×
×

Search in Mata Mata Musik

White Noise Records, Penggerak Scene Underground Hong Kong!

Posted on: 05/17/19 at 3:00 pm

Berawal dari sebuah kios kaset, White Noise Records berubah menjadi label rekaman, distributor dan promotor acara yang menaungi artis-artis yang ‘tertindas’ di Hong Kong.

Baca Juga: Akankah Para Fans dari Asia Terus Menyerbu Tangga Lagu?

White Noise Records, motor penggerak panggung underground Hong Kong.

“Di budaya Barat, memberontak sudah hampir seperti ritual—bergabung dengan suatu band, menjadi artis, umumnya bukan masalah besar. Itu bukan realitas di Hong Kong,” jelas Valentine Nixon, personil duo dream-pop kakak-beradik asal Selandia Baru, Purple Pilgrims.

“Di musik eksperimental, ada pengertian umum bahwa semua orang benar-benar serius dengan perkataan mereka. Mereka melakukan apa yang mereka katakan, walau terasa jauh dari norma, dan akhirnya sulit diterima masyarakat. Hal tersebut berdampak munculnya apa yang disebut politisasi seni, dan bukan itu yang coba dicapai.”

Di sini, Nixon berbicara dari pengalaman. Dibesarkan di Selandia Baru dan Hong Kong oleh orang tua yang nomaden, beberapa momen yang membentuk musiknya terjadi di underground Hong Kong, sebuah dunia lanskap yang terhapus dari pop Kanton yang terobsesi dengan citra dari budaya mainstream yang menonjol di kawasan itu.

White Noise Records—tersembunyi di loteng lantai pertama yang dikelilingi oleh pengecer alat dapur di Shanghai Street, Kowloon—adalah pusat penting bagi budaya yang dibicarakan Nixon. Bagi pecinta musik, ini seolah menjadi surga musik yang hanya dinikmati oleh kalangan tertentu.

Selama 15 tahun terakhir, apa yang dimulai sebagai kios di seberang pelabuhan di distrik ritel mewah Causeway Bay telah dua kali berpindah lokasi, dan diperluas hingga mencakup label rekaman, distributor, dan divisi promosi acara, sekaligus membantu menumbuhkan bakat lokal yang bermunculan.

Gary Ieong, pendiri White Noise Records. (Foto: Michael Chiu/Still-Loud)

“Bagi saya, toko kaset bukan supermarket, kami adalah tempat pilihan,” kata manajer White Noise, Gary Ieong. “Kami hanya menjual apa yang kami suka. Toko kaset harus memiliki gaya dan kepribadiannya sendiri.”

White Noise juga menjadi pelabuhan sentral bagi para musisi di Asia Tenggara dan Timur, dan kiblat bagi mereka yang lebih jauh. Musisi noise dari Selandia Baru, Campbell Kneale, yang lebih dikenal sebagai Our Love Will Destroy The World (sebelumnya Birchville Cat Motel) pernah menggambarkan White Noise sebagai holy grail-nya musik yang berputar di ranah noise!

Baca Juga: 5 Klub Malam Wajib di Asia untuk Berpesta!

Ieong membuka White Noise bersama dua mitra bisnisnya tahun 2004. Dia memiliki latar belakang mengelola toko kaset yang memusatkan diskografinya pada rock dan pop, tapi dia tetap membuka telinganya untuk jenis musik lain. Selain itu, rekan-rekannya memang punya koneksi yang kuat di ranah musik eksperimental dan noise.

“Pada awalnya, saya pikir itu bukan musik sama sekali, itu hanya bunyi,” kenangnya. “Saya terus mendengarkan, dan saya mulai memahami apa itu.” Awalnya, itu orang-orang juga menganggap begitu. “Banyak orang yang mengatakan hal-hal seperti, toko apa ini? Mengapa koleksi kaset mereka kebanyakan ber-genre seperti ini?” ujarnya sambil tertawa.

Setahun setelah dibuka, musisi luar negeri mulai membanjiri email White Noise untuk tampil di Hong Kong. Ieong mulai menggelar pertunjukan kecil-kecilan dalam toko dari artis-artis asal Selandia Baru dan Australia yang sedang berkunjung seperti Richard Francis, Phil Dadson, dan Lawrence English.

