×
×

Search in Mata Mata Musik

Gelora Saparua: Episentrum Sejarah Geliat Rock & Metal Indonesia

Posted on: 06/7/21 at 10:00 am

Gelora Saparua: Episentrum Sejarah Geliat Rock & Metal Indonesia

Gelora Saparua. Sesuai namanya, Gelora adalah akronim dari Gelanggang Olahraga. Selain lapangan atletik dan taman sarana umum, salah satu tempat di dalam area Gelora ini adalah sebuah gedung legendaris. Lantaran bernilai historis tinggi yang memiliki peran krusial dalam tumbuh kembangnya industri kreatif dan ekosistem musik Kota Bandung. Kita biasa menyebutnya GOR Saparua, GOR alias Gedung Olahraga.

Baca juga: Konser Punk Di AS Jual Tiket $18 Buat Tervaksinasi, $1000 Yang Belum

Sebuah gedung di kawasan dengan luas kurang lebih 24.245 m² beralamatkan di Jl. Banda No. 28, Kota Bandung. Sebelum dibangun GOR Saparua, kawasan ini sempat dijadikan tempat latihan militer pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Pada awalnya GOR Saparua memang dibuat untuk pergelaran pertandingan tinju, bulu tangkis, dan voli indoor. GOR Saparua awalnya dibangun pada tahun 1961 untuk kepentingan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Kelima. Di mana Bandung, Indonesia menjadi tuan rumahnya. Namun seiring perkembangannya, Saparua mengalami pergeseran fungsi menjadi venue untuk acara musik. Dimulai dari era 1960-an, 1970-an, 1980-an dan mengalami masa kejayaannya selama periode 1990-an hingga awal 2000-an.

Gerakan Musik Independen

Pemilihan GOR Saparua sebagai venue musik berangkat dari etos D.I.Y (Do It Yourself) yang menjadi kunci pergerakan para pemuda yang muak dengan dominasi musik populer kala itu. Dengan semangat independen dan gotong royong, berbagai komunitas musik “arus pinggir” atau biasa disebut underground menggelar acara musiknya sendiri. Para artis/band pengusung genre musik yang berada di luar “arus utama” tersebut lantas menjadi memiliki wadah kreativitasnya. Dan penggemarnya pun memiliki sarana hiburan yang tepat. Serta secara perlahan tetapi pasti, GOR Saparua kemudian menjadi melting pot bagi anak muda. Tidak hanya Bandung, melainkan kota-kota lainnya yang selalu datang menonton pertunjukan musik di sana.

Antusiasme para pemuda Kota Bandung dan kota lainnya pada musik “arus pinggir” dari ska, punk rock, hardcore, hingga death metal ternyata sangat tinggi di setiap perhelatan acaranya. Mulai dari Hullabaloo (1994), Hullabaloo 2 (1995), Bandung Underground (1996), Gorong-Gorong (1997), Bandung Berisik (1997), dan terus hingga awal tahun 2000-an.

Film Dokumenter Gelora Saparua

Pengaruh besar GOR Saparua dalam kancah musik independen akhirnya diarsipkan dalam bentuk film dokumenter bertajuk Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua. Film ini merupakan proyek Rich Music yang menjadi penggagas rangkaian program DistorsiKERAS.

Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua berkisah tentang geliat komunitas musik rock dan metal yang berpusat di GOR Saparua, Bandung. “Proyek ini inisiatif dari pihak Cerahati, Arian13, dan Roni Pramaditia. Kami sama-sama berasal dari Bandung. Dan turut merasakan pertumbuhan budaya di Bandung era 1990-an saat gerakan independen mulai membesar di sini. Dan kami menyadari ternyata selama ini belum banyak dokumentasi dari momen sejarah tersebut,” ujar Edy Khemod, Creative Director Cerahati yang turut membesut proses kreatif film ini.

