×
×

Search in Mata Mata Musik

Kisah Rumit Peninggalan Mendiang Michael Jackson

Posted on: 06/25/19 at 8:31 pm

Genap 10 tahun sejak kematiannya, awan kelabu masih membayangi warisan Raja Pop ini.

Sayangnya, ada beberapa lagu Michael Jackson yang—10 tahun setelah kematian Raja Pop mengguncang dunia pada 25 Juni 2009—tidak lagi terdengar seasyik dulu.

Salah satunya adalah “P.Y.T. (Pretty Young Thing)”—lagu yang bisa dipastikan menjadi pembuka pesta dari LP hitnya di 1982, Thriller—di mana Jackson menyanyikan, “Tenderoni, you’ve got to be/Spark my nature, sugar, fly with me” dengan gerakan khasnya, berjoget sambil memegang selangkangan.

Lagu itu—dan, untuk sebagian orang, semua musik MJ—tidak akan pernah memiliki sensasi yang sama setelah kehadiran Leaving Neverland, film dokumenter yang tayang perdana di Sundance Film Festival pada bulan Januari lalu dan kemudian tayang di HBO pada bulan Maret 2019.

Film ini membahas, dengan detail grafis, tuduhan dari Wade Robson dan James Safechuck bahwa mereka pernah dilecehkan secara seksual oleh Jackson di Neverland Ranch miliknya saat mereka masih kecil.

“‘P.Y.T.’ adalah salah satu lagu favorit saya, dan sekarang lagu itu punya subteks yang sangat berbeda di dalamnya,” kata Bill Coleman, DJ yang berbasis di Brooklyn dan pemilik Peace Bisquit Productions & Management. “Saya mungkin tidak akan pernah memainkan lagu itu lagi karena itu bisa dianggap memiliki makna yang sangat berbeda.”

Pada peringatan kematiannya hari ini, ada awan kelabu yang menyelimuti warisan Jackson, dengan beberapa orang bertanya-tanya bagaimana mereka semestinya memandang sang mendiang legenda dan musiknya. Sementara lagu-lagunya masih bisa didengar di mana pun kita berada, beberapa orang yang percaya dengan tuduhan itu tidak akan lagi pernah mendengarkannya dengan rasa yang sama.

Dan bahkan di antara beberapa penggemar setianya, hal ini memunculkan perasaan yang rumit tentang cara memperingati kematiannya yang disebabkan oleh overdosis yang tidak disengaja di usianya yang ke-50.

“Hari ini seperti harus selalu diingat,” kata penulis yang berbasis di Manhattan, Alan Light, mantan editor majalah Vibe dan Spin yang sekarang membawakan acara Debatable di SiriusXM Volume.

“Ini adalah peringatan penting dari momen yang tak terlupakan dan sangat penting dalam sejarah musik. Kamu tidak boleh mengabaikannya,” kata Light. “Tidak ada seorang pun yang memiliki imaginasi tentang seluruh dunia dengan cara yang sama seperti dia. Kita tumbuh bersamanya. Masih ada bagian dalam dirimu yang berusia 10, 12 atau 14 tahun dan tumbuh dengan album-album itu di tempat yang sentral dan terkasih dalam hidupmu.”

Setelah beredarnya tuduhan yang dilontarkan di Leaving Neverland, apakah mungkin memisahkan Jackson dari seni?

Rock & Roll Hall of Fame tentunya berpikir demikian. Setelah film itu merusak warisan Jackson, majelis ini tetap mendukungnya di klub eksklusifnya. Tidak ada satu pun dari pamerannya yang diubah di institusi yang berbasis di Cleveland ini, sementara juru bicara RRHOF menjelaskan bahwa Jackson telah diakui karena keunggulan musik dan bakatnya.

Bentuk penghormatan lainnya untuk Jackson juga masih utuh, mulai dari mural di East Village karya artis asal Brasil, Eduardo Kobra, di East 11th Street dan First Avenue hingga acara musikal MJ mendatang yang masih akan dibuka di Broadway tahun depan.