“Kami punya komunitas eksperimental dan noise kecil, tetapi orang-orang tertarik mengetahui bagaimana jenis musik ini ditampilkan,” kata Ieong. “Akhirnya, beberapa pelanggan kami mulai membuat musik mereka sendiri. Saya tidak tahu pasti, tapi kalau kami tidak menjual album-album ini, dan orang-orang ini tidak datang ke acara kami, mereka mungkin tidak akan mulai membuat musik beraliran ini.”

Di 2007, White Noise mengambil langkah besar dengan menggelar konser untuk band besar saat musisi post-rock asal Inggris, Yndi Halda, meminta bantuan untuk tampil di Hong Kong. Konser mereka berjalan dengan lancar. Kesuksesan konser tersebut makin membangkitkan gairah Ieong.

Tahun berikutnya, White Noise mulai merilis musik sebagai label rekaman dan mengadakan tur singkat di Asia Tenggara untuk band math rock dari Jepang, Toe. “Sekarang saya punya jabatan lain, manajer tur,” ucap Ieong.

Salah satu penonton di pertunjukan tersebut adalah seorang desainer grafis dan gitaris yang sekarang mendesain poster untuk White Noise, bernama Adonian Chan. Waktu itu, dia bertanya langsung pada Ieong apakah dia mau mengontrak bandnya, tfvsjs, dan di 2013, White Noise merilis album pertama mereka, Equal Unequals to Equal.

Mereka juga menggelar pesta perilisan yang sukses untuk tfvsjs, yang menghadirkan musisi math rock dari Taiwan, Elephant Gym. “Setelah acara perilisan album, kami mendapat beberapa tawaran dari berbagai negara,” ingat Ieong. “Sekarang mereka sudah pernah ke daratan China, Taiwan, dan Jerman.” Di 2016, White Noise merilis album kedua mereka, 在 zoi.

White Noise Records, Penggerak Scene Underground Hong Kong!
Grup band asal Hong Kong, tfvsjs. (Foto via Bandcamp)

tfvsjs memainkan instrumental post-rock yang kompleks yang dicampur dengan melodi tradisional Kanton. Ini adalah musik penuh gaya yang juga berbicara soal kecemasan dan tekanan dari kota dunia di Asia ini.

“Semua orang di Hong Kong menghadapi perjuangan yang sama,” jelas Chan. “Hong Kong dinilai sebagai kota termahal untuk tinggal, dan ruang menjadi komoditas yang membuat sebagian besar orang mengorbankan hidup mereka untuk membeli [sesuatu] dengan harga yang pantas. Kami menghadapi masalah yang sama; kami harus memindahkan ruang latihan kami setiap dua tahun… Hidup di kota ini seperti bertempur setiap hari.”

Optimisme pragmatis tfvsjs adalah hal yang lazim di underground Hong Kong. Milos, grup post-rock muda yang baru-baru ini mengunjungi Amerika Serikat untuk pertama kalinya untuk tampil di festival Noise Pop San Francisco mengungkapkan sentimen serupa.

“Saya rasa musik adalah tujuan hidup kami,” kata gitaris Milos, Charles Chan. “Jadi, kami membuat musik meskipun ada ribuan tantangan dan kesulitan untuk diatasi.” Untuk meringankan sedikit beban, mereka bekerja sama dengan White Noise. “Mereka menginspirasi saya untuk bekerja lebih keras,” kata Ieong. “Saya ingin tantangan baru yang memberi saya energi baru.”

Different Light milik Afterglow. dirilis White Noise Records Januari lalu. (Foto: Ted Chung)

Bulan Januari lalu, White Noise merilis Different Light, album synth-funk/boogie yang diciptakan oleh Julian Lai, alias Afterglow, pemilik jaringan ritel fesyen mewah lokal HOAX. “Saya sangat suka city pop, soul, dan future funk,” jelas Ieong. “Saya selalu ingin menemukan sesuatu seperti itu dari Hong Kong dan membuat orang lain tahu tentang itu.”

