×
×

Search in Mata Mata Musik

Seri Buku Musik 33⅓, Tambahan Penting Untuk Setiap Album Terbaik

Posted on: 07/17/19 at 12:47 pm

Seri 33⅓ merevolusi buku musik.

33⅓ merupakan seri buku saku yang memberi penulis kebebasan untuk menjelaskan album favorit mereka, langsung ke bagian-bagian terpenting yang ingin diketahui para penggemar: Bagaimana album itu dibuat, apa yang dipikirkan artis, apa kontribusi para produser, bagaimana reaksi para penggemar, dan hal lain yang terjadi saat album itu dibuat. 

Di dunia di mana analisis dalam bentuk apa pun tampaknya semakin langka—tetapi khususnya analisis musik—tidak mengherankan penggemar piringan hitam dan media fisik begitu tertarik ke dalam sumur pengamatan kritis dan ide yang disediakan oleh 33⅓.

Setelah membaca setiap volume yang tersedia pada tahun 2014, Stephanie Burt dari Slate mengatakan tentang seri ini, “Saya telah belajar lebih banyak daripada yang saya pikir dapat saya pelajari, dan terkadang lebih dari yang ingin saya pelajari, tentang artis-artis yang saya suka dan artis-artis yang mulai saya nikmati, artis-artis yang saya temukan dan artis-artis yang masih saya benci (maaf, penggemar Ween).” 

Tidak ada detail yang terlewat dalam pencarian untuk menemukan maksud, perasaan, dan makna dari setiap lagu dan bagaimana gabungan lagu-lagu itu membentuk album. Tidak hanya mengisahkan tentang sang artis, 33⅓ sering kali menampilkan cerita yang lebih mendetail, memberikan kredit kepada kolaborator (selalu ada banyak kolaborator, bahkan ketika tampak sebaliknya) yang biasanya tidak banyak disorot, terutama studio engineer.

Seri ini didirikan pada 2003 oleh editor David Barker dan diterbitkan oleh Continuum. Pada saat itu, Continuum berfokus pada karya para filsuf. Barker, seorang penggila musik, mengira konsep itu akan bagus diterapkan pada album. Di saat seri ini mulai melenceng dari akar akademis dan mengadopsi interpretasi yang lebih kreatif, masa depan seri ini tidak tampak begitu cerah. Bloomsbury, didukung oleh kesuksesan besar Harry Potter, mengakuisisi Continuum pada 2010 dan mengambil alih dari sana. 

Seri ini telah menempel dengan etos akademiknya. Seperti kebanyakan tulisan tentang musik belakangan ini, ini lebih seperti menekuni hobi ketimbang mencari keuntungan. Sementara dulu tarif untuk satu volume 33⅓ adalah $2.000 per buku, sebagaimana dikatakan Daphne Carr—yang menulis volume tentang Pretty Hate Machine milik Nine Inch Nails—“tarif standar adalah nol dolar, yang semuanya dibayar segera.” Dalam urusan seni meniru seni, penulis dikompensasi dengan royalti, yang mungkin tidak banyak, kecuali karyanya digunakan oleh seorang profesor untuk tugas kuliah.

Tanpa pengetatan dan ketegasan dalam aturan untuk seri ini, 33⅓ mengambil pendekatan yang berlawanan, yang memungkinkan buku-buku menjadi sama kreatif, eksperimental, dan inovatifnya seperti materi pelajaran mereka. Format ini memungkinkan penulisan musik untuk berkembang dengan cara yang sebaliknya tidak bisa terjadi. Beberapa volume murni analisis musik; volume OK Computer ditulis oleh seorang musikolog di Oxford University dan lebih cenderung bergaya akademik, sedangkan pembedahan album R.E.M. Murmur menawarkan analisis linguistik.

Penulis lain lebih cenderung menitikberatkan pada narasi pribadi. Sign O’ The Times membawamu dalam perjalanan melalui hubungan pribadi penulis dengan album. Yang lebih aneh adalah Let’s Talk About Love: A Journey To The End Of Taste dari Celine Dion. Meta-studi yang banyak dibicarakan ini menggali status penilaian musik, sejarah kitsch, “selera buruk,” dan sejarah Quebec sebagai tambahan. 

Beberapa versi yang lebih menarik dalam seri 33⅓ menempatkan karakter fiksi atau narrator antara mereka sendiri dan subjeknya. Volume tentang album The Band Music From The Big Pink dari John Niven dijuluki sebagai “novela faksi.” Volume itu menceritakan kembali kisah tentang bagaimana album ini diciptakan melalui sudut pandang karakter fiksi Greg Keltner.

