×
×

Search in Mata Mata Musik

Woodstock di 3 Perayaan Paling Tak Terlupakannya

Posted on: 07/13/19 at 2:39 am

Berkumpul di lapangan terbuka dengan band favorit dan 100.000 orang lainnya, momen yang pasti dirindukan para penggila musik.

Bayangkan lapangan luas, sound system beraliran ratusan ribu daya listrik, visual yang luar biasa, dan berkumandangnya lagu favorit langsung dari musisi kesayangan kalian di atas panggung besar. Ada rasa yang sulit digambarkan dengan kata-kata ketika seseorang menyaksikan band kesayangan mereka di tengah ribuan orang.

Tidak, festival musik tidak akan pernah benar-benar mati.

Hampir 50 tahun kemudian, Woodstock, sebuah perayaan perdamaian, cinta, musik dan lumpur yang digelar selama tiga hari pada Agustus 1969 berhasil menjadi festival yang sedikit tidak masuk akal. Bahkan sampai sekarang, Woodstock masih merupakan festival musik paling diingat sepanjang sejarah.

Musim semi tahun 1970, semua orang yang tidak merasakan kegilaan Woodstock bisa membayangkannya dengan bantuan film sepanjang tiga jam dan tiga LP soundtrack-nya, yang keduanya dianggap luar biasa pada masanya.

Video: The Modern Day Pirate.

Rilisan anniversary-nya yang terakhir, di 2009, memperpanjang durasi film menjadi total lima jam. Di tahun yang sama, box set 40 Years On: Back To Yasgur’s Farm dengan enam CD musik penuh juga diluncurkan.

Yang kali ini, semua lagunya disajikan sesuai urutan penampilan. Publik jadi mengetahui absurditas dari sebuah band gospel tahun 50-an, Sha Na Na, yang tampil tepat sebelum Jimi Hendrix. Band doo-wop rock and roll Amerika Serikat ini menjadi salah satu buah bibir kegilaan Woodstock ’69.

Selamat Datang di Woodstock 1969

Woodstock bukan satu-satunya festival besar pada masanya, tetapi tetap menjadi batu loncatan. Woodstock; mengubah hidup dan mengubah dunia. Promotor mana yang tidak ingin mengklaim itu?

Acara seperti California Jam pada April 1974 bertujuan mengalahkan Woodstock dari segi dampak budaya, atau setidaknya menghasilkan lebih banyak uang. Untuk tujuan kedua, tentunya mereka berhasil.

Video: Eduardo Dyablo.

Dan US Festival di tahun 1982 dan 1983 yang didirikan oleh salah satu pendiri Apple, Steve Wozniak, bertujuan untuk mendefinisikan generasi mereka seperti yang dilakukan Woodstock, mengarahkan jalan menuju masa depan berteknologi tinggi utopis–nama festival ini dimaksudkan untuk menandai akhir dari generasi “saya.”

Berhasil atau tidaknya mereka masih bisa diperdebatkan, tetapi setidaknya The Police dan Talking Heads memainkan set yang hebat di festival tersebut.

Woodstock di Era MTV

Awal tahun 90-an membawa kebangkitan band-band besar di level klub dan budaya baru di sekitar MTV, membuat tren meramaikan lapangan terlihat bak ketinggalan zaman. Tetapi di saat zaman festival mungkin tampak mereda, Woodstock pun datang kembali.

Dengan Michael Lang yang masih terlibat, Woodstock ’94 dalam beberapa hal, merupakan nostalgia dari festival aslinya. Joe Cocker bahkan berkesempatan menjadi pembuka hari pertama dengan lagu wajibnya di Woodstock ’69, “With A Little Help From My Friends,” milik The Beatles.

Diadakan 15 mil dari lokasi asli, tepatnya di Saugerties, New York, festival tahun ’94 sebenarnya lebih dekat ke kota Woodstock daripada festival aslinya, yang digelar di ladang milik Max Yasgur di Bethel, berjarak satu jam dari Bethel.

Sekali lagi, Woodstock tidak sengaja menjadi festival gratis, karena kerumunan yang melimpah menemukan betapa mudahnya melompati pagar. Menariknya lagi, banyak pengunjung telanjang yang ‘bermain-main’ di rumput, disusul dengan hujan badai dan tarian lumpur.

Seperti yang disindir David Crosby dari atas panggung, sebelum membawakan lagu-lagu wajib Crosby, Stills & Nash dari akhir tahun ’60-an, “Ini seperti ‘Déjà Vu’.”

Sementara Woodstock ’69 secara spiritual sejalan dengan gerakan anti-perang, Woodstock ’94 secara resmi bermitra dengan Greenpeace dan mengenali keserakahan korporasi sebagai ketidakadilan besar di era itu. Greenpeace mendirikan Eco-Village, menunjukkan potensi pemanasan solar dan daur ulang. Mereka melakukan sesuatu yang lebih berani dengan meminta pertanggungjawaban langsung dari korporat yang melakukan pencemaran lingkungan.

Dalam rilisan pers sebelum festival berlangsung, Greenpeace mengkritik majalah Time karena mengoperasikan pabrik kertas yang menyebabkan polusi dan bahkan mencela sponsor festival itu sendiri, Pepsi, menuduh mereka mengirim botol plastik ke tempat pembuangan sampah di Asia daripada mendaur ulangnya, seperti yang diklaim perusahaan.

