×
×

Search in Mata Mata Musik

DeadSquad, Ikon Death Metal Indonesia Yang Mampu Hidup Di Dua Dunia

Posted on: 05/5/21 at 12:00 pm

DeadSquad, Ikon Death Metal Indonesia Yang Mampu Hidup Di Dua Dunia
DeadSquad formasi 2021. (Foto: Instagram/possessedtomerch).

DeadSquad adalah nama yang sudah enggak asing lagi di kancah musik Indonesia. Meski mengusung genre death metal yang notabene pasarnya mayoritas di ranah underground, sepak terjang DeadSquad terdengar di atas permukaan seluruh pelosok negeri bahkan hingga manca negara.

Baca juga: Isyana Sarasvati Debut Label Indienya Via Single Prog-Rock ‘UNLOCK THE KEY’

Di antara begitu banyaknya band metal di Indonesia, hanya segelintir nama yang berhasil menjulang tinggi hingga diakui eksistensinya secara terhormat di industri musik mapan. Dari nama legendaris seperti Rotor, Sucker Head, Roxx, Edane, Power Metal, Burgerkill, Jasad, Seringai hingga DeadSquad.

Band pengusung gaya technical death metal yang penuh hantaman blast beat dan aransemen njelimet ini termasuk sebagai band metal yang sering tampil di acara di luar dunia ‘bawah tanah’. Mereka mampu berbaur dengan dunia yang sama sekali tidak cadas. Bersanding dengan artis pop, jazz, hip hop atau apapun termasuk seniman komedi dan film. Beberapa video berikut ini adalah di antara bukti kehadiran mereka di ‘dunia luar’ metal tersebut.

Dan selama lebih dari satu tahun pandemi Covid-19, DeadSquad juga kehilangan job panggung yang merupakan penghasilan utamanya.

DeadSquad X Isyana Sarasvati

Namun untungnya, mereka masih diberi kesempatan untuk tampil di depan publik walaupun secara online pada 10 April lalu. Dan suguhan mereka kali ini benar-benar di luar dugaan. Cetusan ide cemerlang yang melahirkan performa duet ‘crossover’ antara DeadSquad dan Isyana Sarasvati di festival musik I Don’t Give A Fest (IDGAF) 2021. Mereka sukses menjadi ‘highlight’ konser virtual yang digagas Pop Hari Ini tersebut. Respons yang luar biasa enggak hanya datang dari ‘PasukanMati’ (fanbase DeadSquad yang tersebar di banyak kota di Indonesia), melainkan dari hampir semua kalangan pecinta musik. Kolaborasi lintas genre yang dijuluki ‘Deadsyana’ itu dinobatkan sebagai kolaborasi paling epik . Unik, cutting edge dari berbagai sudut pandang, dan mengandung musikalitas level teratas. Keren maksimal! Tonton video performa lengkapnya di sini, bray.

Isyana Sarasvati yang menemukan jati dirinya sejak lagu ‘LEXICON’, mempertegas kejujuran jiwa musikalnya melalui dua single ‘UNLOCK THE KEY’ dan ‘IL SOGNO’. Dua lagu ini menyuguhkan kombinasi ciamik antara simfoni opera klasik dan progressive rock/metal. Suatu korelasi yang menjadi rantai pengubung pada gaya technical death metal DeadSquad.

Dan sejak permintaan para penggemar yang kuat untuk tidak berhenti di IDGAF saja, akhirnya kolaborasi ‘DeadSyana’ berlanjut hingga ke rekaman! Yes, DeadSquad dan penyanyi cantik bertalenta tinggi ini telah merekam lagu Isyana, ‘IL SOGNO’ dengan aransemen baru yang lebih cadas pastinya. Lagu ‘IL SOGNO’ versi ‘Deadsyana’ ini akan dirilis sebagai single melalui berbagai platform digital. Can’t hardly wait!

