×
×

Search in Mata Mata Musik

In Memoriam: Eddie Van Halen, Dewa Gitar Revolusioner Musik Rock

Posted on: 10/7/20 at 11:15 am

In Memoriam: Eddie Van Halen, Dewa Gitar Revolusioner Musik Rock
Eddie Van Halen. (Foto: Ebet Roberts, Redferns).

Dunia musik, terutama rock dan heavy metal, bagaikan disambar petir mendengar berita duka ini. Sang gitaris virtuoso dan inovator legendaris Eddie Van Halen meninggal dunia setelah sekian lama bertempur melawan penyakit kanker tenggorokan pada hari Selasa, 6 Oktober 2020. Kabar ini pertama kali datang dari Valerie Bertinelli, mantan istri dan ibu dari anak semata wayang mereka, Wolfgang. Valerie memposting penghormatan yang memilukan kepada rockstar tersebut. Meski mantan, senang melihat doi tetap memanggil Eddie “My Love” dan bersyukur bahwa doi ada di sisi Eddie di saat-saat terakhirnya.

Seperti dilansir dari TMZ, sumber yang berhubungan langsung dengan pihak keluarga Eddie memberitahu bahwa rockstar ini mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit St. John di Santa Monica, California, Amerika Serikat (AS). Istrinya, Janie, berada di sisinya, bersama putranya, Wolfgang, mantan istrinya Valerie Bertinelli, dan Alex, kakak kandung sekaligus dramer Van Halen. Eddie meninggal di usia 65 tahun.

Baca juga: Isteri Eddie Van Halen Buat Pesan Menyentuh di Instagram

“Gue nggak percaya gue harus menulis ini, tetapi bokap gue, Edward Lodewijk Van Halen, pagi ini kalah dalam pertempuran panjang dan sulit melawan kanker,” tulis putranya, Wolfgang Van Halen. “Dia adalah ayah terbaik yang pernah gue minta. Setiap momen yang gue bagikan dengannya di dalam dan di luar panggung adalah sebuah hadiah. Hati gue hancur dan gue rasa gue nggak akan pernah pulih sepenuhnya dari kehilangan ini”.

Kakak Eddie, Alex menulis: “Nggak ada tag. Nggak ada apa-apa. Hanya Eddie. Ini sangat gila. Masih nggak percaya ini nyata! Beberapa menit yang lalu gue sedang mendengarkan ‘Eruption’. Beberapa jam yang lalu gue ngomongin lo. Beristirahatlah dengan damai legenda, @eddievanhalen. Terima kasih telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk gue. Terima kasih untuk semuanya. Lo nggak akan pernah dilupakan. Tolong istirahatkan malaikat ini dengan tenang; lo orang yang sangat dicintai… BIARKAN KAMI NGGAK PERNAH MELUPAKAN EDWARD VAN HALEN. Kita memiliki satu sama lain. Kita SEMUA adalah keluarga”.

View this post on Instagram

🤍

A post shared by 𝘈𝘭𝘦𝘹 𝘝𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘭𝘦𝘯 (@alexvan.offc) on

“Patah hati dan nggak bisa berkata-kata. Cinta gue untuk keluarganya,” tulis Sammy Hagar, mantan vokalis Van Halen.

View this post on Instagram

Heartbroken and speechless. My love to the family.

A post shared by Sammy Hagar (@sammyhagar) on

Dalam 72 jam terakhir sebelum akhir hayatnya, perjuangan kesehatan Eddie yang sedang berlangsung menurun drastis, dokter menemukan kanker paru-parunya telah berpindah ke otaknya dan juga organ lainnya.

Seperti yang telah diketahui, Eddie telah berjuang melawan kanker selama lebih dari satu dekade. Sumber yang bisa dipercaya mengatakan doi keluar masuk rumah sakit selama setahun terakhir ini, termasuk November lalu karena masalah usus dan belum lama ini menjalani chemotherapy.

Baca juga: 9 Gitaris Terbaik Dunia Sepanjang Masa!

Tahun lalu dilaporkan bahwa Eddie terbang bolak-balik antara AS dan Jerman selama lima tahun untuk mendapatkan perawatan radiasi. Meskipun doi seorang perokok berat selama bertahun-tahun, doi tetap yakin bahwa doi menderita kanker tenggorokan akibat dari pick gitar yang terbuat dari besi yang sering doi pegang di mulutnya selama lebih dari 20 tahun karier bermusiknya.