Aktivisme semacam ini kemudian disertakan di Lollapalooza dan festival lainnya setelah itu. Sebagian merujuk pada akar kontra-budaya Woodstock, tetapi juga berhasil memberikan pengaruh kepada bintang-bintang modern seperti U2, Bruce Springsteen dan R.E.M., yang semuanya terang-terangan memberikan dukungan pada organisasi progresif dalam pertunjukan mereka.

Video: Nine Inch Nails on MV.

Woodstock ’94 juga menunjukkan seberapa besar ekspektasi penonton sudah berubah, seperti alkohol yang menggantikan brown acid, sebagian besar penonton sudah memiliki kartu kredit, jadi tidak ada lagi stand hot dog di seberang jalan.

Banyak juga yang mengeluhkan kalau Woodstock ’94 hanya sekadar menjadi acara pemerasan, atau mengira akan banyak penonton lepas kendali. Tetapi sebagian besar hal yang dikeluhkan tersebut tidak terjadi.

Setidaknya, tidak sampai mereka kembali menggelar Woodstock di 1999.

Kedamaian dan cinta masih merajalela dan dua generasi penonton konser tampak tidak keberatan untuk berbagi musik; Bob Dylan dan Traffic untuk kalangan baby boomer, Metallica dan Nine Inch Nails bagi Gen X, Peter Gabriel dan Aerosmith untuk semuanya.

Namun, bintang yang paling menonjol saat itu justru Green Day, yang tampil setelah hujan badai dan mengubah set mereka menjadi ajang saling lempar lumpur besar-besar; peristiwa ini kembali diulang di konser Green Day selama bertahun-tahun setelahnya.

Woodstock ’99 Yang Terkenal (Gagal)

Woodstock kembali sekali lagi di tahun 1999. Tapi sayangnya, kali ini lebih mirip konser The Rolling Stones di Altamont 30 tahun sebelumnya. Sekali lagi line-up-nya sangat eklektik, tetapi band-band yang lebih heavy seperti Korn, Bush, Limp Bizkit, Metallica dan Megadeth lebih mendominasi.

Dihadapkan dengan jumlah penonton yang berlebihan, perlengkapan kamar mandi yang rusak dan suhu yang melonjak di atas 38 Celcius, penonton melampiaskan kemarahan mereka pada fasilitas festival – dan satu sama lain.

Satu orang meninggal akibat heatstroke dan setidaknya ada dua kasus kekerasan seksual yang dilaporkan. Kerusuhan tersebut diperkirakan hanya melibatkan sekitar beberapa ratus dari 400.000 orang yang hadir. Tetapi beberapa ratus orang sudah bisa menyebabkan kerusakan fatal kan?

Selain itu, Woodstock sendiri menjadi korban. Perjalanannya berhenti sampai di situ. Dan reputasi Limp Bizkit membawakan “Break Stuff’ di waktu yang salah.

Video: Limp Bizkit on MV.

Woodstock 50?

Cukup mengejutkan ketika Michael Lang mengumumkan Woodstock 50 di awal tahun ini. Tapi sayangnya, drama yang tidak berujung mengiringi persiapan Festival untuk merayakan ulang tahun ke-50 Woodstock ini.

Sama seperti di tahun 1969, Woodstock juga dijadwalkan akan digelar pertengahan Agustus mendatang. Tapi mulai dari line-up yang tidak mewakili, kehilangan investor, gagal mendapat izin dinas kesehatan, kehilangan venue dan banyak lainnya, membuat banyak orang menjadi pesimis.

Line-up Woodstock 50, digelar 16-18 Agustus 2019.

Tidak dengan Michael Lang. Dia begitu yakin bagaimana pun caranya, menghiraukan semua masalah yang dihadapi, Woodstock 50 tetap bisa dirayakan tahun ini. Di kabar terbarunya, pihak penyelanggara lagi-lagi kehilangan izin untuk menggelar festival ini di tempat barunya, Vernon Downs, setelah batal digelar di Watkins Glen.

Mari kita nantikan apa yang terjadi selanjutnya, dan sampai sejauh mana seorang Michael Lang mampu menghalau semua rintangan yang menghadang.

Keterangan Foto Utama: Selama tiga hari berturut-turut di Woodstock 1969, semua adalah tentang persatuan, kedamaian, kebahagiaan, dan tentunya kebebasan. (Foto: via Vintage Everyday)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Neon Lights 2019

Neon Lights 2019 Tambahkan King Gizzard & the Lizzard di Lineup-nya!

Selain King Gizzard & the Lizzard Wizard, lineup Neon Lights tahun ini juga akan menyertakan Gus Dapperton dan Cosmo’s Midnight. Baca Juga: Mumford &am

on Sep 13, 2019
Alienstock

Takut Jadi ‘Bencana Kemanusiaan’, Festival Alienstock Batal Digela...

Fyre Fest 2.0 berhasil dihindari! Baca Juga: Area 51 Raid di Facebook Akan Dijadikan Festival EDM? Sepertinya, festival musik Alienstock yang sangat dinant

on Sep 12, 2019
Spotify On Stage 2019

Spotify On Stage 2019 Makin Seru Dengan Kehadiran Rich Brian!

Selain Rich Brian, (G)I-DLE dan ATEEZ dijadwalkan akan menambah keseruan Spotify On Stage 2019 bersama empat musisi lokal yang sedang naik daun sebagai special

on Sep 11, 2019
Fender Hadirkan Stratocaster Favorit Jimi Hendrix!

Fender Hadirkan Stratocaster Favorit Jimi Hendrix!

Fender Custom Shop mengumumkan peluncuran Stratocaster edisi Jimi Hendrix untuk para kolektor gitar! Peluncuran ini menandai peringatan 50 tahun penampilan

on Aug 25, 2019