Reputasi Brand DeadSquad

Selain itu, DeadSquad juga berkolaborasi dengan beberapa lini bisnis yang menggunakan ‘brand reputation’ bercitra sangar dan tangguhnya. Pertama, DeadSquad Burger dari Gooddaddy Burger yang gerainya tersebar di Jabodetabek. Kedua, Deadshoe, Deadshoe Redemption, dan Deadshoe Dvrkstellar, tiga seri desain sepatu berlogo DeadSquad dari Beazt, brand sepatu lokal yang berkualitas. Ketiga, Dead Messenger, tas dan jaket DeadSquad dari Vlata. Keempat, Immortal, kemeja bordir DeadSquad dari Conflux.

Dan masih banyak merchandise DeadSquad lainnya yang dirilis dalam setahun terakhir ini. Artinya, revenue band ini ‘enggak kosong-kosong amat’ selama konser offline ditangguhkan hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Tetapi bagaimanapun, revenue band tetap menurun drastis dan memengaruhi para personelnya sebagai musisi ‘full time’ untuk memutar otak agar tetap survive.

Album Baru DeadSquad

DeadSquad juga sedang berada di tengah proses rekaman album barunya yang materi mentahnya sudah dipersiapkan sejak 2018. Album full length ke-4 mereka yang diberi judul Omeg4litikum sudah sangat diantisipasi perilisannya pada tahun ini oleh para penggemar loyalnya. Informasi itu diperoleh dari sang gitaris dan produser kreatif, Stevi Item yang selalu menggoda penggemar dengan membagikan foto dan video aktivitas prosesnya ke media sosial. Sedikit bocoran, mereka sudah selesai merekam single pembuka berjudul ‘Paranoid/Skizoid’. Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Omeg4litikum sekaligus menjadi debut penampilan rekaman bagi dramer baru DeadSquad, Roy Ibrahim. Meski baru berusia 15 tahun alias ABG, skill anak ini terbilang edan. Roy, yang asal Surabaya, disejajarkan levelnya dengan mantan dramer DeadSquad yang beken, Andyan Gorust. Video aksi dram di kanal YouTube pribadi Roy dan DeadSquad sudah dibagikan ribuan kali oleh netizen yang melambungkan nama penggebuk dram muda ini. Roy pertama kali dikenal lewat band brutal death metal, Gerogot asal kota kelahirannya itu.

DeadSquad Dihantam Kasus ‘Narkoboi’

Namun yang sangat disayangkan, momentum baik itu harus dikacaukan oleh kasus narkoba yang menyeret Daniel Mardhany, sang vokalis DeadSquad. Daniel ditangkap polisi di kediamannya di Pamulang, Tangerang Selatan pada hari Sabtu, 1 April. Esok harinya, nama dan wajah Daniel menjadi headline di seluruh media besar di Indonesia, bahkan manca negara. Meskipun tidak ditemukan barang bukti, hasil tes urine menyatakan Daniel positif memakai ganja dan benzodiazepin, sejenis obat penenang yang termasuk golongan psikotropika.

Penangkapan Daniel merupakan pengembangan dari keterangan Auliya Akbar, dramer band death metal Revenge, yang juga mantan dramer DeadSquad. Kapolres Metro Jakarta Utara Guruh Arif Darmawan mengatakan Auliya Akbar lebih dulu diciduk aparat di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.

“Berdasarkan informasi masyarakat diduga adanya tindak penyalahgunaan narkotika yang dilakukan oleh AA, kemudian dilakukan penangkapan terhadap tersangka AA,” kata Guruh saat konferensi pers, Senin, 3 April.

Dari penangkapan Auliya Akbar, polisi mengamankan barang bukti berupa tembakau sintetis dengan berat 2,57 gram dan satu buah handphone. Dari mulut Akbar, keluarlah nama Daniel Mardhany. Doi mengaku mendapat tembakau sintetis dari kawannya yang hobi mengoleksi vinyl itu. Polisi bergerak cepat memburu Daniel di kediamannya, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

“Setelah dilakukan interogasi benar didapatkan informasi bahwa tersangka AA mendapatkan barang bukti berupa narkotika jenis tembakau sintetis dari tersangka DM,” ujar Guruh Arif.