Eddie Van Halen Sang Pendekar Berdawai Enam

Aksi solo gitar Eddie Van Halen. (Foto: via Media Punch).

Musisi bernama lengkap Edward Lodewijk Van Halen ini terkenal ke seluruh dunia sebagai gitaris dan penulis lagu utama Van Halen, band hard rock yang doi dirikan bersama abangnya, dramer Alex Van Halen pada 1972 bersama bassis Mark Stone, dan vokalis David Lee Roth.

Nama Eddie Van Halen begitu tersohor sebagai gitaris fenomenal karena berhasil mempopulerkan teknik solo gitar tapping, yang memungkinkan arpeggio cepat dimainkan dengan dua tangan di fretboard gitar. Pada 2012, Eddie terpilih sebagai gitaris nomor satu dalam polling pembaca majalah Guitar World untuk “100 Gitaris Terbesar Sepanjang Masa”.

Jika bukan karena pengaruh dahsyatnya, musik hard rock setelah akhir dekade 1970-an mungkin akan berkembang dengan cara yang sangat berbeda. Eddie mungkin bukan inovator teknik tapping dengan dua tangan, tetapi doi lah orang yang pertama kali menyempurnakannya dan memperkenalkannya kepada jutaan orang di seluruh dunia. Namun, ada satu hal yang unik, meskipun doi sangat menguasai gitar listrik, doi nggak pernah belajar membaca notasi musik. Doi gitaris otodidak.

Aksi shredding solo Eddie Van Halen. (Foto: via Media Punch).

“Gue nggak tahu apa-apa tentang tangga nada atau teori musik,” katanya kepada Rolling Stone pada 1980. “Gue nggak ingin terlihat sebagai gitaris tercepat di kota ini, yang siap dan bersedia untuk menjatuhkan persaingan. Yang gue tahu adalah bahwa gitar rock and roll itu seperti gitar blues, harus memiliki melodi, kecepatan, dan rasa, tetapi yang lebih penting, gitar itu harus memiliki emosi. Gue hanya ingin permainan gitar gue membuat orang merasakan sesuatu: bahagia, sedih, bahkan horny”.

Van Halen termasuk salah satu band rock yang tersukses dan telah menguasai blantika musik rock sejak album self-titled mereka rilisan 1978, yang sering disebut sebagai album debut paling sempurna oleh band mana pun dalam sejarah musik rock, dari era David Lee Roth hingga Sammy Hagar, hingga pertengahan 1990-an, saat mereka berpisah dengan Sammy Hagar dan menerima kembali si vokalis karismatik nan flamboyan, David Lee Roth. Tahun 2000-an ditandai dengan pertarungan Eddie yang ingin menjauhi alkohol, perilaku publik yang nggak menentu, dan tur reuni nostalgia dengan Sammy Hagar dan David Lee Roth, tetapi nggak ada tanda-tanda akan ada rilisan musik baru dari mereka.

Tetap saja, faktanya, sebagian fans nggak ada yang peduli (tapi sebagian fans juga ada yang peduli sih, bahkan sampai ada yang ribut masalah sepele adu argumen siapa yang terbaik antara Sammy Hagar dan David Lee Roth, hihihi) siapa yang menjadi frontman Van Halen atau kapan mereka meluncurkan lagu hit terbaru mereka, toh para fans nggak pernah berhenti berbondong-bondong datang ke konser Van Halen untuk beribadah secara khusyuk di altar Eddie Van Halen. “Gue rasa yang mengganggu gue adalah sering kali para penonton itu nggak menyadarinya ketika gue bermain buruk,” katanya kepada Rolling Stone. “Gue muncul ke luar panggung dan mendapatkan pujian. Itu sangat bikin frustrasi”.

Eddie Van Halen Memiliki Darah Indonesia!

Keluarga Van Halen (ki-ka): Alex, Jan (ayah), Eugenia (ibu), Eddie. (Foto: via Media Punch).

Edward Lodewijk van Halen lahir di Nijmegen, Belanda, pada 26 Januari 1955, satu setengah tahun setelah abangnya, Alex. Keduanya lahir anak dari pasangan Jan van Halen dan Eugenia van Beers. Ayahnya, Jan adalah seorang pemain klarinet, saksofon, dan pianis asli Belanda, dan ibunya, Eugenia adalah keturunan Indonesia-Belanda-Italia yang lahir dan besar di Rangkasbitung, Lebak, Banten yang kala itu masih di bawah pemerintahan Hindia Belanda pra-Indonesia merdeka.