Versi fiksi lainnya termasuk Rid Of Me: A Story milik PJ Harvey, yang merupakan serangkaian cerita pendek dari Kate Schatz. Vokalis Mountain Goats, John Darnielle—yang merupakan mantan perawat psikiatrik—menggunakan catatan terapi untuk menceritakan kembali cinta seorang karakter terhadap Ozzy Osbourne dalam volume 33⅓-nya tentang album Black Sabbath Master of Reality.

Katalog mereka yang berisi 135 buku (dan terus bertambah) sangat beragam, mulai dari album Dusty Springfield Dusty in Memphis dan album-album cover dari Sly And The Family Stone, A Tribe Called Quest, Tori Amos, dan The Magnetic Fields. Meskipun album-album yang lebih umum dan populer sudah dihadirkan volumenya, seri ini lebih tentang merayakan artis-artis ‘underground’ dan memberikan platform bagi subkultur yang tidak selalu menghasilkan jenis online traffic yang sama seperti Taylor Swift dan Nicki Minaj.

33⅓ memberi kita akses lebih dalam untuk mengenal para pahlawan tanpa tanda jasa di kancah modern dan alternatif, seperti My Bloody Valentine, Sonic Youth, LCD Soundsystem, J Dilla, dan Ween. 

Sementara banyak yang khawatir prevalensi album menurun, seri buku seperti 33⅓ juga terancam. Volume tentang album Talking Heads Fear of Music karya Jonathan Letham direncanakan menjadi volume terakhir di 2012, tetapi editor seri ini, Ally-Jane Grossan dan Barker, terus memperjuangkannya.

“Bayangkan saja mencoba menjelaskan Sleater-Kinney ke audiens yang dipenuhi penerbit asal Inggris yang baru saja menyelesaikan diskusi tentang pasar potensial untuk monograf linguistik tentang semiotika Che Guevara.” Kalau saya, sih, sudah tahu buku mana yang lebih ingin saya baca.

Dengan demikian, di dunia yang defisit perhatian seperti sekarang ini, seri buku lebih penting daripada sebelumnya, memaksa pembaca untuk bersantai dan memikirkan album secara keseluruhan—nuansa di setiap lagu dan usaha yang dilakukan dalam menghasilkan seni (baik album maupun bukunya).

Untuk generasi yang lebih muda, yang mungkin kurang menghargai album sebagai format yang kohesif atau pemahaman tentang mengapa album ini harus dirangkul, ini adalah bagian penting dari edukasi, dan cara untuk berkomunikasi dengan generasi mendatang.

Artikel asli ditulis oleh falsepriest untuk Discogs dan sudah melalui proses penyaduran serta pengeditan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Keterangan Foto Utama: Seri buku 33⅓, buku saku yang menampilkan informasi yang mendetail dan tidak biasa tentang album-album favoritmu. (Foto via Discogs)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Phoenix Terbitkan Buku untuk Penggemar Berat Mereka!

Phoenix Terbitkan Buku untuk Penggemar Berat Mereka!

Phoenix: Liberté, Égalité, Phoenix! hadir bertepatan dengan hari jadi Phoenix ke-30. Phoenix—band synth-pop asal Prancis—mengumumkan buku baru berjud

on Jul 24, 2019
Metallica Terbitkan The ABCs of Metallica Untuk Anak-Anak

Metallica Terbitkan The ABCs of Metallica Untuk Anak-Anak

Buku tebal berwarna cerah itu ditulis bersama oleh Metallica dan Howie Abrams, serta diilustrasikan oleh Michael "Kaves" McLeer. Metallica mengumumkan peril

on Jul 14, 2019
No Encore! Buku Tentang Aksi Panggung Gila Rocker Dunia

No Encore! Buku Tentang Aksi Panggung Gila Rocker Dunia

Dokumentasi wawancara Drew Fortune dengan para rocker dunia disusun ke dalam buku barunya ini. Penulis Drew Fortune sudah meliput musik dan budaya pop untu

on Jun 8, 2019
album john mayer

Perjalanan Tujuh Album John Mayer

Terhitung kurang lebih ada tujuh LP, tujuh album yang direkam secara live, tiga album kompilasi, dua album video, 17 video musik, lima EP dan kurang lebih 24 s

on Mar 18, 2019