×
×

Search in Mata Mata Musik

Death Vomit “Dominion Over Creation”: Dominasi Raja OSDM Yang Tak Terbantahkan

Posted on: 08/3/20 at 11:00 am

Death Vomit "Dominion Over Creation": Dominasi Raja OSDM Yang Tak Terbantahkan
Cover album Death Vomit Dominion Over Creation. (Gambar: Demented Mind Records).

DEATH VOMIT
Dominion Over Creation
(2020, Demented Mind)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Band death metal sepuh yang berdiri sejak 1995 ini genap berusia 25 tahun pada tahun “twenty twenty sucks”. Dalam rangka merayakan rentang karier panjang seperempat abadnya, Death Vomit memuntahkan album baru yang menjadi hadiah paling mengerikan dari trio barbar kelahiran Yogyakarta yang terdiri dari Sofyan Hadi (vokal/gitar), Oki Haribowo (bass) dan Roy Agus (dram) untuk para fans yang telah mendukung mereka selama ini. Album ini kembali diproduksi dan dirilis secara DIY (bukan Daerah Istimewa Yogyakarta loh, melainkan Do It Yourself alias independen) di bawah bendera indie label yang dikelola Roy Agus ketika Death Vomit merilis mini album debut Eternally Deprecated, 1999 silam. Direkam tahun lalu di Rockstars Studio, Yogyakarta oleh sound engineer Donney Wagna dan proses mixing dan mastering-nya oleh Arif Wahyu Ramadhan di Transient Rekordworks pada awal tahun ini. Serta Donny D. Novaz kembali diberi kepercayaan menuangkan karya terbaiknya untuk artwork cover album ini setelah menggoreskan tintanya untuk album sebelumnya, Forging A Legacy (2014).

Baca juga: DEATH VOMIT – Ngobrol Seputar Album Baru (MMM Artist Talk)

Kelebihan: Impresi spontan gue saat pertama kali mendengarkan single ‘Where the Devil Blessed’ yang menjadi trek pembuka album ini hanya tiga kata, yakni: beda, OSDM (Old School Death Metal) dan segar. Kenapa beda? Karena nggak ada satu pun lagu dari album-album sebelumnya, Death Vomit bermain di tempo bervoltase rendah seperti di bagian-bagian awal lagu ini. Meski demikian, dari not pertama hingga not terakhir sukses menjadi lagu banger dengan riff sederhana nan gagah namun memiliki daya tikam yang sama kejam. Kenapa OSDM? Tanpa embel-embel OSDM, pada dasarnya Death Vomit adalah pelaku OSDM yang lahir di era kejayaan OSDM itu sendiri, namun pendekatan musikal di lagu ini makin memperkental kadar nuansa OSDM-nya menjadi lebih hitam pekat. Kenapa segar? Suatu hal yang berbeda daripada sebelumnya belum tentu selalu menyegarkan, namun lagu “pemanasan” ini memiliki pesona yang mampu membuat hati dan pikiran yang kusut menjadi lurus berkat kekuatan riff-riff dan beat-beat headbanging yang memorable.

Ulasan trek pertama tadi kurang lebih juga representatif terhadap trek-trek berikutnya. Seperti ‘In War for Deliverance’ yang diawali oleh hantaman ganas sarat blast beat dan di pertengahan lagu menampilkan beat-beat groovy bertempo pelan yang infeksius. Serangan brutal death metal bermain pola yang sama dilanjutkan di ‘Ancient Spell of Evil’ dengan bagian tengah yang turun tempo walau nggak segoyang sebelumnya namun lebih menggelora seraya Sofyan melantun guttural growl bait lirik: “Gates to hell are open wide, Evil spell eternal inside”, serta maraknya interlude yang variatif di sana-sini. Pola kegilaan yang sama kontinyu diterapkan dalam ‘Armour of God’ dan ‘Wings of Wrath’.

