×
×

Search in Mata Mata Musik

Streaming Makin Menggeser Kultur DJ

Posted on: 07/20/19 at 6:47 pm

Dulu menjadi seorang DJ berarti mengumpulkan banyak ‘barang’ seumur hidup. Terutama piringan 12”, tetapi juga 10” dan 7”, white label dan LP bersampul gatefold, yang dicetak pada vinyl dalam berbagai warna.

Kemudian tren tersebut berubah. Semuanya sudah bisa disimpan dalam format MP3, WAV, AIFF, dan FLAC yang disimpan di laptop, dibuatkan cadangannya di hard drive eksternal, dan dibawa ke pertunjukan dengan stik USB yang lebih kecil dari korek rokok.

Melihat ke depan, seorang DJ profesional bisa saja menggelar pertunjukan dengan hanya membawa ponsel pintar dan memainkan setnya sepenuhnya—lengkap dengan loop, efek, bahkan scratching—tanpa harus memiliki satu file pun.

Mudahnya memindahkan musik langsung dari Cloud ke deck, layanan streaming maupun produsen peralatan—termasuk Spotify, SoundCloud, Serato, dan Pioneer—saling berebut untuk menandatangani kesepakatan dan mengamankan pangsa pasar.

Beatport, toko besar penyedia layanan pengunduhan musik dance, baru-baru ini mengumumkan Beatport LINK, layanan berlangganan yang menawarkan hampir semua yang ada di katalog situs, termasuk sejumlah besar musik yang tidak tersedia di DSP lain. Tidak seperti layanan streaming gratis yang berorientasi konsumen yang dicoba Beatport awal dekade ini, layanan baru ini bisa digunakan di semua jenis peralatan DJ, dari perlengkapan hobi hingga Pioneer CDJ, standar industri di seluruh dunia.

Sampai sekarang, Beatport menghasilkan sebagian besar pendapatannya dari menjual unduhan ke DJ—pasar yang niche, mungkin, tetapi juga menguntungkan. Poros untuk streaming ini dapat menjadi momen penting bagi industri ini secara keseluruhan.

Beatport bukan perusahaan pertama yang berusaha membuat streaming untuk DJ menjadi kenyataan, tetapi pengumuman dari mereka justru menyebabkan kehebohan terbesar. Itu sebagian besar karena pengaruh perusahaan dalam industri. Didirikan pada tahun 2004 oleh orang dalam musik dance (salah satu investor awalnya adalah ikon techno Richie Hawtin), Beatport menghabiskan bertahun-tahun membangun basis pelanggan dan katalognya sebelum pemilik baru yang oportunis hampir membuatnya kandas selama kebangkitan EDM.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Beatport telah pulih, memenangkan kembali pelanggan dan mitra labelnya. Meskipun pengerukan keuntungan dari EDM sudah lama berakhir, Beatport tampaknya berkembang dengan baik. Heiko Hoffmann, direktur label dan hubungan artis, mengatakan pendapatan perusahaan terus tumbuh selama tiga tahun berturut-turut.

Tetap saja, banyak petinggi label yang mengatakan penjualan unduhan mereka sedang menurun. Sama seperti industri rekaman lainnya, streaming mengalami persentase pendapatan yang meningkat pada label musik elektronik—yang menjelaskan mengapa Beatport mengembangkan produk streaming baru yang disesuaikan untuk DJ amatir sejak awal.

Dihadapkan dengan pilihan menjadi seperti Netflix atau Blockbuster, Beatport jelas lebih memilih menjadi Netflix; berkomitmen penuh pada streaming relatif dari awal, daripada bertahan dan mengalami kematian yang lambat dan menyiksa.

Perusahaan ini bertaruh pada daya beli generasi yang mencintai musik dance, tidak terbiasa mengunduh apa pun (apalagi membayar untuk itu), dan menyambut cara yang lebih interaktif untuk berpartisipasi dalam budaya ini.

Ini mungkin langkah yang cerdas, mengingat ketidakcocokan single yang berorientasi klub dengan lingkungan streaming saat ini. “Saya sudah lama mengeluhkan musik dance tidak cocok dimainkan di platform streaming,” kata Jon Berry, manajer label dan A&R di label asal Jerman, Kompakt.

“Dibandingkan dengan musik berbasis lagu, trek sepanjang tujuh menit dengan intro kick-drum yang panjang—itu di luar kesabaran pendengar umum.” Untuk itu, Spotify baru-baru ini memperkenalkan beatmatching yang diaktifkan AI pada beberapa playlist musik dance populer, menawarkan ilusi DJ mix.

Penambahan fitur-fitur seperti ini oleh Spotify menjadi tanda bahwa bukan hanya streaming yang beradaptasi dengan musik dance, tetapi juga sebaliknya. Beberapa tahun lalu, langkah seperti itu mungkin akan menyebabkan kecemasan tentang AI yang memicu kepunahan para DJ. Sekarang, label dan artis sebagian besar senang dengan apa pun yang dapat meningkatkan jumlah pemutaran musik mereka di DSP besar.

