×
×

Search in Mata Mata Musik

Terapi Musik Terbukti Miliki Dampak Positif Untuk Kesehatan Raga

Semakin banyak penelitian yang menunjukkan dampak positif dari terapi musik pada berbagai kondisi, serta pada manfaat kognitif, motorik dan sosial lainnya.

Dengan ragu Cameron memasuki ruang musik, tangannya mengenggam tangan nanny-nya. Dia tidak mau berbicara atau menatap mata siapa pun – seperti kebanyakan anak berusia tiga tahun, dia malu dengan orang baru. Tapi itu tidak berlangsung lama.

Sekitar 20 menit sejak sesi dimulai, dia dengan gembira menari dan membuat musik, bahkan berbagi alat musik dengan Astrid yang berusia dua tahun, seorang pendatang baru di kelompok bermain tersebut.

Charliah Best, guru musik yang mengelola Best Music Academy di Hong Kong, tidak terkejut dengan perubahannya. “Musik mendorong anak-anak untuk berinteraksi satu sama lain,” katanya.

“Alih-alih terus berinteraksi dengan orang dewasa, musik memungkinkan anak-anak berinteraksi secara alami dan menemukan hal-hal baru dalam lingkungan yang nyaman—itulah maksud program ini.”

Charliah Best dan Cameron memainkan alat musik xilofon. (Foto: Tory Ho)

Charliah Best adalah satu dari sekian banyak pengajar yang menggunakan musik di programnya. Wanita lulusan sekolah musik ini menguasai beberapa alat musik seperti piano dan biola.

Di kelasnya, dia kerap kali mengadakan sesi gerak dan tari mengikuti irama musik. Selain itu, dia juga memiliki flash cards untuk membantu anak-anak di kelasnya mempelajari not.

Menurutnya, ada banyak lagu-lagu familiar yang didengar oleh anak kecil, dan ketika lagu tersebut dimainkan lagi, bisa menimbulkan perasaan nyaman dan aman.

“Di Hong Kong, orang tua mencari disiplin, terutama untuk anak-anak mereka,” tuturnya. “Tetapi mereka juga mencari sesuatu yang lebih dari sekadar kelompok bermain, dan pelajaran musik adalah pilihan yang bagus.

“Saya bukan terapis musik, tetapi saya tahu ada cukup banyak penelitian yang sudah terbukti tentang dampak positif dari musik pada kondisi emosional, sosial dan fisik,” tambahnya.

Memanfaatkan kekuatan musik untuk kesehatan bukanlah hal baru. Selama ribuan tahun, berbagai budaya telah melakukan itu; suku Aborigin di Australia menggunakan suara untuk menyembuhkan, dan di India, terapi musik dipercaya sudah ada sejak zaman Hindu kuno dan tradisi rakyat.

Tetapi zaman sekarang, terapi musik memiliki manfaat yang lebih luas, meningkatkan keterampilan kognitif, motorik, emosional, sosial dan sensorik. Itu berlaku untuk kedua terapi musik reseptif, yang melibatkan mendengarkan musik yang direkam atau live yang dipilih oleh seorang terapis, dan terapi musik aktif, di mana pasien bernyanyi atau memainkan instrumen.

Dunia medis juga mendengarkan. Penelitian klinis yang sudah terbukti semakin menunjukkan dampak positif musik pada berbagai kondisi, mulai dari penyakit kronis dan demensia hingga hilang ingatan, ADHD dan autisme.

Sementara apresiasi musik dimulai di dalam perut, dengan janin mendengarkan detak jantung ibunya serta musik yang diipilihkan untuknya, menunjukkan efektivitas musik pasca kelahiran.

Menurut sebuah studi di University of Geneva (UNIGE) dan Geneva University Hospitals (HUG)

Mei lalu, hasil dari sebuah studi yang dilakukan di Swiss mengatakan kalau musik bisa membantu perkembangan otak bayi yang terlahir sangat prematur (lahir kurang dari 32 minggu) dan yang terlahir prematur (lahir kurang dari 37 minggu).