Tidak ditemukan tembakau sintetis saat menggeledah Daniel Mardhany. Tetapi, polisi mengamankan satu butir obat Prohiper yang masuk kategori psikotropika golongan 2.

Kini, Daniel dan Akbar ditahan di Polres Jakarta Utara. Status kedua musisi ini menjadi tersangka terkait pasal 127 Ayat 1 huruf A UU RI No. 35 tahun 2009 tentang narkotika. Atas kasus ini, AA terancam 4 tahun penjara, sedangkan Daniel terancam 2 tahun penjara.

Alasan Pakai ‘Narkoboi’

Daniel mengaku mengonsumsi narkoba karena sepi job di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai. “Iya pandemi penyebabnya. Enggak ada panggung sama sekali, kalian bisa ngertiin,” kata Daniel saat dihadirkan dalam jumpa pers di Polres JakUt, Senin, 3 April.

Yang pasti, kejadian ini memberikan efek jera. Daniel mengaku menyesal. “Saya menyesal telah menggunakan narkoba dan kasus ini membuat saya jera,” katanya.

Sama halnya dengan Daniel, Akbar juga mengaku menyesal. “Saya juga menyesal telah menyalahgunakan barang-barang ini. Saya sampaikan ke teman-teman untuk hindarilah dan menjauhkan diri dari benda-benda ini,” kata dramer yang bermain di beberapa band bergenre cadas ini.

DeadSquad Tetap Jalan

Dari pihak manajemen DeadSquad telah mengonfirmasi bahwa DeadSquad tetap melanjutkan proses penggarapan album baru mereka walau badai menerpa. Seperti yang ditulis di media sosial resmi band sambil mengunggah video jamming Stevi Item dengan dramer Sepultura Eloy Casagrande meng-cover lagu ‘Arise’ milik band thrash metal legendaris asal Brazil itu.

“Untuk @PasukanMatiIndonesia jangan kendor semangatnya, album sedang dikerjakan. Sementara ini belum bisa berkomentar banyak tentang berita yang beredar. Mudah-mudahan video ini bisa kalian nikmati untuk menenangkan hati dan pikiran. DeadSquad akan terus berjalan dan tidak mengecewakan kalian. Enjoy the video and stay away from drugs!”

Sejarah Perjalanan DeadSquad

Sekitar bulan Februari 2006, sepasang gitaris, Stevi Item (Andra and the BackBone) dan Ricky Siahaan (Step Forward/Seringai) bersama bassis Bonny Sidharta (eks-Tengkorak) ingin membentuk band tribute yang meng-cover lagu-lagu metal. Mereka mengajak dramer Andyan Gorust yang kebetulan pada saat itu baru mengundurkan diri dari Siksakubur. Setelah jamming bareng beberapa saat kemudian karena kesibukan lainnya, Ricky memutuskan untuk mundur dan digantikan oleh Prisa (eks-Zala) pada Juni 2006. Atas kesepakatan bersama, tanggal 29 Agustus 2006, band ini resmi bernama “DeadSquad”.

Perjalanan terus berlanjut ke pencarian vokalis hingga akhirnya Babal (eks-Alexander) bergabung pada Oktober 2006. Formasi ini bertahan hingga merilis demo bertajuk “Horror Vision Promo 2008”. Seiring dengan perkembangannya, sebelum membuat album studio, konsep musikalitas DeadSquad berubah menjadi lebih ekstrim. Pada November 2007, Prisa memutuskan untuk mundur, sementara DeadSquad terus berjalan dengan format gitar tunggal sambil mencari gitaris melalui jamming dengan beberapa gitaris lewat gigs satu hingga gigs yang lain. Akhirnya mereka menemukan gitaris yang tepat, yaitu Coki Bollemeyer yang dikenal sebagai gitaris Netral (sebelum berubah jadi NTRL). Di saat yang bersamaan, Babal juga memutuskan untuk mundur dan posisinya digantikan oleh Daniel Mardhany (Abolish Conception) melalui proses audisi. Maka terbentuklah formasi yang dianggap sebagai formasi ‘klasik’: Stevi Item (gitar), Coki Bollemeyer (gitar), Bonny Sidharta (bass), Andyan Gorust (dram), dan Daniel Mardhany (vokal).

