×
×

Search in Mata Mata Musik

Djenks & Barisan Lintas Genre Tampil Di Album Kompilasi Soundemic Vol. 1

Posted on: 03/4/21 at 1:00 pm

Djenks & Barisan Lintas Genre Tampil Di Album Kompilasi Soundemic Vol.1

Seperti halnya menggarap sebuah album musik, membuat album kompilasi juga memiliki tantangan tersendiri. Apalagi jika konten album tersebut memuat banyak lagu dari berbagai jenis, gaya, atau sebut saja genre musik. Kalau sekadar nyomot dan menyatukan lagu-lagu lintas-genre tersebut dalam satu kemasan kompilasi, ya simple saja. Tetapi apakah metode asal nyomot tersebut bisa dipertanggung jawabkan, baik dari sisi musikalitas hingga komersil? Biasanya sih enggak bisa, serta berakhir enggak jelas tujuan dan dampaknya.

Baca juga: Kisah Lagu ‘Bad Boys’ Inner Circle Yang Membuat Reggae “Great Again”

Dalam pekerjaan yang satu ini, dibutuhkan ‘pagar’ atau konsep yang membentuk ‘lapangan bermain’ bagi album kompilasi. Paling enggak audiens nanti bisa paham, sebenarnya apa yang ingin disajikan oleh album. Dengan demikian selama menyimaknya, audiens masih berada di koridor yang sama. Begitu juga dengan album Soundemic Vol. 1 ini.

Sekilas ketika kita melihat playlist Soundemic Vol. 1 melibatkan 11 band dan musisi dengan varian genre serta corak yang beragam, mungkin kita dengan mudah menilainya asal nyomot saja. Nyatanya enggak! Enggak hanya lintas genre, para pengisi kompilasi ini juga bisa beda gaya/warna walau satu genre. Misal ada tiga band yang selama ini diketahui ada di barisan “Jamaican Sound” (Sound Solution, Sentimental Moods, dan Djenks), namun uniknya masing-masing memiliki warna tersendiri di karya-karya mereka.

Djenks, hibrida reggae dan punk rock

Contoh paling gambang adalah D’Jenks, band yang memadukan unsur reggae dengan attitude punk rock. Formasi terkininya terdiri dari Mr. Rumput (vokal), Rama Adhitya (gitar), Bayu Satria (kibord), Christo Putra (dram), Ario Nugroho (gitar), Nur Mahdi Amin (bass). Terbentuk di tahun 2003 dari komunitas Under’ Moestopo’ Ground dan Univ. Sahid.

Musik D’Jenks banyak terpengaruh oleh Toots and The Maytals, Operation Ivy, The Dead 60’s hingga The Clash.  Musik reggae yang dimainkan D’Jenks lebih banyak menggunakan distorsi gitar dengan sound mentah karena mereka enggak mau terpaku pada stereotype bahwa reggae itu Bob Marley dan harus merah kuning hijau, karena sebenarnya lebih luas dari itu.

Djenks.

Soundemic Menyatukan Varian Genre

Balik lagi ke Soundemic. Selain Jamaican Sound seperti Djenks, ada barisan ‘mahzab’ elektronik dan hip-hop, sebut saja seperti SickStudio Clan dan Dangerdope, atau bisa jadi Racun Kota. Coba simak, kita akan tersirat benang merah elektroniknya, namun masing-masing memilih unsur pengayaan musiknya dengan cara dan keunikan tersendiri. Bahkan Hahawall, Syifa Sativa, dan juga The Sleting Down, yang terdengar seperti teralienasi, beda sendiri, dengan teman-teman satu kompilasinya. Sleting Down dengan warna rockabilly-nya tetap terdengar nyambung dan melebur dengan lainnya. Lalu warna balada folky ala Syifa Sativa, yang bukannya bikin drop dan tenggelam di tengah kompilasi yang didominasi keriuhan suara dan efek-efek gahar, tapi malah stand out, jauh dari diremehkan. Terdeteksi bahwa dua band ini tetap memiliki rumpun akar yang sama: attitude rock and roll dengan filosofi penuh eksplorasi, pemberontakan, dan kejahilan!

Apalagi jika bicara Hahawall, band asal Jakarta, yang mengajak audiens-nya berkontemplasi dengan sajian-sajian noise raungan gitar, efek, bahkan harmoni nyeleneh. Apalagi kalau bukan (lagi-lagi) soal filosofi di atas yang melatar belakangi kreativitas mereka?

Benang merah ini terus menjalar hingga ke band-band lawas yang terhitung legendaris di scene punk dan keluarganya seperti The Sabotage dan The Stocker ini. Dengan tekstur warna musik serta sound mereka yang sudah jadi trade mark masing-masing, mereka tetap produktif berkarya, terus mewarnai lingkaran musikal yang berpengaruh enggak hanya di kisaran scene namun juga umum.

Jadi apa dasar pemilihan lagu-lagu ini hingga sah dinyatakan sebagai album kompilasi dengan konsep yang bukan asal ‘nyomot’? Lepas dari masalah warna musik, genre, dan sejibun masalah teknis lainnya, penamaan Soundemic paling tidak secara sederhana bisa diterjemahkan sebagai ‘musik-musik selama pandemik’. Pastinya musik-musik yang dijejali banyak gizi dan keasyikan bila kita menyimaknya di album ini, sangat pantas. Tak hanya dinikmati, namun juga mampu memperkaya khasanah musikalitas kita. Ya, menggambarkan betapa kaya dan beragamnya musik lintas-genre yang ada di negeri ini.

Baca juga: Album Band Punk Duff McKagan Yang Terpendam Sejak 1982 Akhirnya Dirilis

Album kompilasi Soundemic Vol. 1 telah tersedia dalam format kaset yang dikemas bersama fanzine dan sticker. Untuk bisa mendapatkannya, silakan menghubungi Pita Hitam Records via Instagram-nya:

Sumber: Siaran Pers
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Everett Morton

    Everett Morton, Dramer The Beat, Legenda Ska Inggris, Meninggal Dunia

    Foto: via Twitter. Everett Morton, salah satu anggota pendiri dan dramer The Beat, meninggal dunia pada usia 71 tahun. The Beat adalah band ska kebangsaan I

    on Oct 11, 2021
    Edamame

    'Edamame' bbno$ & Rich Brian, Melting Pot Hip Hop Yang Asoy

    Kolaborasi musikal antara bbno$ (dibaca: baby no money) dengan Rich Brian, di lagu ‘Edamame’ ternyata berhasil membuat heboh serta menghasilkan respons

    on Oct 9, 2021
    Whisnu Santika

    Whisnu Santika X Souljah Semangati Masyarakat Via 'Keep On Moving'

    Whisnu Santika berkolaborasi dengan band pengusung reggae beken Tanah Air Souljah. Mereka merilis lagu 'Keep On Moving' sebagai lagu penyemangat masyarakat

    on Oct 4, 2021
    Johnny Ramone

    Gitar Peninggalan Johnny Ramone Terjual Hampir Rp 14 M Dalam Lelang

    Mosrite Venture II, gitar utama yang dipakai Johnny Ramone. Gitar listrik bermerek Mosrite Ventures II keluaran tahun 1965 milik Johnny Ramone dikabarkan te

    on Sep 30, 2021