×
×

Search in Mata Mata Musik

Dulunya Seorang Rapper, George Floyd Warisi Scene Hip-Hop Di Houston, Texas

Posted on: 06/8/20 at 6:00 am

Paul Wall, Bun B, Trae tha Truth, dan Cal Wayne.
Paul Wall, Bun B, Trae tha Truth, dan Cal Wayne. (Ilustrasi foto oleh Bob Levey/Getty Images, Gary Miller/Getty Images, Prince Williams/Wireimage/Getty Images, Izzeddin Idilbi/Anadolu Agency/Getty Images, Scott Olson/Getty Images, Stephen Maturen/Getty Images).

Sebelum seorang petugas polisi membunuh George Floyd, pria berkulit hitam ini adalah seorang rapper di kolektif hip-hop Texas, Screwed Up Click yang berpengaruh. Sekarang, para musisi yang mengenal sosoknya, yakni Paul Wall, Bun B, Trae tha Truth, dan Cal Wayne, telah merefleksikan kehidupannya di Houston, Texas.

Kata-kata dari Cal Wayne terdengar cepat, dan agak berbelit-belit. “Jujur, itu sangat menyakitkan,” ujar sang rapper asal Houston, Texas, Amerika Serikat (AS) itu. “Aku mengidolakannya”.

Baca Juga: Ketika Musik Hip-Hop Rap dan Rock Metal Kawin Hingga Melahirkan Anak

Kemudian Cal Wayne menjelaskan momen pagi hari saat dia menerima SMS yang mengubah hidupnya dari seorang teman, tentang suatu peristiwa yang akan menyebabkan jutaan orang AS turun ke jalan untuk protes. “Itu saudaramu,” baca SMS itu. Ada videonya juga. Sebelum Cal Wayne bisa menonton seluruh klip videonya, pacarnya datang ke rumah, menyampaikan berita yang tidak bisa dia percayai. Dia meminta Cal Wayne untuk menyelesaikan video yang awalnya dia percaya hanyalah kasus penangkapan. “Aku melihat, dan menontonnya,” ujar Cal Wayne. “Aku tidak menyadari bahwa mereka baru saja membunuh my nigga (saudara sesama kulit hitamku)”.

Cal Wayne mengenal George Floyd seumur hidupnya; George adalah pria yang selalu percaya pada karier rapnya. “Dia adalah tetangga sebelahku,” tuturnya. “Aku benar-benar tinggal bersamanya selama tiga tahun. Ketika aku masih muda, ibuku masuk penjara. Ibunya langsung datang dan menjemput kami, dan kami hanya tinggal bersamanya”.

Pada tanggal 25 Mei, George Floyd ditangkap oleh empat petugas kepolisian Minneapolis, AS di luar sebuah toko Cup Foods setelah seorang karyawan mengklaim bahwa dia mencoba menggunakan uang kertas palsu senilai US$ 20 atau sekitar Rp 286 ribu untuk membeli rokok. Selama lebih dari delapan menit, petugas polisi bernama Derek Chauvin menjepit leher George Floyd ke aspal dengan lututnya, sedangkan tiga petugas lainnya – Thomas Lane, Tou Thao, dan J. Alexander Kueng – hanya menyaksikannya. “Aku tidak bisa bernapas, bro,” George Floyd memohon, berteriak memanggil ibunya sebelum jatuh pingsan. “Aku mohon”.

George Floyd akhirnya meninggal; menurut seorang penguji independen yang disewa oleh keluarganya, penyebab kematiannya adalah “sesak napas akibat tekanan yang berkelanjutan”. Dia meninggal di usia 46 tahun.

“[George] tidak berniat kasar terhadapnya (polisi),” ujar Cal Wayne. “Dia tidak akan menyakiti siapa pun”.

