×
×

Search in Mata Mata Musik

Divine “Digital Infection”: Old School Thrash Yang Lebih Infeksius

Posted on: 01/17/20 at 4:07 pm

DIVINE - DIGITAL INFECTION
Cover album ‘Digital Infection’ milik Divine. (Gambar: Metal Agent Records).

DIVINE
Digital Infection
(2019, Metal Agent)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Divine terbentuk pada Januari 2001 oleh gitaris Ucokk Tampubolon (almarhum) di Jakarta. Nama Divine diambil dari salah satu judul lagu raksasa nu-metal Amerika Serikat, Korn. Divine di awal kemunculannya mengusung groove metal dengan formasi Ucokkk Tampubolon (gitar), Ino Muralino (dram), Jimmy Pitstop (vokal), Beamy Bagaskoro (bass). Pada pertengahan 2004, Divine bergabung dengan album kompilasi Strip Hitam (apresiasi untuk Perjuangan HAM Indonesia yang diprakarsai oleh mahasiswa/i Universitas Trisaksi, Jakarta) dengan singel, ‘Jangan Tindas, Jangan Bungkam’. Setelah Strip Hitam dirilis, Jimmy mengundurkan diri untuk bersolo karir. Tak lama kemudian Divine mendapatkan vokalis baru, Indra Prambudi. Pada Oktober 2005 dengan formasi baru ini, Divine mengikuti album kompilasi Revolution of Sounds (ZR/Sony BMG) dengan singel, ‘Humanorphia’ dan disusul merilis mini album berisi 5 lagu yang berjudul Relevasi.

Pada 2007, Beamy mengundurkan diri dan digantikan oleh Ben Alif Gunawi. Sejak itu, Divine mengubah total genre musiknya dari groove metal menjadi thrash metal. Setelah melalui proses pembuatan materi, Divine masuk studio rekaman selama Juli 2007, dan pada Agustus 2008 merilis album debut full length-nya, Anger Thy Giveth dengan distribusi nasional via Alfa Records.

Pada Januari 2010, Indra mengundurkan diri dan digantikan oleh Aji Kurnia. Menyusul Muhamad Heyckel masuk mengisi posisi gitar pada November 2010. Sejak kehadiran Heyckel membuat Divine semakin ingin menerapkan konsep ‘double lead guitar’, yang menjadi karakter sebagian besar band-band thrash metal dunia. Dengan formasi baru ini, Divine menggempur panggung demi panggung dan mulai mencuri perhatian sebagian metalhead. Hingga akhinya, Divine masuk ke studio lagi untuk merekam album selanjutnya, dan jadilah Long Live Thrash Metal yang dirilis oleh Hitam Kelam Records pada Maret 2015. Album ini sekaligus sebagai album terakhir dan perpisahan dengan sang founder, Ucokk Tampubolon yang mengembuskan nafas terakhirnya pada Agustus 2015 setelah berjuang melawan penyakitnya. Divine pun lantas resesi sejenak dan berujung dengan pengundurdirian Aji Kurnia sebelum akhirnya Andi Jaka (Supersucks, Alien Sick) masuk menggantikannya. Sebelum itu Ben Alif telah hengkang dan digantikan Wisnu Made (eks-Oracle). Dan sejak Amink (Sinusitis) direkrut sebagai bassis, posisi Wisnu pindah ke gitar sebagai tandem riffing dan soloing-nya Heyckel.

Dan formasi Divine ‘Mark VI’ inilah Andi Jaka (vokal), Heyckel (gitar), Wisnu (gitar), Ino (dram) dan Amink (bass) yang menjadi pewaris almarhum untuk terus menghidupkan Divine hingga akhirnya berhasil merilis album Digital Infection yang dirilis pada 22 November 2019 lalu melalui Metal Agent Records. Album ini didedikasikan untuk Alm. Ucokk Tampubolon, Alm. Beamy Bagaskoro, Alm. Robin Hutagaol, dan semua metalhead di seluruh Indonesia.

Kelebihan: Penempatan lagu pertama, ‘Setan Berserikat’ yang berhasil menyedot jiwa raga saya masuk dan hanyut dalam moshpit brutal imajinatif hasil ciptaan raungan thrash metal galak komposisi musiknya. Dengan durasi 3 menit 6 detik, lagu tersebut memiliki daya atraktif nan eksplosif yang kuat melalui riffing dan pattern vokal yang sarat refrain backing gang vocals seru. Sama halnya dengan lagu ketiga, Berhala Dunia Maya. Dari awal hingga akhir menghantam tanpa ampun sekaligus berhasil menyajikan bagian-bagian yang memorable. Namun di bagian bridge pertengahan lagu terdengar eksploratif dari leading bassline, solo gitar clean hingga dual solo gitar sebelum menuju kembali ke refrain gang vocals penyulut sing along: “Berhala! Dunia Maya! Berhala! Berhala Dunia Maya!”.