“Sebagian besar ranah elektronik independen tidak siap untuk perubahan ini,” kata Melissa Taylor, pendiri perusahaan PR musik dance, Tailored Communication. “Banyak DSP memiliki sedikit minat pada artis elektronik kecil, dan daya tawar kolektif kita lemah. Kita akan melihat pergeseran kekuatan, sumber daya, dan standar.”

Hoffmann mengklaim, Beatport mengambil langkah untuk memastikan streaming tidak memotong penjualan unduhan, memposisikan streaming, meski tidak memungkinkan, sebagai opsi “cobalah sebelum membeli.” “Tidak masuk akal membuat produk baru yang kami pikir dapat membahayakan bisnis unduhan kami,” katanya.

Hoffmann menambahkan, tujuannya adalah menghasilkan sumber pendapatan tambahan, bukan menggantikan yang sudah ada, dengan membuat beberapa tingkatan berlangganan. Dengan harga $14,99 per bulan, tingkat pemula Beatport dirancang khusus untuk penggemar. Audio fidelity terbatas untuk file AAC berukuran 128 kbps, yang umumnya dianggap tidak dapat diterima untuk diputar di klub, dan kompatibilitas perangkat keras dibatasi untuk controller DJ kelas bawah.

DJ yang ingin tampil di klub akan perlu membeli perangkat dengan harga lebih tinggi, $39,99 (Beatport LINK Pro) dan $59,99 (Beatport LINK Pro+) per bulan. Selain audio berkualitas lebih tinggi (256 kbps AAC, kira-kira setara dengan 320 MP3) dan integrasi perangkat keras dan lunak yang lebih kuat, ada insentif lain bagi DJ amatir untuk membayar salah satu penawaran paling populer, loker offline.

Seperti Spotify yang memungkinkan pengguna mengunduh lagu untuk penggunaan offline, Beatport LINK menawarkan fitur yang sama, meskipun dalam jumlah yang lebih sedikit, 50 lagu untuk LINK Pro dan 100 lagu untuk LINK Pro+. Loker ini mengatasi satu masalah penting yang menjadi penghambat adopsi streaming yang luas untuk DJ; perlunya klub mempertahankan jaringan wi-fi yang cepat dan andal.

Sam Barker—salah satu pemilik label Leisure System yang berbasis di Berlin dan artis di label Ostgut Ton—tidak yakin dengan logika di balik model penetapan harga berjenjang. “Bukan pasar DJ yang membayar banyak [untuk unduhan musik elektronik]. Melainkan orang-orang yang punya controller di ruang tamu mereka, mengumpulkan teman-teman mereka untuk merokok ganja dan memainkan beberapa lagu—itulah pasar yang besar untuk label.”

Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa perhitungan Beatport sedikit melenceng. Seperti Spotify dan Apple Music, Beatport LINK membayar royalti dengan model pro rata—yang berarti, pendapatan berlangganan dikumpulkan dan kemudian dibagi secara proporsional antara label dan artis yang musiknya telah di-streaming. Hal ini menyulitkan proses penakaran awal jumlah pendapatan—atau kerugian—yang akan didapat label dan artis begitu Beatport LINK Pro dijalankan.

“Jumlah streams per pengguna, per trek, harus sangat tinggi untuk menutupi biaya penjualan yang hilang,” kata Taylor, dari Tailored PR. “Dan dengan sekali gerakan, semua pembeli biasa itu pergi, Mereka yang hanya ingin memainkan satu lagu beberapa kali saja, sekarang hanya memutarnya beberapa kali lalu melupakan lagunya.”

Paul Rose, yang lebih dikenal dengan nama Scuba, lebih optimis dengan ide di balik layanan ini. Sebagai pemilik label independen berskala medium, Hotflush, dia mendapati bahwa Spotify dan Apple Music memberikan katalog lamanya kesempatan kedua untuk terhubung dengan para pendengar; streaming mengisi 60 persen dari pendapatannya tahun lalu.

“[Streaming untuk DJ] akan tetap terjadi, dan mengeluh tentang hal itu tidak akan membawamu ke mana pun,” katanya. “Akan ada pemenang, dan kamu harus menemukan cara untuk menjadi salah satu dari mereka.” Dia menertawakan pernyataan terakhirnya—tidak secara ironis, tetapi dengan cara yang menggarisbawahi keyakinan bahwa mencoba menghentikan streaming untuk DJ rasanya seperti mencoba menghentikan kereta yang sedang melaju.

Berry dari Kompakt juga sangat optimis. Tarif pembayaran streaming yang ditawarkan Beatport “adil,” katanya. Menurut Berry, masalahnya sistemis. “Saya pikir tidak ada orang yang dibayar cukup saat ini. Strukturnya secara keseluruhan sangat tidak menguntungkan bagi artis.”