Formasi klasik Deadsquad 2009
Formasi klasik DeadSquad, 2009.

Horror Vision

Deadsquad - horror vision

DeadSquad akhirnya berhasil merilis album studio perdananya, Horror Vision, tiga tahun sejak dibentuk, bertepatan dengan momentum konser monster metal asal Amerika Serikat, Lamb of God, pada 9 Maret 2009 di Senayan, Jakarta, di mana DeadSquad menjadi band pembukanya. Proses pengerjaan album ini digarap di Dapoer Rekaman Soeara Madjoe Studio yang menghabiskan waktu 20 shift untuk rekaman seluruh instrumen termasuk vokal. Workshop secara intens dilakukan sejak awal Februari 2009 hingga proses rekaman di akhir bulan itu.

Tidak seluruh materi lagu benar-benar matang karena keterbatasan-keterbatasan. Seperti lagu ‘Bangsat Kuasa’ yang liriknya ditulis oleh Babal, diaransir ulang dan berganti lirik menjadi ‘Sermon of Deception’ yang digubah oleh Daniel. Sekitar 70%-80% materi dalam album ini merupakan peninggalan dari personel sebelumnya, dan digarap oleh personel yang baru, bahkan sebagian materi sudah ada yang direkam. Lagu yang paling siap direkam saat itu adalah ‘Horror Vision’, ‘Dominasi Belati’, dan ‘Hiperbola Dogma Monoteis’.

Proses kreatif konten album ini berangkat dari riff dasar yang diciptakan oleh Stevi, kemudian dikembangkan oleh Coki kemudian diaransir dan digarap bersama-sama. Adapula yang diawali dari dram terlebih dahulu baru kemudian riff gitar mengikuti hentakan dram. Seluruh energi masing-masing personel tercurah untuk dapat menyelesaikan album ini. Terutama bagi Stevi, mengingat album ini adalah album pertamanya dengan band yang benar-benar doi dirikan dari awal. Proses mixing dan mastering digarap selama dua hari oleh Miko Valent di WannaB Studio, yang mana terbilang cukup ekspres karena tenggat waktu rilis yang pendek. Artwork dan layout album ini digarap oleh Andyan Gorust serta dirilis melalui Rottrevore Records di Indonesia dan di Malaysia oleh Dark Coleseum Records.

Album Kickstart nan Kickass!

Lagu ‘Pasukan Mati’ sebagai pembuka dan ‘Horror Vision’ sebagai penutup album ini. Dengan bonus track lagu daur ulang Sepultura yang berjudul ‘Arise’. Lagu paling beken dari album ini adalah ‘Manufaktur Replika Baptis’. Bahkan lagu ini terpilih sebagai Favorite Metal Song tahun 2010 saat gelaran event “1st Indonesia Cutting Edge Music Awards 2010” (ICEMA) di Kuningan, Jakarta. Dan masuk ke dalam album kompilasi “Agents Of Brutality: Indonesian Brutal Death Metal Compilation” yang dirilis oleh Bizarre Sounds Production tahun 2010.

Jerih payah DeadSquad mewujudkan album ini membuahkan hasil dengan antusiasme publik dan sambutan komunitas metalhead yang luar biasa. Impresi pertama, sebanyak lebih dari 300 kopi CD yang dijual di booth merchandise saat konser Lamb of God terjual dalam hitungan jam. Pada masa itu seluruh penjualan musik di Tanah Air sudah mulai sangat tidak kondusif mengingat maraknya pembajakan dan unduhan ilegal. Bahkan album ini terjual habis 2.000 kopi dan dirilis ulang dalam format CD dan vinyl pada Maret 2013 oleh Armstretch Records dan format kaset pada akhir 2014 oleh Alaium Records.