Jan van Halen dan Eugenia van Beers, yang termasuk pasangan muda dan baru tiga tahun menikah lantas memutuskan untuk meninggalkan Indonesia pada 4 Maret 1953, saat usia kehamilan Eugenia menginjak tujuh bulan. Mereka menumpang kapal Sibajak bersama ribuan warga Belanda dan Indo-Belanda lainnya dalam gelombang repatriasi ke negeri Belanda. Negeri yang mungkin justru asing buat Eugenia, perempuan kelahiran Rangkasbitung, yang keluarganya telah menetap selama beberapa generasi di Indonesia.

Setibanya di Belanda, Jan dan Eugenia yang sedang hamil anak pertama menetap di Amsterdam. Pada 8 Mei 1953, Alexander Arthur van Halen (Alex) lahir. Hampir dua tahun kemudian, Eddie lahir sebagai anak kedua pasangan Jan van Halen dan Eugenia van Beers. Jan tetap bermain musik untuk menghidupi keluarga kecilnya. Ketika ada kesempatan mencari peruntungan di AS, Jan memutuskan untuk hijrah ke negeri Paman Sam pada 1962.

“Sulit menghasilkan uang dengan memainkan jenis musiknya,” kata Eddie kepada Rolling Stone pada 1995. “Jadi dia bergabung dengan band Angkatan Udara (Belanda), dan dia bermain dengan marching band. Setiap pagi pada jam enam dia harus pergi ke sana dengan membeku dan bermain marching band. Kami akan mendengarkan semua rekaman marching band itu, dan Alex dan gue akan berparade di sekitar meja di ruang tamu dan mengambil panci dan wajan, melakukan semua hal semacam itu. Dan di malam hari kami mendengar dia memainkan musik klasik di lantai bawah. Dia menyukai musik klasik dan jazz”.

Keluarga Van Halen berimigrasi ke AS ketika Eddie berusia delapan tahun dan menetap di Pasadena, California. Saat itu Eddie tergila-gila dengan Dave Clark Five yang bikin doi tertarik main dram, sedangkan Alex mencoba bermain gitar. Suatu hari, yang menentukan masa depan mereka, merasa frustrasi karena nggak bisa menguasai permainan dram lagu ‘Wipe Out’-nya The Surfaris, Eddie lantas bertukar instrumen dengan Alex, dan perubahan itu menjadi titik balik yang abadi.

Duo ini membentuk serangkaian band di awal 1970-an dengan nama-nama seperti Broken Combs, Trojan Rubber Company, dan Genesis, tetapi nggak pernah mendapat daya tarik yang signifikan sampai mereka bertemu dengan putra karismatik dari seorang dokter tajir bernama David Lee Roth. “(David Lee) Roth adalah satu-satunya orang yang memiliki PA (sistem pengeras suara -Ed.),” kata Eddie. “Kami menyewakan PA-nya setiap akhir pekan seharga $ 35 dan mendapatkan $ 50 untuk tiap konser. Jadi lebih murah untuk membuatnya bergabung dengan band”.

Dengan David Lee Roth di pucuk pimpinan band, Van Halen, yang juga menampilkan Michael Anthony pada bass, menjadi salah satu band paling populer di sirkuit rock Pasadena, bermain di pesta halaman belakang, klub penari telanjang, dan tempat lain apa pun yang bisa mereka temukan. Repertoar mereka sebagian besar terdiri dari lagu-lagu cover, tetapi perlahan-lahan mereka mulai mengumpulkan koleksi lagu ciptaan sendiri seperti ‘Runnin’ With the Devil’ dan ‘Somebody Get Me a Doctor’. Bassis KISS, Gene Simmons merekam demo kaset dengan mereka untuk mencoba membantu mereka mendapatkan kontrak rekaman, tetapi mereka nggak pernah menandatangani kontrak apa pun sampai Mo Ostin dari Warner Bros. menyaksikan salah satu konser mereka dan menawari mereka kontrak rekaman pada 1977.

Van Halen lantas bekerja sama dengan produser Ted Templeman untuk merekam album debutnya. Solo gitar lagu instrumental ‘Eruption’ menjadi karya yang menonjol dan memukau dari Eddie, sementara lagu cover mereka ‘You Really Got Me’ oleh The Kinks menunjukkan kemampuan mereka untuk membuat standar rock yang paling dikenal menjadi segar dan menarik.

