patrick Mameli, vokalis merangkap gitaris Pestilence belum lama ini ngobrol bareng Heavy

on Sep 14, 2020
Mitch Harris

Band Baru Mitch Harris (Napalm Death) & Dirk Verbeuren (Megadeth) Siap...

Brave The Cold: Mitch Harris dan Dirk Verbeuren. (Foto: Mission Two Entertainment). Akhirnya, terjawab sudah pertanyaan para fans Napalm Death tentang absen

on Sep 10, 2020
Flea

Diduga Cari Inspirasi Lagu, Flea (RHCP) Kepincut Cannibal Corpse: Mere...

Flea (Foto: Philip Cosores) / Eks-vokalis Cannibal Corpse Chris Barnes (Foto: via Publisitas). Flea, bassis maestro Red Hot Chili Peppers (RHCP), dalam semi

on Sep 10, 2020