“Saya mendengarkan soul, funk, dan rock yang berorientasi dari Amerika Serikat dan Jepang sejak lama, jadi saya rasa saya ingin membuat musik untuk mencerminkan hal itu,” jelas Lai. “Saya tidak menggunakan teknis DJ generik atau filter seperti FX, sidechaining atau drop. Saya ingin lagu-lagunya memiliki struktur dan aransemen seperti pop ’80-an.”

Band lain yang menjadi pusat gerakan underground lokal adalah grup noise rock nihilistik, David Boring, yang sama sekali tidak membosankan. Mereka tampil di SXSW bulan Maret kemarin, sebelum tampil di beberapa pertunjukan di pantai timur Amerika Serikat setelahnya.

Mereka menggambarkan White Noise sebagai bagian penting dalam pengalaman musik independen lokal, dan melihat pertunjukan Ieong sebagai pendorong definisi apa arti “indie Hong Kong” yang sebenarnya.

Unit noise rock nihilistik, David Boring.

David Boring meraih popularitas internasional tahun lalu setelah mereka muncul di acara mendiang Anthony Bourdain Parts Unknown, tetapi penolakan keras mereka untuk dihajar oleh realita Hong Kong lah yang benar-benar mendorong mereka, dan hal yang sama bisa dikatakan terjadi pada Ieong dan orang lain di komunitas White Noise.

“Perjuangannya nyata [di sini],” jelas mereka melalui email. “Kami rasa aktivitas underground terbaik selalu terjadi di mana ada penindasan, dan Hong Kong sama begitu. Hanya karena kamu tidak bisa melihat sesuatu di tempat terbuka bukan berarti sekelompok orang tidak diam-diam melakukannya di beberapa sudut kota.”

Ieong mengatakan kalau masa depan White Noise Records selalu tidak pasti karena memang berada di pasar yang niche. Dia mengaku pernah beberapa kali ingin menutup toko tiga tahun belakangan. Internet memotong bisnisnya setiap tahun, “Beberapa orang datang ke toko untuk berburu musik baru, bertanya kepadanya siapa artisnya, lalu menambahkan lagu tersebut di Spotify tepat di depannya, atau mengambil gambar rekaman dan pergi,” katanya.

Mengambil nama dari band rock psychedelic 60an asal London, White Noise Records adalah rumah untuk para penyuka avant-garde dan obscure.

Keterangan Foto Utama: White Noise Records, penggerak scene underground Hong Kong. (Foto: SPITGAN Magazine/Instagram)

*Disclaimer: Materi penulisan artikel ini diperoleh dari sebuah artikel di Bandcamp.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Dwagie

Rapper Dwagie Dukung Protes Hong Kong Lewat “Raise My Fist”

Di saat artis-artis China gencar menunjukkan keberpihakan mereka, rapper asal Taiwan ini meluncurkan lagu yang mengandung lirik “They want Hong Kong but not

on Sep 10, 2019
Tentang Protes Hong Kong, Rapper China Tunjukkan Nasionalisme Mereka

Tentang Protes Hong Kong, Rapper China Tunjukkan Nasionalisme Mereka

Lewat platform digital, Higher Brothers bersatu dengan rapper China lainnya untuk bela negara. Tetapi di China, para rapper dengan nama besar, termasuk bebe

on Aug 18, 2019
GOT7

Fans Desak Konser GOT7 di Hong Kong Dibatalkan!

Mereka cemas dengan keselamatan Jackson Wang setelah personil GOT7 itu menyuarakan dukungannya terhadap China. Baca Juga: GOT7 Pastikan Mampir ke Asia di Ran

on Aug 15, 2019
Terapi Musik Terbukti Miliki Dampak Positif Untuk Kesehatan Raga

Terapi Musik Terbukti Miliki Dampak Positif Untuk Kesehatan Raga

Semakin banyak penelitian yang menunjukkan dampak positif dari terapi musik pada berbagai kondisi, serta pada manfaat kognitif, motorik dan sosial lainnya.

on Jul 8, 2019