Musiknya tersedia di semua layanan streaming besar, sementara video-videonya yang luar biasa bisa ditemukan di  YouTube. Pastinya, banyak DJ—baik mereka percaya dengan tuduhan di Leaving Neverland atau tidak—yang mampu memisahkan lagu-lagu klasiknya dari dugaan kejahatannya.

Anastasia “DJ Stacy” Ledwith—yang menggelar maraton lagu-lagu MJ di sebuah gay bar di West Village, Stonewall, di hari kematiannya saat orang-orang menangis—belum berhenti memutar musiknya. “Saya memainkan musiknya setiap waktu,” katanya.

“Saya senang memutar ‘Don’t Stop ’Til You Get Enough,’ ‘Rock with You,’ ‘Off the Wall.’ Kamu bisa memainkan musiknya kapan saja, di mana saja. Ini semua tentang musiknya.”

Namun, bagi warga Manhattan ini, semuanya masih belum berubah setelah menonton Leaving Neverland. “Saya juga tidak terpengaruh ketika semua tuduhan ini muncul saat dia masih hidup,” kata DJ Stacy, yang sekarang tampil di mana-mana mulai dari Brother Jimmy’s di Murray Hill sampai to Cherry’s On The Bay di Fire Island.

“Saya tidak yakin apakah saya percaya atau tidak,” kata DJ Stacy. “Jika itu benar, sungguh menyedihkan baginya dan bagi para korban. Tapi, dia adalah salah satu musisi paling berbakat di zaman kita. Tidak akan pernah ada orang lain sepertinya. Tidak akan. Bahkan tidak ada yang akan mendekati statusnya.”

Dan bukan hanya musik Jackson saja yang selamanya mengubah budaya—gerakannya pun juga.

Kirsten Genovese yang bermarkas di Astoria—yang pada saat itu belum ada untuk menikmati puncak mania Jackson—terinspirasi olehnya sebagai calon penari muda. “‘Thriller’ adalah video pertama yang pernah saya tonton,” ucapnya. “Saya menontonnya berulang-ulang. Seperti tidak pernah cukup.”

Meskipun Genovese percaya dengan penuduh Jackson, dan merasa muak di sepanjang dia menonton Leaving Neverland, dia masih mengakui dampak Jackson sebagai yang terbaik di zamannya.

Michael Jackson pada tahun 2005 di tengah tuntutan pelecehan terhadap anak-anak. (Foto: Getty Images)

Dia belum berhenti memainkan musik Jackson ketika mengajar para penari muda, yang kebanyakan berusia 8 hingga 12 tahun, di Merrick Dance Centre di Long Island, dan D3 Dance Academy di Clifton, NJ. “Mereka otomatis merasakannya dengan musiknya.”

Dia mengaku pernah berhenti mengajarkan koreografi “Beat It” dan “Thriller,” tetapi mengatakan koreografi itu pada akhirnya akan kembali.

“Koreografi dan gerakan Michael Jackson tidak akan ke mana-mana,” jelasnya. “Apa yang dia lakukan itu buruk, tetapi tariannya merupakan salah satu yang terbesar, bahkan mungkin sampai sekarang.”

Meskipun ada dugaan pelecehan terhadap anak-anak di masa lalu—dinyatakan tidak bersalah setelah menghadiri panggilan pengadilan di 2005—Leaving Neverland memiliki dampak yang lebih mendalam di mata publik, sebagian besar karena detail mengerikan yang diungkapkan oleh Robson dan Safechuck. Bahkan Oprah Winfrey pun turut memihak penuduh Jackson.

Sebagai dampak dari film ini, beberapa menyerukan untuk “melupakan” sang ikon. The Children’s Museum of Indianapolis menghapus tiga barang Jackson dari pameran. Chris Carron, direktur koleksi museum, mengatakan museumnya hanya ingin menampilkan orang-orang yang memiliki karakter yang positif dan bermoral.

Sementara itu, Coleman—yang, selama bertahun-tahun, telah membawakan musik Jackson di mana pun dari acara pernikahan hingga klub dan menganggap lagu-lagunya sebagai “bagian dari DNA saya”—memutuskan untuk rehat dari musik MJ sejak menonton Leaving Neverland.