Pada malam sebelum kerumunan pengunjuk rasa berbaris ke aula kota Houston, AS, dua dari penyelenggara protes itu, rapper Bun B dan Trae tha Truth, terdengar blak-blakan. Meskipun George Floyd terbunuh di Minneapolis – dia pindah ke sana untuk mencari kehidupan yang lebih baik pada tahun 2014 – dia dibesarkan di wilayah Third Ward di Houston, AS. Dan sebagai sesama rapper dan seorang ayah asal  Texas, Bun B dan Trae the Truth menyaksikan efek pribadi yang disebabkan kematian George Floyd pada orang-orang di sekitar mereka.

“Jum’at ini adalah hari pertama putraku harus menyadari bahwa, sebagai ayah dari seorang anak berkulit hitam, sesuatu dapat terjadi pada anak-anaknya di dunia ini hanya karena mereka berkulit hitam,” ujar Bun B. “Itu benar-benar membuatku menangis memikirkannya, setelah menyadari itu”.

Trae the Truth mengetahui tentang kematian George Floyd saat sedang berbaring sebelah putrinya di ruang tamu mereka. Ketika salah satu temannya menelepon menanyakan tentang identitas pria dalam video yang akan segera viral itu, Trae the Truth harus mencari tahu sendiri. “Aku hanya tersesat dalam momen itu. Menonton videonya sampai berulang-ulang,” tambah Trae the Truth. “Kemudian aku menelepon Cal Wayne. Dia selalu bersama George Floyd sebelum dia benar-benar pindah ke Minnesota. Ketika aku meneleponnya, dia menangis. Itu semua terasa berat”.

Selama satu dekade, ketika Trae the Truth mengadakan acara komunitas dengan rekannya Tiffany Cofield, George Floyd ada di sana. “George benar-benar sampai mengantar [Tiffany] naik mobil,” ujar Trae the Truth. “Mereka akan berkendara bersama ke sana untuk banyak hal yang aku sedang lakukan, mereka akan ada di sana membantuku secara langsung. Ketika aku sedang datang membantu wilayah komunitasnya, aku akan memberi mereka persediaan, makanan, dan barang-barang berbeda lainnya. Dia akan selalu ada di luar sana (membantu)”.

“Dia mempercayai orang-orang sampai pada titik tertentu, rasanya seperti dia lebih percaya kepada orang daripada dia percaya pada dirinya sendiri,” tambah Trae the Truth.

Kembali di awal tahun 2010-an, ketika musik Trae the Truth dilarang muncul di berbagai stasiun radio setelah kasus penembakan di sebuah acara komunitas yang dia selenggarakan, George Floyd tetap mendukungnya ketika banyak artis dan fans pergi meninggalkannya. Dalam sebuah video yang diposting ke akun Instagram Trae the Truth, seorang George Floyd yang masih muda – mengenakan topi dibalik – menasihati temannya dan, dengan tambahan, komunitasnya juga. “Ini tentang bersatu bersama, bro,” dia memohon masyarakat kotanya. “Karena Tuhan itu baik”.

“Aku dilarang dari radio di seluruh dunia,” ungkap Trae the Truth. “Itu sudah mencapai 11 tahun, tahun ini. Pada suatu titik, banyak orang yang pergi. Mereka tidak ingin berbicara denganku. Mereka tidak ingin memiliki afiliasi, karena aku sedang mengalami masa sulit sampai-sampai aku diasingkan. Dia tiba-tiba secara sendirinya muncul untuk memprotes dirinya sendiri dan membuat video mengatakan bahwa (setelah) semua yang Trae lakukan untuk komunitasnya; kalian semua mencoba untuk menghentikannya dan itu tidak benar. Dia selalu berbicara untuk apa yang benar, bahkan ketika anak-anak muda di lingkungannya mungkin melakukan beberapa hal yang tidak bagus. Ketika ada banyak pembunuhan terjadi di seluruh kota kami, dia akan selalu berbicara, seperti, ‘Caranya bukan seperti ini”.

