×
×

Search in Mata Mata Musik

Demonstration Effect “Human Demise”: Brutalitas Raga Lama Ruh Baru

Posted on: 08/7/20 at 11:00 am

Demontration Effect "Human Demise": Brutalitas Raga Lama Ruh Baru
Cover album Demonstration Effect Human Demise. (Gambar: Infect Art Production).

DEMONSTRATION EFFECT
Human Demise
(2020, Infect Art)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Demonstration Effect (DE) bukanlah nama baru di scene musik metal ekstrim bawah tanah Bali. Bahkan band death metal ini tergolong sepuh karena terbentuk sejak 1997 dengan formasi Leonk (dram/vokal), Agus Komar (bass), Surya (gitar), Palwod (vokal). Namun sayangnya DE bernasib sial. Pada tahun 2000, materi rekaman mini album debut DE hilang di home studio mereka. Sejak musibah itu, para personil DE kehilangan semangat untuk menggarap album lagi walau masih tetap sering tampil di banyak gigs. Nggak lama kemudian DE berstatus hiatus sejak Leonk dan Palwod pindah domisili, masing-masing hijrah ke Lombok dan Bandung. DE aktif kembali pada 2007 tetapi dengan nama baru, Human Demise lantaran terjadinya perubahan formasi dengan direkrutnya dua personil baru, yakni Dharma (dram) dan Chaplin (vokal) untuk menggantikan Leonk dan Palwod. Sempat bermain di beberapa gigs, akhirnya mereka sepakat kembali menggunakan nama DE dan menggarap materi lama yang belum pernah dirilis dari dulu dan ditambah materi baru yang terjadi selama kurun 2013-2017. Singkat cerita, setelah penantian panjang karena terbentur oleh kesibukan lain tiap personilnya, album debut DE yang diberi judul Human Demise ini akhirnya bisa terselesaikan dan dirilis pada awal Agustus 2020 melalui indie label Infect Art Production.

Baca juga: Grausig “Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone”: Landmark IDDM Bangkit Dari Kubur

Kelebihan: Atmosfer death metal era 1990-an begitu menyeruak ke sanubari sejak trek pembuka ‘Hidup Kekal’ berkumandang tanpa belas kasihan menghajar kuping. Riffing-nya terdengar thrashy dan catchy yang berpadu harmonis dengan gempuran dram sarat blast beat. Dari awal sampai akhir memprovokasi headbanging secara bertubi-tubi. Trek-trek berikutnya seperti ‘Human Demise’, ‘Incantation’ dan lainnya pun menggeber gaya yang sama. Dengan aransemen yang terbilang sederhana, mereka lebih fokus menonjolkan beat-beat headbanging ketimbang pamer brutalitas dan teknikalitas di hampir semua bagan musik lagunya. Tempo musiknya pun cukup variatif. Selain serangan death/thrash yang menggigit melalui peran besar riffing-nya, salah satu highlight album ini adalah trek pamungkas berlirik sastra Hindu berjudul ‘Artha Arthi’ yang menampilkan permainan bernada pentatonik gamelan Bali di bagian pertengahan lagu yang dibalut groove-metal hingga akhir lagu. Hebatnya nggak terdengar canggung melebur bersama nuansa old school brutal death metal.

Kekurangan: Dalam cover CD-nya nggak menyertakan lirik lagu-lagunya. Ada beberapa bagian aransemen dan riff yang menyerupai Suffocation dan Cannibal Corpse. Memang, band Bali nggak wajib menghadirkan elemen etniknya, namun kombinasi ciamik yang terjadi di lagu ‘Artha Arthi’ sayang sekali nggak diterapkan di semua lagu.

Baca juga: Trauma “Balakosa”: Pelestari OSDM Yang Otentik

Kesimpulan: DE adalah macan yang kembali mengaum setelah bangkit dari masa hibernasinya. Membawa materi lama dengan semangat baru. Dengan susah payah, DE berusaha menggali sejarah yang nyaris terkubur selamanya. Meski belum memberikan kekuatan maksimal, DE telah membuktikan betapa tajamnya taring mereka.

Verdict: 7

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Patrick Mameli (Pestilence)

Patrick Mameli (Pestilence) "Jerinx" Versi Death Metal Tolak Konspiras...

Patrick Mameli, mastermind Pestilence. (Foto: The Moshville Times). Patrick Mameli, vokalis merangkap gitaris Pestilence belum lama ini ngobrol bareng Heavy

on Sep 14, 2020
Mitch Harris

Band Baru Mitch Harris (Napalm Death) & Dirk Verbeuren (Megadeth) Siap...

Brave The Cold: Mitch Harris dan Dirk Verbeuren. (Foto: Mission Two Entertainment). Akhirnya, terjawab sudah pertanyaan para fans Napalm Death tentang absen

on Sep 10, 2020
Flea

Diduga Cari Inspirasi Lagu, Flea (RHCP) Kepincut Cannibal Corpse: Mere...

Flea (Foto: Philip Cosores) / Eks-vokalis Cannibal Corpse Chris Barnes (Foto: via Publisitas). Flea, bassis maestro Red Hot Chili Peppers (RHCP), dalam semi

on Sep 10, 2020
Band yang Diboikot Disney

15 Band Cadas Yang Diboikot Oleh Walt Disney Karena Alasan Yang Ironis

Bagaikan molekul kimiawi yang berbeda, raksasa korporat Disney dan musik cadas bisa dibilang nggak diciptakan untuk saling bertemu dan bersatu, karena sela

on Sep 3, 2020