Salah satu poin penguat kadar OSDM-nya adalah trek instrumental petikan gitar clean mencekam ‘Silence Was Shall Be’ sebagai pengantar menuju trek ke-7, ‘Fallen into Fury’ sebelum disambung ke ‘Unleash the Beast’ yang ditutup oleh teriakan Sofyan: “I watch you die!” yang panjang dan fade out. Trek pamungkas, ‘Empire Enforced’, di bagian akhirnya kembali menampilkan hal yang memorable, kali ini beat-beat bertempo pelan berbalut riff ikonik yang mengiringi Sofyan bersajak “Comes the one culmination / Leaving a trace of devil destruction / Rebuilding human civilization / Empire enforced to self-realisation”. Bait lirik tersebut kurang lebih merupakan kesimpulan tema sentral Dominion Over Creation yang memiliki plot cerita seseorang yang awalnya sangat taqwa kepada Tuhan kemudian berbalik menjadi seorang penghujat Tuhan (blasphemer) setelah malapetaka menimpa diri dan keluarga tercintanya. Menggunakan metafora peperangan antara kerajaan surga dan neraka yang memperebutkan kekuasaan (dominion) atas (over) creation (makhluk ciptaan Tuhan).

Secara keseluruhan, highlights dari tiap komposisi musiknya ada empat. Pertama, riff-riff dengan aksentuasi yang crystal clear menyemburkan nada-nada jahat nan gelap namun catchy as fuck yang dimainkan secara agresif di mana fast alternate picking-nya benar-benar konstan dan menuntut tenaga yang lebih sekaligus akurasi dan presisi. Kedua, vokal guttural growl Sofyan yang berlafal lebih jelas, contohnya tanpa baca lirik pun sepintas kita tahu kata-kata yang doi ucapkan. Ketiga, struktur lagu yang solid tanpa aransemen rumit namun tepat semua sasaran serta lebih eksploratif. Bukan seberapa teknikal atau brutal permainan lo, tapi lebih kepada efek dahsyat yang dihasilkannya. Keempat, kita jadi bisa mendengar kegilaan dramnya Roy yang lebih variatif berkat progresi konsep musik aktualnya.

Kekurangan: Ibarat dua mata koin yang berbeda, di satu sisi ‘Silence Was Shall Be’  tetap menjadi salah satu kelebihan album ini, tetapi di sisi lain justru sebaliknya. Entah kenapa sulit mengenyahkannya dari kepala gue, intro lagu ‘Torn into Enthrallment’ dari album Pierced from Within-nya Suffocation tiap gue menyimak nomor instrumental tersebut walau atmosfernya lebih mencekam dan kuat vibe 1990-annya.

Kesimpulan: Setelah malang melintang selama dua dekade lebih dengan segudang pengalaman dan prestasi yang di dalamnya memiliki banyak cerita suka dan duka, termasuk album ini, Death Vomit hanya mengantongi 1 EP dan 3 LP. Namun meski Death Vomit nggak bisa seproduktif Cannibal Corpse atau Kataklysm dalam hal melengkapi diskografi, dengan jarak album ke album yang agak lama, mereka berhasil membuktikan dan menegaskan bahwa tiap album yang dirilis menampilkan kualitas yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dan di usianya yang sekarang, Death Vomit telah mencapai titik puncak kreatifitas yang mencakup kematangan emosional, karena setelah disimak dari berbagai sudut pandang, Dominion Over Creation berhasil memenuhi kriteria untuk sebuah album death metal dalam format yang paling sejati.

Verdict: 9

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Sufism

    Sufism "Republik Rakyat Jelata": Sorotan Death Metal Pada Alam & Keari...

    Sufism. (Foto: dok. Sufism). Nama band ini memang sama sekali nggak merefleksikan tema atau karakteristik musik death metal. Sufism, sufisme atau dalam ajar

    on Dec 19, 2020
    Kaligula

    Album Kaligula "Doctrination of Atisamdha" Melebur Death Metal & Karaw...

    Kaligula. (Foto: dok. Kaligula). Terbentuk pada 2007, Kaligula awalnya mengusung musik alternative rock ala "Seattle Sound" alias grunge yang formasinya ter

    on Dec 16, 2020
    Skeptis

    MV 'To The Black Propaganda' Jadi Letusan Perdana Skeptis Di Scene Dea...

    Skeptis. (Foto: dok. Skeptis). Setelah komposisi dari rangkaian materi Skeptis sudah terkumpul dan sudah sesuai dengan apa yang diharapkan, band death metal

    on Dec 12, 2020
    Deathorchestra live

    Kolaborasi Epik "Tribute To DEATH" Persilangan Death Metal dan Simfoni...

    Deathorchestra. (Foto: via YouTube). Kolaborasi antara raungan cadas heavy metal dan harmoni elegan simfoni orkestra telah terbukti sebagai suguhan yang spe

    on Dec 7, 2020