Baca juga: Mark Stone, Bassis Pertama dan Salah Satu Pendiri Van Halen, Tutup Usia

Tapi lagu-lagu asli Van Halen seperti ‘Ain’t Talkin’ ‘Bout Love’ dan ‘Jamie’s Cryin’’ yang membantu album debut self-titled mereka mencapai No. 19 di Billboard 200 dan membuat mereka mendapatkan slot tur bareng Black Sabbath sebagai band pembuka. “Hanya tiga tahun yang lalu gue… di depan dengan anak-anak lainnya untuk melihat (konser) Aerosmith,” kata Eddie kepada Rolling Stone pada 1980. “Kemudian setahun kemudian kami bermain dengan mereka. Itu membuat gue heran banget. Maksud gue, gue tahu gue akan selalu bermain gitar, tetapi gue nggak tahu gue akan berada di posisi gue sekarang”.

Tahun berikutnya dirilis album Van Halen II dengan single hit ‘Dance the Night Away’ dan ‘Beautiful Girls’. Lima tahun berikutnya terdiri dari rangkaian konser yang tiketnya terjual laris manis, pesta liar, dan deretan album yang sukses, yakni Women and Children First (1980), Fair Warning (1981), Diver Down (1982), 1984 (1984), dan 5150 (1986). Mereka memiliki banyak lagu “hit radio besar” dan juga beberapa dari single mereka adalah lagu cover seperti ‘Dancing in the Street’ dan ‘( Oh) Pretty Woman’, yang kemudian dijelaskan Eddie, itu merupakan hasil dari ketegangan di dalam band.

“Dave (Lee Roth) dan produser kami, Ted Templeman, (merasa) terancam oleh (studio baru gue, 5150),” kata Eddie kepada Rolling Stone pada 1995. “Hal pertama yang gue bikin di sini adalah (lagu) ‘Jump’, dan mereka nggak menyukainya. Gue bilang, ‘Ambil atau tinggalkan’. Gue muak dengan gagasan mereka tentang apa yang komersial. Begitulah akhirnya kami membuat semua lagu cover di album Diver Down. Gue nggak pernah ingin menjadi band cover”.

Van Halen mungkin sedang menuju kekacauan, namun Eddie menemukan kedamaian di luar panggung setelah doi menikah dengan aktris One Day at a Time, Valerie Bertinelli pada 1981. Gitaris ini mengatakan bahwa David Lee Roth nggak suka dengan pernikahan tersebut karena mengganggu reputasi band yang terkenal liar dan lajang. “Gue ingat suatu kali dia bilang, ‘Bilang kepada cewek lo untuk nggak datang ke Detroit, karena kita sedang melakukan wawancara (dengan) majalah Life’,” kata Eddie kepada Rolling Stone pada 1986. “Dia takut mereka akan menyudutkannya dan bertanya kepadanya beberapa hal yang nyata. Jadi dia (istri Eddie -Ed.) akhirnya nggak datang ke konser. Gue tahan dengan itu. Tapi hal itu menyakiti istri gue. Menurut lo bagaimana perasaannya? Dia adalah pendatang baru, dan nggak diterima dengan cara seperti itu yang menyakitinya”.

Ketika tiba waktunya untuk merekam album lanjutan Diver Down, Eddie bersikeras mereka merekam lagu ‘Jump’ dan memasukkan synthesizer ke lagu ini. Hasilnya adalah sukses besar, album 1984 yang mengubah mereka menjadi superstar MTV saat video musik ‘Jump’, ‘Panama’, dan ‘Hot for Teacher’ mengalami rotasi yang gila-gilaan dan album itu kemudian terjual jutaan kopi, mencapai No. 2 di Billboard 200. Tur berikutnya membawa mereka ke seluruh dunia, tetapi Eddie dan David Lee Roth justru nyaris nggak berkomunikasi di luar panggung. Saat tur berakhir, David Lee Roth lantas mengundurkan diri dari Van Halen dan mulai mengerjakan album solonya. “Gue menangis,” kata Eddie kepada Rolling Stone pada 1995. “Kemudian gue menelepon abang gue dan memberitahunya bahwa bajingan itu keluar. Gue merasa seperti gue akan tahan dengan kelakuan orang ini selama bertahun-tahun hanya untuk (menunggu) dia melangkah keluar”.

