×
×

Search in Mata Mata Musik

Flow Festival Dibanjiri DJ Lokal & Mancanegara Terbaik

Posted on: 10/19/18 at 10:00 am

Helena Hauff dan Moodymann adalah salah satu artis mancanegara yang tampil di Flow Festival, Helsinki.

Oleh: Shanna Jones. (Mixmag)

Flow Festival, Helsinki, 2018. (Foto: Riikka Vaahtera, Kondrukhov Konstantin, Petri Anttila)

“Finlandia adalah negara yang mengontraskan cahaya dengan kegelapan: kita bisa melihat keduanya dari segi musim dan ranah musik electronic,” kata Leena, 26, di panggung Red Garden di Flow Festival, acara gaul yang digelar di area pembangkit listrik terlantar di Helsinki.

Ranah musik dance kota ini berkembang menjadi pesaing yang unik dan sangat dihormati untuk menyaingi Amsterdam dan Stockholm, dan Flow adalah buktinya. “20 tahun lalu kami selalu pergi ke Swedia untuk menonton artis internasional, tapi sekarang kami bisa tetap di sini,” ucap Niko Kangas, yang bekerja di Music Finland, sebuah organisasi ekspor musik. “Penggemar musik electronic yang belum pernah ke Finlandia sebelumnya melupakan satu negara Nordik yang sangat menarik dengan campuran genre yang kuat.” Niko menjelaskan bahwa penjualan internasional di industri musik dance Finlandia telah meroket dalam beberapa tahun terakhir. Penggemar dari luar negeri yang mengunjungi Flow untuk melihat penampilan utama – tahun ini mencakup Helena Hauff, Detroit In Effect, Kendrick Lamar dan Moodymann – bisa juga menyaksikan DJ-DJ lokal ‘mencuri’ panggung di akhir pekan, jadi kami memutuskan untuk menjadikan mereka pemandu kami.

Yang pertama tampil adalah duo DJ Denzel & J.Lindroos, yang tampil di Sabtu siang di Backyard dengan penonton orang-orang yang sedang piknik. Sinar matahari melengkapi score film funk dan italo mereka yang menyenangkan dan tidak biasa. “Kami jelas mencoba menghadirkan kegembiraan selama set kami, kami berada di sisi yang lebih ringan dan suka memainkan lagu-lagu yang kurang kentara,” kata J, alias Jonii, saat kami nongkrong bersama keduanya di belakang panggung usai set mereka berakhir dan berbagi sebotol sampanye. Keduanya berusia 26 tahun dan berasal dari Espoo. Dan yang mengejutkan adalah mereka mendirikan klub baru terpanas di, Post Bar. “Kami kenalan saat kami berumur 17 tahun di suatu pesta rumahan,” ucap Denzel. “Dulu kami tidak pernah membayangkan akan melakukan sesuatu seperti ini.” Post Bar menjadi tuan rumah resmi untuk acara afterparty Flow di akhir pekan.

Seorang DJ langganan di Post, Marju, adalah sosok yang terkenal di ranah underground Helsinki. Penampilannya di Red Garden Flow pada Sabtu sore ini penuh dengan semangat dan percaya diri, namun dia mengaku kalau dia lebih dari sekadar gugup di depan penonton terbanyaknya hingga saat ini. “Saya menganggap musik saya gelap dan ‘menyeramkan’,” ujarnya. “Saat ini ada semacam fase terobosan di mana DJ perempuan akhirnya mendapatkan tempat di ranah ini, yang saya pikir agak terlambat datang ke Helsinki.”

DJ Lauri Soini, yang menguratori Red Garden dan klub malam Kaiku, semakin dikenal karena sikapnya yang ramah perempuan di line-up klubnya. “Saya berjuang ingin melakukan apa saja yang tidak memiliki motivasi idealistis di belakangnya, dan keseimbangan gender menjadi topik penting di musik dance,” kata Lauri, yang kami temui saat berlari di antara panggung-panggung untuk melihat artis perempuan asal Finlandia favoritnya seperti Bombarelli, Malin Nyqvist dan Kristiina Mannikko.