Dilansir dari PNAS, memutarkan musik untuk bayi-bayi yang sedang menjalani perawatan intensif di NICU (Neonatal Intensive Care Unit) pasca kelahiran prematur mereka, seperti menstabilkan detak jantung dan laju pernapasan, mengurangi resiko apnea dan bradikardia per hari, peningkatan berat badan, dan pola tidur yang lebih benar.

Namun, untuk kasus bayi terlahir yang sangat prematur, meskipun memiliki peluang bertahan hidup yang lebih baik berkat kemajuan pengobatan neonatal, tetap berisiko mengalami gangguan neuropsikologis.

Para peneliti di kedua lembaga tersebut berkolaborasi dengan pemain harpa dan komposer asal Swiss, Andreas Vollenweider, untuk menciptakan suara yang dibuat khusus untuk masing-masing bayi.

Berbagai instrumen digunakan untuk penelitian ini, tetapi yang memiliki dampak paling positif adalah seruling yang dimainkan pawang ular di India (yang disebut pungi). “Anak-anak yang sangat gelisah menjadi tenang hampir seketika – perhatian mereka tertuju pada musik,” kata Lordier.

Menurut sebuah studi di College of Nursing, Taipei Medical University

Bulan lalu di Taiwan, hasil studi menemukan, mendengarkan musik secara berkala bisa membantu mengurangi rasa sakit dan gejala lainnya, seperti kelelahan fisik dan mental pasien kanker payudara.

Penderita kanker payudara yang mendengarkan musik selama 30 menit lima kali seminggu, secara nyata merasakan efek samping pengobatan yang lebih ringan. Hasil studi tersebut didukung dengan adanya laporan serupa dari European Journal of Cancer Care.

Musik Metafakta Oxytron dari Indra Q

Beberapa waktu lalu, Indra Q dari BIP mengumumkan proyek barunya bareng Andewe Azal, yang dia sebut Oxytron. “Gelombang suara ngeluarin elektromagnetik, nah, elektromagnetik ini yg manggil oksigen, sehingga lebih adem, nafas lebih enak,” jelasnya.

Hubungannya dengan kesehatan, gelombang elektromagnetik tersebut bisa membantu melancarkan peredaran darah, dan membantu memperbanyak pasokan oksigen ketika mendengarkan musik berjenis seperti ini.

Dilansir dari Sound Corners, Indra Q sudah beberapa kali menerima ucapan terima kasih dari orang-orang yang merasakan dampak langsung dari musik Oxytron-nya tersebut.

“Musik Oxytron bukan merupakan musik brainwave. Penggunaan synthesizer, pemilihan sound, harmoniasai, dan frekuensi yang bisa reaktif dengan alam sekitar,” tekannya.

“Kesembuhan datang dari yang Maha Kuasa, musik hanya sebagai reaktor, penenang, dan sinkronisasi. Banyak yang bilang ini adalah mistik atau sugesti, silahkan, ini ilmiah dan terukur. Yang penting buat kami adalah fakta dan manfaatnya.”

Keterangan Foto Utama: Terapi musik yang mulai banyak diaplikasikan di bidang medis ini sudah memiliki beberapa bukti kalau memang musik memberikan dampak langsung untuk membantu para penderita. (Foto: Berbagai sumber)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Archie, DJ Termuda di Dunia asal Hong Kong-1

Archie, DJ Termuda di Dunia!

Di usia 4 tahun, Archie sudah tampil di festival Clockenflap dan Boomtown di Hong Kong dan Inggris. Hong Kong sekarang bisa mengklaim sebagai rumah bagi DJ

on Jun 7, 2019
White Noise Records

White Noise Records, Penggerak Scene Underground Hong Kong!

Berawal dari sebuah kios kaset, White Noise Records berubah menjadi label rekaman, distributor dan promotor acara yang menaungi artis-artis yang ‘tertindas

on May 17, 2019