“Saya sengaja tidak memainkan musiknya,” katanya. “Jujur saja musiknya membuat saya merasa sedikit aneh sekarang. Ini lebih untuk menghormati orang lain. Klub adalah ruang publik; pesta bukan hanya tentang saya, bagaimana perasaan saya atau bagaimana saya memproses informasi. Kamu tampil untuk sekelompok orang, dan kamu tidak memikirkan [tentang perasaan mereka] tepat sebelum kamu menjadi DJ.”

Michael Jackson pada bulan Maret 2009. (Foto: Getty Images)

Selain itu, Coleman mengatakan pesta roller-disco “Michael Jackson vs. Prince” musim panas ini—di mana dia akan menjadi DJ di ­LeFrak Center, Prospect Park—dibatalkan atas sarannya kepada produser acara, Lola Star.

“Saya bilang, ‘Kamu mungkin ingin melewatkan itu tahun ini,’” kata Coleman, yang pernah tampil di berbagai acara bertema Jackso selama bertahun-tahun. “Saya hanya menonton apa yang terjadi di media sosial dan pers dan merasa, ‘Ooh, ya ampun, saya tidak yakin ini adalah tahun yang tepat untuk melakukan ini.’”

Tetapi meskipun mahkota Raja Pop telah ternoda selamanya, banyak penggemar yang dapat mengelompokkan tempat untuk musiknya, meskipun sekarang, perasaan mereka terhadap Jackson sendiri mungkin jauh lebih rumit.

“Melihat peringatan 10 tahun kematiannya saat ini—ketika saya pikir kita semua masih berusaha memproses Leaving Neverland dan menentukan apa yang film itu ubah atau tidak ubah tentang cara kita memandang orang ini—pasti akan membingungkan dan membuat frustrasi,” tutur Light.

“Baik kita masih bisa mendengarkan [musiknya] dan memisahkan perasaan kita tentang orang ini dari perasaan kita tentang karyanya, atau kalaupun kita tidak bisa, itu bukan sesuatu yang nyaman dipikirkan.”

Namun Light, yang menggambarkan kehidupan Jackson sebagai “tragedi besar Amerika,” tidak melihat musiknya akan mati dalam waktu dekat. “Kalian masih mendengarnya di radio; masih mendengarnya di klub dan di dunia. Kalian masih mendengarkan dimainkan di truk penjual makanan,” jelasnya. “Tetapi saya pikir banyak orang yang mendengarnya dan ada hal lain yang muncul di kepala mereka sekarang.”

*Artikel ini pertama kali terbit di New York Post, ditulis oleh Chuck Arnold dan disadur serta disesuaikan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Keterangan Foto Utama: Michael Jackson di salah satu konsernya di tahun 1986. (Foto: Kevin Mazur/WireImage)


Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Michael Jackson

Musikal Michael Jackson di Broadway Umumkan Pemeran King of Pop

Musikal Michael Jackson telah menemukan King of Pop-nya. Ephraim Sykes, aktor multi-talenta peraih nominasi piala Tony di Ain’t Too Proud, akan mengisi pe

on Nov 22, 2019
Musik Terlaris

Artis Musik Terlaris Tahun 1969-1996: Dari The Beatles Hingga Madonna

Ketenaran, kekayaan dan fans yang setia—ini sering kali adalah mimpi yang jadi kenyataan bagi para artis musik paling populer di dunia. Berkat keahlian kr

on Nov 12, 2019
Michael Jackson

Kostum Michael Jackson Akan Dilelang Akhir Pekan Ini

Jaket beludru dan sarung tangan ikonik yang sering dipakai almarhum Michael Jackson saat manggung dulu akan dilelang secara online dan offline pada 25-26 Oktob

on Oct 23, 2019
MJ The Musical

Musikal Michael Jackson Akan Hadir di Broadway Musim Panas 2020

Musikal yang kini berjudul MJ The Musical akan mulai ‘preview’ pada 6 Juli di Neil Simon Theater. Baca juga: Michael Jackson: Chase The Truth Tantang Ke

on Oct 11, 2019