×
×

Search in Mata Mata Musik

Penjelasan Sains di Balik Selera Musik!

Posted on: 06/21/19 at 8:04 pm

Nolan Gasser, musisi dan musikolog, paham kenapa kalian tidak bisa lepas dari musik tahun 80an.

Waktu saya kecil, sepertinya tidak ada alasan logis terkait jenis musik apa yang saya suka—selera saya beragam mulai dari art rock, hingga lagu-lagu pertunjukan, hingga hard rock, pop dan funk klasik serta disko.

Seiring saya belajar bermain musik dan kegemaran saya terhadap musik melebar ke genre dan subgenre lain, saya mulai bertanya-tanya mengapa beberapa lagu lebih ‘terasa’ oleh saya dibandingkan lagu lain.

Apakah key signature dan progresi akor lintas genre menarik saya? Apakah saya punya ketertarikan yang lebih besar dengan lagu yang ditulis pada zaman tertentu? Apakah penyebabnya subjek atau konten liriknya? Atau adakah sihir yang melibatkan semua hal di atas?

Untungnya, musisi dan musikolog Nolan Gasser menulis Why You Like It: The Science and Culture of Musical Taste untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

Sebagai pemain piano profesional sejak usia 11 tahun, Gasser memainkan lagu-lagu cover di pertunjukan pertamanya di food court mal lokal pada akhir pekan.

“Beberapa orang meminta saya memainkan repertoar yang agak eklektik—apa pun dari Scott Joplin, Mozart, dan ‘Stairway to Heaven’ setiap hari,” kata Gasser. “Itu benar-benar membuat saya berpikir (mungkin tidak secara sadar pada saat itu) tentang betapa beragamnya selera orang, dan bagaimana orang-orang dari kelompok usia yang sama bisa tertarik pada gaya musik yang berbeda.”

Terbentuk Karena Rasa Keterikatan dan Faktor Sosiologi

Seperti yang cenderung dilakukan para komposer, Gasser membedah berbagai lagu untuk lebih memahami apa yang mungkin menarik bagi seorang pendengar. Setelah mendapat gelar Ph.D., Gasser terhubung dengan Tim Westergren, salah satu dari tiga pendiri Pandoradan menjadi kepala operasi musik dan arsitek The Music Genome Project.

“Kami menciptakan ‘Music Genome Project’ seolah seperti The Human Genome Project tapi saya menganggap metafora itu dengan sangat serius, yang bertujuan untuk memecah dunia musik menjadi spesies yang berbeda dengan memerika beberapa faktor yang agak aktif atau berpotensi aktif di setiap lagu,” jelas Gasser.

“Apa saja ratusan faktor ritme dan harmoni, melodi dan bentuk, ritme dan suara, serta lirik dan produksi? Bagaimana kita bisa secara objektif memecah mereka? Apa bentuk dan kontur dari melodinya? Apa jenis progresi akor yang digunakan?”

Sebagai hasil dari analisis yang sulit ini, Gasser mengatakan setiap lagu di Pandora telah dianlisis oleh seorang manusia yang duduk di depan layar komputer, mengategorikan semua musik mereka menjadi “gen.” Dengan menggunakan cetakan itu, mereka bisa menciptakan koneksi antar lagu milik artis yang sama dan juga milik artis yang berbeda, dan, hasilnya, menghubungkanmu dengan musik baru berdasarkan pilihan sebelumnya.

Dalam bukunya, Gasser juga mengakui peran sosiologi yang luar biasa dalam selera musik kita. “Saya sebenarnya menggunakan istilah ‘intraculture’ untuk menggambarkan budaya yang terjadi dalam suatu budaya,” jelasnya, menyamakannya dengan sub-genre musik.

“Kebanyakan dari itu ada kaitannya dengan di mana kamu tumbuh dan pengaruh musik seperti apa yang beredar, tetapi kita berpartisipasi dalam begitu banyak sub-budaya afinitas, hanya berdasarkan apa yang kita suka. Intraculture memberi kita akses ke musik hanya karena kalian adalah bagian dari suatu kelompok, dan kelompok itu punya arti.”

“Musik menjadi langkah pertama itu—‘inilah saya.’”

Hal menarik lainnya tentang selera musik kita adalah seberapa awal benih itu ditanam. “Setiap bayi diperlengkapi untuk berbicara bahasa apa pun, atau membuat suara apa pun untuk ratusan bahasa di luar sana. Melalui tahun pertama, khususnya, semuanya menjadi semakin terbatas. Sinapsis yang dihasilkan di otak menanam suara-suara tertentu dan mengeluarkan suara lain. Ada hal serupa yang terjadi dengan musik. Ini dikenal sebagai ‘inkulturasi.’ Dalam enam bulan pertama atau lebih, bayi bisa mengikuti sintaksis gaya musik apa pun—ritme kompleks dari Turki atau skala besar dari Eropa. Kalau kamu memainkan sesuatu untuk bayi beberapa kali dan membuat sedikit perubahan, bayi itu akan mengetahui perubahan itu. Dia mengenali penyimpangan. Kekuatan yang kita miliki sejak bayi untuk memproses dan memahami musik adalah hal yang luar biasa.”