Tetapi bagi produser untuk mendapat bayaran yang cukup—entah seberapa besar “cukup” itu—sebagian besar tergantung pada apakah para DJ yang memainkan lagu-lagu mereka mau membayar harga yang pantas untuk lagu-lagu itu.

Pasar ini dulu menetapkan tarif antara 99 sen dan $2,49 per lagu. Tetapi seiring unduhan terus menyusut, biaya DJ terus naik, dan sistem distribusi royalti yang tidak efektif terus berkuasa, ada baiknya mempertimbangkan jika kita perlu memberlakukan model pendepatan baru, seperti yang disarankan beberapa orang.

Apakah DJ berkewajiban membayar lebih untuk musik daripada konsumen, jika mereka mendapat bayaran yang cukup besar? Dalam beberapa hal, bahkan Beatport pun menjawab ya—maka dari itu ada harga yang lebih tinggi untuk program langganan pro-level mereka.

Mat Dryhurst, seorang ahli teori teknologi dan kolaborator dekat Holly Herndon, sudah lama menjadi pendukung model pembagian biaya, di mana DJ akan menyisihkan sebagian dari biaya mereka (dari semua lagu yang dimainkan DJ itu di malam tertentu) untuk dibagi oleh produser.

“Saya kurang khawatir dengan DJ yang menghasilkan $100 per malam untuk tampil, dan lebih khawatir dengan DJ besar yang menghasilkan puluhan hingga ratusan dolar per menit untuk memutarkan musik orang lain,” kata Dryhurst.

“Pada level itu, seharusnya mereka tidak keberatan memberikan sebagian keuntungan yang layak kepada orang-orang yang menciptakan seni itu.”

Pada akhirnya, pertanyaan yang sangat penting seputar streaming untuk DJ mungkin bukan soal teknologi atau ekonomi atau bahkan filosofis. Sebagai budaya, kita sebagian besar telah beralih dari kepemilikan musik ke model rental streaming: Setelah sebuah lagu atau album menghilang dari DSP, itu secara resmi tidak ada lagi bagi siapa pun yang tidak menyimpan file-nya di hard drive mereka (atau salinan vinyl yang disimpan di rak). Lihat saja bagaimana Microsoft baru-baru ini menutup bagian e-book tokonya, menghapus semua buku dari perpustakaan pengguna.

Para DJ sejak lama dianggap sebagai pelayan sejarah, penjaga budaya. Tetapi jika mereka hanya ingin memutar lagu, memainkannya untuk akhir pekan dan kemudian membuangnya, mau dikata apa memori budaya kita, komitmen kita untuk membangun tradisi?

Streaming untuk DJ dapat diposisikan sebagai tautan ke masa depan budaya klub, tetapi jembatan ke masa lalu mungkin akan terbakar dalam prosesnya.

Artikel asli ditulis oleh Philip Sherburne untuk Pitchfork dan sudah melalui proses penyaduran serta pengeditan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Philip Sherburne mulai menulis untuk Pitchfork sejak 2005. Saat ini Editor Kontributor ini bertempat tinggal di Barcelona.

Keterangan Foto Utama: Streaming untuk DJ dianggap sebagai ‘pembunuh’ budaya lama DJ. (Foto: Drew Litowitz)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Porsche Taycan Akan Jadi Mobil Pertama dengan Apple Music Bawaan

Porsche Taycan, Mobil Pertama dengan Built-In Apple Music

Porsche Taycan tidak hanya akan menjadi mobil serba elektrik pertama dari pabrikan asal Jerman ini, tetapi juga akan menjadi mobil pertama dengan fitur aplikas

on Aug 22, 2019
Beatport

Beatport Akan Pangkas Katalog Musiknya Yang Tak Terjual

Lagu-lagu tidak terjual yang dirilis sebelum Januari 2019 akan dihapus dari Beatport. Baca Juga: Streaming Makin Menggeser Kultur DJ Dalam sebuah pernyataa

on Aug 19, 2019
Persaingan Spotify & Apple Music di Ranah Podcast!

Persaingan Spotify & Apple Music di Ranah Podcast!

Dua raksasa streaming musik ini berlomba menguasai pasar podcast dengan investasi dan akuisisi, tetapi ini masih bisa dimenangkan siapa saja. Entah kalian m

on Aug 7, 2019
Corey Taylor Anggap Layanan Streaming Musik Bikin Artis Bangkrut

Corey Taylor Anggap Streaming Musik Bisa Bikin Musisi Bangkrut!

Corey Taylor juga mengungkapkan, pendapatan utama band berasal dari tur dan mungkin sebagian dari merchandise, sementara streaming tidak menghasilkan apa pun.

on Aug 7, 2019