Eddie sempat mempertimbangkan untuk membuat album solo dengan parade penyanyi tamu yang terdiri dari Phil Collins, Joe Cocker, dan Pete Townshend, tetapi doi segera menyadari bahwa bandnya harus melanjutkan dengan vokalis baru. Dealer Ferrari, Claudio Zampolli mengatur pertemuan dengan mantan pentolan Montrose, Sammy Hagar, yang baru saja membuat hit solo besarnya dengan lagu ‘I Can’t Drive 55’ dan mereka mencoba nge-jam bareng. “Ada chemistry seperti itu, dan itu sangat menarik,” kata Sammy Hagar kepada Rolling Stone pada 2016. “Kami bermain sampai tengah malam, sekitar 12 jam tanpa henti. Gue pergi tidur, bangun keesokan paginya, dan berkata dalam hati, ‘Wow, gue bergabung dengan band itu’”.

Namun Warner Bros. sempat nggak yakin tentang perubahan tersebut dan menyarankan mereka mempertimbangkan untuk mengubah nama band ini menjadi “Van Hagar” untuk memisahkannya dari yang sebelumnya. “Itu akan menarik,” kata Sammy Hagar. “Melihat ke belakang sekarang, ini semacam cara untuk membagi dua era. Tapi kami sangat nggak takut saat menyadari apa yang bisa kami lakukan bersama”.

Siapa pun yang meragukan kemampuan Van Halen untuk bertahan tanpa David Lee Roth terbukti salah besar pada bulan Maret 1986, ketika album 5150 mencapai puncak kesuksesan dengan menjadi album No. 1 pertama mereka. Pencapaian di puncak tangga lagu berlanjut dengan album 0U812 (1988), For Unlawful Carnal Knowledge (1991), dan Balance (1995). Meskipun banyak “penggemar hardcore” Van Halen lebih menyukai era David Lee Roth, Sammy Hagar membuat band ini menjadi lebih populer dan membawakan mereka hits besar seperti ‘Dreams’, ‘Why Can Not This Be Love’, ‘Right Now’, dan ‘Poundcake’.

Segalanya berantakan, bagaimanapun, ketika personil band itu bertengkar, dari semua hal, kontribusi untuk soundtrack film Twister. Mereka baru saja menyelesaikan tur panjang dan Sammy ingin istirahat bersama istri dan bayinya, tetapi band ini ingin langsung masuk ke studio. “Gue bilang, ‘Sam, kalau lo ingin membuat rekaman lain atau melakukan tur lain, lo harus menjadi pemain tim,” kata Eddie kepada Guitar World. “Van Halen adalah sebuah band, bukan pertunjukan Sammy Hagar, bukan pertunjukan Eddie Van Halen, Alex Van Halen, atau Michael Anthony. Dia akhirnya mengatakan, ‘Ya, sialan, gue benar-benar frustrasi. Gue ingin kembali menjadi artis solo. ‘Gue bilang, ‘Terima kasih (karena) sudah jujur’”.

Reuni singkat dengan David Lee Roth untuk merekam dua lagu baru untuk album kompilasi meledak ketika band ini bertengkar di belakang panggung di ajang MTV Video Music Awards. Akhirnya, vokalis Extreme, Gary Cherone, yang masih satu manajemen dengan Van Halen, dibawa untuk menjadi vokalis baru mereka. “Orang itu turun dari mobil, dan segera gue tahu dia adalah (sosok) yang sejati,” kata Eddie kepada Rolling Stone pada 1998. “Nggak sedikit pun omong kosong, nggak ada ego”.

Tetapi album mereka di tahun 1998, Van Halen III gagal memenuhi ekspektasi para fans, dan tur itu terasa datar-datar saja di beberapa titik. Usai tur, Gary Cherone diberi surat “PHK” dan band ini kemudian mengalami masa jeda yang panjang. Ketika mereka muncul kembali pada 2004 dengan Sammy Hagar untuk tur reuni, Eddie sedang berada jauh di dalam pergolakannya dengan kecanduan alkohol dan bertindak serta bertingkah sangat nggak menentu. “Dia mengatakan kepada gue bahwa dia menyembuhkan dirinya sendiri (dari kanker lidah) dengan mencairkan potongan lidahnya dan disuntikkan ke dalam tubuhnya,” tulis Sammy Hagar dalam memoarnya. “Dia juga memberi tahu gue ketika dia menjalani penggantian pinggul, dia tetap terjaga selama operasi dan membantu dokter membuat lubang”.