Profanatik

Deadsquad - profanatik

Album kedua, Profanatik, dirilis pada 30 November 2013 oleh Amrstretch Records yang kemudian disusul dengan konser DeadSquad pesta peluncuran album melalui event yang digelar di Bulungan Outdoor, Jakarta pada 22 Desember 2013, didukung oleh band-band cadas lain seperti Servants of Divinity, Carnivored, dan Straightout sebagai aksi pembukanya. Dalam album ini, DeadSquad melibatkan musisi senior Jopie Item (ayahanda Stevi Item) untuk mengisi solo gitar di lagu ‘Natural Born Nocturnal’. Selain itu ada Okky Maleh mengisi synthetizer serta Risye yang mengisi biola pada lagu ‘Ode Kekekalan Pusara’, di mana lagu ini sebagai pembuka album. Seperti album sebelumnya, mereka kembali merekam lagu daur ulang sebagai bonus , kali ini lagu Jimi Hendrix ‘Fire’ dan secara hidden track.

Profanatik ini digarap secara analog sehingga menuntut energi dan fokus yang tinggi dalam penggarapan rekamannya. Tidak seperti rekaman dengan proses digital saat ini, rekaman secara analog tidak dapat mentoleransi kesalahan, di mana setiap kesalahan akan mengulang kembali setiap proses ‘take’ lagu dari awal. Hal ini menuntut personel untuk memiliki konsentrasi yang tinggi sehingga tidak terjadi kesalahan yang akan berimbas ke lamanya waktu dan keseluruhan rangkaian jadwal rekaman.

Tantangan demi tantangan dapat dilewati hingga akhirnya album ini dirilis. Sama dengan album sebelumnya, Profanatik masih tetap digawangi oleh Stevi (gitar), Andyan (dram), Bonny (bass), Coki (gitar), dan Daniel (vokal). Digarap selama kurang lebih dua bulan di Studio Syailendra dengan proses mastering dan mixing di Studio Wanna B oleh sound engineer Miko Valent. Artwork album ini dikerjakan oleh Aditia Wardhana yang di dalam bookletnya terdapat total 10 desain yang berbeda dan diirilis semua merchandise-nya.

Bonny Out, Alan In

Namun setahun setelah perilisan album kedua mereka ini, Bonny Sidharta hengkang dari band pada Maret 2014. Setelah itu pun DeadSquad belum juga menetapkan siapa pengganti resminya sampai akhirnya mereka merekrut Arslan “Alan” Musyfia yang saat itu main di Carnivored dan Funeral Inception.

Silakan mendengarkan album Profanatik secara lengkap di sini.

Tyranation

DeadSquad - tyranation

Album ketiga ini dirilis tanggal 30 Oktober 2016, menyusul pesta peluncurannya di Kemang, Jakarta pada 20 November 2016. Dalam rekaman Tyranation, DeadSquad berkolaborasi dengan musisi-musisi dan seniman top, yakni Andra Ramadhan (Andra and the BackBone) yang mengisi solo gitar di lagu ‘Menyangkal Sangkakala’, Arie Dagienkz atas kontribusi vokalnya pada lagu yang sama, Dewa Budjana (Gigi) mengisi gitar di lagu ‘Apocalyps For Sale’ dan Stephan Santoso (Musikimia) untuk sound engineer gitar, Sujiwo Tejo yang memberikan ‘Mantra’ dan nuansa kuno pada lagu pembuka ‘Enter the Wall of Tyranation – (Jancuk)’ dan penutup ‘Hymn of Infinite Anxiety’. Serta Adam Vladvamp (Koil) dengan kontribusinya untuk background noise dalam album ini.

Kolaborasi tersebut merupakan langkah baru dalam perjalanan musikal DeadSquad dan merupakan bagian dari upaya pembuktian bahwa kebrutalan musik death metal yang ekstrim tidak mengenal batas kreativitas dalam menghasilkan karya seni dan tetap menjadi refleksi diri. Proses penggarapan album ini terbilang unik, karena setiap kegiatan dan aktivitas di dalam studio didokumentasikan berupa jurnal video yang diunggah ke YouTube resmi DeadSquad. Dan jurnal video ini merupakan suguhan pra-album bagi para “PasukanMati” yang terdiri atas beberapa bagian.