Film dokumenter Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua dipastikan akan tayang serentak pada 15 Juni 2021. Film ini akan diputar secara online di situs web Rich Music, Extreme Moshpit, Vidio, Loket, dan Rock Nation.

“Sengaja kami rilis lewat website supaya penonton bisa menikmati di rumah,” kata sutradara Alvin Yunata. Alvin sendiri merupakan mantan vokalis band rock Harapan Jaya yang sejak 2002 bermain di band punk Teenage Death Star sebagai gitaris. Selain itu Alvin juga merupakan seorang aktivis pengarsipan musik Indonesia di yayasan nirlaba Irama Nusantara.

Untuk menyambut film dokumenter, penayangan perdana secara terbatas dan taat protokol kesehatan diadakan di tiga kota, yaitu di CGV Grand Indonesia, Jakarta pada 6 Juni, disusul pemutaran spesial di Bandung (7 Juni) dan juga Medan (8 Juni).

Gelora Saparua, Gala Premiere Film Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua di CGV, Grand Indonesia, Jakarta, 6 Juni 2021.
Gala Premiere Film Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua di CGV, Grand Indonesia, Jakarta, 6 Juni 2021.

Menjadi Kuil Rock and Roll Sejak 1960-an

“Film ini adalah sebuah jurnal dari sebuah gedung yang kemudian sejak berdirinya dengan sengaja dialihfungsikan juga sebagai sarana panggung seni dan hiburan dari generasi ke generasi. Namun ada fenomena menarik di dekade terakhir sebelum gedung ini dinon-aktifkan. Yaitu lahirnya sebuah generasi yang menjunjung tinggi kolektivitas di mana mereka bisa mengubah gedung ini bukan lagi menjadi sekedar gedung pertunjukan seni namun lebih dari itu. Di mana sebuah titik melting pot ini melahirkan ideologi baru di kalangan budaya pop. Ruang pertukaran informasi dan suatu pergerakan yang mampu membawa gedung ini sebagai salah satu kuil rock and roll dalam sejarah scene musik underground di Indonesia,” kata Alvin.

Sejak 1960-an, GOR Saparua sudah menjadi titik penting bagi perjalanan musik di Bandung. Salah satu catatan awal yang bisa ditelusuri, adalah ketika pada 1963 Sam Bimbo bersama band Aneka Nada, yang dibentuknya bersama Atjil Bimbo dan Guruh Soekarnoputra, manggung bersama band asal Jakarta, Eka Sapta. “Itu adalah konser pertama di Saparua,” kenang Sam.

Tidak salah rocker legendaris Benny Soebardja menjuluki GOR Saparua sebagai ”kawah candradimuka” band-band jempolan Tanah Air. ”Sebuah band bisa disebut hebat kalau sukses pentas di sana,” kata Benny, pentolan band rock progresif Shark Move, Giant Step dan The Peels, seperti diberitakan Kompas, 8 Maret 2015.

Sederet band rock di era 1970-an yang pernah unjuk gigi di GOR Saparua antara lain AKA, Freedom of Rhapsodia, Superkid, The Rollies, dan God Bless. Hingga di era 1990-an, band-band Bandung seperti Runtah, Homicide, Jasad, Koil, Forgotten, Jeruji, Kubik, Puppen, Burgerkill, Pas Band, dan Pure Saturday, mengawali kariernya dari GOR Saparua.

Kecenderungannya, setelah berhasil melalui ”ujian” manggung di Saparua, band-band tersebut mulai menapak jalan ke level yang lebih tinggi. Berbagai tawaran rekaman atau konser di luar kota silih berganti berdatangan.

Puncak Popularitas Gelora Saparua

Puncak popularitas Saparua terjadi di era 1990-an. Saat itu kancah musik Bandung memang sedang memasuki masa paling bergairah. Banyak band-band lahir dan kelak jadi besar. Mulai dari Koil, Pure Saturday, Puppen, Burgerkill, Jasad hingga Forgotten. Hampir semua band, dengan lintas genre, pernah manggung di Saparua.