Tur reuni itu dirusak oleh penampilan konser yang payah dan menuai ulasan yang buruk dari media. Sedikit lebih dari setahun setelah reuni berjalan, istri Eddie, Valerie Bertinelli mengajukan gugatan cerai. Saat Van Halen dilantik ke dalam Rock & Roll Hall of Fame pada 2007, Eddie nggak hadir dalam seremoni pelantikannya, karena kabarnya doi sedang menjalani rehabilitasi. Belakangan tahun itu, band ini akhirnya bersatu kembali dengan David Lee Roth, meskipun mereka mendorong Michael Anthony keluar dari band untuk memberi ruang untuk putra satu-satunya Eddie, Wolfgang, bermain bass.

Pada 2012, mereka akhirnya merilis album A Different Kind of Truth, meskipun banyak dari lagu-lagunya berasal dari demo di era 1970-an mereka. Mereka mempromosikannya dengan tur pada tahun itu, dan tiga tahun kemudian mereka keluar ke jalan lagi untuk bermain beberapa Amphiteater di AS. Tetapi Eddie mengatakan bahwa menulis lagu baru dengan David Lee Roth hampir mustahil. “Sulit, karena ada empat orang di band ini, dan kami bertiga suka rock and roll,” katanya kepada Billboard pada 2015. “Dan salah satu dari kami suka musik dansa. Dan dulu itu jenis pekerjaan yang sulit, tapi sekarang Dave nggak mau datang ke ‘meja perundingan’”.

Eddie juga mengatakan bahwa segala jenis hubungan di luar panggung dengan David Lee Roth hampir mustahil: “Dia nggak ingin menjadi teman gue. Bagaimana gue bisa memposisikan hal ini? Persepsi Savid Lee Roth tentang dirinya berbeda dengan siapa dia dalam kenyataan. Kami sudah nggak berusia dua puluhan lagi. Kami berusia enam puluhan. Bertingkahlah seperti lo 60. Gue berhenti mewarnai rambut gue, karena gue tahu gue nggak akan menjadi muda lagi”.

Tapi terakhir kali Van Halen tampil di depan publik, di Hollywood Bowl pada 4 Oktober 2015, David Lee Roth memeluk Eddie di atas panggung saat mereka berdua tersenyum hangat. “Tahun-tahun terbaik dalam hidup gue,” kata David, “Titik tertinggi dari seluruh hidup gue, di atas panggung bersama lo, homeboy”.

Selamat jalan, maestro Eddie Van Halen. Terima kasih untuk semua karya inspiratifnya. Musik rock akan berbeda tanpa kehadiran lo, Om. Rest in Power. Keep shredding in heaven, Master.

Sumber: Rolling Stone, Billboard dan literatur lainnya
Penerjemah, Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Gitar Frankenstrat Eddie Van Halen

Gitar Frankenstrat Eddie Van Halen Akan Dilelang Di Icons & Idols: Roc...

Gitar Frankenstrat Eddie Van Halen. Dua gitar listrik yang menjadi senjata andalan sang 'guitar god' Eddie Van Halen akan dilelang. Gitar frankenstrat Eddie

on Oct 20, 2020
Eddie Van Halen

Anekdot Keren Kontribusi Eddie Van Halen Di Lagu Michael Jackson 'Beat...

Eddie Van Halen tampil sepanggung bersama Michael Jackson membawakan lagu 'Beat It' dalam salah satu konser Victory Tour 1983. (Foto: Getty Images). Segala

on Oct 10, 2020
Album Van Halen

Album-Album Van Halen Kembali Masuk Chart Setelah Penjualannya Melonja...

Van Halen circa 1984 (ki-ka): Eddie Van Halen, Michael Anthony, Alex Van Halen, David Lee Roth. (Foto: Fryderyk Gabowicz/picture-alliance/dpa/AP). Para fans

on Oct 9, 2020
Eddie Van Halen

10 Momentum Riff Terbaik Eddie Van Halen Di Sepanjang Karier Sang Guit...

Flying n' shredding bersama Eddie Van Halen. (Foto: Ebet Roberts, Redferns). Tanggal 6 Oktober 2020 menjadi hari yang suram bagi seluruh umat rock di planet

on Oct 8, 2020