<-- Google Tag Manager -->
×
×

Search in Mata Mata Musik

Turning the Tables, Berpusat pada Artis EDM Wanita

Posted on: 06/25/19 at 4:45 pm

Kisah yang dibuat menjadi serial ini memiliki bahan bakar Electronic Dance Music.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa perempuan sangat tidak terwakili dalam industri televisi. Mengisi setengah dari populasi, wanita hanya menempati 20 persen posisi produser dan sutradara untuk acara di layar kaca. Meski statistiknya terus membaik, paritas gender yang sesungguhnya masih jauh dari depan mata.

Statistik yang sama menyedihkannya juga tampak jelas di ranah Electronic Dance Music (EDM). Wanita sangat kurang terwakili di balik meja DJ, dan mereka yang menaiki jajaran DJ papan atas sering kali diabaikan atau dipandang sebelah mata oleh jurnalis dan promotor EDM.

Daftar 15 DJ dengan bayaran tertinggi tahun 2018 yang diterbitkan majalah Forbes tidak mencantumkan satu wanita pun, dan kaum wanita juga absen dari daftar 25 pelopor musik dance dalam edisi ulang tahun ke-25 DJ Magazine, terlepas dari kehadiran wanita di ranah EDM sejak awal kemunculan genre ini. 

Bahkan, superstar EDM sekelas Steve Aoki mengecam ketidaksetaraan gender yang terjadi di sektornya, mengatakan pada TMZ di 2018 bahwa “promotor perlu mengambil sikap dan menghadirkan lebih banyak DJ wanita.”

Dalam realita inilah Turning the Tables menceritakan kisahnya yang mendorong batas dan digerakkan oleh kaum wanita.

Turning the Tables adalah seri web naratif yang mengikuti perjalanan seorang wanita muda bernama Jay (yang diperankan oleh Lanie McAuley) yang berusaha membangun reputasinya di dunia EDM sekaligus mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada teman sekamarnya yang hilang.

Donna Benedicto (kiri) dan Lanie McAuley di Turning the Tables.

Seri berisi sembilan episode yang masing-masing berdurasi lima menit dan difilmkan di Vancouver ini menjadi titik penting dalam karier Liz Levine. Levine sudah terkenal sebagai produser dan eksekutif pengembangan yang andal—kreditnya meliputi jPod dan Story of a Girl karya Kyra Sedgwick—tetapi Turning the Tables menandai pertama kalinya dia menjabat sebagai penanggung jawab kreatif, sutradara dan penulis acara layar kaca.

“Saya punya latar belakang sebagai penulis tetapi bukan sebagai penulis naskah,” kata Levine, yang pernah menulis untuk National Post dan buku Nobody Ever Talks About Anything but the End: A Memoir of Loss yang akan terbit pada Januari 2020.

“Saya pernah menjadi sutradara untuk layar kaca tetapi tidak sering di ruang di mana saya juga melakukan semua pekerjaan lainnya. Jadi bisa benar-benar menciptakan sesuatu dan dapat membayangkan suatu dunia dan kemudian membuatnya menjadi nyata adalah pengalaman yang sangat fenomenal.”

Liz Levine (kiri) di set Turning the Tables.

Meskipun Levine bukan dari dunia EDM, dia dan penulis/sutradara lainnya, Jax Smith, membenamkan diri dalam tulisan, biografi dan musik EDM. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk menemukan persamaan antara EDM dan industri film dan televisi.

“Seperti di banyak ruang, segalanya didominasi pria, tetapi hal ini juga berubah,” tutur Levine. “Ada segala macam bintang EDM wanita sejati yang mulai muncul ke permukaan dan itu membuat kami bersemangat.”

Seperti karakter Jay—seorang pianis yang terlatih secara klasik dengan kecenderungan pada EDM dan ibu yang memiliki rencana yang sangat spesifik untuk putrinya—Levine dan Smith tumbuh dalam keluarga yang lebih tradisional. 

“Meski begitu kami berdua berakhir di film dan televisi, dan kami rasa ini adalah perjalanan paralel yang bisa kami hubungkan dengan protagonis kami,” jelas Levine. “Dia berasal dari dunia yang lebih konservatif dan lebih konvensional di mana orang tuanya berharap dia menjadi musisi klasik, dan kami melihat apa arti menemukan ruang yang tidak selalu ramah, yang didominasi pria, dan bagaimana bergerak melalui itu dan muncul ke permukaan dengan sedikit kesuksesan.”

Matthew Kevin Anderson berperan sebagai DJ Chase, seorang DJ dan pemilik klub yang musiknya mengingatkan kita pada Avicii, dan Donna Benedicto (Supergirl) memerankan Ash, seorang DJ EDM terkenal yang segera menjadi saingan Jay.

Ketika Turning the Tables diluncurkan pada 30 Mei lalu, seri ini menghadirkan program episode orisinal selama 14 minggu, konten di balik layar dan playlist Spotify yang dikurasikan oleh komposer Steph Copeland.

“[Copeland] memberikan keempat karakter utama kami suara dan nada mereka sendiri, dan itu memberikan pengalaman mendengarkan yang luar biasa bagi kami dan juga pemahaman tentang bagaimana budaya EDM tercipta dan di mana pengaruhnya ada dan bagaimana pengaruh itu bergantung satu sama lain untuk menciptakan suara baru setiap waktu,” kata Levine yang, bersama krunya, memfilmkan Turning the Tables di Ironworks, Gorg-O-Mish dan di sebuah apartemen di Main Street pada Maret lalu.

Atribut lainnya yang luar biasa dari Turning the Tables adalah seri ini diciptakan, ditulis, disutradarai, diproduseri dan diberi scoring hampir seluruhnya oleh wanita.

“Merupakan kegembiraan yang mutlak [bagi saya] bisa melihat keliling ruangan di mesin yang bekerja dengan sempurna dan melihat enam wanita atau lebih yang luar biasa menyatukan semuanya,” kata Levine. “Itulah hak istimewa yang sebenarnya di ranah ini.”

Langsung tonton seri ini di kanal Youtube Union&Ace!

*Artikel ini pertama kali terbit di Vancouver Courier, ditulis oleh Sabrina Furminger dan disadur serta disesuaikan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Keterangan Foto Utama: Lanie McAuley berperan sebagai DJ yang sedang merintis karier di Turning the Tables.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Seri Video Unknown Pleasures: Reimagined Dari Joy Division

Seri Video Unknown Pleasures: Reimagined Dari Joy Division

Album debut Joy Division yang spektakuler, Unknown Pleasures, akan berulang tahun ke-40 pada 15 Juli nanti, dan untuk merayakannya, album ini akan dirilis ulan

on Jun 14, 2019