Berdurasi satu jam, Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua dihadirkan untuk mengapresiasi sejarah kancah rock-metal di Indonesia. Musisi, jurnalis, praktisi lainnya dari lintas generasi ikut serta menjadi narasumber film ini. Selain Sam Bimbo, di antaranya ada Arian 13 (vokalis Seringai), Dadan Ketu (manager Burgerkill/Riotic Records), Eben (gitaris Burgerkill), Suar (mantan Vokalis Pure Saturday), Wendi Putranto (jurnalis musik, manajer Seringai), Candil (mantan vokalis Seurieus), Fadli Aat (Diskoria, mantan bassis Step Forward), Buluks (Superglad, Kausa), hingga Idhar Resmadi (jurnalis musik).

Ki-ka: Eben (Burgerkill), Azka (Rocket Rockers/Rich Music), Alvin Yunata (Sutradara), Edy Khemod (Cerahati/Seringai), Buluks (Superglad/Kausa) di Gala Premiere Film Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua di CGV, Grand Indonesia, Jakarta, 6 Juni 2021.
Ki-ka: Eben (Burgerkill), Azka (Rocket Rockers/Rich Music), Alvin Yunata (Sutradara), Edy Khemod (Cerahati/Seringai), Buluks (Superglad/Kausa) di Gala Premiere Film Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua di CGV, Grand Indonesia, Jakarta, 6 Juni 2021.

Artefak Sejarah

Film dokumenter ini juga menyoroti berbagai permasalahan yang harus dipikirkan bersama, baik dari rakyat biasa maupun pemerintah. Gelora Saparua menyimpan begitu banyak sejarah berdurasi panjang melewati beberapa dekade sehingga ceritanya tidak bisa dilupakan begitu saja. Karena ada dampak yang luar biasa bagi perkembangan kehidupan manusia setelah mengalami masa-masa kejayaannya terutama di Kota Bandung. GOR Saparua tidak hanya penting didokumentasikan namun sangat layak diapresiasi lebih dari itu. Sebuah artefak sejarah yang telah mengubah hidup banyak manusia. Untuk lebih jelasnya, tonton film ini, bray!

Baca juga: Live Nation Booking Konser Untuk 2022 Sebanyak 2 Kali Lipat Dari 2019

Sekali lagi kami ingatkan! Film ini akan tayang serentak pada tanggal 15 Juni 2021 secara online di situs web Rich Music, Extreme Moshpit, Vidio, Loket, dan Rock Nation. Jangan sampai kalian lewatkan!

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Rock

    Rock Sudah Mati? Kecuali BTS, 10 Best Selling Album 2021 Adalah Rock!

    Lunchbox Records di Charlotte, North Carolina, AS, 29 Juli 2018 (Foto: Luke Taylor/MPR). Rock is dead? Rock sudah mati? Jadi ingat pernyataan Gene Simmons t

    on Jul 28, 2021
    Joey Jordison

    Joey Jordison, Mantan Dramer dan Pendiri Slipknot Tutup Usia

    Joey Jordison (Foto: Chelsea Lauren/Wireimage, Mick Hutson/Redferns). Joey Jordison. Oh No! Not again. Damn. Satu per satu musisi metal dipanggil oleh Yang

    on Jul 28, 2021
    Mike Howe

    Mike Howe, Vokalis Metal Church, Meninggal Di Usia 55 Tahun

    Mike Howe (Foto: Gonzales Photo/Terje Dokken/PYMCA/Avalon/Universal Images Group via Getty Images). Mike Howe, vokalis band veteran heavy metal Metal Church

    on Jul 27, 2021
    Megadeth

    Dave Mustaine Kasih Bocoran Album Baru Megadeth, Judul & Lagunya

    Foto: David Wolff - Patrick/Redferns - Getty Images. Dave Mustaine telah mengonfirmasi bahwa album baru Megadeth akan berjudul The Sick, The Dying And The D

    on Jul 26, 2021