Bagi mereka yang tumbuh di Houston, AS, George Floyd, yang juga dikenal sebagai Big Floyd, adalah bagian dari scene lokal penting yang mayoritas telah menginspirasi musik hip-hop modern. Seorang afiliasi dari kolektif hip-hop Screwed Up Click, suara Big Floyd muncul di berbagai mixtape klasik secara kultural yang dipimpin oleh sang ikon hip-hop legendaris, DJ Screw. Sebagai penemu “chopped and screwed” – suatu teknik yang memperlambat unsur sonik lagu hingga vokal dan produksinya terdengar seperti diseret-seret – almarhum DJ Screw, yang meninggal pada tahun 2000, menciptakan blueprint (cetak biru) sonik yang berdampak pada musik modern hingga hari ini. “[DJ Screw] adalah seorang inovator,” ujar presiden Bigtyme Records, Russell Washington kepada The New York Times pada tahun 2000. “Siapa yang mengira seseorang akan muncul, lalu mengurangi kecepatan musiknya, dan mempromosikan semua artis lokal yang orang-orang tidak pernah dengar, dan menjual 300.000 kopi (album)?”.

“Secara otomatis itu (DJ Screw) mengikatnya ke sebuah warisan yang legendaris,” ujar Bun B tentang keterlibatan Big Floyd dengan Screwed Up Click. “Dengan memiliki level hubungan sedekat itu dengan DJ Screw, kamu secara otomatis diberikan status tertentu di kota Houston, dan sangat dihormati”.

Pada akhir tahun 1990-an, scene rap Houston berdiri sendiri, dengan orbit estetika dan budayanya tersendiri. Perbedaan antara mereka yang nge-rap sebagai profesi serius dan hanya sebagai hobi sering kali berubah-ubah. Katalog mixtape DJ Screw yang terus update telah menginspirasi banyak orang seperti George Floyd untuk mencoba nge-rap di antara berbagai kegiatan lainnya. Itu adalah era sebelum ada CD, unduhan MP3, dan media sosial, yang membuat ingatan mengenai talenta-talenta penting ini tetap hidup sebagai “tradisi vokal [yang] diturunkan dari satu orang ke orang lain,” menurut rapper Paul Wall.

“[Big Floyd] biasa nge-rap melalui kaset, tetapi kamu juga akan mendengar rapper lain menyebutkan namanya di kaset. Big Pokey mengatakan sesuatu tentang Big Floyd. Lil’ Keke mengatakan sesuatu tentang Big Floyd. Mike D mengatakan sesuatu tentang Big Floyd,” ujar Paul Wall. “Untuk orang-orang yang akan datang (di scene rap Houston), itu biasanya orang-orang (normal) dari kehidupan sehari-hari. Mixtape-nya (Big Floyd), [Chapter 007:] Ballin’ In Da Mall, itu adalah salah satu mixtape yang semacam ada unsur legendarisnya. Dia kalau tidak salah bekerja di Foot Locker, dia dan beberapa orang lainnya. Waktu itu salah satu dari mereka ulang tahun. Aku rasa itu adalah hari ulang tahun Big Floyd dan mereka semua datang. Dan mengatakan, ‘Apa yang ingin kamu lakukan pada ulang tahunmu?’, ‘Aku ingin melakukan mixtape dengan DJ Screw’. ‘Ok, pada hari ulang tahunku kita akan pergi ke sana’. Itulah yang akan dilakukan oleh banyak orang. Ini hari ulang tahunmu, maka kamu pergi dan membuat mixtape bersama DJ Screw”.

Pada awal hingga pertengahan tahun 2000-an, Paul Wall, bersama dengan anggota Swishahouse lainnya (Mike Jones, Chamillionaire, Slim Thug), memenuhi potensi komersial yang generasi Screwed Up Click sebelumnya tidak pernah mendapat kesempatan untuk lakukan. Sebagai seorang rapper kulit putih, Paul Wall tidak hanya menghormati memori para rapper yang mengisi mixtape-nya DJ Screw, tetapi juga budaya Houston yang menerimanya. “Tidak masalah di mana aku tumbuh dewasa. Tidak peduli berapa banyak uang yang aku berikan untuk komunitasku. Tidak peduli berapa banyak demonstrasi atau protes yang aku hadiri. Tidak peduli berapa banyak lagu yang aku buat untuk menyebarkan pesan positif. Tidak peduli berapa banyak waktu yang aku habiskan dalam komunitas. Tidak masalah bahwa aku memiliki istri berkulit hitam,” jelas Paul Wall. “Sebagai orang kulit putih di AS, kamu mewakili (peran) sebagai penikmat hasil dari perbudakan yang telah membangun negara ini”.