Gasser mengatakan, seiring kita tumbuh, selera musik kita benar-benar membantu kita mengenal identitas individu kita—terutama berbeda dari orang tua kita. “Musik menjadi langkah pertama itu—‘inilah saya,’” jelas Gasser. “Tetapi pada saat yang sama, musik yang didengar pada usia dini menjadi musik awal yang memberi kenyamanan bagi mereka. Ketika mereka tumbuh dewasa, musik itu akan menjadi bagian dari identitas mereka, terikat dengan ikatan dan tumbuh dewasa. Semua kekuatan ini adalah mengapa musik sangat penting bagi kita.”

Cara Manusia Merasakan Musik Selalu Berkembang

Memperhatikan perbedaan antara bagaimana saya menemukan musik sebagai seorang remaja, berbagai album, di kamar saya, membaca catatan liner dan bagaimana saya menemukan musik sekarang, Shazam, mendengarkan apa pun yang ada, sesuai permintaan, melalui perangkat apa pun yang saya punya, saya menanyakan Gasser apakah kaum muda masih meluangkan waktu untuk benar-benar mengenal band, atau artis, atau apakah teknologi sudah memengaruhi aspek penemuan musik itu.

“Teknologi selalu memiliki pengaruh pada bagaimana kita mendengarkan musik dan bagaimana kita berinteraksi dengan musik,” katanya.

“Keseluruhan gagasan bahwa orang harus membeli album membuat musisi memikirkan musik mereka dari sudut pandang yang dibuat-buat, menciptakan pengalaman musik selama satu jam yang bertentangan dengan pengalaman lagu demi lagu.

Saat anak-anak saya menemukan artis yang mereka suka, dan sebuah album berisi beberapa lagu yang mereka suka, mereka masih menjelajahi keseluruhan album. Kamu hanya tidak perlu menabung semua uang sakumu untuk membeli satu album. Kamu bisa mendengarkan semuanya.”

Tak peduli berapa umur kita, Gasser mengatakan itu tergantung pada diri sendiri untuk terus menemukan musik baru. “Kita semua diprogram menjadi sangat canggih dalam pemahaman musik kita,” jelasnya.

“Pada akhirnya, tidak ada alasan mengapa seseorang yang tidak bermain alat musik atau menyusun musik tidak bisa seeklektik dan secanggih dan setekun seorang musisi profesional dalam mendengarkan musik. Sebagian besar adalah percaya diri dan menghilangkan hambatan yang mengatakan, ‘Saya bukan musisi jadi saya tidak mungkin suka jazz karena saya tidak memahaminya.’ Itu tidak masuk akal. Kita semua punya kemampuan, kalau kita tetap berpikiran terbuka, untuk menjelajahi musik apa pun.”

Dia ingat momen saat menghadiri acara pernikahan baru-baru ini dan menyadari setiap orang berusia 20an menyanyikan setiap lirik untuk setiap lagu yang dimainkan DJ, namun dia tidak familier dengan lagu-lagu itu.

“Setiap generasi punya karya terbaik dan terburuknya sendiri,” ujarnya. “Saya tidak ragu generasi ini akan menciptakan musik yang menjadi hal paling berharga dan sentimental bagi mereka ketika mereka mencairkan uang pensiun mereka.”

*Artikel ini pertama kali terbit di NBC News ditulis oleh Vivian Manning-Schaffel dan diterjemahkan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Keterangan Foto Utama: Nolan Gasser mengatakan, seiring kita tumbuh, selera musik kita benar-benar membantu kita membentuk identitas individu kita—terutama berbeda dari orang tua kita. (Foto: LightFieldStudios/Getty Images/iStockphoto)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

aplikasi musik iphone

9 Aplikasi Musik Gratis Terbaik untuk Pengguna iPhone!

Kalau kalian adalah penggemar berat musik maka aplikasi musik iPhone ini akan mengguncang kalian! Baca Juga: Sambut Album Barunya, Tool Daratkan Katalog Musi

on Sep 12, 2019
TikTok

Peranan Tiktok Dalam Industri Musik Di Era Smartphone

Munculnya Playlist TikTok di di YouTube, Spotify, dan Apple Music dengan puluhan ribu pendengar, menjadikan platform tersebut memiliki peranan untuk industri m

on Jul 29, 2019
Benarkah Instagram Jadi Platform Temukan Musik Baru?

Benarkah Instagram Jadi Platform Temukan Musik Baru?

Pembangunan citra dengan menunggah lagu yang sedang didengarkan ke IG Story secara tidak langsung berperan besar untuk penyebaran musik hasil karya musisi yang

on Jul 2, 2019
Hubungan Spotify Dengan Musisi Semakin Tegang

Hubungan Spotify Dengan Musisi Semakin Tegang

Baru-baru ini, Spotify menyatakan kalau mereka terlalu banyak membayar royalti para musisi, penulis dan publisher musik. Dan sekarang, mereka ingin uang mereka

on Jun 24, 2019