Lagu keempat, ‘Story Goes On…’, tampil mengejutkan di mana Divine pertama kali menyuguhkan lagu ballad yang begitu emosional dan lirih didedikasikan untuk orang-orang tercinta yang telah berpulang. Lagu ini memperlihatkan vokal merdu Andi Jaka yang prima mengingatkan ke Geoff Tate (Queensryche) dengan tunjangan ritem dan solo gitar akustik yang ciamik. Lagu keenam, Enigma, nomor instrumentalia epik berdurasi 6 menit 57 detik yang mengekshibisi teknikalitas level berikutnya dengan bertebaran aneka ragam ‘guitar wars’, dari nuansa njelimet hingga harmonis walau pengaruh Megadeth ‘Rust in Peace…Polaris’ cukup menyeruak di beberapa bagian musiknya. Nah, lagu ketujuh, Jajan Metal, sebuah nomor bersenang-senang dengan unsur humor yang merupakan representasi dari metalhead era ‘90an yang menyajikan romantisme tersedianya kaset VSP Malaysia di toko kaset Sarinah Blok M, Majalah HAI sebagai barometer berita musik metal, dan band-band lawas dari God Bless, Metallica hingga Obituary. Selain memiliki aransemen ringan dan catchy, juga memiliki daya anthemic bagi metalhead seusia para personil Divine maupun metalhead lintas generasi yang hobi jajan metal.

Lanjut, lagu kedelapan, Ironi, yang menampilkan eks-vokalis Aji Kurnia berbagi mikrofon dengan Andi Jaka. Inilah lagu paling bertempo cepat dan galak di album ini yang lagi-lagi berhasil tampil impresif dengan aransemen musik dan vokal yang classy sekaligus ‘in your face’ alias menampar. Vokal Aji Kurnia tampil di depan dan prima dengan karakter serak merdunya yang ‘11-12’ dengan Phil Rind-nya Sacred Reich, go-kill. Lagu ini ditutup oleh riuh ‘LMFAO’ (Laughing My Fucking Ass Off) alias ngakak guling-guling jahat ala ‘Master of Puppets’-nya Metallica di mana para personil Divine menertawakan lucunya ironi negeri ini.

Kekurangan: Trek pembuka album ini, Login, berupa komposisi instrumental simfonik yang melankolis agak tidak nyambung sebagai intro lagu pertama Setan Berserikat yang bernuansa ugal-ugalan. Kemudian lagu kedua, Grievous, menggeber riffing utama dan refrain vokal, ehem… tidak bisa dipungkiri, merupakan hasil modifikasi ‘tricky’ salah satu hits lawas Testament, ‘Souls of Black’. Pada lagu kelima, Digital Infection, juga mengalami hal serupa. Di bagian refrain-nya terasa sekali ‘Out of Sight, Out of Mind’-nya Anthrax yang menghantui kepala saya. Sayang sekali, padahal sisa lagu ini sudah berjalan dengan aransemen apik chorus vokal, riffing intrikatif dan duel solo gitar maut.

Kesimpulan: Meski belum bisa sepenuhnya keluar dari bayang-bayang para pahlawan metal masa remaja mereka dalam menggarap materinya, Divine telah berhasil mengembangkan musikalitasnya secara signifikan melalui album ini termasuk mampu memberikan ‘vibe’ thrash metal old school yang tepat. Lagu-lagu seperti Setan Berserikat, Berhala Dunia Maya dan Ironi justru lebih ‘stand out’ ketimbang lagu lainnya yang lebih teknikal dan menyerempet ke wilayah progresif layaknya Annihilator atau Toxik.

Verdict: 7/10

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Riley Gale

Niat Hanya Tribute, Action Figure Riley Gale (Power Trip) Menuai Pemin...

Riley Gale. (Foto: The Photo Access). Riley Gale, menjelma sebagai sosok musisi karismatik yang mati muda di tengah menanjaknya karier Power Trip, band thra

on Sep 23, 2020
Mitch Harris

Band Baru Mitch Harris (Napalm Death) & Dirk Verbeuren (Megadeth) Siap...

Brave The Cold: Mitch Harris dan Dirk Verbeuren. (Foto: Mission Two Entertainment). Akhirnya, terjawab sudah pertanyaan para fans Napalm Death tentang absen

on Sep 10, 2020
Band yang Diboikot Disney

15 Band Cadas Yang Diboikot Oleh Walt Disney Karena Alasan Yang Ironis

Bagaikan molekul kimiawi yang berbeda, raksasa korporat Disney dan musik cadas bisa dibilang nggak diciptakan untuk saling bertemu dan bersatu, karena sela

on Sep 3, 2020
Metallica konser drive-in

Pandemica! Beginilah Penampakan Konser Drive-In Pertama Metallica

Metallica tampil di konser drive-in pertamanya. Pada Sabtu malam, 29 Agustus lalu, Metallica menyiarkan konsernya ke ratusan teater drive-in dan outdoor di

on Aug 31, 2020