Bun B dan Trae tha Truth melakukan perjalanan ke Minneapolis untuk memprotes demi George Floyd dan setiap warga kulit hitam AS lainnya yang dibunuh oleh polisi; beberapa hari kemudian, mereka mengalihkan perhatian mereka ke tempat kelahirannya. Meskipun Bun B tidak mengenal George Floyd secara pribadi, dia mengenal seseorang yang pernah. Stephen Jackson, seorang mantan pemain bola basket NBA, adalah teman seumur hidup Bun B dan seorang pria yang menyebut George Floyd “saudara kembarnya”. “Bayangkan ini, seorang pria tumbuh di daerah di mana nasib (hidupnya) sudah menentangnya,” jelas Stephen Jackson di sebuah konferensi pers pekan lalu. “Kamu mendapat kesempatan untuk menjauh dari lingkungan yang menjatuhkanmu. (Maka) kamu pergi. Kamu menjadi sukses. Kamu mendapat pekerjaan. Hidupmu mulai berputar ke arah yang benar. Kamu tersandung sedikit lagi. Tapi itu ternyata tidak sepadan dengan hidupmu”.

Bun B, Trae tha Truth, keluarga George Floyd, dan pengunjuk rasa lainnya menyerukan undang-undang mulai dari dewan pengulas komunitas independen dengan kekuatan untuk membuat pengadilan yang dapat memperoleh dan melihat bukti tanpa campur tangan polisi demi menjatuhkan hukuman yang lebih keras lagi bagi polisi yang melakukan kejahatan seperti yang mengakibatkan kematian George Floyd. Sementara undang-undang baru memang tidak bisa mengembalikan nyawa orang hitam yang tak terhitung jumlahnya yang terbunuh oleh polisi, jika itu berhasil, itu akan mulai memastikan bahwa dunia ini tidak akan lagi kehilangan seorang “Big Floyd” lainnya.

Beberapa jam setelah melakukan protes, situs musik Rolling Stone bertanya kepada Cal Wayne tentang bagaimana rasanya melihat seluruh dunia berjuang untuk George Floyd.

“Itu bagian terbaiknya,” ujar Cal Wayne. “Dia mengguncang dunia. Big Floyd benar-benar jadi Big Floyd sekarang. Dia sekarang adalah seorang martir”.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

toRa rapper

Rapper 'Lara Ati' Tora Kembali Rayakan Kegalauan Via 'Special', Single...

toRa. Setelah hiatus selama pandemi, rapper "baper" spesialis lagu patah hati toRa merilis single terbaru berjudul 'Special' yang kembali mer

on Nov 24, 2020
Ayuenstar

Mantan Idol 2018, Ayuenstar Jadi Diri Sendiri Via 'Swagger', Single Hi...

Ayuenstar. Banyak penyanyi hebat Indonesia lahir dari berbagai ajang pencarian bakat di televisi. Mereka hadir dengan talenta dan ciri khas mereka masing-ma

on Nov 18, 2020
King Von

Rapper Muda King Von Terbunuh Setelah Tertembak Dalam Pertikaian Antar...

King Von. (Foto: Darrius Jones for XXL). Berita menggemparkan tentang rapper yang lahir dan besar di Chicago, Amerika Serikat (AS), King Von alias Dayvon Be

on Nov 9, 2020
DRT & BLAKE

Fitur Blake, Rapper DRT Rilis Single Kedua, 'Aku Pernah' Tentang Prose...

Dari scene hip hop Tanah Air juga masih terlihat aktif di tengah pandemi ini. Rapper DRT kembali dengan single kedua dari album keduanya (Transmisi) yang b

on Nov 9, 2020