Terinspirasi dari Pink Floyd dan David Bowie

Proses kreatif dan musikalitas album ini menghadirkan suatu konsep yang terinspirasi dari ‘alter ego’ lagu ‘The Wall’ Pink Floyd atau ‘Ziggy Stardust’ David Bowie (“The Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders From Mars”), yakni konsep yang banyak bercerita dari sudut pandang sang penulis Daniel Mardhany. Tyranation juga mereprentasikan ide dan pengaruh dari masing-masing personel dari album digawangi oleh Stevi (gitar), Andyan (dram), Alan (bass), dan Daniel (vokal). Proses mixing dan editing album ini dikerjakan oleh Miko Valent dan Stephan Santoso serta mastering oleh Stephan Santoso.

Album Tyranation pertama kali dipromosikan lewat tur album pertama kali mereka di Jepang. Sepulang dari negeri sakura, lagu dari album ini, ‘Pragmatis Sintetis’ berhasil meraih penghargaan Karya Produksi Metal/Hardcore Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2017.

Gonta-Ganti Personel

Deadsquad - tyranation line-up
Ki-ka: Stevi, Alan, Daniel, Karis, Andyan.

Pada periode ini, formasi yang dianggap paling solid oleh “PasukanMati” akhirnya pecah, diawali dengan mundurnya Coki, sebagai gitaris pada Desember 2015, karena fokus dengan kegiatan dan proyek musik di luar band ini. Tetapi Coki juga memberikan kontribusinya di album ketiga ini pada lagu ‘The Comfort of Retardation’ dan solo gitar lagu ‘Tyranation’. Posisi Coki ini akhirnya digantikan oleh Karis (ILP Project).

Setahun lebih berselang, sang dramer ikonik, Andyan Gorust mengikuti jejak Coki mengundurkan diri di bulan Februari 2017, dan menyusul pencabik bass Alan Mursyifa sebulan kemudian yang resmi mundur bulan Maret 2017, baik Andyan Gorust dan Alan yang mundur dan lebih memilih bermain di Hellcrust. Dengan mundurnya Coki, Andyan, dan Alan, menyisakan Stevi dan Daniel sebagai personel inti DeadSquad.

Untuk mengisi posisi dram, Auliya Akbar (Revenge) didapuk sebagai pengganti yang pas. Sementara posisi bass diisi oleh Anak Agung Gde, yang keduanya terpilih melalui proses audisi. Dengan session player untuk bass pada waktu itu adalah Welby (Carnivored). Baik Akbar dan Agung masing-masing berstatus additional player ketika tampil di acara “Jakarta Rockulture 2017” yang juga merupakan debut pertama mereka sekaligus rilis merchandise terbaru DeadSquad yakni sepatu kolaborasi “Abigail X DeadSquad” Tyranation Shoes. Acara ini diselenggarakan di “Kuningan City Mall”, Jakarta bertajuk “The Headbanger Years” dimeriahkan oleh 10 band cadas Indonesia termasuk DeadSquad. Tidak hanya sepatu, merchandise DeadSquad juga meliputi Skateboard dan Helm.

Kembali Tur Jepang

DeadSquad - japan tour 2018
Ki-ka: Alvin, Karis, Daniel, Agung, Stevi.

Dinamika pergantian personel terus berlanjut di penghujung tahun 2017. Akbar memutuskan mundur pada Desember 2017 untuk melanjutkan kegiatan dan aktivitasnya di luar band. Hal itu dilakukannya seusai suatu event komunitas di Kemang, Jakarta yang menjadikan panggung terakhirnya bersama DeadSquad. Posisi doi ini akhirnya dilanjutkan oleh Alvin Eka Putra (Noxa).

Dan dengan formasi ini, Deadsquad berhasil menggarap single yang bertajuk ‘Blessphemy’ pada Juni 2018. ‘Blessphemy’ ini diambil dari split album pertama Deadsquad bersama band experimental grindcore asal Jepang, The Kandarivas. Album split yang bertajuk 3593 Miles of Everloud Musick. Setelah itu, Deadsquad kembali melakukan tur ke Jepang yang diberi judul “Spawning Snakegoat Seeds Japan Tour 2018”.