Baca Juga: Steve Aoki Kolaborasi dengan TWIIG di Lagu ‘Hoovela’

Flow Festival, Helsinki, 2018. (Foto: Riikka Vaahtera, Kondrukhov Konstantin, Petri Anttila)

Kristiina, 34, sudah menjadi resident di Kaiku selama lima tahun. “Ranah musik electronic Finlandia sangat ramai saat ini. Ada banyak anak muda yang berdatangan,” ungkapnya. “Orang-orang menganggap musik dengan cukup serius, tapi ini adalah komunitas yang kecil dan sudah seperti keluarga.” Berprofesi lain sebagai fotografer fashion, Kristiina tampak apik saat meminum kopi hitamnya. “Musik saya sangat gelap dan saya suka snare yang berat, suara seperti itu menggerakkan saya.”

Dengan banyaknya DJ, promotor dan penonton yang menyebutkan Sansibar sebagai orang yang sedang naik daun di Finlandia, kami membuntutinya ke Gold Area setelah penampilannya di awal Jumat sore untuk mengobrol. Campuran electro dan techno-nya yang asyik, yang dipengaruhi oleh kontras antara nostalgia dan futurisme, membuat para penonton bergerak dengan kecanggungan yang jelas bukan berasal dari Eropa utara. Mengenakan kaos Textasy dan kacamata ala ’80-an yang kebesaran, Sunny mewujudkan sifat nakal gaya bermusiknya. Saat gelas plastik tak sengaja terjatuh saat wawancara berlangsung, dia justru menetralkan momen yang bisa jadi sangat memalukan itu dengan menjatuhkan semua gelas lainnya dan melewati area berumput sambil tersenyum lebar.

“Kebanyakan dari kami adalah anak retro yang cupu banget,” katanya. “DJ asal Finlandia punya kecenderungan untuk memainkan lagu-lagu yang eksentrik, mengambil sample dari hal-hal yang tak terduga atau konyol.” Benar saja, beberapa bulan lalu Sansibar mengambil sample lagu Nicki Minaj di lagunya “Used To Live In Detroit,” yang akan dirilis di label Textasy, FTP. “Saya pikir hal yang saya paling tunggu-tunggu di Flow tahun ini adalah Detroit In Effect di Frontyard,” tegasnya.

Detroit In Effect memang tidak boleh terlewatkan di Sabtu malam itu, dan seperti yang dia katakan sebelumnya, Sunny asyik berjoget di depan panggung seperti anak kucing di atas batu bara panas – begitu juga penonton lainnya saat mendengarkan sample keren D.I.E.. Helena Hauff menyusul dengan penampilan yang, seperti biasa, tidak pernah mengecewakan.

Menjelang berakhirnya festival di malam itu, kami memutuskan untuk menuju ke Sompasauna. Struktur kayu yang terletak di atas dermaga tua beberapa menit dengan berjalan kaki dari Flow ini adalah tempat sauna yang bisa digunakan siapa saja secara gratis. Pukul 2 pagi, tempat ini ramai dengan orang-orang Finlandia telanjang yang berlarian antara tempat sauna dan laut Baltik. Di sebelah ada pesta gratis, salah satu dari banyak pesta yang berlangsung selama akhir pekan Flow di area ini, dengan beberapa ratus orang yang menari di tenda kecil atau bermalas-malasan di atas kapal besar terlantar yang dihiasi tulisan graffiti. Di tengah kehebohan ini kami bahkan bertemu dengan Direktur Komunikasi Kementrian Luar Negeri Finlandia, Ville Cantell, yang antusiasmenya terhadap sauna dan musik di larut malam membuat malu beberapa anak muda.

Sebagai pengunjung di Finlandia, sangat mudah untuk berada di bawah permukaan ranah musik dance lokal hanya dengan menjelajahi line-up Flow. Baik preferensimu segelap natal atau seterang pertengahan musim panas Finlandia, tingkat kualitas musik dan semangat komunitas ranah electronic di Helsinki menjadikannya tempat yang istimewa. Pakaian pun menjadi hal yang opsional.

Sumber: https://mixmag.net
Posted on October 18, 2018

Keterangan foto utama: Flow Festival, Helsinki, 2018. (Foto: Riikka Vaahtera, Kondrukhov Konstantin, Petri Anttila)

 

Mata Mata Musik's Newsletter