Tur Eropa Bareng Burgerkill

DeadSquad bersama Burgerkill berhasil melakukan tur Eropa yang masing-masing disokong oleh program Djarum Super yang bertajuk “Supermusic Super Invasion 2018”. Burgerkill telah berangkat pada Senin, 15 Oktober, sementara DeadSquad baru berangkat hari Rabu, 17 Oktober 2018. Meski masing-masing memiliki jalur tur yang berbeda di Eropa namun pada satu titik di Belanda mereka bertemu sepanggung untuk berkolaborasi. Deadsquad tur ke Austria, Jerman, Swiss, Perancis, dan Belanda. Sedangkan Burgerkill menyambangi Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, Ceko, dan Polandia. Pertemuan Burgerkill dan Deadsquad sendiri di Eropa terjadi di Amsterdam, Belanda pada 25 Oktober 2018.

Baca juga: Viscral Membantai Secara Cermat Via “Entrance Into Terrifying Imagery”

Tur Eropa Kedua Bareng Viscral

DeadSquad kembali menghajar Eropa di tahun berikutnya. Kali ini bersama sesama band death metal, Viscral dari Bekasi, Jawa Barat. Mereka tur bareng di bawah bendera “The Devourer European Tour 2019” dengan menghajar panggung Death Fest Open Air (Festival) di kota Andernach, Jerman pada 24 Agustus. Dilanjutkan pada 26 Agustus di Basel, Swiss, 29 Agustus di Praha, Ceko, 30 Agustus di Torture The Masses (Festival) di Leipzig, Jerman, dan berakhir di The Cave, Amsterdam, Belanda pada 31 Agustus 2019.

Horror Vision Reunited

Berawal dari rencana untuk membuat 10 tahun “Horror Vision Show”, hingga akhirnya terbentuk formasi reuni “Horror Vision”. Daniel, Stevi, Coki, Andyan, dan Bonny dengan berkumpul kembali pertama kali di studio latihan pada 5 Februari 2019. Setelah sekian lama berpencar dengan kesibukan masing-masing. Formasi ini tampil perdana di “DeadSquad Horror Vision Reunited 2019” yang digelar di Bulungan Outdoor, Jakarta pada 10 Maret 2019 yang dibesut oleh FireFest. DeadSquad tampil dengan dua formasi, formasi baru saat itu dan formasi reuni. Hingga hari ini, formasi ‘klasik’ reuni ini masih menerima job manggung jika waktunya memungkinkan bagi mereka. Dan tarifnya pun berbeda dengan formasi biasa. Lebih rendah atau lebih tinggi? Ada deh! Kepo ya, hehe.

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Richard Volx & Soul And Kith

    Richart Volx X Soul And Kith Remake 'Sleep Dream RipEAT' Bisinggama

    Gumaman jujur terhadap carut marutnya penanganan pagebluk masih bergulir di benak setiap orang. Demikian halnya dengan Richart Volx, Gumaman itu pun lantas

    on Oct 6, 2021
    Thulcandra

    Thulcandra Rayakan Esensi Black/Death Metal Via Album "A Dying Wish"

    Foto: dok. Napalm Records. Thulcandra kembali membawa berita gembira. Setelah pengumuman album baru mereka, A Dying Wish, bersama dengan single pertamanya '

    on Oct 6, 2021
    Portrayal of Guilt

    Portrayal Of Guilt Lepas MV Lagu Horor Dari Album Mendatang

    Portrayal of Guilt (Foto: Addrian Jafaritabar). Portrayal of Guilt telah merilis lagu baru berjudul '…Where the Suffering Never Ends' dari album full-leng

    on Oct 5, 2021
    Death Metal

    30 Album Klasik Yang Membuat 1991 Sebagai Tahun Terbaik Death Metal

    Death metal. Yup, mendengar namanya saja sudah memberi kesan yang mengerikan. Nama ini memang sangat cocok mewakili segala aspek yang terdapat di genre mus

    on Oct 1, 2021